NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:47.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Setelah melangkah melewati koridor panjang dan tiba di depan ruangan kerja Pak Damar, Tuan Arga berhenti tepat di meja resepsionis yang diduduki sekretaris pribadi Direktur itu. Wanita muda yang ramah dan berpenampilan rapi itu segera berdiri tegap saat melihat kedatangan dua sosok penting ini, senyum sopan terukir di bibirnya. Meski ia belum pernah bertemu langsung dengan Tuan Arga, aura yang terpancar dari pria tinggi berjas rapi itu sudah cukup memberitahunya bahwa tamu yang datang bukanlah orang sembarangan.

Adrian, sang asisten, melangkah setengah langkah di depan tuannya untuk berbicara dengan sopan namun tegas.

"Permisi, Nona. Kami ingin menemui Pak Damar. Apakah beliau ada di dalam ruangannya saat ini, atau sedang ada pertemuan di luar?" tanya Adrian dengan nada profesional, matanya menatap sekretaris itu dengan ramah.

Wanita itu mengangguk cepat, sambil melirik sekilas ke arah Arga yang berdiri diam di belakang Adrian dengan sikap tegap dan wajah yang tetap datar tanpa ekspresi sedikit pun.

"Selamat siang, Pak. Pak Damar ada di dalam ruangan, sedang berdiskusi dengan asisten pribadinya, Pak Bimo. Beliau tidak sedang menerima tamu lain selain jadwal yang sudah ditetapkan, tapi biar saya kabari dulu kehadiran Bapak," jawab sekretaris itu sopan.

Ia segera mengangkat telepon di mejanya, menekan nomor sambungan langsung ke ruangan Damar. Sambil menunggu sambungan tersambung, ia kembali menatap kedua tamu itu dengan rasa penasaran, terutama pada sosok Arga yang begitu bungkam namun memancarkan kewibawaan yang menekan.

"Halo... Baik, Pak... Ada tamu penting yang ingin menemui Bapak di depan... Baik, siap, Pak Damar," ucap sekretaris itu singkat. Ia menurunkan gagang telepon dan kembali menatap keduanya dengan senyum yang lebih lebar dan hormat.

"Silakan masuk, Bapak. Pak Damar mempersilakan Bapak dan rekan untuk langsung masuk," ucapnya sambil mengarahkan tangan ke arah pintu besar berukiran indah bertuliskan nama Direktur Utama.

Adrian mengangguk berterima kasih, lalu berbalik badan menghadap Arga dan berbisik pelan, "Silakan, Tuan."

Arga hanya mengangguk pelan sekali, lalu melangkah maju mendahului asistennya. Tangannya yang besar dan kokoh itu menggerakkan gagang pintu yang berat itu dengan mudah. Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam ruangan luas dan mewah itu langsung terlihat jelas.

Di balik meja besarnya yang berjejer berkas-berkas proyek, Damar sedang berdiri menunggu dengan senyum lebar yang belum pernah terlihat sebelumnya. Di sampingnya berdiri seorang pria lain seusianya, berpenampilan cerdas dan ceria, yang pasti adalah Bimo, asisten pribadinya.

Namun, begitu melihat sosok Arga melangkah masuk, Damar seolah melupakan segala wibawa dan kedudukannya sebagai seorang direktur. Wajahnya yang biasanya tenang dan berkarisma seketika berubah penuh kegembiraan, matanya berbinar cerah, dan tanpa mempedulikan aturan atau sopan santun jabatan, Damar bergegas berjalan cepat mengelilingi mejanya.

"ARGA! Akhirnya kamu datang juga, dasar kamu manusia dingin!" seru Damar dengan suara lantang dan penuh semangat, suaranya menggema di seluruh ruangan.

Di belakangnya, Bimo pun tertawa lebar, berjalan mengikuti atasan dan temannya itu dengan langkah riang.

Belum sempat Arga menutup pintu sepenuhnya, Damar sudah berada tepat di depannya. Tanpa ragu sedikit pun, Damar langsung merangkul bahu Arga dengan erat, menepuk-nepuk punggung bidang pria itu berulang kali dengan penuh rasa sayang dan rindu. Bimo pun segera menyusul, berdiri di samping mereka berdua sambil tersenyum lebar.

Di belakang Arga, Adrian yang baru saja menutup pintu, hanya tersenyum kecil melihat pemandangan yang sangat kontras ini. Bagi orang luar, pemandangan ini pasti sangat aneh. Sang Direktur yang disegani dan ditakuti seluruh staf, kini berteriak dan merangkul pria yang tadi terlihat sedingin es di lorong kantor.

