( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cracking of the sky
Retakan Langit Pembawa Bencana
Makhluk-makhluk mengerikan itu turun ke permukaan dan langsung menyerang apa pun yang terlihat oleh mereka. Tanpa pengecualian, seolah-olah memang diciptakan hanya untuk menghancurkan segala yang ada di dunia ini.
Tentara-tentara kerajaan tentu tidak tinggal diam.
Meski dilanda kebingungan besar, mereka tetap bergerak. Pasukan dibagi ke seluruh penjuru kerajaan dalam kelompok-kelompok kecil untuk memastikan keselamatan rakyat. Entah mereka mampu melawan makhluk itu atau tidak, prioritas utama mereka adalah evakuasi.
Para tentara juga terus meyakinkan diri mereka bahwa tugas utama bukanlah mengalahkan makhluk tersebut, melainkan menggiring rakyat menuju Istana Utama yang telah ditetapkan sebagai tempat pengungsian darurat oleh Raja Rasdinand dalam rapat sebelumnya.
Namun keputusan itu tidak lepas dari pro dan kontra.
Sebagian bangsawan menolak keras ide tersebut, terutama karena Istana Utama dianggap sebagai tempat suci yang tidak seharusnya dipenuhi rakyat biasa.
“Apa maksudmu menyebut rakyat sebagai makhluk kotor?!"
Suara Raja Rasdinand menggelegar di ruang rapat.
“Apa status yang kau miliki sekarang membuatmu lupa bahwa kau juga manusia?!”
Seorang bangsawan langsung membalas.
“Tapi tetap saja, Raja! Istana Utama hanya untuk keluarga kerajaan dan bangsawan penting Nightdoom! Kita bisa menjadikan gereja sebagai tempat pengungsian!”
Perdebatan antara Raja Rasdinand dan Count Morian semakin memanas.
Namun pada akhirnya, keputusan Rasdinand tetap tidak bisa diganggu gugat.
Di seluruh wilayah kerajaan, para tentara berpencar dan bertarung mati-matian melawan makhluk-makhluk asing tersebut.
Pertempuran berlangsung kacau, karena mereka belum pernah menghadapi musuh seperti ini sebelumnya.
Sementara itu, unit Elite Guard Phantom Troops ditugaskan untuk melindungi keluarga kerajaan Nightvale.
Meski begitu, beberapa makhluk tetap berhasil menerobos dan menyerang area istana.
Hal ini membuat sebagian bangsawan mulai meragukan keputusan menjadikan istana sebagai tempat pengungsian, karena jumlah serangan di area tersebut semakin meningkat.
Leoric hanya bisa menyaksikan semua itu dari jendela.
Ekspresinya dipenuhi ketegangan dan frustrasi.
Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat orang-orang yang dikenalnya berjuang di bawah sana.
Akhirnya, ia menutup jendela dan berjalan menuju ruang keluarga kerajaan, dikawal oleh Anastasya untuk memastikan keamanannya.
Ruang keluarga kerajaan saat ini diisi oleh:
Raja Rasdinand Nightvale, Ratu Emily, Fiona (anak pertama), Leoric (anak kedua), Cortinus (anak ketiga), Fabian (anak keempat), Gregory (mantan raja sekaligus ayah Rasdinand), serta Valentine (istri Gregory).
Di luar ruangan, para Elite Guard dan pasukan istana berjaga ketat.
Namun kondisi di luar semakin memburuk.
Teriakan rakyat masih terdengar meski hari mulai memasuki sore.
Jumlah rakyat yang berhasil dievakuasi ke istana semakin banyak.
Di sisi lain, banyak makhluk juga telah berhasil dieliminasi oleh pasukan kerajaan.
Beberapa gereja yang dijadikan tempat perlindungan juga sempat bertahan, meski makhluk-makhluk itu beberapa kali mencoba menerobos dengan menghantam pintu dan dinding.
Namun tidak semua orang berhasil selamat.
