NovelToon NovelToon
Sopirku Seorang Mafia

Sopirku Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: irma rofiah

evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kembali ke masa lalu

Hujan masih turun deras, membasahi halaman rumah yang kini berubah menjadi saksi bisu tragedi.

Tanpa berpikir panjang, Cristian Noah Alexander tersadar dari keterkejutannya. Dalam satu gerakan cepat, ia melompat keluar dari jendela lantai dua.

Tubuhnya mendarat dengan sempurna. Namun yang dilihatnya di bawah… membuat dadanya terasa sesak untuk pertama kalinya.

Evelyn.

Tubuh gadis itu terbaring tak berdaya di tanah basah, gaun tidur putihnya kini ternoda merah. Hujan yang turun seakan tak mampu membersihkan warna itu—justru membuatnya semakin menyebar.

“No…” suaranya pelan, nyaris hilang.

Ia berlari menghampiri, lalu berlutut di sampingnya. Dengan tangan yang biasanya begitu tenang dan pasti, kini ia mengangkat kepala Evelyn, meletakkannya di pangkuannya.

“Kenapa bertindak bodoh!” suaranya meninggi, bergetar, penuh emosi yang tak lagi bisa ia sembunyikan. “Yang sangat kubenci adalah ayahmu! Kamu harus tetap hidup, Evelyn!”

Kelopak mata Evelyn bergetar pelan. Nafasnya lemah, terputus-putus.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencoba menatap pria di atasnya. Pandangannya kabur, namun ia masih bisa mengenali wajah itu—wajah yang ia percaya… dan sekaligus yang menghancurkannya.

“Kalau… begitu…” suaranya hampir tak terdengar, bibirnya pucat. “Kenapa… kamu membunuh mereka…? meski buruk… mereka tetap keluargaku”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari apa pun.

Noah terdiam.

Hujan terus jatuh, membasahi rambutnya, wajahnya, bahkan air mata yang tanpa sadar ikut luruh.

“Aku…” untuk pertama kalinya, kata-kata terasa sulit keluar dari mulutnya. “Aku tidak pernah berniat… melukaimu.”

Tangannya yang memegang kepala Evelyn sedikit gemetar. “Kamu… bukan bagian dari mereka.”

Evelyn tersenyum tipis—senyum yang rapuh, hampir menghilang. Matanya perlahan mulai kehilangan fokus. Nafasnya semakin pelan, seolah setiap hembusan adalah perjuangan terakhir.

Noah menggenggam tangannya erat.

“Tidak. Dengar aku.” suaranya kini rendah, penuh desakan. “Kamu akan hidup. Aku akan memastikan itu.”

Namun tak ada jawaban. Hanya suara hujan. Dan keheningan yang perlahan mengambil alih.

Tubuh Evelyn melemah di pelukannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Cristian Noah Alexander— Ia merasa kalah.

Di ambang batas antara sadar dan tidak, dunia Evelyn terasa samar—suara hujan menjauh, dingin yang menusuk perlahan menghilang.

Dalam keheningan itu, hanya satu hal yang tersisa— sebuah bisikan dari hatinya sendiri.

Entah apa yang dilakukan ayahku padamu… hingga kamu membunuh semuanya…

Jika ada kesempatan… aku ingin tahu alasannya dan memperbaikinya…

Sebuah pertanyaan yang tak pernah sempat terucap.

Lalu—

gelap.

Tubuhnya benar-benar melemah di pelukan Cristian Noah Alexander.

Noah membeku sejenak, seolah menolak kenyataan. Dengan tangan gemetar, ia segera memeriksa—detak jantung… napas… nadi…

Kosong.

Tidak ada.

“Tidak…” Suaranya lirih, nyaris seperti bisikan putus asa. Namun dalam hitungan detik, kenyataan itu menghantamnya sepenuhnya.

“TIDAAAAK!”

Teriakannya menggema di tengah hujan deras, memecah malam yang sudah porak-poranda. Ia memeluk tubuh ramping Evelyn erat, seakan dengan itu ia bisa mengembalikan kehangatan yang telah hilang.

Hujan terus mengguyur mereka tanpa henti.

Wajah Noah tenggelam di rambut Evelyn yang basah, bahunya bergetar. Untuk pria yang dikenal tanpa ampun, tanpa ragu… malam itu ia runtuh sepenuhnya.

Di pinggiran halaman, para pengawal hanya berdiri diam. Tak ada yang berani mendekat. Tak ada yang berani berbicara.

Mereka hanya menyaksikan—tuan mereka, sosok yang selama ini ditakuti banyak orang, kini memeluk seseorang yang tak lagi bisa ia lindungi.

Untuk pertama kalinya, Cristian Noah Alexander terlihat… begitu menyedihkan.

Dan di tengah hujan yang tak kunjung reda, satu hal menjadi pasti— malam itu bukan hanya merenggut hidup Evelyn.

Tapi juga… menghancurkan sesuatu dalam diri Noah yang tak akan pernah kembali.“Jika Tuhan benar ada… kembalikan dia padaku… bahkan jika nyawaku sebagai taruhannya…”

Suara Cristian Noah Alexander pecah di tengah hujan. Ia mendongak ke langit, matanya merah, penuh keputusasaan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

Langit seolah menjawab.

