NovelToon NovelToon
Sistem Eror : Aku Adalah Antagonis

Sistem Eror : Aku Adalah Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Antagonis / Perjodohan
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Seorang mahasiswi yang marah dengan akhir cerita novel yang baru dibelinya. Dalam novel diceritakan tokoh antagonis di novel, disalahpahami tunangan dan keluarganya sendiri gara-gara hasutan dan trik licik tokoh utama wanita, Audrey Hepburn.
Tapi sungguh sial saat sedang menancapkan charger laptop ke stop kontak, dirinya malah tersetrum dan bertransmigrasi menjadi Eleanor Sinclair. Dengan tekad bulat, ia memilih menjadi antagonis yang sesungguhnya, ia memilih target meningkatkan rasa kebencian semua tokoh hingga 100%. Hadiah dari pencapaian target misi dari sistem ini adalah uang senilai 100 juta dollar dan izin kembali ke dunia nyata. Namun, semuanya malah jadi kacau, tingkat kebencian tokoh utama pria dan keluarganya justru berkurang. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ia bisa menyelesaikan misi, mendapatkan hadiah, dan kembali ke dunia nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Eleanor Diculik (4)

** Di gudang tua **

Tiba-tiba, sebuah suara nyaring memecah kesunyian. Ponsel Poppy berdering keras dari balik saku seragamnya.

Eleanor bisa mendengar napas Poppy yang mendadak memburu. Gadis itu jelas merasa sangat kesal.

"Mengapa di saat seperti ini tiba-tiba ada yang menelponku?" teriak Poppy. Dalam posisi tangan dan kaki yang sudah terikat erat, tentu saja Poppy kesusahan untuk bergerak, apalagi mengambil ponselnya sendiri.

"Hei, cepat ambil ponselku," bisik Poppy dengan nada mendesak kepada salah satu penculik yang berdiri di dekat mereka. "Angkat telponnya dan tempelkan di telingaku!"

Salah seorang pria melangkah mendekat. Langkah sepatunya yang berat bergesekan dengan lantai beton berdebu. Pria itu berlutut di samping Poppy dan mulai memeriksa kantong seragam gadis itu untuk mengambil ponselnya. Namun, pria itu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, dengan sengaja, jemarinya menyentuh bagian tubuh Poppy yang seharusnya tidak boleh disentuh.

"Hei! Apa yang kamu pegang?!" seru Poppy, suaranya melengking tertahan, penuh dengan kemarahan dan rasa jijik.

Pria itu hanya terkekeh pelan tanpa rasa bersalah. "Aku tidak sengaja. Kamu sendiri yang terus bergerak."

"Sudahlah, cepat ambil ponselku! Jangan sampai Eleanor bangun!" potong Poppy.

Pria itu akhirnya mengeluarkan ponsel Poppy, menekan tombol jawab, dan memegangnya di dekat telinga Poppy yang masih duduk di lantai.

"Halo, siapa ini?" tanya Poppy dengan nada ketus.

"Ini aku, bagaimana situasi di sana?"

Suara di seberang telepon terdengar samar, namun indra pendengaran Eleanor yang tajam segera mengenalinya. Itu suara Audrey.

Poppy mendengus kesal, sama sekali tidak menyukai interupsi ini. "Kenapa kamu menelponku di saat seperti ini? Apa kamu tidak mempercayai aku? Rencana ini sudah pasti berhasil. Jangan menelponku lagi, kamu bisa mengacaukan rencanaku!"

"Aku hanya ingin memberimu peringatan! Kamu harus hati-hati," suara Audrey di seberang sana terdengar bergetar, menyiratkan kepanikan. "Liam dan Alistair sudah mulai melakukan pencarian, dan sepertinya... mereka tahu sesuatu."

Mendengar hal itu, Poppy justru mencibir. "Apa maksudmu? Mana mungkin ada kecurigaan yang mengarah padaku? Aku yakin sudah berhati-hati. Kalaupun kami ditemukan, aku cuma korban di sini. Sudahlah, aku tutup sekarang!"

