"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Perdebatan Manis dan Tingkah Posesif Zaviar
Matahari siang sudah bertengger tinggi di pucuk langit Kota J, memancarkan hawa panas yang membakar aspal ibu kota. Namun di dalam kamar utama mansion Ravindra, sisa-sisa badai gairah fajar baru saja mereda sekitar satu jam yang lalu. Suasana kamar itu tampak seperti medan perang estetis yang kacau. Seprai sutra Italia telah terlepas dari ujung-ujung kasur, bantal-bantal berserakan di lantai marmer, dan selimut tebal bulu angsa tampak tergulung mengenaskan di sudut ruangan.
Di tengah ranjang yang berantakan itu, Arumi terbaring dalam posisi telentang dengan kedua mata terpejam rapat. Napasnya sangat lambat, mencerminkan tingkat kelelahan kronis yang sudah berada di ambang batas kemampuan fisik seorang manusia. Tubuh sang Macan Kemayoran benar-benar pingsan dalam artian yang sebenarnya; ia tidak lagi tidur, melainkan kehilangan kesadaran karena tenaganya telah dikuras habis-habisan oleh dua kepribadian yang menghajarnya berturut-turut tanpa jeda sejak malam tadi.
Tepat saat jam dinding berdentang menunjukkan pukul satu siang, raga besar pria yang berbaring di sebelah Arumi mengalami pergolakan internal yang sunyi. Kelopak matanya bergetar hebat selama beberapa detik. Guratan-guratan otot di wajahnya yang semula tegang dan memancarkan aura liar perlahan-lahan mengendur, kembali ke garis-garis wajah yang tegas, kaku, dan penuh wibawa. Manik mata yang semula menggelap mutlak dan penuh keliaran iblis kini meredup, digantikan oleh sepasang obsidian yang tenang, dingin, namun sarat akan kesadaran penuh.
Zaviar Ravindra telah kembali. Sang pemilik tubuh asli telah mengambil alih kendali kesadarannya secara mutlak.
Zaviar perlahan menegakkan tubuhnya, duduk di tepi ranjang seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut nyeri—sebuah efek samping yang selalu ia rasakan setiap kali terjadi pergantian kepribadian (switching) yang memakan waktu lama dan intensitas tinggi. Ingatan-ingatan tentang apa yang dilakukan oleh Varian sepanjang subuh tadi mengalir masuk ke dalam otaknya seperti gulungan film. Zaviar bisa melihat, merasakan, dan mendengar setiap erangan pasrah Arumi di bawah dominasi brutal sang alter ego.
Pria itu membalikkan tubuhnya untuk menatap sang istri. Begitu matanya menangkap kondisi fisik Arumi saat ini, jantung Zaviar rasanya seperti diremas oleh tangan tak kasat mata. Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menghantam dadanya hingga ia sempat kesulitan bernapas.
Arumi tampak begitu ringkih di atas kasur yang luas itu. Kulit pualamnya yang biasanya eksotis dan kencang kini dipenuhi oleh lebam-lebam merah keunguan yang sangat pekat—hasil dari cengkeraman, hisapan, dan gigitan posesif Varian yang tidak mengenal kata pelan. Bahkan di kedua pergelangan tangan Arumi, terdapat bekas jeratan memerah akibat ditekan terlalu kuat ke atas bantal sepanjang fajar.
Zaviar menghela napas berat, sebuah embusan napas yang sarat akan penyesalan mendalam. Ia mengutuk kelemahan mentalnya sendiri yang semalam sempat bimbang, yang menjadi celah bagi Varian untuk keluar dan merusak tubuh wanita yang paling dicintainya hingga seperti ini.
Zaviar tidak ingin membuang waktu lebih lama dalam penyesalan yang tidak berguna. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, seolah-olah ia sedang menyentuh boneka kaca yang paling rapuh di dunia, Zaviar menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah tubuh polos Arumi. Ia mengangkat tubuh istrinya yang terkulai lemas itu ke dalam gendongannya, lalu melangkah perlahan menuju kamar mandi utama yang bernuansa marmer putih luks.
