Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Istana di Atas Kaca
Kerlip lampu jalanan kota metropolitan perlahan berubah menjadi deretan lampu hias kekuningan yang elegan saat mobil sedan mewah yang membawa Haena memasuki kawasan Menteng.
Di balik kaca mobil yang gelap, Haena menatap deretan rumah agam dengan pilar-pilar raksasa yang berdiri angkuh di sepanjang jalan. Lingkungan ini begitu tenang, seolah hiruk-pikuk dan debu kemiskinan dari pinggiran kota yang baru saja ditinggalkannya sengaja diredam oleh dinding-dinding beton tinggi bercat putih bersih.
Haena meremas pelan tali tas ranselnya yang usang di atas pangkuan. Bukan karena dia merasa minder atau takut, melainkan karena otaknya sedang bekerja keras menyusun strategi. Dia tahu, kepulangannya malam ini bukanlah sebuah reuni keluarga yang penuh air mata kerinduan, melainkan sebuah deklamasi perang yang tidak disengaja terhadap siapa pun yang merasa terusik dengan kehadirannya.
Mobil akhirnya melambat dan berbelok memasuki sebuah gerbang besi hitam menjulang tinggi dengan ukiran geometris yang rumit. Di atas pilar gerbang, sebuah plakat kuningan berkilau bertuliskan satu nama yang disegani di dunia bisnis Kediaman Utama Dirgantara.
Begitu mobil berhenti sempurna di pelataran marmer yang megah, Pak Baskara turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Haena dengan sikap takzim. Haena melangkah keluar, membetulkan letak kacamata transparannya, lalu mendongak menatap mansion bergaya kolonial modern di hadapannya.
Bangunan itu begitu luas, dengan dinding kaca masif yang memperlihatkan lampu gantung kristal yang berkilauan dari dalam. Sebuah istana yang indah, namun terasa sedingin es.
"Silakan lewat sini, Nona Haena. Tuan dan Nyonya sudah menunggu di ruang keluarga utama," ucap Pak Baskara dengan nada rendah, memberikan isyarat agar Haena mengikutinya.
Haena melangkah dengan punggung tegak dan dagu terangkat tipis. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu kets putih yang mulai menguning tidak terdengar sama sekali di atas lantai marmer impor yang mengkilap bagai cermin.
Di sepanjang koridor luas yang mereka lewati, beberapa pelayan berseragam rapi tampak membungkuk hormat, namun Haena bisa menangkap kilatan tatapan menilai dan skeptis dari sudut mata mereka. Mereka pasti sedang mempertanyakan bagaimana seorang gadis yang tumbuh di kedai soto kumuh bisa menjadi pewaris darah daging keluarga ini.
Saat pintu ganda berbahan kayu jati solid di ujung koridor dibuka oleh pengawal, pandangan Haena langsung tertuju pada tiga orang yang duduk di sofa beludru mewah di tengah ruangan.
Di tengah, duduk seorang pria paruh baya berwajah tegas dengan beberapa guratan perak di rambutnya. Dialah Tuan Bramasta Dirgantara. Begitu melihat Haena melangkah masuk, pria itu seketika berdiri.
Matanya yang biasanya sedingin elang mendadak bergetar hebat. Emosi yang tertahan selama tujuh belas tahun seolah tumpah saat dia menatap lekat-lekat fitur wajah Haena terutama tahi lalat kecil di bawah dagunya yang persis seperti milik ibunda Tuan Bramasta.
"Haena..." suara Tuan Bramasta tercekat di tenggorokan.
Langkahnya agak limbung saat dia berjalan cepat mendekati Haena, lalu tanpa aba-aba langsung mendekap gadis itu ke dalam pelukan hangat yang erat.
"Putriku... akhirnya kamu pulang. Maafkan Papa, Nak... Maafkan Papa karena terlambat menemukanmu."
Haena sempat tertegun. Dia bisa merasakan ketulusan yang luar biasa dari pelukan pria yang kini sah menjadi ayah kandungnya itu. Detak jantung Tuan Bramasta yang berpacu cepat dan getaran di bahunya menunjukkan betapa besarnya rasa bersalah dan kerinduan yang dipendam pria itu.