Poppy langsung memberikan isyarat tajam dengan kepalanya, menyuruh pria bernama Marco itu untuk segera memutuskan sambungan telepon. Pria itu menjauhkan ponsel dan mematikan layarnya.

"Wanita bodoh ini," umpat Poppy pelan, giginya menggeretak penuh kejengkelan. "Kenapa malah menelponku di saat seperti ini? Bagaimana kalau Eleanor tiba-tiba bangun dan mendengarnya?"

Di sisi lain kota, di dalam sebuah bilik telepon umum yang terletak di kawasan terpencil, Audrey menyandarkan punggungnya ke dinding kaca. "Mengapa aku yang harus panik? Meskipun ketahuan aku yang memberikan uang pada Poppy, tidak ada bukti kalau aku yang menyuruh orang-orang itu menculik Eleanor. Aku hanya perlu bilang kalau Poppy meminjam uangku dan aku tidak tahu akan digunakan untuk apa."

Tapi Audrey masih merasa sedikit khawatir. Hal ini karena beberapa saat yang lalu, saat ia bersiap-siap untuk pulang sekolah, ia tidak sengaja berpapasan dengan Liam dan Alistair.

Wajah kedua pria itu tampak mengerikan. Liam bahkan menatapnya dengan pandangan dingin yang menusuk, lalu memberitahukan dengan nada tegas bahwa mereka sudah mengetahui siapa dalang di balik hilangnya Eleanor.

Di dalam pikiran Audrey, bayangan buruk langsung menari-nari. Ia sangat khawatir jika rencana Poppy sudah ketahuan dan namanya ikut terseret ke dalam masalah ini. Bermaksud baik untuk memperingatkan sekutunya agar lebih berhati-hati, Audrey sengaja berlari mencari telepon umum di tempat terpencil agar sinyal ponsel pribadinya tidak langsung terlacak oleh teknologi canggih milik keluarga Sinclair. Namun, tanggapan Poppy yang meremehkan justru membuatnya semakin cemas.

Audrey harus punya rencana agar Poppy tidak buka suara soal dirinya.

Kembali ke dalam gudang terbengkalai, suasana mendadak berubah tegang setelah telepon itu ditutup. Tiga pria penculik yang berada di dalam ruangan itu mulai saling melempar pandang dengan cemas.

"Siapa yang menelpon? Kenapa menelpon?" tanya Tigor, suaranya berat dan penuh selidik.

"Apa lokasi kita sudah ketahuan?" sahut Alex, nadanya mulai disusupi rasa takut.

Marco mencibir sambil melipat tangan di dada. "Secepat itu? Baru dua jam berlalu sejak kita membawanya dari pintu belakang sekolah. Mana mungkin sudah ketahuan?"

Poppy mencoba menggeser tubuhnya sedikit agar bisa menatap mereka semua. "Dia bilang mereka sudah tahu siapa pelakunya. Sepertinya... aku harus mulai membangunkan Eleanor sekarang. Kita harus mempercepat sandiwaranya."

"Apa?!" Tigor melotot, wajahnya yang penuh brewok tampak menakutkan di bawah temaram cahaya gudang. "Bukankah katamu tidak ada CCTV di gerbang belakang sekolah? Bagaimana mungkin sudah ketahuan?"

"Itu tidak penting sekarang! Kita harus kabur dari sini!" seru Alex, mental mulai goyah.

"Jangan! Kita tetap pada rencana awal!" bentak Poppy tidak mau kalah. "Masih ada waktu!"

Marco bertanya, "Ada waktu apanya? Tadi kau sendiri yang bilang kalau mereka sudah tahu pelakunya. Tempat ini jaraknya cuma dua jam perjalanan dari sekolah kalian. Kalau mereka bergerak sekarang, sebelum malam mungkin kita semua sudah ditemukan di sini! Lebih baik kita cepat pergi dari sini, tinggalkan saja wanita Sinclair ini di sini!"

"Diam!!" Poppy berteriak frustrasi, matanya berkilat marah. "Kalau kalian pergi sekarang, kembalikan uang mukaku!"

