"Dulu Ku tulis takdirmu untuk menderita, sekarang malah..aku yang harus bertarung nyawa merubah takdir itu." Ling Xie seorang penulis novel kolosal, tidak sengaja terjebak ke dalam cerita novelnya sendiri. Ia terbangun ke dalam cerita nya sendiri. Ia terkejut mendapati dirinya terbangun dari tidur, dan masuk ke dalam tubuh putri Jin Ling Xie. Seorang protagonis, yang ia ciptakan untuk hidup sengsara, seorang putri yang terbuang, dan di fitnah sebagai wanita murahan, oleh Putri Li Mei Feng seorang putri palsu dari kerajaan Feng Ling. Di dunia yang kejam ini, ia harus bertahan hidup dengan bantuan Sistem. Misinya sungguh berat dan tidak main-main. Ia harus mengembalikan takdir putri yang terbuang itu, untuk merebut posisi putri mahkota Kerajaan Feng Ling yang asli, dari tangan Li Mei Feng si putri palsu itu. Serta merebut kembali jodoh sejatinya yaitu seorang pangeran Zhong Yang. Dan membersihkan nama baik Ibu kandung nya, Selir Agung Ling Mei Rong dari fitnahan Yan Shi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUSTIKA DEWI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabib Cadar Putih Di Gerbang Istana
Ibu Kota Feng Ling berdiri kokoh di atas puncak tebing yang selalu diselimuti awan putih, layaknya negeri di atas awan. Istana pusatnya memiliki julukan Istana Sayap Langit, karena atapnya melengkung tajam menyerupai kepak sayap Phoenix, dengan pilar-pilar marmer yang dihiasi relief emas burung mistis tersebut.
Namun, kemegahan itu terasa sangat jauh dari Dusun Bara Rendah, tempat Ling Xie tinggal. Di ujung pasar dusun yang berdebu, berdiri sebuah klinik sederhana di papan nama "Pondok Kayu Tabib Cadar Putih" (Baiyi Shenyi Mu-Lu).
Setiap fajar, antrean penduduk sudah mengular di halaman. Di dalam ruang tamu sempit yang harum akan aroma akar-akaran dan tanaman herbal, Ling Xie bekerja. Ia memiliki sebuah kotak obat kuno dari kayu cendana hitam berisi dua jenis jarum akupunktur: jarum perak untuk kaum bangsawan, dan jarum biasa untuk rakyat jelata.
Ling Xie diasuh oleh Zheng Lao San dan Chen Niang. Pasangan itu sebenarnya kaya raya dari usaha kain sutra dan Hanfu mewah yang dipasok ke istana, namun keserakahan telah membutakan hati mereka. Bagi mereka, Ling Xie hanyalah "pohon uang". Segala upah yang didapatkan Ling Xie dari mengobati pasien harus diserahkan tanpa sisa kepada mereka.
"Aku yang menulis karakter orang tua angkat ini, untuk menjadi sosok yang dibenci pembaca," ucap Ling Xie dalam hati, sambil menyerahkan sekantong koin perak kepada Chen Niang pagi itu. Tapi merasakannya sendiri ternyata sepuluh kali lebih menyebalkan.
Keheningan Dusun Bara Rendah pecah oleh derap kaki kuda yang kencang. Dari jendela, Ling Xie melihat Kasim Han Gui Zhong datang dengan mandat emas di tangannya. Jantung Ling Xie berdegup kencang. Apakah ini karena kejadian dengan Li Mei Feng kemarin?
Ia segera mengenakan cadar putihnya. Kasim Han masuk dan membungkuk hormat.
"Tabib Agung, mohon kemurahan hati Anda. Ibu Suri di Paviliun Feng Ling sedang dalam kondisi kritis. Ini adalah perintah langsung dari Kaisar Jin Feng."
Langkah kaki Ling Xie terasa berat saat menapaki lantai marmer putih istana. Di depannya, Kasim Han berjalan dengan wajah tegang.
"Tetaplah menunduk," bisik Kasim Han serak.
"Jangan bicara kecuali Kaisar memintamu!"
Alih-alih langsung ke paviliun, Ling Xie langsung di bawa ke Aula Keagungan.
Di atas singgasana Phoenix, duduklah Kaisar Jin Feng. Di sampingnya, Permaisuri Yan Shi yang cantik namun memiliki tatapan tajam, serta ketiga anak mereka Jin Ling Jian, Jin Lim Jian, dan sang putri palsu, Li Mei Feng.
Setelah memberi penghormatan, Ling Xie segera diantar menuju Paviliun Feng Ling. Di sana, Ibu Suri Zhao He terbaring lemah. Ling Xie segera memeriksa nadi sang Ibu Suri.
" Nadi yang kuat, keras, dan sulit ditekan... ini bukan penyakit biasa," gumam nya.
Sebagai penulis cerita ini, sebuah ingatan mendadak muncul di kepala Ling Xie.
