WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.
•
Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.
Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.
Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.
Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?
Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?
Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
#2
“Berkas di meja, sudah ku periksa, dan tandatangani. Besok langsung saja bawa ke meja Direktur untuk disahkan.”
“Baik, Pak.” Setelah sang sekretaris mengangguk, Firza pun melanjutkan langkahnya. Ia ingin pulang cepat sekali saja, karena hampir setiap hari ia pulang larut, hingga hanya bisa melihat Abizar yang terlelap karena ia pulang terlalu malam.
“Aku pulang duluan, kamu juga segera pulang jika sudah selesai,” pesan Firza, dan diangguki oleh sekretarisnya, Belakangan ini sekretaris Firza menemaninya lembur menyelesaikan pekerjaan, jadi Firza berpesan demikian agar sang sekretaris juga bisa menikmati waktu bersama keluarganya.
Langit masih terang, menurut perkiraannya tak sampai maghrib ia bisa tiba di rumah. “Bismillah,” ucapnya saat kaki kanannya menginjak pedal gas.
Mobil melaju perlahan, tak buru-buru, karena waktunya masih cukup longgar. Dan benar sekali dugaanya, karena ia tiba di rumah tiga puluh menit sebelum adzan maghrib berkumandang.
Ternyata ada tamu, suara tawa Abizar terdengar dari teras rumahnya, “Assalamualaikum.”
Abizar segerah menoleh, “Yayah!” jerit bocah itu, yang langsung berlari meninggalkan Miranda yang sedang bermain dengannya.
Di dapur, Ersha menyiapkan satu cangkir lagi untuk sang suami, agar mereka bisa minum teh bersama. “Jagoan Ayah, berat, nih, pasti makannya banyak,” tebak Firza seraya menggelitik perut Abizar.
Setelah bercanda sejenak dengan Abizar, Firza ikut duduk di karpet bersama Miranda, di sekitar mereka, nampak mainan milik Abizar yang berserakan. “Jam berapa kamu tiba?”
“Beberapa menit sebelum kamu tiba,” jawab Miranda.
“Tumben, biasanya kamu sibuk sekali?”
“Aku harus menyempatkan datang, demi si tampan ini, karena harus— ah, aku lupa.” Miranda memukul keningnya sendiri, karena melupakan kado yang ia beli khusus untuk putra sahabatnya tersebut.
Sebuah box berukuran besar ia bawa turun dari mobilnya, “Abi— lihat, Onty punya mainan besar!” seru Miranda.
Abizar segera berdiri, dan menyambut hadiah yang dibawa sang onty untuknya. Dengan antusias ia membuka kertas kado yang membungkus box mainan tersebut.
Ersha datang dengan sepiring kudapan serta tiga cangkir teh. “Sini, Bang.” Wanita itu meminta jas serta tas kerja Firza untuk dibawa ke kamar.
“Terima kasih, ya,” ucap Firza dengan senyum tipis.
Setelah makan malam, Miranda pamit, Abizar mulai rewel karena tak mau ditinggal olehnya. “Lain kali Onty datang lagi, ya?” bujuk Miranda.
Abizar menggeleng kuat, tak mau berpindah dari gendongan Miranda. Tapi kemudian Ersha mengambilnya dengan lemah lembut, “Sayang, Onty harus ke rumah Violet, kan kemarin kita sudah bertemu Vio, Onty belum ketemu Vio,” bujuk Ersha. Violet adalah putri pertama Biru dan Pink, kebetulan sekali, hari lahirnya hanya berselang beberapa hari saja dari Abizar.
Setelah drama perpisahan yang cukup menguras air mata, Miranda pun berhasil pergi. Berat juga baginya meninggalkan Abizar, karena ia akan kembali kesepian di apartemennya.
“Bang, tadi ada kiriman untuk Abang,” kata Ersha, “tapi, tak ada nama pengirimnya.”
Wanita itu menyerahkan selembar amplop tipis, yang masih rekat lemnya, ia tak biasa membuka kiriman yang ditujukan untuk sang suami, padahal Firza tak pernah melarangnya.
“Dari siapa, ya?” gumam Firza.
“Aku mau menidurkan Abizar du, ya, Bang.”
“Hmm, sebentar lagi aku menyusul, sekalian aku bereskan mainan yang berserakan ini.”
Selepas Ersha pergi, Firza membereskan beberapa mainan Abizar yang masih tertinggal di karpet. Kemudian ia duduk di sofa membuka amplop tipis berwarna coklat tersebut.
Selembar foto jatuh ke pangkuannya, ketik Firza membalik amplop tersebut. View pemandangan di sebuah taman pada musim gugur, daun-daun yang mulai berwarna orange kekuningan, serta daun coklat yang jatuh berguguran. Pemandangan yang sangat Firza sukai ketika berada di Luar Negeri.
