NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merenggut Kesucian

POV Arsyad

Sore diruang kerjaku terasa sepi,menyisakan suara jam dinding yang berdetak teratur. semua kerjaanku sudah aku selesaikan tepat waktu.

Hangat cahaya matahari sore menerobos masuk pada jendela kaca ruanganku.

Aku berdiri di depan cermin kamar mandi ruangan. Rahang tegas, postur tegap, dengan bahu lebar dan kokoh. Tampan aku akui, banyak teman-teman mama yang menawari ku anaknya perempuanya. Namun aku belum terpikirkan akan hal itu. Umurku kini sudah 28 tahun,merupakan usia yang matang untuk berkeluarga. Papa sudah mengutusku untuk meminpin perusahaanya sejak umurku 25 tahun. Suatu kebanggaan ketika perusahaan papa yang aku pimpin memiliki perkembangan secara signifikan. Papa tersenyum bangga padaku melihat semua pencapaianku.

Sebagai pewaris tunggal, papa sudah mengajariku ketegasan, tanggung jawab, kerja keras dan tidak banyak bertanya. Ajaran papa inilah yang menjadikanku sosok yang dingin dan tidak banyak bicara.

Aku melepas jas yang melekat pada tubuhku, melonggarkan dasi. Cuaca hari ini begitu panas. Melipat lengan kemeja putih yang melekat sempurna tubuhku.

Sinar matahari kian meredup, sumber cahaya terbesar itu akan segera menghilang digantikan dengan gemerlap cahaya lampu kota yang menghiasi. Aku berjalan menuju sofa berkulit hitam, menghempaskan tubuh ku, ah lega sekali rasanya, setelah seharian berkutat dengan laporan, rapat, dan hitungan. Aku membuka ponsel dan memesan minuman bersoda pada pantry kantor.

Suara telapak kaki pelan memasuki ruang kerjaku. Papa sosok tegas nan dingin namun penuh dengan kasih sayang itu kini duduk di sofa sebelahku. Dia duduk di sebelahku namun matanya masih fokus dengan ponselnya.

"Papa ada urusan malam ini, kamu handel dulu. Ada sekolah yang sedang mengajukan dana untuk pembelian buku, tolong ditandatangi saja".

Aku memperhatikan ucapannya.

"Ini sudah di luar jam kerja pa, aku mau istirahat".

"Papa yang memintanya datang sore, karena tadi jam papa masih padet. Cuman sebentar, ga akan lama".

Pada akhirnya aku mengangguk mengiyakan pemintaanya.

"Papa pergi, kamu ga akan pulang?, mama tadi hubungi papa kalau dia akan ke apartemenmu"

Arhhh sial, mama wanita ceria dan penuh ambisi untuk menjodohkan ku dengan anak sahabatnya itu kini akan datang ke apartemanku. Akhir akhir ini mama memang sedang gencar gencarnya menyuruhku untuk menikahi sabrine. Dengan alasan dia curiga kalau anaknya ini tidak normal, tidak menyukai wanita atau entahlah. Namun, bukannya aku tidak menyukai wanita, tapi aku kurang srek jika dijodohkan dengan sabrine entah mengapa.

"Ohhh, tapi aku di sini sampe besok ga akan pulang ke apart".

"Kenapa?, berusaha menghindar dari sabrine?" papa sudah mengetahui, jika aku tidak pulang alasannya adalah tidak mau bertemu dengan sabrine. Perempuan anak sahabat mama yang dijodohkan dengan ku.

Minuman soda dan kentang goreng yang ku pesan sudah datang, aku menghabiskan makananku dengan sekejap, maklum tadi siang, saking hecticnya sampai lupa makan siang. Setelah kenyang aku menyandarkan kembali tubuhku pada sofa. Namun, setelah makan tubuhku merasakan sensasi yang berbeda.

"Arhhh sial, rasa apa ini" aku menggerang, entah apa yang kurasakan saat. Tubuhku terasa sangat panas, kepalaku mendadak pusing tak terkira, apa aku keracunan?. Ahh  tidak rasa ini beda. Ini seperti, tanganku bergetar keringat bercampur hawa panas menguasai tubuhku.

"Ah siall, minuman apa itu, siapa yang memasukan obat itu" rasa itu kian memuncak, bagaimana aku menuntaskannya. Inti tubuhku kian menegang ingin dimanjakan. Aku membuka kemeja putihku menyisakan kaos putih yang kini masih ku kenakan.

Tok tok tok

Ketukan pelan pada pintu ruanganku. Aku berdiri dan menuju toilet.

"Silahkan masuk" ucapku pada orang diluar, aku berjalan perlahan menuju toilet, aku harus menuntaskannya terlebih dahulu.

Seorang wanita dengan pakaian tertutup memasuki runganku, ia berdiri bingung ketika memasuki ruangan dan tidak mendapatiku.

"Tolong tunggu sebentar" ucapku dengan nafas sedikit berat dan terengah-engah.

Kemudian aku memasuki toilet untuk menuntaskannya terlebih dahulu.