"Kamu ini ya... Kabar-kabari cuma sedikit, datang-datang diam-diam saja! Kamu tahu berapa lama aku menunggu kedatanganmu ini?!" seru Damar antusias, matanya menatap wajah Arga seolah menemukan harta karun yang hilang.

Arga yang sedari tadi dikenal Ani dan orang lain sebagai pria dingin, wajah datar, dan tak tersentuh, kini perlahan mengubah ekspresinya. Garis kaku di bibirnya yang selalu lurus itu kini sedikit melengkung ke atas, membentuk senyum tipis namun sangat tulus dan hangat. Rahangnya yang tegas itu kini rileks, dan sorot matanya yang tajam itu kini berubah menjadi lembut, penuh keakraban dan kerinduan yang mendalam.

"Masih saja sama, Damar. Mulutmu tidak pernah berubah, tetap saja paling berisik di antara kita semua," jawab Arga dengan suara beratnya yang khas, namun kali ini suaranya tidak lagi dingin atau kaku. Ada nada canda dan keakraban yang begitu kental di sana. Ia pun membalas rangkulan Damar dengan tangan kanannya yang kokoh, menepuk bahu temannya itu dengan kuat.

"Apa maksudmu berisik?! Ini namanya antusiasme! Aku rindu, tahu! Sudah hampir dua tahun kita tidak bertemu langsung sejak urusan proyek di luar pulau selesai," balas Damar sambil tertawa lebar, lalu menoleh ke arah Adrian yang berdiri rapi di dekat pintu.

"Adrian! Hai, anak muda! Masih setia saja mengikuti tuan keras kepalamu itu ya?" sapa Damar riang.

Adrian tersenyum canggung namun hormat, sambil menundukkan kepala sedikit. "Selamat siang, Pak Damar. Selamat siang, Pak Bimo. Sehat selalu, Pak."

Bimo yang sejak tadi menahan tawa, akhirnya angkat bicara sambil menunjuk-nunjuk wajah Arga.

"Lihat tuh, Arga... lihat wajahmu itu. Di luar sana, semua orang pasti mengira kamu ini patung atau robot yang tidak punya perasaan. Dingin sekali! Tadi pas kamu masuk saja, aku lihat dari jendela, jalannya tegak sekali, wajahnya kaku sekali, seolah dunia ini tidak ada yang menarik buat kamu. Padahal aku tahu betul, di dalam hati kamu itu sama gilanya sama kami!"

Semua orang di ruangan itu tertawa lebar mendengar ucapan Bimo, kecuali Arga yang hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.

"Kalian berdua saja yang tidak pernah berubah. Kalian berdua yang selalu heboh dan bising ke mana pun pergi. Bagiku, ketenangan itu penting. Bagaimana pun, aku tidak mau semua orang tahu apa yang ada di pikiranku hanya dengan melihat wajahku," jawab Arga tenang namun penuh makna.

Damar mengajak mereka semua duduk di sofa tamu yang empuk di sudut ruangan, jauh dari meja kerja yang penuh urusan kantor. Suasana resmi dan kaku seketika hilang sepenuhnya. Kini yang terlihat hanyalah empat sahabat lama yang akhirnya berkumpul kembali setelah sekian lama berpisah karena kesibukan masing-masing.

Damar menuangkan teh hangat ke dalam cangkir-cangkir gelas kristal yang ada di atas meja, lalu menyerahkannya satu per satu.

"Syukurlah kamu datang, Arga. Jujur saja, aku sudah tidak sabar mau membicarakan banyak hal sama kamu. Mulai dari urusan proyek besar kita yang akan datang, sampai urusan kehidupan pribadi. Aku khawatir juga lho, kamu menghilang terus, takutnya kamu kesepian di sana," ucap Damar sambil duduk bersila santai di sofa, jauh berbeda dari cara duduknya yang tegap dan berwibawa saat berhadapan dengan staf atau mitra bisnis.

Arga menerima cangkir itu, memegangnya dengan jari-jarinya yang panjang dan berurat halus. Wajahnya kembali sedikit serius namun tetap lembut saat menjawab.

"Kesepian itu sudah menjadi makanan sehari-hariku, Damar. Tapi kali ini aku datang bukan cuma untuk urusan bisnis. Ada sesuatu yang ingin aku pastikan sendiri, sesuatu yang berkaitan dengan masa depan perusahaan kita, dan juga... masa depan diriku sendiri."

