Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Puncak Api Bumi
Perjalanan menuju Sekte Pedang Awan memakan waktu tiga hari penuh. Rombongan murid baru yang lulus seleksi dibawa menggunakan Kapal Terbang Spiritual, sebuah keajaiban yang membuat para pemuda dari kota terpencil terbelalak kagum. Namun, Lin Chen hanya duduk diam di sudut geladak yang paling kotor, matanya terpejam, berpura-pura tidur sementara pikirannya sibuk mematangkan fondasi Titik Bintang pertamanya.
Ketika kapal akhirnya berlabuh, pemandangan luar biasa menyambut mereka. Tiga puncak gunung raksasa menembus lautan awan, dihubungkan oleh jembatan gantung raksasa yang terbuat dari rantai besi hitam. Bangunan-bangunan megah berjejer di lereng gunung, memancarkan aura sakral yang membuat napas para manusia fana tercekat.
Namun, Lin Chen tidak dibawa ke puncak utama. Bersama belasan pemuda lain yang gagal menjadi murid luar namun memiliki tubuh yang kuat, ia digiring menuju lereng paling bawah dari puncak ketiga: Puncak Pandai Besi.
Suhu di tempat ini sangat ekstrem. Udara dipenuhi bau belerang, asap hitam, dan dentingan logam yang memekakkan telinga. Tungku-tungku raksasa menyemburkan api kemerahan, ditenagai oleh urat api bumi yang berpusat di bawah gunung. Para pelayan bertelanjang dada, kulit mereka mengkilap oleh keringat dan jelaga, sibuk memanggul bijih besi atau memompa alat peniup udara raksasa.
Seorang pria bertubuh kekar seperti beruang dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya menyambut mereka. Dia adalah Pengawas Xiong, kepala pelayan di Puncak Pandai Besi.
"Dengar baik-baik, kalian para sampah!" suara Pengawas Xiong menggelegar mengalahkan suara dentingan martil. "Di sini tidak ada kultivasi, tidak ada teknik pedang terbang, dan tidak ada kelembutan! Tugas kalian hanya tiga: angkut bijih besi, jaga nyala tungku, dan bersihkan ampas tempaan! Jika kalian bekerja keras, sekte akan memberi kalian tiga keping perak dan sebutir Pil Pengumpul Qi tingkat rendah setiap bulan. Jika kalian malas, cambukku yang akan berbicara!"
Pil Pengumpul Qi tingkat rendah mungkin berharga bagi pelayan biasa, tetapi bagi Lin Chen yang telah kehilangan Dantian, pil itu hanyalah sebutir permen manis yang tak berguna. Fokus utamanya ada pada hal lain.
"Lin Chen!" Pengawas Xiong memanggil, melempar sebuah keranjang rotan besar yang diperkuat kawat baja ke arahnya. "Tubuhmu terlihat kurus, tapi kulihat kudamu cukup stabil. Tugasmu adalah mengangkut Bijih Besi Hitam dari gudang tambang bawah ke Tungku Nomor Tujuh. Satu hari lima puluh keranjang. Kurang dari itu, jangan harap mendapat jatah makan malam!"
Bijih Besi Hitam dikenal karena kepadatannya. Satu bongkahan seukuran kepalan tangan saja beratnya bisa mencapai dua puluh jin (sekitar 10 kilogram). Satu keranjang penuh bisa berbobot lebih dari tiga ratus jin. Bagi manusia fana tanpa aliran Qi, mengangkut beban seberat itu mendaki lereng gunung adalah siksaan neraka.
Namun, Lin Chen menyandangkan keranjang itu ke punggungnya tanpa sepatah kata pun.
Memasuki gudang tambang yang gelap, Lin Chen mulai memuat bijih besi hitam ke dalam keranjangnya. Ketika beban mencapai tiga ratus jin, ia menarik napas panjang. Titik Bintang di tengah dadanya berdenyut pelan, memancarkan seutas energi kosmis yang mengalir ke tulang belakang dan otot kakinya.
Dengan sekali sentakan, ia berdiri tegak. Beban yang seharusnya membuat tulang manusia fana remuk, kini terasa tak lebih dari sekantong beras ringan. Tubuh fisik dari tahap Debu Bintang mulai menunjukkan taringnya.
Meski begitu, Lin Chen tidak bodoh. Ia sengaja membuat langkahnya terlihat berat, membiarkan keringat membasahi wajahnya, dan sesekali berpura-pura terengah-engah saat melewati area yang diawasi.
