Kinan Malika, Gadis berusia 23 tahun yang menempuh pendidikan hukum selama 4 tahun, dan setelah lulus dia melamar pekerjaan sebagai notaris dan ingin menjadi pengacara.
Sayangnya, tidak ada yang percaya dengan kemampuannya. Hingga dia di terima di sebuah perusahaan besar untuk menjadi asisten pribadi seorang bos yang tidak pernah terpikir olehnya.
Baskara Rama Jaya, seorang laki-laki berusia 30 tahun. Bos perusahaan besar yang terkenal dingin dan tidak memiliki belas kasih terhadap karyawannya.
Memiliki trauma masa lalu dan mengindap insomnia akut, menyebabkan dirinya susah tidur ketika malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Baskara benar-benar tidak bisa tenang. Sudah Jan 10 malam, tapi Kinan belum juga kembali ke rumah.
Kesal, marah, khawatir jadi satu membuat Baskara memutuskan untuk keluar mencari gadis itu. Ini sudah malam, lalu bagaimana bisa dia berkeliaran di luar sana.
Entah sedang apa juga dia tidak tau. "Kamu juga khawatir sebagai atasan, Baskara. Ya, kamu hanya mengkhawatirkan karyawan kamu. Ingat, kamu juga pernah menyelamatkan Tiara waktu itu." gumamnya meyakinkan dirinya sendiri.
Rasa khawatirnya yang berlebihan itu dia anggap biasa, sama saat dia mengkhawatirkan keadaan Tiara waktu itu.
Tapi, kemana dia harus mencari Kinan? Dia tidak tau apapun tentang gadis itu. Teman, keluarga, kerabat. Dia sama sekali tidak mengetahuinya.
"Kemana, kamu Kinan?" gumam Baskara yang menyusuri jalanan kota di malam hari untuk mencari keberadaan Kinan.
Bahkan hingga hampir pagi dia berkendara Kinan juga tidak tidak pulang.
Baskara menghembuskan nafasnya dengan berat saat kembali ke rumah dan gadis itu tetap tidak ada disana.
"Dimana, kamu Kinan.?" tanya Baskara lelah setelah berkeliling dengan mobil mencari keberadaan Kinan.
Karena tidak bisa tidur, akhirnya dia memilih ke kantor saja. Disini juga dia ngapain? tidak ada Kinan di rumah.
Sebenarnya apa yang dia rasakan? Kenapa di saat dekat dengan Kinan dia bisa tidur, dan jika tidak ada Kinan seperti ini dia bahkan tidak merasa ngantuk sedikitpun.
Entahlah, yang jelas Baskara tidak tau perasaan apa itu.
Langkahnya terasa sangat berat memasuki kantor. Berjalan lambat menuju ruangannya, namun Baskara seperti mendengar suara dari dapur sepagi ini?
Semakin mendekat, Baskara melihat Kinan yang berdiri di depan mesin kopi di ruangan itu. Baskara mendekat dan menarik tangan gadis itu.
"Kemana kamu tadi malam? kenapa tidak pulang?" cecar Baskara yang menatap Kinan dengan dingin.
sedangkan Kinan juga memberanikan diri menatap pada laki-laki yang berdiri menjulang di depannya.
"Jawab saya, Kinan. Kemana kamu tadi malam?" tanya Baskara lagi.
"Saya tidak memiliki kewajiban apapun untuk menjelaskan pada bos kemana saya pergi tadi malam. Karena masa jam kerja saya sudah selesai." jawab Kinan berani membuat rahang Baskara mengetat sempurna.
Dia mengkhawatirkan keadaan Kinan, tapi apa yang dia dapatkan?
"Maaf, Bos. Permisi." pamit Kinan melepaskan tangannya dari cengkraman Baskara.
Kinan keluar dari dapur kantor, dia berjalan menuju meja kerjanya.
Sedangkan Baskara masih berdiri tegak di ruangan itu. Jawaban dari Kinan bukan jawaban yang dia inginkan.
"Loh, Bos?" Tiara kaget saat melihat Baskara berada di dapur.
"Mau buat kopi? Biar saya buatkan." lanjut Tiara.
"Tidak perlu!" jawab Baskara pergi meninggalkan dapur menuju ruangan kerjanya.
"Rafli, Rifki, keruangan saya sekarang!" titah Baskara tanpa melihat ke arah karyawannya sedikitpun.
"Hah?" beo Rafli lemas saat bokongnya saja belum duduk di kursi.
"SEKARANG!" seru Baskara membuat Rifki yang berani menjawabnya.
"Baik, Bos." jawab laki-laki itu.
Sedangkan Rafli, dia sudah lemas. Pasti sesuatu telah terjadi saat ini. Jika tidak mana mungkin mood bosnya langsung terjun bebas sepagi ini.
"Kiamat sudah dekat." gumam Rafli dengan raut wajah melasnya.
Kinan yang melihat sikap Baskara seperti itu hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Biarlah, bukan urusannya.
Apa pedulinya tentang mood ataupun perasaan laki-laki itu.
"Udah, ayo cepetan. Sebelum gunung Krakatau meletus." ujar Rifki pada Rafli.
Mereka menyiapkan mental untuk pagi ini. Entah bencana apa yang akan terjadi di ruangan itu nanti.
Apapun yang terjadi, ini bukan kali pertama bagi mereka bukan?
Mereka sudah sering menghadapi kondisi seperti itu. Hanya beberapa bulan ini saya sepertinya bos besar agak sedikit jinak hingga membuat mereka melupakan jika laki-laki itu adalah titisan Gunung Krakatau yang masih aktif hingga saat ini.
Jadi mau tidak mau, mereka harus siap menghadapi erupsi kapanpun itu bukan?
Saat keduanya masuk ke ruangan kerja Baskara, laki-laki itu langsung mengamuk. Dia mencampakan kertas-kertas yang nilainya puluhan milyar itu.
"Apa saja kerja kalian hah? Apa saya terlalu baik akhir-akhir ini hingga membuat kalian bisa bekerja sembarangan begini?" tanya Baskara mengamuk.
Erupsi mulai terjadi. Warga sipil bersiap menghadapi letusan yang akan bisa terjadi kapan saja.
Keduanya tidak bisa menjawab. Hanya bisa menunduk saja. Tidak tau dimana salahnya sebelum mereka membaca ulang berkas itu.
"Bereskan semuanya dan serahkan ke meja kerja saya satu jam lagi. Jika tidak, kalian bisa mengirimkan surat pengunduran diri ke HRD!" sarkasnya membuat Rafli dan Rifki langsung keluar dari ruangan setelah memunguti berkas-berkas tersebut.
Kinan yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Apa semua ini berkaitan dengannya?
Jika iya, seharusnya Rafli dan Rifki tidak terlibat dan menjadi korban.
***