Perlahan, Haena membalas pelukan itu dengan tepukan lembut di punggung sang ayah, mencoba menyalurkan ketenangan dari mental bajanya.
Namun, kehangatan itu tidak bertahan lama. Dari sudut sofa, seorang wanita paruh baya dengan pakaian desainer ternama dan perhiasan berlian yang mencolok berdiri dengan anggun namun kaku.
Nyonya Rosalind Dirgantara menatap Haena dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pandangannya langsung tertuju pada jaket jins belel, kaus hitam polos, dan tas ransel murah yang dibawa Haena.
Nyonya Rosalind berdeham pelan, suaranya terdengar dingin dan sarat akan gengsi sosial.
"Bram, kendalikan dirimu. Jangan membuat pelayan berpikir kita tidak memiliki tata krama. Biarkan anak itu duduk dulu."
Tuan Bramasta perlahan melepaskan pelukannya, menghapus setitik air mata di sudut matanya dengan saputangan, lalu menuntun Haena untuk duduk.
"Ah, ya, benar. Mari duduk, Haena. Ini... ini ibumu, Rosalind."
Haena menatap Nyonya Rosalind, lalu mengangguk sopan.
"Selamat malam, Nyonya Rosalind," ucap Haena dengan suara tenang dan jernih.
Nyonya Rosalind tampak sedikit tersentak mendengarnya. Kerutan tipis muncul di dahinya.
"Nyonya? Haena, aku ini ibu kandungmu yang melahirkanmu. Tapi... yah, kurasa wajar jika kamu belum terbiasa dengan sopan santun kelas atas karena lingkungan tempatmu tumbuh besar. Kita akan menyewa guru etiket terbaik untuk merombak semua kebiasaan lamamu sesegera mungkin."
Mendengar sindiran halus namun tajam itu, Haena tidak menunjukkan riak kemarahan atau rasa tersinggung sedikit pun. Dia justru membalas tatapan Nyonya Rosalind dengan pandangan lurus yang cerdas dari balik kacamatanya.
"Terima kasih atas perhatiannya, Nyonya. Namun, ibu yang membesarkan saya selama tujuh belas tahun ini selalu mengajarkan saya bahwa sopan santun sejati dinilai dari bagaimana kita menghargai orang lain, bukan dari seberapa mahal pakaian yang kita kenakan."
Tuan Bramasta diam-diam menarik sudut bibirnya, terkesan dengan jawaban taktis dan berani dari putri kandungnya. Sementara itu, wajah Nyonya Rosalind sempat memerah sesaat karena merasa diskakmat oleh seorang gadis remaja dari pinggiran kota.
Di saat ketegangan tipis itu terjadi, sosok ketiga yang sejak tadi duduk diam di sofa akhirnya bergerak. Seorang gadis seusia Haena dengan gaun pastel mewah dari sutra murni berdiri dengan air mata yang merebak di pelupuk matanya. Wajahnya yang cantik dipoles riasan tipis ala Korean Ulzzang yang sempurna.
Dialah Vanya.
Gadis anak angkat yang diadopsi untuk menggantikan posisi Haena yang hilang.
Vanya melangkah mendekati Haena dengan ekspresi yang tampak begitu rapuh dan penuh suka cita, sebuah akting bermuka dua yang sangat matang untuk gadis seusianya.
"Kamu... Kamu pasti Haena, kan? Ya Tuhan, akhirnya kamu kembali ke rumah ini!" Vanya langsung menggenggam kedua tangan Haena dengan ekspresi haru.
"Selama ini aku selalu merasa bersalah karena menempati posisimu dan menikmati semua fasilitas Papa dan Mama. Mulai hari ini, aku berjanji akan mengembalikan semua yang menjadi hakmu, Haena. Aku rela jika harus pergi dari rumah ini agar kamu bisa bahagia..."
Mendengar ucapan Vanya, Nyonya Rosalind langsung berdiri dan merangkul bahu Vanya dengan protektif.
"Vanya, apa yang kamu katakan? Kamu tidak boleh pergi ke mana pun! Kamu adalah putri Mama, tidak ada yang bisa mengusirmu dari rumah ini hanya karena masalah darah daging. Rumah ini cukup besar untuk kalian berdua."
