NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pagi itu, langit di atas desa terlihat abu-abu, seolah-olah ikut bersimpati pada nasib yang sedang menimpa Aira. Di dalam rumah, hiruk-pikuk persiapan pernikahan Siska sudah mencapai puncaknya.

Bunga-bunga segar beraroma harum memenuhi ruang tengah, katering mulai menata meja-meja mewah, dan kerabat jauh berdatangan dengan pakaian terbaik mereka.

Namun, semua kemewahan itu bukan untuk Aira.

"Mbak, geser dikit. Jangan duduk di situ, nanti gaun Siska kena debu koper Mbak," ketus Siska yang sedang dirias oleh penata rias profesional. Siska mengenakan kebaya putih bertahtakan payet kristal yang berkilau tajam di bawah lampu kristal.

Aira, yang hanya mengenakan kebaya lama berwarna putih gading hanya mengangguk kecil. Ia membawa koper tuanya ke teras depan, area yang sama sekali tidak tersentuh dekorasi. Di sana hanya ada sebuah meja kayu kecil dan empat kursi plastik yang dipinjam dari balai RW. Itulah panggung pernikahannya.

"Cepatlah, Aira. Penghulu sudah datang. Dewa juga sudah di depan," suara Pak Surya terdengar dingin dari balik pintu. Ayahnya bahkan tidak mengenakan jas untuk momen ini, hanya kemeja batik yang biasa ia pakai ke kantor kelurahan.

Aira melangkah ke teras. Di sana, Dewa sudah menunggu. Penampilannya masih sama seperti kemarin, kemeja batik yang warnanya sudah agak pudar dan celana bahan hitam yang tampak sedikit mengatung. Ia duduk dengan punggung tegak, matanya menatap lurus ke meja kayu di depannya.

Para tetangga yang sedang mengantre di depan gerbang untuk melihat persiapan pernikahan Siska mulai berbisik-bisik.

"Itu calon suaminya Aira? Ya ampun, kok kasihan banget ya?"

"Katanya sih kuli bangunan di kota. Makanya buru-buru dinikahkan supaya nggak jadi beban langkah buat si Siska."

"Lihat tuh, motornya saja berasap begitu. Mau makan apa si Aira nanti?"

Aira mendengar semua itu. Rasanya seperti ribuan jarum kecil menusuk kulitnya. Ia duduk di samping Dewa dengan gemetar. Namun, saat Dewa menoleh ke arahnya, Aira melihat tatapan yang berbeda.

Tidak ada rasa malu di mata pria itu. Sebaliknya, ada ketenangan yang begitu dalam, seolah-olah kebisingan dan hinaan di sekitar mereka hanyalah angin lalu.

"Kita mulai saja," kata Pak Penghulu sambil membenahi kacamatanya. Ia tampak agak terburu-buru, mungkin karena ia juga sudah dijadwalkan untuk memimpin akad nikah Siska yang jauh lebih megah beberapa jam lagi.

"Saudara Dewa, apakah mas kawinnya sudah siap?" tanya Penghulu.

Dewa merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah amplop putih polos yang tampak sudah agak tertekuk di bagian sudutnya. Ia meletakkannya di atas meja kayu.

"Maharnya... uang tunai seratus ribu rupiah, Pak," ucap Dewa dengan suara bariton yang mantap.

Seketika, tawa pecah di antara kerumunan tetangga yang menonton dari pagar. Siska yang mengintip dari jendela bahkan tak bisa menahan tawa sinisnya. "Seratus ribu? Untuk membeli seorang istri? Mbak Aira murah banget ya," bisik Siska cukup keras hingga terdengar sampai ke teras.

Wajah Pak Surya memerah padam. Ia merasa terhina, bukan karena maharnya yang sedikit, tapi karena rasa malunya di depan para tetangga. Namun, ia tidak bisa menghentikan ini. Mitos 'langkah' harus segera dipatahkan.

"Terima saja, Pak. Yang penting sah," bisik Bu Lastri sambil menyeka air mata yang entah karena sedih atau malu.