Ada yang terlambat mencapai tempat perlindungan dan hanya bisa berteriak meminta bantuan dari luar gereja. Sayangnya, ketakutan di dalam membuat pintu tetap terkunci rapat.
Jeritan terakhir terdengar keras.
Lalu… semuanya hening.
Cairan merah mulai merembes dari sela-sela pintu besi gereja.
Malam akhirnya tiba.
Serangan makhluk asing mulai berkurang.
Sekitar pukul sembilan malam, tidak lagi terlihat pergerakan makhluk di sekitar istana maupun wilayah Nightdoom.
Kepala pasukan kemudian memerintahkan penyisiran ulang seluruh wilayah untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal, sekaligus patroli keliling istana untuk mengantisipasi serangan susulan.
Sebagian warga yang sebelumnya bersembunyi di gereja maupun ruang bawah tanah akhirnya berhasil dievakuasi.
Namun pemandangan yang mereka lihat sangat mengerikan.
Tanah, jalan, dan tanaman dipenuhi darah serta puing-puing tubuh manusia.
Rumah-rumah hancur, sebagian tertutup cairan merah yang mengering.
Sepanjang perjalanan menuju istana, banyak yang hanya bisa terdiam karena syok.
Di dalam istana, suasana keluarga kerajaan Nightvale juga tidak stabil.
Cortinus sempat meledak emosi dan menghina hina Raja Rasdinand sembari menendang nendang pintu ruangan.
Sementara itu, rapat darurat segera dimulai untuk membahas kondisi kerajaan dan kemungkinan nasib wilayah lain yang terdampak.
Raja Rasdinand mengusulkan untuk segera menghubungi Kerajaan Peak Cavalry di Gray Hills, mengingat Leoric akan segera menikah dengan Clarissa.
Namun situasi dunia saat ini membuat hal itu tidak mudah.
“Tapi Raja,” ujar Duke Marco, “Peak Cavalry berada di dataran tinggi dan sulit dihubungi.
Bahkan jika kita mengirim burung pembawa pesan, aku ragu mereka akan sampai. Makhluk itu bisa saja menyerang mereka di perjalanan.”
Raja Rasdinand mengerutkan kening.
“Kau… benar. Tapi bagaimana dengan pernikahan anakku? Itu penting untuk fondasi kerajaan ke depan.”
Count Ford segera menimpali.
“Tolong pikirkan kelangsungan kita dulu, Raja. Kita bahkan tidak tahu sampai kapan bisa bertahan di istana ini.”
Di tengah perdebatan itu, di waktu yang sama, Leoric hanya diam.
Namun pikirannya dipenuhi kekhawatiran terhadap Clarissa.
Peak Cavalry berada di wilayah yang lebih dekat dengan sumber fenomena langit. Jika benar demikian, kemungkinan kondisi mereka jauh lebih buruk.
Tanpa berkata apa-apa, Leoric meninggalkan ruangan dan berjalan menuju kamar mandi utama.
Padahal kamar mandi pribadi sudah tersedia di ruangannya sendiri.
Anastasya sempat menawarkan diri untuk menemani, tetapi Leoric menolak dengan tegas.
Meski begitu, Anastasya tetap memutuskan untuk mengikuti dari kejauhan demi keamanan.
“Jangan berani-berani mengikutiku,” ujar Leoric dengan suara dingin. “Aku akan sangat marah jika kau melakukannya, Anastasya.”
Anastasya akhirnya menyerah dan hanya bisa mengawasi dari jauh.
Ia berharap malam ini sudah tidak ada lagi ancaman dari makhluk asing tersebut.
Lorong istana kini gelap.
Lampu-lampu obor padam karena seluruh istana sedang dalam kekacauan.
Satu-satunya cahaya hanyalah sinar bulan yang masuk melalui jendela kaca tinggi.
Leoric akhirnya tiba di kamar mandi utama.
Ia menyalakan lampu minyak, lalu mencuci wajahnya.
Namun ketika ia mengangkat kepala…
Di belakangnya berdiri sosok makhluk.
Mirip manusia, namun berupa tengkorak berjubah.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.