Tapi apa maksud dari pengirimnya? Ia sama sekali tak paham. Mungkin orang iseng.
•••
Beberapa hari kemudian Ersha kembali menerima kiriman dengan wujud yang sama, amplop coklat tipis tanpa nama pengirimnya.
Wanita itu mulai penasaran, tapi tetap tak berani membuka kiriman yang ditujukan untuk sang suami. Maka ia pun meletakkannya di meja kerja sang suami. Begitu seterusnya, Firza pun sepertinya abai, karena Ersha melihat amplop itu masih menumpuk di laci meja kerja pria itu.
Sepertinya benar, hanya orang iseng yang melakukannya, kurang kerjaan sekali, hari gini, masih mengirimkan foto pandangan.
•••
Satu bulan berlalu, suatu siang Ersha sedang mengeluarkan pakaian dari pengering, hingga tak menyadari bahwa Abizar masuk dan bermain dikamar.
“Abi—” serunya, “Dek, kamu dimana?” Ersha menoleh ke setiap sudut rumah. Mencari di beberapa ruangan yang pintunya terbuka, dan wanita itu bernafas lega, karena melihat putranya sedang duduk di kursi meja kerja ayahnya.
“Mama cari kemana-mana, loh.” Ersha melangkah makin dekat, Abizar menyeringai lucu, karena tangan kecilnya telah berhasil membuka laci tempat amplop-amplop misterius berada.
“Sayang, nanti Ayah marah,” katanya lembut, mengambil alih amplop di tangan Abizar yang telah disobek oleh bocah lucu tersebut.
Ersha tersenyum lembut, “Tuh, kan, sobek. Nanti lapor sendiri sama Ayah, ya?” Lagi-lagi Abizar menyeringai lucu.
Ersha pun memunguti amplop-amplop yang berserakan di bawah kolong meja. Ketika meraba-raba barangkali ada sisa amplop yang tertinggal, tangannya menyentuh selembar kertas, sepertinya dilapisi plastik, karena terasa kesat di tangan.
Rupanya selembar foto, dan kedua mata Ersha terbelalak, jantungnya bertalu tak karuan. Bibirnya bergetar menahan rasa yang entah seperti apa cara menjabarkannya.
Buru-buru ia bereskan amplop-amplop tersebut, termasuk amplop yang sudah dirobek Abizar. Air matanya mengalir tanpa permisi, tapi ia tak ingin buru-buru berasumsi. Barangkali hanya prasangkanya semata.
•••
Angin malam menyapu wajah Firza yang tengah duduk di salah satu meja angkringan pinggir jalan. Ia hanya memesan teh poci serta beberapa sate baceman, karena biasanya Ersha sudah menyiapkan makanan untuknya.
Beruntung sekali Firza memiliki istri seperti Ersha, karena Ersha amat sangat mengerti dan memahami kebutuhannya. Wanita itu juga lihai dalam mengurus pekerjaan rumah dan anak mereka tanpa bantuan siapapun. Padahal beberapa kali Firza menawarkan seorang ART, tapi Ersha menolak, karena merasa masih sanggup.
Tapi perasaannya belum juga beranjak, jangan dikira foto yang ia terima kemarin tak mempengaruhi emosinya. Karena foto itu membuatnya kembali teringat pada masa lalu yang hingga kini belum bisa ia hapus sepenuhnya.
Buktinya, ia masih duduk di angkringan ini, tempat yang ia dan Resha datangi kali terakhir, sebelum Tuan Quang Yu melarang hubungan mereka. Karena perbedaan keyakinan.
“Mas, berapa semua?” tanya Firza yang segera menyudahi lamunannya, mengingat hari semakin larut.
“Sudah dibayar, Pak.”
“Hah?! Sudah dibayar? Siapa, Mas? Yang mana orangnya?”
“Itu di— loh sudah pergi, sejak tadi berdiri di sebelah etalase memperhatikan Bapak, saya pikir kenalan Bapak.”
###
Flashback sedikit buat kalian yang tak membaca novel sebelumnya.
Biru, Miranda, dan Firza, adalah tiga sahabat. Mereka berteman baik tanpa memikirkan perselisihan yang terjadi di masa lalu orang tua mereka.
Firza dan Biru adalah saudara sepupu, tapi sudah seperti saudara kandung karena sejak bayi, mereka berdua di asuh Karmila dan Ismail yang notabene adalah orang tua kandung Firza.
Kalau masih belum paham, silahkan chat di kolom komentar. Okhaayyy 😘😘🤓🤓
toh sama" single