Prosesi akad dimulai. Tangan Dewa menjabat tangan Pak Surya dengan sangat kuat. Ada energi yang aneh saat Dewa mengucapkan kalimat ijab kabul.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Aira binti Surya dengan mas kawin tersebut, tunai!"

Dalam satu tarikan napas. Begitu tegas, begitu berwibawa, hingga untuk sesaat, tawa para tetangga terhenti. Mereka terkesima dengan cara pria miskin ini berbicara.

"Sah?"

"Sah!"

Doa dibacakan dengan cepat. Detik itu juga, Aira resmi menjadi istri Dewa. Dunianya telah berubah. Ia kini bukan lagi tanggung jawab ayahnya yang keras, melainkan tanggung jawab pria yang baru saja memberinya mahar selembar uang merah.

Aira menoleh ke arah Dewa. Dengan gerakan yang tulus, ia meraih tangan kanan Dewa dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Ia memejamkan mata, membisikkan doa dalam hati agar pria ini benar-benar bisa menjadi pelindungnya.

Dewa tertegun. Ia merasakan kelembutan tangan Aira dan ketulusan yang murni dari cara wanita itu menghormatinya sebagai suami, meski di tengah penghinaan yang luar biasa. Dewa yang biasanya dingin dan menjaga jarak, merasakan sesuatu berdesir di dadanya.

"Wanita ini... dia benar-benar berbeda," batin Dewa.

Dewa kemudian meletakkan tangannya di atas kepala Aira, membacakan doa untuk istri yang baru saja ia nikahi. Suaranya rendah dan hanya bisa didengar oleh Aira. Ada getaran emosi yang dalam di sana.

"Aira, maafkan aku karena hanya bisa memberimu mahar ini sekarang," bisik Dewa tepat di telinga Aira saat mereka bersalaman untuk pertama kalinya sebagai suami-istri.

Aira tersenyum kecil, meski matanya berkaca-kaca. "Tidak apa-apa, Mas. Mas kawin bukan harga seorang wanita, tapi bukti niat seorang pria. Aku akan menjaganya."

Hening sejenak. Namun, momen haru itu segera dipatahkan oleh suara Pak Surya. "Sudah, jangan lama-lama dramanya. Dewa, bawa Aira pergi sekarang. Adikmu butuh teras ini untuk menaruh janur kuning dan meja tamu VIP."

Dewa berdiri. Ia mengambil koper Aira dengan satu tangan seolah koper berat itu tidak ada bebannya sama sekali. "Kami pamit, Pak, Bu."

Tanpa ada pelukan perpisahan yang hangat dari sang ayah, Aira melangkah keluar dari rumah itu. Ia menaiki motor tua Dewa yang joknya sudah agak robek.

Para tetangga masih berdiri di sana, beberapa memotret dengan ponsel mereka, mungkin untuk dijadikan bahan gosip di grup WhatsApp desa tentang 'Pernikahan Paling Tragis Tahun Ini.'

Saat motor Dewa mulai melaju menjauh, meninggalkan kepulan asap hitam di depan rumah mewah ayahnya, Aira memeluk pinggang Dewa dengan ragu.

"Mas, kita benar-benar akan ke kota?" tanya Aira.

"Iya. Kita akan ke rumahku. Tapi perjalanannya agak jauh, kamu tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa, Mas. Selama aku bersamamu," jawab Aira pelan.

Dewa tersenyum di balik helm cetoknya. Ia merogoh saku jaketnya, memastikan ponsel rahasianya masih aman. Sebuah pesan masuk dari asisten pribadinya, Bara.

"Tuan Muda, seluruh akses ke Mansion Utama sudah dibersihkan. Mobil pengawal stand-by di kilometer 50. Tapi, apakah Anda yakin ingin membawanya ke rumah kontrakan kumuh di pinggir bandara terlebih dahulu ?"

Dewa tidak membalas. Ia mempercepat laju motornya. Ia ingin melihat sejauh mana ketulusan Aira akan bertahan.

Ia ingin tahu, apakah wanita yang baru saja mencium tangannya dengan penuh hormat itu akan tetap tersenyum saat melihat istana barunya yang hanya seluas garasi mobil mewahnya yang paling murah.

