NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Rumah Orang Asing

Mobil hitam itu melaju membelah hujan malam tanpa suara berarti. Kemuning Larasati duduk kaku di sudut kursi sambil memeluk dirinya sendiri. Pipinya masih basah oleh air mata yang belum berhenti jatuh sejak tadi. Bayangan Agam terus memenuhi kepalanya tanpa ampun.

“Kak Ning jangan pergi...”

Suara tangis adiknya terus terngiang di telinga Kemuning. Dadanya terasa sesak sampai sulit bernapas normal. Ia bahkan tidak tahu apakah Agam sudah makan malam atau belum.

Lampu kota memantul samar di kaca mobil yang gelap. Kemuning belum pernah naik mobil semewah ini sebelumnya. Jok kulit hitam terasa terlalu empuk dan harum asing memenuhi udara. Semua hal di dalam mobil membuatnya makin gugup.

Ia takut bergerak terlalu banyak. Takut mengotori apa pun dengan pakaian lusuhnya yang masih basah hujan. Tangannya yang penuh luka tersembunyi di balik sweater tipis. Tubuhnya terus menggigil pelan karena dingin dan ketakutan.

Di sampingnya, pria tua itu duduk tenang tanpa banyak bicara. Wajah tegasnya tampak dingin di bawah cahaya lampu remang mobil. Tatapannya lurus ke depan, tetapi sesekali melirik Kemuning diam-diam. Sorot matanya sulit ditebak dan membuat Kemuning makin canggung.

Kemuning menunduk dalam-dalam saat pria itu kembali menatapnya. Ia tidak berani bertanya akan dibawa ke mana malam ini. Kepalanya dipenuhi kemungkinan buruk yang membuat perutnya mual. Bagaimana jika dirinya dijual lagi pada pria lain?

Mobil mendadak melambat di depan sebuah rumah makan besar. Lampu terang dari restoran membuat Kemuning refleks menyipitkan mata. Salah satu pengawal turun lebih dulu sambil membuka payung hitam.

Pria tua itu akhirnya bicara setelah perjalanan panjang yang sunyi. “Makan dulu.” Suaranya rendah dan penuh wibawa.

Kemuning langsung menggeleng cepat tanpa berpikir. “Aku tidak lapar.”

Padahal perutnya kosong sejak siang. Namun setiap kali mengingat Agam, tenggorokannya terasa tercekat. Bagaimana mungkin ia bisa makan dengan tenang sementara adiknya menangis sendirian? Kemuning menggigit bibir kuat-kuat agar tidak menangis lagi.

Pria tua itu memperhatikannya beberapa detik. Lalu matanya turun ke tangan Kemuning yang penuh luka kecil. Bekas lecet dan memar samar terlihat jelas di kulit putih gadis itu. Tatapan pria itu langsung berubah lebih gelap. “Bibimu sering memukulmu?”

Pertanyaan itu membuat tubuh Kemuning menegang seketika. Refleks ia menyembunyikan tangannya ke balik sweater. “Ti-tidak...” jawabnya pelan dan terbata.

Kebohongan itu terlalu mudah dibaca. Kemuning bahkan tidak sanggup mengangkat wajahnya sendiri. Ia sudah terbiasa menutupi semua rasa sakitnya sejak lama. Karena tidak ada yang pernah benar-benar peduli.

Pria tua itu diam cukup lama. Rahangnya tampak mengeras samar seperti menahan sesuatu. Namun ia tidak bertanya lagi dan memilih menatap keluar jendela. Hanya keheningan berat yang tersisa di antara mereka.

Kemuning mencuri pandang pelan ke arah pria tersebut. Usianya memang tidak muda lagi, tetapi auranya sangat kuat. Bahkan Miranti yang galak pun terlihat ketakutan di depannya tadi. Siapa sebenarnya lelaki ini?

“Namamu Kemuning Larasati?”

Kemuning mengangguk kecil mendengar pertanyaan mendadak itu.

Pria tersebut kembali memperhatikannya lama sekali. Sorot matanya perlahan berubah samar dan jauh. “Kau sangat mirip ayahmu.”

Kalimat itu kembali membuat jantung Kemuning berdegup aneh. Ia belum sempat bertanya ketika pria tersebut memalingkan wajah lagi. Seolah menyesali sesuatu yang tidak ingin dibicarakan. Kemuning memandang hujan di luar kaca mobil dengan bingung.

Sudah lama tidak ada yang menyebut ayahnya. Sejak kedua orang tuanya meninggal, semua orang di desa hanya membicarakan kesialan. Bukan kenangan baik tentang mereka.

“Ayahmu pria keras kepala. Tapi dia selalu menolong orang lain.” Suara pria tua itu terdengar pelan untuk pertama kali.

Kemuning menahan napas tanpa sadar. Ia ingin bertanya lebih banyak. Namun rasa takut membuat lidahnya kelu. Ia hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri lebih erat. Dingin malam terasa menembus sampai ke tulang.

Pria tua itu memperhatikan tubuh Kemuning yang menggigil pelan. Tanpa banyak bicara, ia membuka jas mahalnya sendiri. Lalu meletakkannya di pangkuan Kemuning begitu saja.

Gadis itu langsung membelalak panik. “Aku tidak apa-apa...”

“Pakai.” Nada suara pria itu tidak tinggi, tetapi sulit dibantah.

