NovelToon NovelToon
HOT Duda Itu Majikan Hatiku

HOT Duda Itu Majikan Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Duda
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)

...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."

Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.

Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2: Red Flag Berwajah Malaikat

...🌹🌹🌹...

Pekerjaan pertama Zollana di hari pertama, Menghadapi pecahan kristal seharga DP rumah subsidi dan tatapan maut Tuan Arkeas.

Zolla berlutut di lantai, memunguti serpihan vas dari Dinasti-Entah-Apa itu dengan tangan gemetar. Sementara itu, Arkeas berdiri menjulang di atasnya, bersedekap dada, memperhatikan setiap gerak-gerik Zolla seolah-olah gadis itu adalah tersangka kasus kriminal kelas berat.

"Pelan-pelan, Zolla. Jangan sampai ada satu butir debu kristal pun yang tertinggal. Kulit Alisya itu sensitif, kalau sampai dia kena luka karena kecerobohan kamu, saya nggak segan-segan kirim kamu balik ke kampung halaman pakai paket ekspedisi," ancam Arkeas dengan suara beratnya yang bikin merinding... tapi jujur, agak seksi.

Zolla mendongak, bibirnya mengerucut. "Iya, Tuan Arkeas yang Terhormat. Maaf banget, tadi beneran kaki saya glitch bentar. Nggak sengaja."

"Kaki kamu glitch? Kamu pikir kamu robot?" Arkeas mendengus sinis. "Lantai ini baru dipel pakai cairan pembersih khusus dari Italia. Harusnya nggak licin kalau koordinasi otak dan otot kamu sinkron."

Zolla bergumam pelan, "Italia-Italia... paling juga beli di marketplace pas lagi promo payday."

"Saya dengar itu, Zollana Rismalla Panto."

Zolla langsung bungkam. Ia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan segera menggendong Alisya kembali. Ajaibnya, bayi itu anteng banget. Alisya malah memainkan kerah kemeja Zolla, seolah-olah aroma stroberi murah itu adalah candu barunya.

...

Setelah urusan vas selesai, Arkeas harus bersiap untuk meeting virtual dengan investor dari Prancis. Dia adalah tipe pria yang "Work-from-Home" tapi tetap dandan maksimal. Jas linen, rambut yang di-styling sedikit berantakan tapi estetik, dan tentu saja... parfum racikannya sendiri.

"Zol, dengerin. Saya ada meeting penting satu jam ke depan. Tugas kamu cuma satu: Pastikan Alisya nggak nangis. Apapun caranya. Kalau dia mulai rewel, bawa dia ke balkon atau kasih mainan. Jangan berani-berani masuk ke ruang kerja saya, paham?"

Zolla hormat grak. "Paham, Kapten!"

Arkeas masuk ke ruang kerjanya yang serba kaca. Zolla menghela napas lega. Akhirnya, predator itu masuk kandang. Ia pun mulai berkeliling apartemen mewah itu sambil menggendong Alisya.

"Aduh, Dek Alisya... Papa kamu itu red flag banget ya? Ganteng sih, tapi galaknya kayak dosen penguji skripsi yang lagi kurang tidur," curhat Zolla pada si bayi. Alisya cuma menanggapi dengan tawa kecil dan liur yang menetes ke pundak Zolla.

Zolla mulai merasa lapar. Ia mengecek dapur Arkeas. Isinya? Sangat estetik tapi minim bahan makanan nyata. Hanya ada berbagai jenis susu oat, air mineral kemasan kaca, dan beberapa potong roti gandum.

"Duh, orang kaya makannya gini amat ya? Mana kenyang?" Zolla membuka salah satu lemari atas. Matanya berbinar melihat ada stok mie instan cup yang sepertinya disembunyikan di balik kotak sereal mahal. "Nah, ini dia harta karun!"

Zolla mulai memasak air. Namun, namanya juga Zolla. Saat menunggu air mendidih, ia malah asyik mengajak Alisya main "Ci-luk-ba" di depan jendela besar. Ia terpukau melihat pemandangan Jakarta dari lantai 35.

"Wah, Dek, itu mobil-mobil di bawah jadi kayak semut ya—"

Bzzzttt!

Tiba-tiba tercium bau sangit. Zolla panik. Ternyata ia menaruh lap dapur terlalu dekat dengan kompor listrik yang masih menyala. Lap itu mulai berasap.

"Astagfirullah! Kebakaran! Kebakaran!" Zolla berteriak heboh. Ia segera menyambar lap itu dan melemparkannya ke wastafel, lalu menyalakan keran air dengan kekuatan penuh.

Cshhhhh!

Air muncrat ke mana-mana karena tekanan kerannya terlalu tinggi. Zolla basah kuyup, Alisya kaget dan mulai menangis kencang.

"Oeeeekkkk! Oeeeeekkk!"

Pintu ruang kerja Arkeas terbuka dengan bantingan keras. Sang CEO keluar dengan wajah merah padam. Ia masih memakai headset nirkabel di telinganya.

"Zollana! Saya lagi presentasi di depan sepuluh orang penting dan kamu teriak kebakaran?!" Arkeas berjalan cepat ke arah dapur. Matanya melotot melihat Zolla yang sudah basah kuyup, rambutnya lepek, dan kaosnya nempel ke tubuh karena air.