"Shh!!! Kalian ini berisik sekali!" Tigor menaruh telunjuk di depan bibirnya, menatap tajam ke arah Eleanor yang masih terbaring kaku. "Bagaimana kalau wanita ini bangun?! Dasar bodoh!"

Suasana mendadak hening selama beberapa detik. Mereka semua menatap ke arah Eleanor.

Alex mengerutkan kening, rasa heran mulai timbul di kepalanya. "Tapi... kenapa dia tidak bangun-bangun juga dari tadi? Bukankah seharusnya efek obat bius yang kita pakai tidak selama ini?"

Di lantai yang dingin, Eleanor menahan diri agar tidak tersenyum sinis. Dia bahkan tidak pingsan sama sekali. Sejak kain berbau tajam itu ditempelkan ke hidungnya di pintu belakang sekolah, ia sudah menahan napas selama mungkin. Ia sengaja membiarkan dirinya diseret ke dalam van hanya karena ingin melihat sandiwara apa yang sebenarnya ingin Poppy mainkan. Ternyata sandiwaranya penuh dengan celah seperti ini, Eleanor mulai bosan.

Dengan pura-pura pingsan, Eleanor telah mendengar semuanya. Termasuk percakapan telepon dengan Audrey tadi. Namun, Eleanor sedikit kecewa di dalam hatinya. Sayang sekali Poppy tidak menyebutkan nama Audrey sewaktu berbicara di telepon tadi. Jika ia hanya mengandalkan kesaksiannya sendiri dan mengatakan kepada polisi bahwa suara di seberang telepon itu mirip dengan Audrey, mana mungkin pihak berwajib akan percaya. Audrey pasti akan menuduhnya melakukan pencemaran nama baik.

“Tapi tidak apa-apa,” batin Eleanor tajam. “Panggilan harusnya tetap meninggalkan jejak. Jika Liam atau Alistair memeriksa waktu panggilan masuk ke ponsel Poppy, mereka bisa melacak lokasi asal pemanggilan itu dilakukan. Biarlah itu menjadi tugas mereka saja.”

Eleanor juga menganalisis situasi di sekitarnya. Berdasarkan suara langkah kaki dan percakapan, hanya ada tiga penculik yang berada di dalam gudang ini bersama dirinya dan Poppy. Satu orang lagi kemungkinan besar sedang berjaga di luar gudang, ia mungkin bertugas untuk memberi tahu jika ada tanda-tanda bahaya yang mendekat.

"Jangan-jangan... dia mati?" bisik Marco dengan nada ngeri, menunjuk ke arah Eleanor yang tak bergerak.

"Mana mungkin! Itu cuma obat bius!" bantah Tigor.

"Biar aku cek," kata Alex.

Langkah kaki pria itu mendekat ke posisi Eleanor. Eleanor bisa merasakan hawa tubuh pria itu saat dia membungkuk, bermaksud mengecek apakah masih ada embusan napas yang keluar dari hidung Eleanor.

Sebelum jemari kotor pria itu sempat menyentuh wajah atau memeriksa napasnya, Eleanor memutuskan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk terbangun. Ia melenguh pelan, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan ekspresi linglung yang dibuat-buat seolah baru saja lolos dari pengaruh obat bius yang berat.

"Ngg... di mana ini?" Eleanor membuka matanya perlahan, mengedipkan kelopak matanya beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan ruangan. Detik berikutnya, ia melebarkan matanya dengan ekspresi terkejut yang sangat dramatis. "Hah?! Siapa kalian?! Kenapa aku ada di sini?!"

Alex yang posisinya paling dekat dan merasa kaget dengan reaksi tiba-tiba Eleanor, langsung melayangkan tangan kanannya.

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Eleanor, membuat wajah gadis itu terlempar ke samping. "Berisik! Menurutmu kenapa kamu bisa ada di sini, hah?!"

Eleanor merasakan sudut bibirnya sedikit berdenyut, namun matanya tetap menatap pria itu dengan pandangan ketakutan yang palsu. Di dalam hati, ia mencatat wajah pria itu untuk dibalas nanti.

