Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Austin terkekeh pelan. Tawanya rendah dan hangat, membuat wajah tampannya terlihat semakin lembut di bawah cahaya lampu yang remang.
Yurika hanya bisa berkedip bingung.
Dia bahkan belum sempat benar-benar mencerna apa yang baru saja terjadi. Tidak sampai setengah menit lalu dia memberanikan diri mengatakan perasaannya, dan dalam bayangannya, pria seperti Austin pasti akan menolaknya dengan tenang dan sopan seperti rumor yang sering ia dengar di kampus.
Namun ternyata, pria itu justru menyetujuinya.
Sorakan riuh dari orang-orang di belakang mereka kembali terdengar. Teman-teman yang sejak tadi menonton mulai menggoda tanpa ampun, membuat suasana semakin gaduh.
Austin mengangkat tangannya, lalu menepuk ringan kepala Yurika dengan gerakan alami yang begitu lembut.
“Ada banyak orang di sini,” katanya pelan. “Kita bicara nanti saja.”
Nada suaranya tenang, tidak terburu-buru, dan sama sekali tidak membuatnya malu.
Memang seperti itulah Austin.
Pria itu terkenal sopan. Dia tidak pernah sengaja mempermalukan perempuan di depan umum. Yurika diam-diam meliriknya dari sudut mata dan mendapati ekspresinya tetap santai, meski ada sedikit rasa tidak nyaman di ujung tatapannya akibat keributan di sekitar mereka.
Sebenarnya hubungan mereka tidak dekat.
Mereka hanya pernah beberapa kali bertemu di kampus. Austin memiliki banyak pengagum sejak kuliah, tetapi hampir tidak pernah terdengar dia benar-benar dekat dengan siapa pun.
Yurika dulu mengira pria itu hanya terlalu selektif.. atau mungkin memang tidak tertarik pada hubungan percintaan.
Karena itulah, ketika dia menerima perasaannya malam itu, hati Yurika sempat bergetar hebat.
Setidaknya.. dia tidak dipermalukan.
Jika Austin menolaknya di depan semua orang tadi, mungkin dia akan menjadi bahan tertawaan para senior setelah kelulusan.
Yurika menunduk pelan, menahan rasa panas di matanya, lalu berbalik pergi.
Bahkan sekarang, setiap kali mengingat kejadian itu, telinganya masih terasa hangat.
***
Mereka berempat berkumpul hampir dua jam malam itu.
Satu per satu mulai pulang karena harus bekerja keesokan harinya. Awalnya Yurika juga berniat ikut pergi, tetapi saat teringat masalah pekerjaan yang belum jelas, langkahnya justru berhenti.
Perasaannya terlalu kacau.
Akhirnya dia kembali duduk dan memesan segelas anggur lagi.
Lampu bar yang buram memantulkan warna-warna samar di udara malam. Musik mengalun rendah, bercampur dengan aroma alkohol dan hawa panas musim panas yang membuat kepala sedikit melayang.
Ia menghabiskan gelasnya perlahan. Saat itulah dia mencium aroma kayu gaharu yang samar dari sampingnya.
Wangi itu lembut, elegan, dengan sentuhan maskulin yang menenangkan.
Dia menoleh tanpa sadar.
Seorang pria duduk di dekatnya, jemarinya yang panjang bertumpu santai di tepi gelas. Gerakannya tenang dan berkelas, seperti seseorang yang sudah terbiasa hidup dalam kemewahan tanpa perlu memamerkannya.
Mereka mulai berbincang singkat.
Anehnya, Yurika merasa nyaman.
Padahal biasanya dia cukup sulit dekat dengan orang asing.
Pria itu sesekali menatapnya dalam diam. Tatapannya seperti meneliti sesuatu, hingga akhirnya alisnya sedikit terangkat.
“Yurika?”
Suara rendah itu membuatnya terdiam.
Hari ini Yurika hanya mengikat rambutnya dengan asal sebelum keluar. Setelah beberapa gelas anggur, pipinya memerah, sementara kulitnya yang putih terlihat semakin lembut di bawah cahaya lampu.
Matanya sedikit basah karena alkohol.
Ada sesuatu dalam dirinya yang terlihat rapuh namun memikat.
Dan itu sangat berbahaya bagi kebanyakan pria.
Yurika sendiri sebenarnya memiliki kesan baik pada pria di sebelahnya.
Meski pandangannya mulai kabur karena mabuk, dia tahu pria ini tampan. Cara berbicara, pakaian, bahkan gesturnya menunjukkan kualitas hidup yang jauh berbeda dari orang biasa.
Dia lajang. Hidupnya akhir-akhir ini juga berantakan. Dan malam ini, alkohol perlahan melumpuhkan logikanya.
Yang bisa dia rasakan hanyalah kenyamanan aneh saat berada di dekat pria itu.
Ketika mereka keluar dari bar, langkah Yurika sudah goyah, dia hampir terjatuh sebelum sebuah tangan kuat menarik pinggangnya dan menahan tubuhnya dengan mantap.
Dada pria itu keras dan hangat.
“Apa yang kau lakukan?” suaranya terdengar rendah dan sedikit serak, seperti tersapu kabut malam.
Yurika buru-buru mundur.
“Maaf.. aku tidak sengaja..”
Namun sebelum dia selesai bicara, terdengar tawa pelan dari pria itu.
Tawanya menyenangkan didengar.
“Mau ikut denganku?”
Yurika membeku.
Nada suaranya santai, bahkan sedikit menggoda, tetapi tetap terdengar tenang dan penuh kendali.
Pria seperti dia jelas bukan pertama kalinya menghadapi perempuan yang mendekat.
Biasanya dia pasti langsung menolak, tapi malam ini entah kenapa suasana hatinya sedang cukup baik.
Yurika merasa dirinya dan pria ini berasal dari dunia yang berbeda. Cara pria itu menatapnya saja sudah cukup membuat jantungnya tidak tenang.
Saat dia masih kebingungan mencari jawaban, pria itu sudah membuka pintu mobil.
Namun beberapa detik kemudian, dia menutupnya kembali sambil bersandar santai.
“Di mana rumahmu?” tanyanya. “Aku antar pulang.”
Yurika berdiri mematung cukup lama, otaknya berusaha bekerja keras.
Lima menit berlalu, dan dia baru sadar bahwa dia bahkan tidak tahu bagaimana harus pulang.
Mungkin karena tekanan beberapa hari terakhir membuat kepalanya benar-benar kosong.
Pria itu memperhatikannya, lalu tertawa kecil dan berkata..
"Yurika? Apa kau benar-benar mabuk? Kau bahkan tidak mengenaliku.."
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