Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Suasana ruang makan kediaman Alexander pagi itu terasa ada yang kurang. Eyang Arka, Gavin, dan Siska sudah duduk rapi di kursi masing-masing, namun kursi di samping Kelvin masih kosong melongpong. Tidak ada aroma teh herbal yang menyengat atau senyuman manis yang biasanya menyambut mereka sejak dua hari lalu.
Siska berkali-kali melirik ke arah tangga dengan raut wajah cemas. "Kelvin, Nada mana? Kenapa jam segini dia belum turun? Biasanya dia yang paling semangat menyiapkan sarapan untuk Eyangmu."
Kelvin yang sedang mengoles mentega ke rotinya sempat menghentikan gerakannya sejenak. Kilatan ingatan tentang bagaimana ia menggendong Nada ke kamar mandi dan rasa perih yang diderita wanita itu akibat ulah brutalnya semalam melintas cepat di kepalanya. Kelvin tahu betul alasan mengapa istrinya tidak turun: wanita itu pasti benar-benar tidak kuat untuk berjalan saat ini.
"Dia... sedang tidak enak badan, Mama," jawab Kelvin datar, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap tenang dan tidak menimbulkan kecurigaan yang aneh-aneh.
"Astaga, Nada sakit?" Siska langsung panik, hendak bangkit dari kursinya. "Mama harus periksa ke atas. Dokter juga bisa sakit kalau kelelahan."
"Tidak usah, Ma," potong Kelvin cepat, membuat Siska menghentikan langkahnya. Kelvin berdeham kaku, menyadari reaksinya terlalu impulsif. "Maksudku... dia hanya butuh istirahat total. Biar Kelvin saja yang membawakan sarapan ke atas untuknya sebelum berangkat ke kantor."
Eyang Arka yang mendengar hal itu langsung tersenyum penuh arti, melirik Gavin yang juga mengangguk-angguk paham. Di mata orang tua itu, sikap Kelvin yang mulai perhatian adalah kemajuan besar bagi pernikahan mereka. "Ya sudah, Kelvin. Suami yang baik memang harus merawat istrinya. Bawa makanan yang hangat untuk Nada."
Kelvin melangkah kembali ke kamar utama sembari membawa sebuah nampan kayu berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas teh manis. Begitu mendorong pintu kamar, ia mendapati Nada sudah berganti pakaian dengan daster rumahan yang longgar, tengah bersandar di kepala ranjang dengan wajah yang sedikit pucat.
Kelvin mendekat, lalu meletakkan nampan itu di atas meja nakas dengan ketukan yang sengaja dibuat agak keras. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Nada dari atas ke bawah dengan senyuman miring yang terlihat sangat menyebalkan—sebuah tatapan mengejek yang jarang ia tunjukkan.
"Ini sarapanmu," ucap Kelvin, nadanya terdengar congkak. Ia sedikit membungkuk, menatap langsung ke manik mata Nada. "Padahal semalam kau yang bertingkah paling berani dan menantangku habis-habisan. Tapi kenapa baru satu malam... kau sudah tumbang seperti ini, hm? Di mana dokter hebat yang pamer tubuh bagus kemarin?"
Mendengar ejekan yang begitu telak dari Kelvin, wajah Nada seketika merona merah karena malu bercampur kesal. Rencana dramanya pagi ini buyar karena rasa perih di tubuhnya yang memang nyata, ditambah lagi diledek oleh pria yang menjadi dalang dari semua rasa sakit ini.
"Mas Kelvin sengaja ya?!" gerutu Nada kesal, bibirnya mengerucut sebal sembari memalingkan wajahnya ke arah lain. "Itu karena... karena Mas yang terlalu kasar semalam! Tidak punya perasaan sama sekali!"
Melihat Nada yang biasanya dingin, tenang, dan manipulatif kini menggerutu kesal dengan bibir yang maju beberapa sentimeter, Kelvin entah mengapa merasa pemandangan di depannya ini terlihat sangat lucu dan... menggemaskan. Ada kepuasan tersendiri di hati Kelvin melihat wanita yang selalu mengontrol situasi ini akhirnya bisa kesal setengah mati karenanya. Namun, Kelvin dengan cepat menahan senyumnya agar wibawanya tidak jatuh.
"Aku hanya melayani apa yang istriku minta, Denada," balas Kelvin santai, kembali menegakkan tubuhnya. "Cepat habiskan makananmu. Aku harus segera berangkat."
Nada melirik mangkuk buburnya dengan cemberut, lalu menatap Kelvin dengan pandangan menuntut. "Mas... hari ini sepertinya aku tidak bisa ikut ke lokasi proyek sebagai relawan. Berdiri saja kakiku masih gemetar. Aku mau izin libur satu hari hari ini."
Mendengar kata 'libur', binar mata Kelvin seketika berubah dingin secara profesional. Sisi CEO-nya yang kejam dan tak kenal ampun kembali ambil alih. "Tidak ada libur. Kau sendiri yang mengajukan diri menjadi relawan medis di Alexander Group tanpa paksaan. Di perusahaanku, tidak ada dispensasi hanya karena alasan pribadi yang... konyol seperti ini."
"Konyol?!" Nada membelalak tidak percaya, suaranya naik satu oktav. "Ini bukan konyol, Mas! Aku benar-benar susah jalan sekarang! Bagaimana aku bisa memeriksa pasien kalau jalanku saja pincang?"
"Itu urusanmu. Gunakan otak doktermu untuk mengatasinya," jawab Kelvin kejam tanpa perasaan, sembari merapikan jam tangan mewahnya. "Jika kau tidak muncul di posko medis jam sepuluh nanti, aku akan menganggap tim relawanmu melanggar kontrak, dan aku tidak segan untuk memotong dana anggaran kesehatan untuk desamu."
"Mas Kelvin benar-benar keterlaluan! Egois! Dasar CEO kejam!" cerocos Nada beruntun, tangannya memukul bantal di sampingnya dengan kesal. Ia terus menggerutu di bawah selimut, menyumpah-nyumpahi Kelvin dengan bahasa daerah yang tidak dimengerti pria itu.
Kelvin hanya mendengus geli mendengar rentetan umpatan lirih Nada. Tanpa membalas lagi, ia berbalik dan melangkah keluar kamar dengan perasaan yang entah mengapa jauh lebih ringan pagi ini. Di dalam kamar, Nada hanya bisa menatap pintu yang tertutup dengan kilatan mata yang tajam; suaminya benar-benar iblis yang harus segera ia hancurkan.