Tigor melangkah maju, berdiri angkuh di depan Eleanor sambil menyeringai lebar. "Kamu anak dari keluarga Sinclair, kan? Orang tuamu sangat kaya, bukan? Aku akan meminta tebusan yang besar dari mereka. Kira-kira... berapa harga yang pantas untuk menebus nyawa berhargamu ini, Nona Muda?"

Alex yang baru saja menampar Eleanor langsung menyahut dengan mata berbinar penuh keserakahan. "Bagaimana kalau seratus juta dolar?"

Mendengar angka yang begitu fantastis, Tigor dan Marco langsung tergiur. Ekspresi wajah mereka berubah drastis. Pikiran mereka langsung dipenuhi oleh bayangan tumpukan uang tunai dalam jumlah besar. Kalau mereka benar-benar bisa mendapatkan uang sebanyak itu dari keluarga Sinclair, lalu apa gunanya lagi mengharapkan uang bayaran dari Poppy yang jumlahnya tidak seberapa. Lebih baik mereka memeras keluarga Sinclair secara langsung.

Di sudut ruangan, Poppy yang menyaksikan perubahan arah rencana itu langsung membelalakkan matanya. Ia mempelototi ketiga pria penculik itu dengan tatapan penuh kemarahan dan peringatan tajam, seolah ingin berkata, “Bukan begitu rencananya, Bodoh! Nanti kalau Eleanor sudah masuk kembali ke dalam perangkapku dan menjadikanku sahabat terbaiknya lagi, dia akan menjadi ATM berjalanku selamanya! Jangankan seratus juta dolar, aku bisa memeras dan memberikan lebih dari itu kepada kalian secara bertahap! Jangan kacaukan rencana besarku sekarang!”

Namun, Alex yang melihat tatapan tidak menyenangkan dari Poppy langsung merasa tersinggung. Bagaimanapun juga, usianya jauh lebih tua dan dia tidak sudi diatur-atur dan dipelototi oleh gadis seusia anaknya ini.

Alex melangkah mendekati Poppy dengan gusar.

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Poppy hingga gadis itu mengaduh kesakitan. "Apa maksud tatapanmu itu?! Apa kau sedang menantangku, hah?!"

"Kau...!!" Poppy berteriak tidak terima, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya.

Tanpa memberi kesempatan bagi Poppy untuk menyelesaikan kalimatnya, Alex kembali melayangkan tangannya dengan lebih keras.

Plak!

Tamparan kedua membuat Poppy terdiam dan hanya bisa mendesis kesakitan, menyadari bahwa ia tidak lagi memegang kendali atas orang-orang bayarannya sendiri.

Marco yang merasa waktu mereka semakin sempit segera menengahi. "Sudahlah, jangan buang-buang waktu dengan mereka. Ayo kita keluar dari ruangan ini dulu. Kita gunakan ponsel milik wanita Sinclair itu untuk menelepon keluarganya dan meminta uang tebusan sekarang juga!"

Tigor mengangguk setuju. Ia meraba sakunya, ia sudah menyimpan ponsel Eleanor sejak di dalam van tadi sambil memberikan isyarat kepada kedua temannya. Ketiga pria penculik itu berbalik dan berjalan keluar dari gudang, meninggalkan Eleanor dan Poppy dalam kegelapan yang sunyi setelah pintu besi besar di depan kembali ditutup rapat dan dikunci dari luar.

1
Wahyuningsih
thor buat elly badaz abiz biar makin seru
Wahyuningsih
mampir q thor
Cty Badria
knp up nya lm banget
aku
lagi tor 🙏
paijo londo
🤣🤣🤣lucu suara hati Eleanor dan dia g tau kalo sura hatinya bisa didengar oleh keluarga serta tunangannya itu...benar2 membagongkan aduh perutq kram ketawa
Yuyun Suprapti
kapan up nya lg thor
est
lanjut thor suka 👍
Yuyun Suprapti
crazy up kk💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!