Vanya menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum kemenangan yang sangat tipis di sudut bibirnya saat melihat pembelaan dari Nyonya Rosalind. Di dalam hatinya, Vanya bersorak.
Dia sengaja melempar umpan serendah itu agar Nyonya Rosalind semakin merasa iba padanya dan sebaliknya, merasa risih dengan kehadiran Haena yang dianggap sebagai ancaman bagi kedamaian rumah.
Namun, Vanya sama sekali tidak menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan Haena.
Haena yang memiliki kepekaan psikologis yang tinggi dan mental sekeras baja langsung bisa membaca sandiwara murahan yang sedang dimainkan oleh Vanya.
Haena tidak menarik tangannya dari genggaman Vanya. Dia justru membalas genggaman itu dengan tekanan fisik yang cukup kuat sebuah demonstrasi kekuatan fisik tersembunyi yang membuat pergelangan tangan Vanya mendadak terasa ngilu dan kaku.
Dari balik kacamata transparannya, Haena menatap langsung ke dalam manik mata Vanya yang mulai memancarkan kepanikan menahan sakit.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah atau pergi dari rumah ini, Vanya," ucap Haena dengan nada suara yang sangat tenang namun beraura dingin, mengintimidasi tepat di indra pendengaran Vanya.
"Rumah ini memang sangat luas. Dan kurasa, fasilitas atau status yang kamu miliki selama ini sama sekali tidak menarik bagiku. Aku pulang ke sini hanya untuk menemui orang tua kandungku, bukan untuk merebut mainan milik orang lain. Jadi, kamu bisa menyimpan air matamu untuk hal yang lebih berguna nanti."
Vanya tertegun, wajahnya mendadak pias. Genggaman tangan Haena yang begitu kuat dan sorot mata yang penuh dominasi itu membuat nyali Vanya menciut untuk sesaat.
Dia buru-buru menarik tangannya kembali dengan napas yang agak memburu, menyadari bahwa gadis pinggiran kota yang dihadapinya malam ini sama sekali bukan lawan yang mudah untuk ditundukkan dengan air mata palsu.
Tuan Bramasta yang menangkap ketegasan dalam sikap Haena langsung menepuk pundak sang putri.
"Haena benar, Vanya. Kalian berdua adalah putri di rumah ini. Sekarang, Haena pasti lelah setelah perjalanan jauh. Pak Baskara, tolong antarkan Haena ke kamar utama lantai dua yang sudah dipersiapkan."
"Baik, Tuan," jawab Pak Baskara patuh.
Saat Haena berbalik dan melangkah mengikuti Pak Baskara menuju tangga besar, Vanya menatap punggung Haena dengan tatapan yang kini sepenuhnya dipenuhi oleh rasa benci dan dengki yang membara. Tangannya yang masih terasa linu mengepal erat di balik gaun mahalnya.
"Lihat saja, Haena. Ini baru malam pertama," batin
Vanya dengan kejam. "Besok adalah hari pertamamu masuk ke sekolah elite Dirgantara High School. Aku akan memastikan seluruh anak di sana tahu bahwa kamu tidak lebih dari seorang gadis pelayan kedai soto yang tidak punya kelas!"
Sementara itu, Haena terus melangkah naik ke lantai dua tanpa menoleh sedikit pun. Otak jeniusnya sudah mulai memetakan medan pertempuran barunya. Istana ini memang berdiri di atas fondasi kaca yang rapuh dan penuh kepalsuan, namun Haena bersumpah, jika ada yang berani mencoba memecahkan kaca itu untuk melukainya, maka dialah yang akan memastikan serpihannya menusuk balik jantung mereka.
(Cliffhanger)
"Keesokan paginya, saat Haena melangkah memasuki gerbang Dirgantara High School dengan seragam barunya, sebuah mobil sport mewah berwarna hitam legam berhenti mendadak tepat di sampingnya. Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok Kaelen Arkananta sang pewaris tunggal yang dingin yang menatap tajam ke arah gadis berkacamata dengan tahi lalat di dagu tersebut, memicu kehebohan di seluruh penjuru sekolah."