GREEEETAK!

Petir menyambar dengan cahaya yang membelah kegelapan. Guruh menggelegar begitu keras hingga tanah terasa bergetar. Angin berputar liar, dedaunan beterbangan, hujan semakin deras—seakan dunia ikut berteriak bersama rasa kehilangan itu.

Lalu—

hening.

Segalanya berhenti.

Hujan menggantung di udara, butiran air membeku di tempatnya. Angin lenyap. Suara menghilang.

Gelap.

Dan di dalam kegelapan itu… waktu seakan ditarik mundur.

Perlahan…

Evelyn membuka matanya.

Napasnya tersengal, seolah baru saja terbangun dari mimpi panjang yang melelahkan. Tubuhnya terasa hangat—tidak ada dingin, tidak ada rasa sakit.

Ia menatap langit-langit.

Putih.

Tenang.

Matanya berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri. Ia bangkit perlahan, jantungnya masih berdetak cepat. Tangannya refleks menyentuh tubuhnya sendiri—tidak ada luka… tidak ada darah.

Pandangan Evelyn beralih ke sekeliling.

Kamarnya.

Rapi. Utuh. Tidak ada jejak hujan, tidak ada suara tembakan, tidak ada kekacauan.

Semuanya… seperti pemandangan lama yang kembali terjadi.

“Ini…” suaranya pelan, bingung.

Ia turun dari tempat tidur, kakinya menyentuh lantai dingin yang terasa begitu nyata. Tangannya meraba meja, tirai, bahkan dinding—semuanya solid, semuanya benar-benar ada.

Bukan ilusi.

Bukan bayangan.

“...apa aku baru saja bermimpi?”

Namun entah kenapa—

dadanya terasa sesak.

Air matanya jatuh tanpa ia sadari.

Bayangan wajah Cristian Noah Alexander kembali muncul di benaknya—tatapan dingin… suara tembakan… dan pelukan terakhir yang penuh keputusasaan.

Terlalu nyata untuk disebut mimpi.

Terlalu menyakitkan untuk dilupakan.

Evelyn memeluk dirinya sendiri, tubuhnya gemetar pelan.

Jika ini benar mimpi…

kenapa rasanya seperti kenangan?“Tidak mungkin kalau cuma mimpi…” gumam Evelyn pelan, napasnya masih belum stabil. “Aku mengingat semuanya dengan sangat jelas… setiap suara… setiap wajah…”

Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

Hidup.

Tanpa luka.

Tanpa darah.

“Apa… aku kembali ke masa lalu…?”

Tok… tok… tok…

Ketukan pintu membuat tubuhnya tersentak. Jantungnya kembali berpacu. Untuk sesaat, bayangan malam mengerikan itu kembali menghantuinya.

Namun ia tetap melangkah.

Pelan… ragu…

Tangannya meraih gagang pintu, lalu membukanya.

Di sana berdiri seorang wanita dengan seragam pelayan rapi, membawa nampan sarapan.

Kelly tersenyum lembut seperti biasa. “Selamat pagi, Nona Evelyn—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—

Evelyn langsung memeluknya erat.

“Kelly… kamu masih hidup…?”

Suara Evelyn bergetar, tubuhnya gemetar dalam pelukan itu, seakan takut sosok di depannya akan menghilang jika ia melepaskannya.

Kelly membeku.

“N-nona…?” ucapnya bingung, nampan di tangannya hampir terjatuh jika tidak ia tahan dengan cepat. “Tentu saja saya hidup… Apa demam anda belum turun?”

Namun Evelyn justru semakin erat memeluknya. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Hangat.

Nyata.

Ini bukan ilusi.

“Syukurlah…” bisiknya lirih. “Syukurlah…”

Kelly menatap kosong ke depan, benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Perlahan ia menepuk punggung Evelyn dengan hati-hati.

“Apakah Anda mimpi buruk, Nona?” tanyanya lembut.

Evelyn terdiam.

Mimpi buruk…

Jika ini memang mimpi buruk, maka itu terlalu kejam untuk disebut sekadar mimpi.

Ia perlahan melepaskan pelukannya, menatap wajah Kelly dengan mata merah.

“Sekarang… tanggal, bulan dan tahun berapa, Kelly?”

Pertanyaan itu membuat Kelly semakin bingung, namun ia tetap menjawab, “Hari ini tanggal 12, bulan 1, tahun 2020 Nona.”

Tahun 2020?

Jantung Evelyn berdetak kencang.

Itu berarti…

Ini adalah 3 tahun sebelum semuanya terjadi.

Tangannya mengepal perlahan.

Jika ini benar kesempatan kedua—

maka kali ini…

aku tidak akan membiarkan tragedi itu terulang.

1
Gricelda Pereira
💪💪💪💪 semangat truuuuus yaaa ka update nya
Gricelda Pereira
tolongg lanjuuut updateee yaaa kaa sangat baguuus
Gricelda Pereira
sangat bagus tolong dilanjutkan yaaa
Gricelda Pereira
kaaaak tolong updeat lagiiiii yaaa biaaar rameee
irma rofiah: ditunggu ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!