NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:483
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04. Jam Sebelas Malam

​Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah bersama-sama.

Suasana di dalam rumah terasa begitu hangat dan nyaman.

Aroma wewangian ruangan yang lembut, yang keluar dari humidifier, langsung menyambut Alden. Itu adalah wangi citrus kesukaan almarhumah Mama, aroma yang selama bertahun-tahun selalu ia rindukan saat berada di negeri asing, dan kini masih tetap terjaga di rumah ini.

​Ruang tamu yang luas itu masih dipenuhi perabot yang sama seperti dulu.

Foto-foto keluarga serta beberapa lukisan tergantung rapi di dinding.

Sementara tangga besar yang mengarah ke lantai atas berdiri megah di sudut ruangan.

Semuanya seolah membawa Alden kembali pada potongan-potongan masa lalu.

​“Kamu mau langsung istirahat dulu atau makan dulu?” tanya Ranti pelan sambil menatap wajah Alden penuh kekhawatiran.

Ia menyadari wajah anak tirinya itu tampak pucat dan lelah setelah perjalanan panjang.

​Alden menggeleng kecil, lalu tersenyum tipis seolah ingin menenangkan mereka.

“Nggak usah khawatir, Bu. Alden masih kuat kok. Alden mau makan aja, Bu. Lagi pula perut Alden sudah keroncongan dari tadi mencium bau masakan Bi Inah,” jawabnya berusaha terdengar santai.

Ia tahu, melihat dirinya makan dengan lahap akan membuat hati kedua orang tuanya sedikit lebih tenang.

​Mereka pun berjalan menuju ruang makan.

Di atas meja panjang berbahan kayu jati yang mengilap, berbagai hidangan sudah tersaji rapi dan menggugah selera. Ada ayam goreng lengkuas, ikan asam pedas, sayur lodeh, sambal terasi, hingga kerupuk renyah yang masih hangat.

Semua itu adalah makanan favorit Alden sejak kecil, menu-menu sederhana yang dulu hampir selalu ia cari setiap pulang sekolah.

​“Mari duduk, Nak. Makan yang banyak, ya, supaya tenagamu cepat pulih,” ujar Pak Armanto sambil menarikkan kursi untuk Alden.

​Malam itu, ruang makan terasa menjadi tempat paling hangat di rumah tersebut.

Percakapan mengalir tanpa henti, sebagian besar dipenuhi cerita dari Pak Armanto dan Ranti tentang banyak hal yang terjadi selama Alden berada di luar negeri. Mereka bercerita tentang tetangga lama, kerabat keluarga, perubahan kota Jakarta, hingga kenangan-kenangan lucu saat Alden masih kecil dan remaja. Sesekali mereka tertawa mengingat tingkah Alden di masa lalu yang dulu sering membuat rumah gaduh.

​Alden mendengarkan semuanya dengan saksama. Sesekali ia tertawa kecil atau menanggapi singkat, namun tatapannya tampak hangat dan penuh rasa rindu.

Ia makan perlahan, menikmati setiap suapan yang terasa jauh lebih nikmat dibanding makanan mewah apa pun yang pernah ia santap selama tinggal di luar negeri.

Ada rasa nyaman yang sulit dijelaskan, seolah kehangatan keluarga itu perlahan mengisi kembali bagian kosong di dalam dirinya.

​Namun di tengah kehangatan itu, Alden tetap tidak bisa sepenuhnya melupakan kenyataan pahit yang hidup di dalam tubuhnya.

Sesekali rasa nyeri tumpul menyergap di bagian kanan perutnya. Tubuhnya juga terasa cepat lelah, sementara rasa haus seolah tak pernah benar-benar hilang meski ia sudah banyak minum.

​Alden hanya bisa menelan semua rasa sakit itu bersama makanannya.

Ia berusaha sekuat tenaga menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang agar tak seorang pun menyadari penderitaan yang sedang ia tahan.

Ia tidak ingin suasana hangat malam itu berubah menjadi kesedihan, dan ia tidak sanggup melihat wajah ayah serta ibu tirinya kembali dipenuhi rasa cemas.

​Setelah makan malam dan berbincang cukup lama, jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul sebelas malam.

Kelopak mata Alden mulai terasa berat. Tubuhnya perlahan dipenuhi rasa lelah yang luar biasa, seolah seluruh tenaganya habis terkuras setelah perjalanan panjang dan luapan emosi sejak tiba di rumah.