Arkeas tertegun sejenak. Matanya tidak sengaja menatap bagaimana pakaian basah itu membentuk lekuk tubuh Zolla yang mungil tapi ternyata... berisi. Ia berdehem keras, berusaha membuang pikiran kotor yang mendadak lewat.

"Mana apinya?!" tanya Arkeas ketus.

"Udah mati, Tuan... cuma lap dapur yang gosong," cicit Zolla sambil menenangkan Alisya yang masih menangis.

Arkeas mematikan keran air, lalu mengambil Alisya dari pelukan Zolla. Anehnya, kali ini Alisya tidak mau lepas dari Zolla. Bayi itu malah menarik-narik kaos basah Zolla, ingin tetap dipeluk.

"Lihat! Gara-gara kamu ceroboh, anak saya jadi trauma!" Arkeas membentak, tapi suaranya melembut saat melihat Zolla menggigil kedinginan.

Zolla menunduk, matanya berkaca-kaca. "Maaf, Tuan. Saya cuma mau bikin mie..."

Arkeas menghela napas panjang. Gengsinya sebenarnya melarangnya untuk peduli, tapi melihat Zolla yang seperti kucing kecebur got, hatinya sedikit mencelos. "Sana ganti baju. Pakai kaos saya di lemari kamar tamu. Jangan sampai kamu sakit, nanti siapa yang mau jaga Alisya?"

"Eh? Pakai baju Tuan?"

"Cepat sebelum saya berubah pikiran dan beneran pecat kamu!"

...

Zolla masuk ke kamar tamu dan menemukan sebuah kaos hitam polos milik Arkeas. Saat ia memakainya, kaos itu jatuh sampai ke pertengahan pahanya. Wangi Arkeas—campuran antara kayu cendana dan citrus yang mahal—langsung menyerbu indra penciumannya.

"Wangi banget... ini kalau gue jual bekasnya ke fans dia, pasti laku jutaan nih," gumam Zolla sambil menghirup kerah kaos itu.

Saat ia keluar, Arkeas sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menimang Alisya yang sudah mulai tenang. Arkeas menoleh, dan untuk pertama kalinya, ia terdiam cukup lama melihat Zolla.

Gadis itu terlihat sangat menggemaskan (dan berbahaya bagi kesehatan jantung Arkeas) mengenakan kaosnya yang kebesaran. Rambut Zolla yang masih agak basah dibiarkan terurai.

"Tuan... ini kegedean banget," keluh Zolla sambil menarik-narik ujung kaosnya.

Arkeas berdehem, membuang muka ke arah televisi yang bahkan tidak menyala. "Ya memang kegedean. Kamu kan mungil. Kayak kurcaci."

Zolla duduk di karpet, di bawah kaki Arkeas yang duduk di sofa. "Tuan, makasih ya nggak jadi pecat saya. Saya janji bakal lebih hati-hati."

Arkeas menatap puncak kepala Zolla. Ada keinginan aneh untuk mengusap rambut gadis itu, tapi ia segera menepisnya. "Kontrak kamu nambah jadi dua tahun gara-gara lap dapur itu."

"Hah?! Lap dapur doang masa dua tahun?!"

"Lap itu saya pesan khusus dari pengrajin kain tradisional. Mahal."

Zolla mendengus. "Semua aja mahal. Tuan itu sebenarnya pengusaha parfum atau pengusaha hutang sih?"

Arkeas tersenyum tipis—senyum asli yang sangat jarang ia perlihatkan di depan kamera. "Saya pengusaha yang baru sadar kalau punya asisten ceroboh itu ternyata... menghibur."

Zolla mendongak, matanya bertemu dengan mata tajam Arkeas. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Jarak wajah mereka hanya sekitar tiga puluh senti. Zolla bisa melihat bulu mata Arkeas yang lentik dan aroma tubuh pria itu yang makin kuat karena jarak yang dekat.

"Tuan..." bisik Zolla.

"Apa?" suara Arkeas memberat.

"Itu... di bibir Tuan ada bekas liur Dek Alisya."

Arkeas langsung panik dan mengusap bibirnya dengan kasar. "Kenapa nggak bilang dari tadi?!"

Zolla tertawa terbahak-bahak, tawanya yang renyah memenuhi ruangan itu. Arkeas yang awalnya kesal, perlahan ikut tersenyum. Suasana di penthouse itu mendadak terasa lebih hangat. Bukan karena pemanas ruangan, tapi karena kehadiran gadis "disaster" yang baru saja mengacaukan hidup Arkeas yang membosankan.

Malam itu, Arkeas sadar satu hal: Hidupnya yang sempurna ternyata butuh sedikit kekacauan bernama Zollana.

...🌹🌹🌹...

(Bersambung ke Episode 3...)

⚠️Character Dev: Arkeas mulai menunjukkan sisi manusianya meski masih tertutup gengsi CEO.

1
falea sezi
alahh alah mas duda bucenn/Curse//Curse/
falea sezi
lanjooot
kikyoooo: wokey
total 1 replies
Indri
Terlalu berani karakter zolla
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!