NovelToon NovelToon
Gadis Desa Hamil Anak CEO

Gadis Desa Hamil Anak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tianse Prln

Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.

Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.

Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.

Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Yang Tidak Direstui

Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden tebal, menerangi ruangan yang masih dipenuhi sisa aroma tubuh kami semalam. Aku terbangun dengan perasaan aneh—campuran antara lelah yang mendalam dan hati yang berdebar tak menentu.

Perlahan, aku membuka mata. Pemandangan pertama yang kulihat adalah wajah tenang Aga di sampingku. Dia masih tertidur pulas, napasnya teratur dan dalam. Wajahnya yang biasanya tampak dingin, tegas, dan penuh wibawa saat memimpin rapat, kini terlihat begitu damai dan polos. Tanpa kacamata, tanpa setelan jas mahal, dia hanyalah Aga, laki-laki yang sama yang dulu sering bermain bersamaku di bawah terik matahari desa.

Aku tersenyum tipis, namun senyum itu langsung pudar saat ingatan tentang realitas menyeruak kembali.

Kami sdah mengenal satu sama lain sejak kami masih kecil. Dulu, Aga tinggal di desa bersama kakeknya untuk beberapa tahun lamanya. Dia adalah salah satu bermainku. Kami berlari di sawah, memanjat pohon kelapa, dan berbagi makanan sederhana. Saat itu, tidak ada yang namanya pewaris perusahaan atau gadis desa. Kami hanya dua anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang dunia.

Namun, seiring berjalannya waktu, saat kami menginjak usia SMA, perasaan itu berubah. Tawa berubah menjadi tatapan malu-malu, dan sentuhan tangan terasa berbeda. Kami sadar, kami saling mencintai. Tapi saat itulah, tembok tinggi mulai terbangun di antara kami.

Aga harus kembali ke kota, mengambil alih tanggung jawab sebagai ahli waris keluarga Santoso. Dunianya berubah menjadi dunia yang megah, penuh aturan, standar tinggi, dan orang-orang penting.

Sedangkan aku?

Aku tetaplah Nadia, gadis desa yang hanya bermodalkan kecerdasan dan kerja keras hingga akhirnya bisa menembus gedung tinggi itu, bekerja sebagai staf biasa di perusahaan keluarga Aga.

Kami berada di dua alam yang berbeda. Seperti bumi dan langit. Benar-benar berbeda.

Aku menghela napas, menatap tubuhku yang masih tak berbusana.

Air mata kembali menetes tanpa kuminta, membasahi bantal. Aku mengusapnya kasar dengan punggung tangan, berusaha tegar. Tidak boleh ada penyesalan. Semalam adalah keputusan kami berdua.

Tapi....

Pagi ini, rasanya begitu berat menerima kenyataan atas apa yang telah hilang dari diriku.

Dengan gerakan sekencang-kencangnya namun tetap berusaha pelan agar tidak membangunkan Aga, aku bangkit dari ranjang. Tubuhku terasa pegal, namun ada rasa hangat yang tertinggal di setiap sudut kulitku, mungkin bekas sentuhannya yang membara semalam.

Aku segera mengambil pakaianku yang berserakan di lantai, mengenakannya satu per satu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Setelah berpakaian rapi, aku berhenti sejenak di tepi tempat tidur. Aku menatap wajahnya untuk terakhir kali.

“Selamat pagi, Ga,” bisikku lirih, nyaris tak bersuara. “Terima kasih untuk semalam. Terima kasih sudah membuatku merasa berharga, walau... mungkim hanya untuk sekali ini saja.”

Aga sedikit menggeliat, namun matanya tetap terpejam. Aku tidak berani menunggu lebih lama lagi. Jika dia bangun, aku takut aku akan kembali luluh dan tak sanggup pergi.

Dengan hati yang terasa dicabut separuh, aku berbalik badan. Melangkah meninggalkan kamar mewah itu, meninggalkan kehangatan yang semalam begitu aku dambakan.

Aku harus kembali. Kembali pada kenyataan, menghadapi dunia yang kejam di luar sana.

Pintu tertutup pelan di belakangku, memisahkan kembali dua dunia yang seharusnya tak pernah bersatu.

Langkah kakiku terasa berat, seolah ada beban ratusan kilogram yang menahan kakiku. Aku berjalan menyusuri koridor hotel yang panjang dan sepi, berusaha menundukkan wajah agar tidak ada yang mengenaliku. Mataku masih terasa panas dan bengkak, hatiku hancur lebur, namun aku harus terlihat kuat. Aku harus keluar dari sini secepat mungkin.

Namun, takdir seolah tidak berpihak padaku.

Di ujung koridor, sosok tinggi dan tegap muncul berjalan mendekat. Aku mengenali postur tubuh itu. Jas hitam yang rapi, rambut tersisir sempurna, dan aura dingin yang mengelilinginya.

Mario.

Sekretaris pribadi Aga. Orang kepercayaan keluarga Santoso yang paling setia.

Langkahku terhenti mendadak. Mario juga berhenti tepat di hadapanku. Matanya yang tegas dan tajam menatapku dari atas sampai bawah, memindai setiap inci penampilanku. Tatapannya bukan sekadar pandangan biasa, melainkan tatapan menghakimi yang penuh kecurigaan dan ketidaksukaan.