Arumi sempat melenguh pelan, kepalanya terkulai di dada bidang Zaviar tanpa membuka mata. "Eungh... bajingan... lepas..." gumam Arumi dengan suara yang begitu serak, hampir menyerupai bisikan angin, mengira dirinya masih diganggu oleh Varian.
"Ini aku, Sayang. Ini Zaviar," bisik Zaviar dengan suara baritonnya yang sangat lembut, berbanding terbalik dengan nada bicaranya yang kaku di depan orang lain. Ia mengecup kening Arumi yang terasa agak hangat, merasakan denyut nadi istrinya yang begitu lemah karena kehabisan energi.
Zaviar mendudukkan Arumi di dalam bathtub yang sudah ia isi dengan air hangat bersuhu pas. Menggunakan spons mandi bermaterial paling lembut, Zaviar mulai membersihkan tubuh istrinya dengan ketelatenan yang luar biasa. Ia menyeka sisa-sisa keringat, wewangian keintiman, dan cairan manis murni dari kondisi galaktorea Arumi yang mengering di permukaan kulit dadanya.
Saat jemari besarnya menyentuh area dada Arumi yang membengkak akibat stimulasi hormon laktasi yang berlebihan tadi pagi, Zaviar melakukannya dengan teknik pijatan melingkar yang sangat perlahan, mencoba meredakan rasa nyeri dan ketegangan kelenjar susu yang pasti dirasakan Arumi saat ini. Tidak ada setitik pun gairah kotor di dalam mata Zaviar saat ini; yang ada hanyalah pengabdian mutlak seorang suami yang ingin menebus kesalahan alter egonya.
"Maafkan aku, Sayang... Maafkan aku," bisik Zaviar berkali-kali di dekat telinga Arumi, seraya membilas rambut hitam panjang istrinya dengan air hangat secara perlahan.
Setelah memastikan tubuh Arumi bersih dan mengenakan gaun tidur berbahan sutra yang longgar serta paling nyaman, Zaviar membawa kembali istrinya ke kamar tidur. Selama Arumi dipindahkan sebentar ke sofa, beberapa pelayan kepercayaan yang sudah disumpah untuk menjaga rahasia mansion dengan cepat mengganti seluruh seprai dan merapikan kamar utama hingga kembali bersih dan wangi dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Zaviar membaringkan kembali Arumi di atas ranjang yang sudah rapi, lalu menyelimutinya dengan hati-hati. Tak lama kemudian, seorang pelayan mengetuk pintu kamar dengan sopan, membawakan nampan berisi semangkuk bubur abalon hangat yang dimasak khusus, segelas susu protein, dan beberapa multivitamin dosis tinggi untuk memulihkan stamina.
Zaviar mengambil nampan tersebut, lalu duduk di sisi ranjang. Ia membangunkan Arumi secara perlahan, menyandarkan tubuh lemas istrinya pada tumpukan bantal yang empuk.
Arumi perlahan membuka kelopak matanya yang bengkak. Begitu melihat sorot mata obsidian yang teduh namun penuh rasa bersalah milik Zaviar, sifat ceplas-ceplosnya kembali keluar meskipun tenaganya tidak ada. "Muka lu melas amat, Kaku. Kenapa? Takut gue mati gara-gara peliharaan lu di dalam kepala itu?" cibir Arumi, suaranya masih sangat parau dan tipis.
Zaviar tidak membalas cibiran itu dengan kemarahan. Ia justru mengambil sesendok bubur, meniupnya hingga hangat, lalu mengarahkannya ke bibir Arumi. "Makanlah dulu, Sayang. Jangan banyak bicara. Kau butuh energi untuk memaki jiwaku yang lain nanti."
Arumi memutar bolamatanya malas, namun ia tetap menerima suapan dari Zaviar dengan pasrah. Setiap suapan bubur dan tegukan susu protein diantarkan Zaviar dengan kesabaran yang luar biasa, memastikan Arumi menelan obat-obatnya hingga tuntas tanpa ada yang terlewat. Sisi protektif dan perhatian dari sang Tuan Besar ini adalah oase yang sangat dibutuhkan Arumi setelah mengalami penyiksaan nikmat dari Varian.
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.