"Kendalikan pernapasamu, jangan biarkan aliran energi bintangmu bocor sedikit pun," suara Guru Lin Tian mengingatkan dari dalam benaknya. "Di puncak ini mungkin tidak ada tetua tingkat tinggi, tetapi kehati-hatian adalah perisai terbaik bagi yang lemah."
"Murid mengerti," balas Lin Chen dalam hati.
Rutinitas brutal itu berlangsung hingga matahari terbenam. Banyak pelayan baru yang pingsan atau memuntahkan darah karena kelelahan, namun Lin Chen berhasil menyelesaikan lima puluh keranjang tepat pada waktunya. Ia menerima jatah makan malam berupa dua potong roti keras dan semangkuk sup sayur tawar, lalu kembali ke barak pelayan—sebuah gubuk kayu reyot yang diisi oleh sepuluh orang.
Karena bau badannya yang paling kotor dan statusnya sebagai "mantan jenius cacat" yang sudah menyebar, pelayan lain menjauhinya dan menempatkannya di sudut paling pojok, dekat jendela usang yang menghadap langsung ke tempat pembuangan ampas tempaan.
Itulah tepatnya yang diinginkan Lin Chen.
Tengah malam tiba. Suara dengkuran keras memenuhi gubuk kayu. Lin Chen membuka matanya yang tajam menembus kegelapan. Perlahan dan tanpa suara, ia menyelinap keluar melalui jendela, mendarat dengan ringan di tumpukan ampas tempaan yang masih mengepulkan hawa panas.
Di antara tumpukan terak dan abu itu, terdapat bongkahan-bongkahan kecil bijih besi spiritual bermutu rendah yang dianggap gagal, cacat, atau terlalu kotor untuk ditempa menjadi senjata para murid sekte. Bagi mereka, ini adalah sampah.
Namun, di dalam benak Lin Chen, Lin Tian tertawa pelan.
"Lin Chen, tahukah kau mengapa Seni Kekosongan Bintang adalah seni terlarang di zaman kuno?" tanya Lin Tian.
Lin Chen memungut sebuah bongkahan bijih cacat berwarna kemerahan yang masih memancarkan panas. "Bukankah karena teknik ini menentang tatanan alam, Guru?"
"Itu salah satunya. Alasan utamanya adalah karena alam semesta adalah entitas yang rakus. Ia menelan segalanya. Bintang-bintang di langit tidak hanya menyerap Qi murni, tetapi juga elemen kasar: debu, logam, api, es. Segalanya!" Suara Lin Tian menjadi penuh semangat. "Bongkahan di tanganmu itu adalah sisa-sisa elemen Logam dan Api Bumi murni. Kultivator biasa tidak bisa menyerapnya karena akan menghancurkan Dantian mereka. Tapi kau? Tubuhmu adalah cangkang kosong.
Mata Lin Chen berbinar. "Maksud Guru, aku bisa melahap esensi dari sampah-sampah logam ini?"
"Duduklah. Alirkan kekuatan dari Titik Bintang pertamamu ke telapak tangan. Gunakan tekanan itu untuk menghancurkan cangkang fisik bijih tersebut, lalu hisap esensi inti elemennya. Malam ini, kita akan membidik Titik Bintang keduamu di meridian 'Quchi' di lengan kananmu!"
Tanpa ragu, Lin Chen duduk bersila di tengah tumpukan sampah sekte itu. Ia menggenggam bongkahan bijih cacat di tangan kanannya. Mengikuti panduan Seni Kekosongan Bintang, energi perak kebiruan dari dadanya mengalir ke telapak tangannya.
KRAAAK!
Bongkahan bijih sekeras baja itu hancur menjadi debu halus. Bersamaan dengan itu, seutas aliran energi merah menyala yang liar dan panas merasuk melalui pori-pori telapak tangannya, menembus langsung ke tulang lengannya bak seekor ular api yang mengamuk.
Rasa sakit yang familier kembali menyerang, seakan daging di lengan kanannya sedang dipanggang dari dalam. Lin Chen menggertakkan gigi hingga gusi-gusinya berdarah, namun sorot matanya menatap tajam ke arah langit malam di atas Puncak Pandai Besi.
Ini baru bongkahan pertama dari ribuan ton ampas bijih yang teronggok di gunung ini. Tempat ini bukanlah tempat pembuangan baginya, melainkan surga perbendaharaan rahasia yang akan menjadi batu loncatannya menuju keabadian.