Kemuning akhirnya menurut pelan sambil menunduk. Aroma maskulin samar menempel pada jas hitam itu. Hangatnya langsung membuat tubuh Kemuning sedikit rileks. Sudah sangat lama tidak ada yang memperlakukannya selembut ini. Perasaan asing mulai mengganggu dadanya.

Perjalanan kembali berlanjut setelah pengawal masuk membawa makanan. Kotak makan mahal diletakkan di dekat Kemuning. Namun gadis itu hanya menatapnya kosong tanpa selera. Pikirannya masih tertinggal bersama Agam di desa.

Di tengah perjalanan, rasa kantuk mulai menyerang perlahan. Tubuh Kemuning terlalu lelah setelah bekerja seharian dan menangis tanpa henti. Matanya terasa berat meski ia terus berusaha bertahan sadar. Sampai akhirnya kepalanya jatuh pelan ke samping.

Pria tua itu menoleh saat merasakan tubuh kecil di sebelahnya melemah. Kemuning tertidur sambil memeluk jasnya erat-erat. Bekas air mata masih terlihat jelas di wajah cantik polos itu. Tatapan pria tersebut berubah rumit sesaat. “Bagaskara...” gumamnya lirih. “Andai kau tahu apa yang terjadi pada anakmu...” Kalimat itu hilang tertelan suara hujan malam. Tidak ada yang mendengarnya selain dirinya sendiri.

Mobil akhirnya memasuki kawasan elite kota menjelang tengah malam. Mata Kemuning perlahan terbuka saat kendaraan berhenti di depan gerbang besar. Ia langsung terdiam melihat mansion megah menjulang di hadapannya.

Rumah itu terlihat seperti istana dalam film televisi. Lampu taman menyala indah di sepanjang jalan masuk. Air mancur besar berdiri di tengah halaman luas penuh bunga putih. Bangunan utama tampak dingin, elegan, dan sangat mahal. Kemuning mendadak merasa dirinya terlalu kecil berada di sana.

Pintu mobil dibukakan pengawal dari luar. Kemuning turun pelan sambil memegang ujung sweater lusuhnya gugup. Beberapa pelayan yang berjajar di depan rumah langsung memperhatikannya diam-diam. Tatapan mereka penuh rasa heran dan meremehkan.

“Dia siapa?” bisik salah satu pelayan.

“Katanya gadis desa.”

“Pak Mahardika membawa perempuan pulang malam-malam?”

Bisikan itu membuat pipi Kemuning memanas malu. Ia refleks menundukkan kepala lebih dalam. Sepatunya yang kotor terasa sangat memalukan di lantai marmer bersih itu. Kemuning bahkan takut meninggalkan jejak air hujan di rumah mewah tersebut.

Tangannya mencengkeram sweater tipis dengan gelisah. Saat itulah bulu kuduknya tiba-tiba meremang. Seperti ada seseorang yang sedang memperhatikannya diam-diam. Kemuning perlahan mendongak ke arah lantai atas mansion. Dan napasnya langsung tertahan.

Di balkon gelap lantai dua berdiri seorang pria tinggi berpakaian hitam. Hanya siluet tubuh tegap dan tatapan tajamnya yang terlihat jelas. Satu tangannya masuk ke saku celana sementara yang lain memegang gelas kecil. Aura pria itu terasa dingin bahkan dari kejauhan. Mata mereka bertemu singkat. Namun entah kenapa jantung Kemuning langsung berdetak kacau. Tatapan pria asing itu terlalu tajam seolah mampu menembus dirinya.

Kemuning buru-buru menunduk gugup. Saat ia kembali melihat ke atas, pria itu sudah pergi. Hanya tirai balkon yang bergerak pelan tertiup angin malam. Kemuning mengerutkan dahi bingung dengan reaksinya sendiri.

 Kenapa tatapan singkat itu terasa begitu mengganggu?

“Siapkan kamar untuk dia.” Suara Mahardika Mahendra memecah keheningan halaman depan.

Salah satu pelayan langsung membungkuk hormat. Namun wajahnya terlihat ragu-ragu. “Maaf, Pak... Kamar tamu sedang dipakai semua karena renovasi sayap timur. Kami belum sempat menyiapkan kamar baru.”

Suasana langsung terasa canggung.

Kemuning buru-buru menggeleng panik. “Aku bisa tidur di mana saja... Gudang juga tidak apa-apa...”

Ucapan polos itu membuat beberapa pelayan saling pandang.

Mahardika tampak berpikir sesaat. Kerutan samar muncul di dahinya.

Kemuning makin tidak nyaman berdiri di tengah keheningan besar itu. Ia benar-benar merasa seperti orang asing.

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari tangga utama mansion. Pelan, berat, dan tenang. Entah kenapa suara itu membuat suasana langsung berubah. Semua pelayan otomatis diam seketika.

“Kalau memang tidak ada kamar...” Suara pria itu rendah dan dingin. “Biarkan dia tidur di kamar saya.”

Jantung Kemuning langsung berhenti sesaat. Ia refleks menoleh cepat ke arah tangga. Dan untuk pertama kalinya melihat wajah pria di balkon tadi dengan jelas. Tampan. Dingin. Berbahaya. Tatapan matanya membuat lutut Kemuning hampir melemas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!