"Arhh sial, tidak bisa" aku telah mencoba, namun tetap gagal. Ah rasa ini makin menggila aku perlu bantuan untuk menuntaskannya.

Aku membuka pintu toilet, wanita itu sedang duduk anggun menungguku.

"Tolong" ucapan ku sedikit tertahan. Wanita itu terlonjak kaget ketika melihatku yang tidak mengenakan baju. Matanya melotot dan bibirnya sedikit terbuka. Ahh sial bibirnya yang kecil makin menggodaku.

Aku perlahan menarik lengan mungilnya.

"Pak tolong, jangan apa-apakan saya" matanya terpejam saat wajahku mendekatinya. Aku mencengkram tangannya, sial rasa ini makin menggila saatku memegang tangannya. Aku menarik paksa tubuhnya dan menggendong menuju kamar pribadi di ruang kerjaku. Aku menghempaskan tubuhnya perlahan dikasur. Ada berontak kecil yang kurasakan dari wanita itu, tapi tenaganya tidak seberapa dibandingkan dengan kekuatanku.

Wanita itu menangis, badannya gemetar ketakutan. Air matanya mengalir di pipinya yang lembut.

"Pak tolong pak, tolong jangan apa apakan saya" wanita itu memohon dengan menangkupkan kedua tangannya.

Cup!

Aku mulai melumat bibirnya. Sial rasa apa ini, aku baru pertama kali merasakannya. Arhh kewarasanku kian menurun. Aku membuka kancing kemeja oversizenya. Dia mencoba melawan, namun cekalanku yang kuat membuatnya tidak bisa berkutik. Tubuhku kian menegang, nafasku berat. Inti tubuhku mulai meronta minta dimanjakan.

Dengan sekali tarik aku telah membuka pakaian yang membungkus inti tubuhnya. Ia semakin menangis berderai air mata.

"Pak sadar pak, tolong jangan lakukan itu". Suara itu bagaikan angin lalu bagiku. Nafsuku sedang berada di puncak.

Aku menggesekan pelan inti tubuhku pada inti tubuhnya, dengan sekali hentakan yang kuat. Dia menjerit.

Ketika pusat tubuhku beradu dengan pusat inti tubuhnya aku merasa ingin lagi dan lagi.

Menyesal dan merasa bersalah kini yang kurasakan. Tubuh wanita itu kini terkapar lemas tak berdaya, kesadarannya menghilang.

Aku bangkit dan melihat bercak darah dibawah sana.

"Ahh shitt" aku telah merenggut kesucian gadis itu polos itu. Aku menutupi tubuh polos wanita itu, mencari pakaiannya. Dan aku simpan disampingnya. Ketika sadar nanti dia bisa langsung mengenakan pakaiannya.

Aku berjalan menuju sofa, hatiku dipenuhi oleh rasa bersalah. Meraih ponsel, ada notifikasi masuk dari mama dan beberapa telpon yang tidak terjawab.

Mama : send a picture.

Di layar ponselku menampilkan mama dan sabrine berpose berdua di apartemenku. Dengan kata kata dibawahnya.

Sayang, sabrine baik banget dia bantu beresin apartemenmu.

"Arhhh" aku melempar ponselku ke sofa, melihat pesan dari mama membuat perasaanku menjadi lebih tidak enak. Gelisah dan rasa bersalah menghantuiku.

Klekk

Pintu kamarku terbuka, menampilkan gadis itu telah berpakaian rapi, ia menutupi wajahnya dengan hijab. Berjalan perlahan memalingkan wajahnya dari ku.

"Maaf" ucapku datar, entahlah dia mendengar atau tidak.

"Hari sudah malam, apa perlu saya antar?" tawarku lagi, dia terus berjalan menuju pintu keluar, aku melihat tangannya sedikit gemetar.

"Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri" ucapnya, masih dengan memalingkan muka dariku yang berjalan mendekatinya.

"Stop!, jangan mendekat" ucapnya seraya membuka pintu dan pergi dari hadapanku.

Aku melirik map coklat yang tadi gadis itu bawa. Dia meninggalkan tugasnya. Aku membukanya secara perlahan. Map itu berisikan lembaran pengajuan dana pembelian buku. Ouhhh aku baru mengingatnya. Tidak berfikir lama aku langsung mentandatangi pengajuan itu, "SMA Negri Cendikia", kemudian menutupnya kembali.

*

*

Arsyad parah banget, gak bisa menahan hawa nafsunya.

Jangan lupa like komen dan kasih bintang ya teman-teman. Biar author semagat terus nulisnya.

1
Aniza
lanjut thooor
roses: siap kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Suren
mantappp👍 Arsyad butuh org ada disampingnya tapi egonya tinggi
roses: berul ka, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Ineu
baru mulai baca
roses: makasih kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
ceritanya menarik,tp agak bingung pas percakapan.atau dialog nyaga ada tanda nya.
Sri Jumiati
cantik .cocok thor
roses: Makasi yah kak, dukung terus author💗
total 1 replies
roses
iya kak, selamat membaca dan siap-siap diobrak abrik perasaan
Sri Jumiati
bagus ceritanya
Buku Matcha
Typo nya banyak ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!