Aku tahu betul Mario tidak menyukaiku. Baginya, aku adalah virus. Aku adalah masalah yang datang mengganggu kehidupan sempurna Aga. Sejak hubungan kami mulai terungkap, terjadilah bentrok antara Aga dengan orang tuanya, dan itu sering kali membuat Aga menjadi tidak fokus pada pekerjaan. Pikiran bosnya itu sering melayang, keputusan yang biasanya dingin dan logis mulai tercampur emosi, dan jadwal kerja pun sering berantakan. Sejak saat itu, Mario melihatku sebagai ancaman bagi karir dan masa depan Aga sebagai pewaris tunggal.

Tanpa berkata apa-apa, aku mencoba berjalan melewati sisinya, mengabaikan kehadirannya seolah dia hanyalah udara. Aku tidak punya tenaga untuk berdebat atau menjelaskan apa pun padanya, serius.

“Nadia.”

Panggilannya dingin dan tegas, membuat langkahku terhenti lagi. Aku menghela napas panjang, lalu kembali melangkah, bersikap seolah tidak mendengar apa pun.

Tapi tepat saat kakiku hendak melangkah masuk ke dalam lift, sebuah tangan kuat mencengkeram lenganku dengan kasar.

Brakk!

Tarikannya cukup kuat hingga tubuhku terbentur sedikit ke dinding lift. Aku mendesis kesakitan. Mario memutar tubuhku agar menghadapnya, cengkeramannya di lenganku sangat kuat, terasa hampir mematahkan tulang, menandakan betapa emosinya dia saat ini.

“Kamu kenapa ada di sini?!” suaranya rendah namun penuh amarah yang tertahan. Matanya menatap tajam ke arah pintu lift yang tertutup, lalu kembali menatap wajahku dengan ekspresi yang dipenuhi emosi. “Kamu tahu Pak Aga di hotel ini, kan? Kenapa kamu bisa ada di sini pagi-pagi buta begini? Jawab aku!”

Aku diam. Bibirku terkunci rapat. Aku menatap lurus ke depan, menahan rasa sakit di lengan dan rasa perih di hati. Apa gunanya aku menjelaskan? Bagi Mario, apapun alasanku pasti salah. Baginya, aku hanyalah gadis desa yang selalu merayu bosnya.

“Jawab!” bentaknya lagi, menggoyangkan sedikit lenganku, dengan keras.

Namun, aku tetap diam. Helaan napas kasar terdengar dari mulut Mario. Dia menatapku lama, mencari jawaban di mataku, tapi aku menutup rapat segala ekspresi. Setelah merasa tak akan mendapat jawaban dariku, dia akhirnya melepaskan cengkeramannya dengan kasar.

Tanganku terasa perih, aku yakin pasti cengkeraman Mario meninggalkan bekas merah di lenganku. Aku mengusapnya perlahan tanpa suara.

Mario masih menatapku dengan pandangan yang sangat dingin, penuh ancaman.

“Dengar baik-baik, Nadia,” ucapnya pelan, tapi setiap katanya menusuk tajam. “Aku mungkin tidak tahu apa yang telah kamu lakukan pada Pak Aga. Tapi yang jelas hubungan kalian dilarang. Kamu pikir kamu bisa merusak masa depan Pak Aga seenaknya?”

Dia mendekatkan wajahnya, suaranya berubah menjadi peringatan yang serius.

“Pak Aga itu pewaris tunggal. Hidupnya sudah diatur sejak dia lahir. Dan kamu? Kehadiranmu cuma bikin hidup dia hancur. Bikin dia nggak fokus. Kalau karena kamu nama baik keluarga Santoso tercoreng, atau posisi dia terancam.…” Mario berhenti bicara sejenak, menatapku dengan sinis, sebelum akhirnya kembali berkata. “Aku nggak akan tinggal diam. Aku akan lakukan apa saja untuk menjaga dia, bahkan jika itu artinya aku harus menyingkirkan kamu dari hidupnya, selamanya.”

Ucapan itu membuat bulu kudukku meremang. Aku tahu dia tidak main-main.

Tanpa menunggu balasanku, Mario berbalik badan dan berjalan pergi menuju kamar Aga dengan langkah lebar dan penuh wibawa, meninggalkanku yang terpaku di depan pintu lift dengan hati yang semakin hancur.

Aku bergegas masuk ke dalam lift, menekan tombol lobi dengan tangan yang gemetar. Pintu tertutup, menyembunyikan air mata yang kembali jatuh tanpa bisa kutahan.

1
sutiasih kasih
jgn smpe km brjumpa dgn mereka nad.....
demi hrga dirimu...
sutiasih kasih
dri prnikahan aga & jenna slm 8 th... apakah mereka sdh punya keturunan thor??
sutiasih kasih
kakek santoso kn msih ada anak n menantu jga cucu.... msa iya g ada yg sering mngunjungi beliau di desa..🤔🤔
sutiasih kasih
harusnya jgn km ambil uang itu nad....😔😔
sutiasih kasih
mario mario.... km jga cm kacung keluarga santoso..... tpi sikapmu dlm merendhkn org lain.... seolah km orang paling kaya tiada tandingan🙄🙄
Rdznr
Semoga raka jadi anak yg hebat. buktiin ke kluarg santoso kamu bs sukses tanpa mereka💪
Rdznr
lanjuuuut😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!