Bimo yang duduk di seberang mereka menyambar biskuit di atas meja sambil bertanya santai.

"Ngomong-ngomong, pas kamu lewat di luar tadi... aku lihat kamu sempat berhenti dan ngobrol sebentar sama staf perempuan kita yang cantik lho. Siapa itu? Apa kamu sudah mulai beraksi di hari pertama datang saja, Arga?" goda Bimo sambil terkekeh.

Damar seketika menegakkan badannya, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Eh iya ya! Aku lihat juga dari jendela. Kamu ngobrol sama siapa? Jangan bilang... Ani?"

Mendengar nama itu disebut, Arga mengangkat alisnya sedikit. Tatapannya menjadi lebih serius dan tajam, persis seperti tatapan yang ia berikan pada Ani tadi di lorong.

"Jadi namanya Ani..." gumam Arga pelan, seolah menyimpan nama itu dalam ingatannya lebih dalam lagi. "Iya, aku tidak sengaja bertabrakan dengannya di tikungan lorong. Dia... berbeda."

Damar dan Bimo saling pandang, lalu Damar tersenyum penuh makna.

"Kamu benar, Arga. Ani itu bukan sekadar staf biasa. Dia wanita yang luar biasa. Wanita yang kuat, jujur, dan cerdas. Dia yang baru saja melewati ujian berat di sini, dia yang membuktikan kejujuran dan kebenaran di saat semua orang ragu. Kalau ada satu orang di perusahaan ini yang paling layak untuk dihormati dan diperhitungkan... dialah Ani."

 bersambung ,,,,,

1
Anonim
O
partini
ok
partini
ini Rina yang selingkuhanya Dimas ya Thor
partini
semoga aja yg sudah tobat ga jahat lagi betul" ga cuma sandiwara nanti bikin huru hara lagi ,kadang teman ga tau diri plus ga punya harga diri
Mawar
terima ja ani buktikan pd dimas km lebih baik dr slingkuhannya.
partini
kan bisa tlfn apa harus ketemu untuk menyampaikan?
ani ku rasa ga mulus deh pernikahan mu yg ke dua ini
Lee Mba Young
Tp kayak e arga blm sepenuh nya move on 😄.
biasa nya lelaki jatuh Cinta cm sekali Dan arga Cinta ma celin sepenuh nya.
jd bisa saja arga sm ani cm melanjutkan hidup tp bukan cinta🤣.
kl sm celin Cinta kl sm ani ya cm bgitu saja nnti pasti gampang balik nya ma celin 😄.
partini
belum nikah udah nongol aja si mantan,,nanti lihat Arga jauh lebih dari suamimu hemmmmm
Zhang Wuyang (张五阳)
terima terima terima, kalau kagak terima arga buat aku aja 💃😍
partini
mulus sekali cerita cinta mereka berdua,, bisanya kerikil nya lebih banyak ini nanti
partini
jangan" si Arga ke Kamoung minta restu
asyifa Zuh
bingung aku dulu pas di ceraikan ani sendiri yg bilang jgn tampak kn lgi dirinya di depan ani skrg mlh ani sendiri yg terima tawaran krj pdhl ani tau mantan suaminya krj di sana kalau kebetulan ketemu msih wajar
partini
gimana ga kosong dan di pinang langsung gitu kenal aja itungan hari
Arga di luar Nurul tapi keren
dan untuk Kisah sakit hatimu masih sakit an Ani di loh
Teti Hayati
Bukannya udah beberapa hari setelah kepulangan kedua orang tua Ani.. dikantor pun sudah berhari-hari Arga dan Ani ketemu, tetap profesional sebagai rekan kerja...
Teti Hayati
Deket An ke kantor mh, kan cuma 5 menit jalan kaki...
Teti Hayati
Tempat tinggal Ani di rumah biasa atau apartemen sebenarnya ka othor..?? imajinasi saya bingung, bayangin Rumah sederhana ada pagernya atau unit apartemen... 🤭
Teti Hayati
Sebentar.. bukannya Ani tinggal di apartemen yaa... ?? apa udh pindah, ada yg saya lewatkan kah..??
partini
wanita yg kau cintai ga tau diri,i hope sih ga balik tuh Kunti bikin huru hara biasanya udah saling cinta mantan datang bikin oleng
partini
OMG Arga kaya ABG lagi jatuh cinta ,apa temennya ga ada yg tau Thor kelakuannya saat ini
partini
aku kira ketemu sama Arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!