"Tunggu... aku ingat! Di draf novelku, Ibu Suri tidak sakit parah, dia diracuni secara perlahan menggunakan jamur liar beracun!" gumamnya dalam hati.
Ling Xie segera mengambil jarum perak dan menusukkannya ke beberapa titik akupunktur. Tiba-tiba, tubuh Ibu Suri bereaksi. Ia terbangun dan memuntahkan darah hitam yang berbau tajam.
"Astaga! Apa yang kau perbuat, tabib bodoh!" teriak Li Mei Feng yang baru saja masuk bersama Permaisuri Yan Shi.
"Kau mencoba membunuhnya!" Permaisuri Yan Shi maju dengan marah, menarik paksa Ling Xie hingga cadar putihnya terlepas sesaat.
"Pengawal! Tangkap wanita jahat ini!" perintah Permaisuri Yan Shi sambil berteriak.
Ling Xie di tangkap oleh dua orang pengawal istana Feng Ling. Kedua pengawal itu memegang tangan Ling Xie dengan erat. Ling Xie melepaskan cengkraman tangan para pengawal itu dengan sangat keras. Ling Xie segera membetulkan cadarnya dan bersujud tenang, menghadap Permaisuri Yan Shi.
"Ampun, Yang Mulia. Ini adalah reaksi pembersihan racun."
Ia kemudian memanggil Kasim Xiao, asisten yang ditunjuk kaisar untuk membantunya.
"Kasim Xiao, siapkan ramuan ini sekarang juga!"
Setelah ramuan dicampur madu asli diminumkan, perlahan-lahan Ibu Suri Zhao He mulai sadar. Matanya terbuka, dan napasnya kembali teratur.
"Tabib... sakit apakah aku ini?" tanya Ibu Suri dengan suara lemah.
"Ampun, Ibu Suri. Anda tidak memiliki penyakit berbahaya. Tubuh Anda hanya bereaksi terhadap racun dari makanan yang Anda konsumsi," jawab Ling Xie tenang namun tegas.
Mendengar kata keracunan wajah Permaisuri Yan Shi dan Li Mei Feng mendadak pucat. Itu adalah ulah mereka! Mereka sengaja memasukkan jamur liar beracun ke dalam hidangan Ibu Suri agar wanita tua itu segera tiada.
"Keracunan makanan?" Li Mei Feng berpura-pura terkejut dan hampir pingsan.
"Nenek... nenek, apakah kau baik-baik saja?" Ia mencoba memeluk Ibu Suri dengan kasih sayang palsu.
Namun, di luar dugaan, Ibu Suri Zhao He justru mendorong Li Mei Feng hingga gadis itu terjatuh ke lantai.
"Lepaskan aku! Jangan menyentuhku!" bentak Ibu Suri dingin.
"Yang Mulia Ibu Suri, mengapa Anda mendorong Li Mei Feng? Dia adalah cucu kesayangan Anda!" seru Permaisuri Yan Shi sambil membantu anaknya berdiri, wajahnya menunjukkan kesedihan yang dibuat-buat.
Ibu Suri hanya memalingkan wajah, seolah instingnya mulai menyadari siapa yang tulus dan siapa yang beracun di ruangan itu.
Ling Xie berdiri diam, menyaksikan drama yang dulu ia tulis sendiri. Ia tahu ini baru permulaan.
"Yang Mulia Permaisuri, Putri Li Mei Feng.. tolong biarkan Ibu Suri beristirahat untuk memulihkan kondisinya."
Dengan wajah merah padam karena kesal, Li Mei Feng dan ibunya akhirnya keluar dari paviliun itu, meninggalkan Ling Xie sendirian menjaga Ibu Suri yang kini menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
Saat di kamar pribadi milik putri Li Mei Feng. Ibu dan anak itu, merasa kesal sekali.
"Seperti nya...tabib cadar putih itu, memiliki niat tidak baik, Yang mulia!" ujar Dayang Cui Er, dayang pribadi Putri Li Mei Feng.
"Bu, seperti nya yang di katakan dayang itu memang ada benarnya, juga." sahut Li Mei Feng pada Ibunya.
"Kita harus waspada, Yang Mulia!" sahut Dayang Su Yan, seorang dayang pribadi Permaisuri Yan Shi.
"Benar! Kita harus waspada! Seperti nya..dia menginginkan sebuah posisi terpenting di kerajaan ini!" ucap Putri Li Mei Feng mempengaruhi permaisuri Yan Shi.
"Lihatlah Ling Xie..aku tidak akan tinggal diam! aku tidak ingin kau menghancurkan semua rencana ku!" gumam Putri Li Mei Feng dalam hatinya dengan wajah liciknya.
"Ini baru permulaan, putri palsu! Aku akan rebut kembali apa yang di takdirkan untuk Ku! Dan kau akan membayar mahal untuk ini!" gumam Ling Xie dalam hatinya, seraya menatap dalam wajah Li Mei Feng.