Namun, di tengah perjalanan, sebuah kejadian tak terduga muncul. Sebuah mobil Range Rover hitam tiba-tiba memotong jalan motor mereka, memaksa Dewa mengerem mendadak hingga motornya hampir terjungkal.

Aira menjerit kecil, memeluk Dewa lebih erat.

Tiga orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam turun dari mobil tersebut. Wajah mereka sangat dingin. Tetangga desa yang kebetulan lewat di jalan raya itu berhenti untuk menonton.

"Siapa mereka, Mas?" tanya Aira ketakutan.

Salah satu pria berjas itu melangkah maju, lalu tiba-tiba... ia membungkuk sangat dalam di depan motor tua Dewa.

"Tuan Muda, maaf mengganggu perjalanan Anda. Tapi ada keadaan darurat di kantor pusat. Nyonya Besar, mengetahui pernikahan ini dan beliau sedang menuju ke alamat yang Anda berikan."

Aira terbelalak. 'Tuan Muda? Kantor pusat? Nyonya Besar ?'

Dewa menghela napas panjang, wajahnya berubah menjadi sangat dingin dan berwibawa, sangat jauh dari kesan pemuda desa yang lugu. Ia menatap pria berjas itu dengan tajam.

"Aku sudah bilang jangan temui aku di jalan seperti ini, Hans," suara Dewa kini terdengar sangat rendah dan berbahaya.

Aira melepaskan pelukannya, menatap punggung suaminya dengan penuh tanda tanya. "Mas Dewa... siapa mereka sebenarnya?"

...----------------...

To Be Continue ....

1
ρυтяσ kang'typo✨
malu kali Ai kalo Dewa jujur dia cembokur🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
hanya di novel ini... 🥺🥺🥺Dewa bener" mengikuti Ai yang sederhana, dan cinta itu tumbuh di kehidupan mereka yang sederhana dulu di gang sempit, semoga tak pernah berubah yaaa, bahagia selalu
Yunita Asep
waktu itu kan Aira, panggilnua ayah kok jadi ppah y..
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
weeeh datang" mau minta mahar buat anak'y, lah wong anak'y saja di usir setelah akad ko😏😏apa kau pantas di sebut ayah??? g punya kaca ya pak di rumah 🤦‍♀️😌🤪
ρυтяσ kang'typo✨
sesayang itu Dewa sama Ai🥰🥰🥰MasyahAllah
Patrish
manis sekali kalian berdua...biarkan saja para tikus got berulah..ga akan ngefek
Patrish
aku membayangkan..kok dasternya Aira seperti punyaku ya😩😩😩
Patrish: kandhani ora percoyo
total 2 replies
Yunita Asep
lanjuutt dong authorr ceritanya baguuss aku suka...
Yunita Asep
alhmdulillah Aira, berbahagialah kamu, nikmati menjadi istri sultann...
Yunita Asep
Naah gitu dong seneng bcnya...
Yunita Asep
ya... mmhnya Dewa sakit, pasti gk tega trus pulang dah jngn ap nggk thorr...
Yunita Asep
lanjuutt.,
Yunita Asep
syukurin lu Arvin Siska... songong sih... lanjuutt...
Yunita Asep
dngn kebohongnnya justru dia akn kehilangn istrinya...
Yunita Asep
ketauan aj sih gpp y thorr, udah ketauan in Aira mah bukan wanita matre...
Yunita Asep
kasih panjang umur ayahnya Aira thorr bir tau syp sbnrnya suami Aira...
Yunita Asep
asyeekk nih certa baru serru... kasih tau Siska.. y.,
Yunita Asep
mampirr y thorr.
ρυтяσ kang'typo✨
Good Ai...jangan biarkan mereka merendahkan mu hanya karna baju dan rantang di tangan, dikira haku dan gila🤦‍♀️😌hadeeeh...padahal orang kampung lebih jujur dari pada orang kota yang sok baik di balut dengan baju mewah'y namun hati'y busuk🤭🤭🤭nak kan u harus siap mentak lagi Ai, di rumah ada tamu tak di undang yang mau kembali sam suami mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!