"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga belas
Kaki diandra sudah naik, mengikuti killian putranya saat xavier protes.
"aku bukan supir taksi, di. Duduk di depan!"
Diandra meringis, tanpa menjawab ia menutup pintu, setelah meyakini kalau putranya sudah tenang.
"maaf kalau kami merepotkan"
Xavier menggeleng, "kan aku yang nawari", kepalanya mengamati killian dari kaca spion depan.
"duduklah, nyamankan dirimu"
Diandra mengangguk, sebenarnya ada rasa sungkan. Merepotkan saja jadinya, tapi ucapan pria itu tadi benar juga. Sudah tengah malam, berbahaya rasanya kalau dia memakai taksi.
"makasih tuan xavi!"
"panggil saja xavi, nggak usah pakai tuan. Akukan bukan bos kamu"
Diandra tersenyum tipis, namun tak urung ia tetap menganggukkan kepalanya.
"terima kasih" ucapnya lagi, kini suaranya terdengar lirih.
"sama-sama, di!"
Xavier menatap jalanan ibukota yang tidak pernah tidur, keramaian di kota itu sama sekali tidak mengenal kata malam. Tatapan mata xavier sangat fokus.
"dan selamat juga, atas pertunanganmu!"
Xavier menoleh, raut wajah pria itu terlihat datar. Dia tak menjawab, dan sungguh diandra merasa tak enak hati karenanya.
Takut pria itu tersinggung, diandra kembali diam, ia ikut menatap jalanan yang ramai dan berisik.
"boleh aku tahu siapa nama lengkap lian?"
Diandra menoleh, sekilas terdengar helaan nafasnya.
"killian mahesa" sahutnya pendek, xavier mengamati wajah diandra yang mendadak sendu.
"nama yang bagus!" puji xavier tersenyum tipis, "apakah ayahnya yang memberi nama itu?"
Diandra menggeleng, tersungging senyum tipis. Ia tak menjawab, membiarkan xavier penasaran.
"tapi bocah tampan itu tidak mirip dengan ayahnya!" ujar xavier tiba-tiba, ia menunjuk killian dengan dagunya melalui kaca spion depan itu.
Diandra menoleh ke belakang, menatap sekilas putranya yang sudah tertidur.
"tidak, lian sangat mirip papanya!" gumam diandra lirih.
Xavier mengernyitkan keningnya, walau diandra berbisik, ia masih mendengar gumaman wanita itu.
Mungkin saja diandra sangat mencintai suaminya, sehingga tak bisa berpikir objektif.
Siapapun orang yang melihat putra diandra dan suaminya, pasti setuju kalau keduanya sangat tidak mirip.
Bola mata bocah laki-laki itu kebiru-biruan, sementara bola mata suami diandra itu menurutnya lebih keabu-abuan.
"kapan peresmian pernikahannya?"
Xavier sedikit tersentak, sekilas ia menoleh. Pertanyaan diandra barusan cukup mengagetkannya.
"barangkali restaurant kami bisa menangani bagian konsumsinya.."
Diandra tertawa kecil, dekik di pipinya, lesung pipinya membuat xavier terpana.
'Astaga wanita ini cantik sekali'
"kami hanya bertunangan, belum ada niat ke arah sana.." ujarnya dengan nada suara menggantung.
"aku hanya ingin menenangkan oma!"
Diandra mengangguk paham, lagi-lagi senyum tipisnya membuat xavier terpukau.
'astaga..ada apa denganku?'
Xavier masih terpana, saat diandra menoleh ke arahnya.
"kamu cucu berbakti!" puji diandra tulus menganggukkan kepala, senyumnya mengembang indah.
"hhhhhhh" xavier menghembuskan nafasnya kasar, ia mengalihkan pandangannya dari diandra.
Bukan, bukan karena dia tersinggung karena ucapan diandra, xavier sedang mengusir sebuah rasa yang tiba-tiba menghampiri hatinya.
Ia tahu kalau dirinya tertarik pada wanita ini, dan itu cukup menyesakkan rasanya. Sebejat-bejatnya xavier, dia tidak pernah mau berurusan dengan istri orang.
"oma, satu-satunya keluarga yang kumiliki" sahutnya lirih, "jadi rasanya sangat kejam kalau aku tidak menuruti kemauannya"
diandra mengangguk," makanya aku bilang. Kamu adalah cucu berbakti"
Diandra mengamati xavier yang tidak mengalihkan pandangannya dari padatnya jalanan tengah malam itu.
"pacar kamu cantik, kamu pasti bahagia dengannya!"
Xavier menoleh sekilas, entah mengapa telinganya menangkap nada sendu dari ucapan wanita ini.
Apakah xavier kegeeran, rasanya tidak. Pengalamannya tentang wanita cukup tinggi.
"apakah menurut kamu kebahagiaan sebuah pernikahan hanya dilihat dari visual pasangan?"
