Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Ezkiel perlahan menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Anna, matanya menatap bibir Anna dengan tatapan yang sarat akan hasrat yang tiba-tiba. Perlahan tapi pasti, ia memajukan wajahnya, memangkas jarak yang tersisa. Anna memejamkan mata erat-erat, tubuhnya menegang, jantungnya berpacu dalam ketakutan karena ia tahu dia tak bisa melarikan diri dari ciuman paksa ini.
Namun, tepat saat bibir Ezkiel hampir bersentuhan dengan bibir Anna, sebuah tarikan kuat yang mendadak pada kerah belakang jaketnya membuat tubuh Ezkiel tersentak mundur dengan kasar hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan.
"Berani-beraninya kau menyentuh apa yang bukan milikmu," sebuah suara berat yang sedingin es dan penuh penekanan memecah suasana taman yang sibuk itu.
Ezkiel berbalik dengan murka, siap melayangkan tinju pada siapa pun yang berani mengganggunya. Namun, amarahnya seketika tertahan saat ia melihat siapa yang berdiri di belakangnya.
Axel berdiri di sana dengan pakaian santai—sebuah turtleneck hitam ketat yang mencetak otot lengannya dengan jelas, dipadukan dengan celana kain gelap. Meski pakaiannya tampak santai, aura yang memancar dari dirinya begitu mengintimidasi, seolah-olah suhu di sekitar mereka turun drastis dalam sekejap. Tatapan mata Axel setajam belati, menatap Ezkiel dengan tatapan yang menjanjikan kematian bagi siapa pun yang berani melanggar batas.
"P-Paman Axel?" gumam Anna dengan suara yang hampir tidak terdengar, tubuhnya gemetar melihat aura mengerikan yang dikeluarkan pria itu.
Ezkiel menyeka sudut bibirnya yang kasar akibat tarikan tadi, rahangnya mengeras. "Lepaskan tangan lo dari gue! Siapa lo berani ikut campur urusan gue?!"
Axel tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan tenang namun dominan, setiap langkah kakinya membuat orang-orang di sekitar taman perlahan menyingkir karena takut. Tanpa mempedulikan teriakan Ezkiel, Axel berdiri tepat di samping Anna, lalu menarik pinggang gadis itu untuk mendekat ke arahnya.
Posisi itu mempertegas kepemilikan. Axel menatap Ezkiel dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan yang sangat tajam, seolah sedang menatap serangga kecil yang mengganggu kenyamanannya.
"Kau berani menyentuh milikku di depan mataku?" suara Axel sangat rendah, namun gema kemarahannya membuat udara di sekitar mereka seolah berhenti bergetar. "Aku tidak peduli siapa kau, anak kecil. Jika kau berani menyentuh Anna sekali lagi... aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melihat dunia ini lagi."
Ezkiel mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengeras mendengar ucapan arogan dari pria di depannya. Ia mengalihkan pandangannya yang tajam kepada Anna, menuntut jawaban.
"Anna! Siapa dia sebenarnya?! Kenapa dia bisa bicara lancang seolah-olah lo itu punya dia?!" tanya Ezkiel dengan nada cemburu dan frustrasi yang kentara.
Anna yang berada di tengah-tengah dua pria dominan ini merasa sangat bingung dan tertekan. Mengingat jawaban Axel malam itu di dalam mobil—bahwa hubungan mereka hanya sebatas nafsu dan obsesi—rasa kesal dan kecewa di hati Anna kembali membumbung tinggi. Ia tidak sudi diakui sebagai "milik" jika hanya untuk memuaskan ego dan hasrat pria itu saja.
Dengan nekat, Anna membuang muka dari Axel dan menatap Ezkiel. "Dia... dia cuma Paman dari temen gue!" jawab Anna dengan ketus dan penuh penekanan pada kata 'Paman temen'.
Mendengar jawaban telak dari bibir ranum Anna, cengkeraman tangan Axel di pinggang gadis itu seketika mengerat hingga membuat Anna sedikit meringis. Axel menahan amarahnya yang mendidih. Berani-beraninya gadis kecil ini menurunkannya statusnya menjadi sekadar "Paman teman" di depan cowok lain, setelah semua hal intim yang telah mereka lakukan. Tatapan Axel kepada Anna berubah menjadi luar biasa dingin dan pekat, menjanjikan hukuman yang setimpal nanti.
Namun, Axel memilih untuk membereskan pengganggu di depannya terlebih dahulu. Ia melepaskan rangkulannya di pinggang Anna, lalu melangkah satu kali ke depan, mengikis jarak dengan Ezkiel. Tinggi badannya yang tegap membuat Ezkiel yang masih remaja tampak terintimidasi.
"Aku rasa kau harus segera pulang, Bocah," ucap Axel dengan suara rendah yang sangat tenang, namun dipenuhi ancaman yang mutlak. "Aku rasa Marco akan sangat marah padamu jika kau berani mengusikku, atau mengusik bisnis keluarga kalian karena kebodohanmu ini."
Mendengar nama 'Marco'—yang merupakan sosok penting atau kepala keluarga di dunianya—disebut dengan begitu santai oleh Axel, mata Ezkiel langsung membelalak kaget. Ia menyadari bahwa pria di hadapannya ini bukanlah orang sembarangan. Skala kekuatan mereka sangat jauh berbeda.
"Sialan kau!" umpat Ezkiel dengan napas memburu, menahan malu dan amarah yang meledak di dadanya.
Dengan berat hati dan perasaan kalah telak, Ezkiel akhirnya berbalik dan melangkah pergi meninggalkan taman dengan terburu-buru, melepaskan mangsanya untuk kali ini.
Setelah punggung Ezkiel benar-benar menghilang dari pandangan, suasana di sekitar kedai minuman itu mendadak terasa mencekam. Axel membalikkan tubuhnya perlahan, lalu menatap tajam ke arah Anna. Sorot matanya mengunci pergerakan gadis itu sepenuhnya, menuntut pertanggungjawaban atas ucapan nekatnya tadi.
"Paman teman, huh?" desis Axel dengan suara yang sangat rendah, melangkah mendekat hingga Anna terpaksa mundur beberapa langkah. "Ikut aku ke mobil sekarang, Anna. Aku minta penjelasan atas apa yang baru saja keluar dari mulut manis milikmu itu."
cerita ny bagus banget 😍