​“Sudah jam sebelas, Nak. Kamu pasti sangat lelah,” ujar Pak Armanto seolah bisa membaca kondisi putranya.

Ia lalu berdiri dari kursinya.

“Sebaiknya kamu segera istirahat. Besok pagi jam sepuluh, Dokter Handoko akan datang ke rumah untuk memeriksamu dan membicarakan rencana pengobatan selanjutnya.”

​Mata Alden sedikit membelalak mendengar itu.

"Dokter akan datang ke sini, Pa? Ke rumah?" tanyanya memastikan.

Selama di Australia, meski pelayanannya tertib dan nyaman, ia tetap harus pergi ke rumah sakit, menunggu sesuai jadwal, dan mengurus segala keperluannya sendiri.

​Pak Armanto mengangguk pelan.

"Iya, Nak. Dokter Handoko itu dokter yang sangat berpengalaman. Kebetulan beliau teman lama Papa," jelas Pak Armanto dengan tenang.

"Mulai sekarang beliau yang akan menangani pengobatan dan pemeriksaan kamu di sini. Jadi untuk kontrol rutin atau evaluasi kondisi, kamu nggak perlu terlalu sering bolak-balik ke rumah sakit kalau memang tidak diperlukan. Biar Dokter Handoko yang datang ke rumah atau mengatur pemeriksaannya supaya kamu nggak kelelahan."

​Pak Armanto terdiam sejenak sebelum melanjutkan.

"Dan satu lagi, kamu nggak perlu memikirkan biaya atau hal-hal seperti itu."

Sorot matanya melembut.

"Bagi Papa dan Ibu, yang paling penting sekarang adalah kondisi kamu. Kami ingin kamu senyaman mungkin, setenang mungkin, dan bisa menjalani semuanya tanpa menambah beban pikiran."

​Ia menghela napas pelan.

"Rezeki bisa dicari lagi, Nak. Harta bisa dicari lagi. Tapi waktu bersama keluarga... itu nggak bisa diganti dengan apa pun."

Pak Armanto tersenyum tipis, meski matanya menyimpan kelelahan yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

"Jadi jangan merasa jadi beban. Jangan pernah berpikir seperti itu."

Tangannya menepuk pelan bahu Alden.

"Selama Papa dan Ibu masih ada, biarkan kami melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan orang tua untuk anaknya."

​Alden menunduk sesaat. Entah mengapa, kalimat itu terasa jauh lebih berat daripada semua penjelasan medis yang baru saja ia dengar.

Ucapan itu membuat hati Alden terasa diremas kuat. Besarnya kasih sayang kedua orang tuanya justru membuat ia merasa begitu kecil dan tak berdaya. Terutama jika mengingat kembali masa-masa SMA, saat ia sering kali membuat sang ayah kecewa, marah, dan kehabisan cara untuk menasihatinya.

​"Makasih, Pa... Bu. Kalian benar-benar melakukan segalanya untuk Alden."

Suara Alden terdengar lirih dan sedikit bergetar.

​Pak Armanto dan istrinya saling berpandangan sejenak.

Ranti kemudian berjalan mendekat. Ia duduk di samping Alden lalu mengusap lembut punggung tangan pemuda itu yang terletak di atas meja.

​"Karena kamu anak yang sangat kami sayangi, Mas Alden," ucapnya pelan.

Nada bicaranya tetap sopan seperti biasa, namun kehangatan dan ketulusan di dalamnya begitu terasa.

"Dan apa pun yang terjadi, itu nggak akan berubah."

​Alden menunduk. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit dijelaskan.

​Ranti tersenyum lembut.

"Sekarang nggak usah pikirkan semuanya dulu."

Jemarinya masih menggenggam punggung tangan Alden dengan hati-hati.

"Ayo, kami antar ke kamar. Malam ini coba istirahat yang benar. Tidur yang nyenyak. Besok urusan besok. Untuk sekarang, tubuhmu perlu istirahat dan pikiranmu juga perlu tenang."

​Pak Armanto mengangguk setuju.

"Iya. Nggak perlu memikirkan macam-macam malam ini."

​Alden menghembuskan napas perlahan.

Sejak kembali dari Perth, ia merasa tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan siapa pun.

Karena di rumah itu, di hadapan orang-orang yang menyayanginya, ia boleh menjadi dirinya sendiri yakni seorang anak yang sedang lelah dan hanya ingin beristirahat.

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!