Diandra tergagap, pertanyaan xavier terasa seperti sebuah sindiran. Kepalanya menggeleng pelan,
"aku tidak tahu.." sahutnya, mata indah diandra menatap xavier yang sedang melihatnya.
"apakah pernikahanmu bahagia, karena suami kamu tampan?"
Diandra menelan salivanya, nada suara xavier terdengar menuntut jawaban.
"menurut kamu bagaimana?kamukan sudah lihat sendiri?apakah menurutmu aku bahagia?" tanya diandra balik.
Terlihat xavier sedikit kaget, bola mata pria itu membola sesaat. Terlihat jakunnya naik turun, ia menelan salivanya yang tiba-tiba mengganjal.
"kenapa kamu malah bertanya padaku?"
Mata diandra masih menatap lekat, bola mata pria itu. Perlahan kepalanya menggeleng, ia memalingkan wajahnya.
"sudahlah..." gumamnya dengan suara tertahan.
"kenapa pula aku membahas ini denganmu!"
Xavier mendengar gumaman diandra, tapi ia memilih untuk diam. Benar kata wanita itu, untuk apa mereka membahas hal itu.
"rumahku masuk sedikit ke dalam gang itu!"
Diandra menunjuk gang sedikit sempit, tapi sepertinya mobil sedan xavier bisa masuk.
Xavier mengangguk, tanpa menjawab ia mengarahkan mobilnya ke arah yang diandra tunjuk.
"kamu nggak perlu masuk!, turunkan saja kami di sini"
Xavier menggeleng tidak setuju, " ini hampir jam 1 malam, di. Bahaya!"
Diandra hendak menolak, namun melihat xavier yang begitu fokus, diandra akhirnya mengalah. Ia hanya diam, hanya tangannya menunjuk rumahnya.
"itu rumahku yang cat hijau!"
Xavier menghentikan mobilnya di depan rumah yang diandra tunjuk, rumah itu berpagar.
Cukup kecil, namun terlihat asri. Mata xavier mengamati rumah itu dengan tatapan heran. Lampunya mati, apakah suaminya sedang tidak ada di rumah.
Ada sedikit yang mengganjal di hatinya, melihat penampilan suami diandra tempo hari, rasanya rumah ini terlalu sederhana untuk kediaman mereka.
Namun xavier tak bicara sepatah katapun, ia tak bertanya, takutnya nanti diandra tersinggung. Xavier turun terlebih dahulu, ia ingin membantu diandra menggendong killian, namun wanita itu menolak bantuannya.
"terima kasih xavi!"
Xavier mengangguk, tangannya membantu diandra membuka pintu pagar.
"ohh, bisa tolong ambilkan kunci dari tasku?"
Diandra tersenyum malu, karena menggendong killian, tangannya jadi tidak bebas.
Lagi-lagi xavier mengangguk, beribu pertanyaan menggelayuti kepalanya saat ini, namun ia tetap membantu mengambil kunci yang diandra minta.
"terima kasih"
Diandra menyambut uluran kunci dari xavier, dan berusaha membuka pintu itu. Namun ia kelihatan sedikit kesulitan, xavier menyambar kunci dari tangan diandra, dan membuka pintu rumah itu.
"dimana saklar lampunya?" tanya xavier, pria itu sudah berdiri di ambang pintu.
Diandra tercekat, namun ia tetap menunjuk saklar lampu. Seketika ruangan terang benderang ,
"maaf xavi, aku tak bisa menawari kamu segelas air minum, sudah larut malam, lingkunganku sedikit keras untuk jam bertamu"
Xavier mengangguk paham, " tak apa, masuklah. Aku akan pergi sekarang"
"terima kasih xavi, untuk semuanya"
Xavier tersenyum.manis seraya mengibaskan tangannya, "sudahlah tutup pintunya!"
Diandra mengangguk patuh, walau pria itu belum pergi, ia menutup pintunya rapat. Diandra masih menggendong killian, saat terdengar suara pintu pagarnya di tutup.
Diandra menyingkap gordennya sedikit, ingin melihat pria itu, namun suara mobilnya sudah berlalu pergi.
Diandra menarik nafasnya sedikit keras, sejujurnya berada di dekat pria itu seperti tadi, masih menghasilkan kegugupan.
Diandra sebenarnya ingin menampik perasaan ini, namun ia dengan penuh kesadaran menyadari kalau dirinya memiliki perasaan pada pria itu.
Menyadari jika pria itu akan menikahi pacarnya, entah mengapa hatinya sedikit sakit.
Padahal mereka tidak memiliki hubungan apapun, walau yah jelas mereka memiliki killian. Tapi pria itu tidak mengenalinya sama sekali, mungkin saja pria itu juga sama sekali tidak ingat apa yang pernah terjadi diantara mereka.
"hhhhhhhh" kembali diandra menghembuskan nafasnya kasar, tangannya meraih handle pintu kamar putranya dan menutupnya perlahan.
Diandra menuju ke kamarnya, masih dengan rasa sendu yang menggelayuti hatinya.
Bersambung...