Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mama Aiena
Aiena menghembuskan napas lega ketika akhirnya berhasil masuk ke dalam rumah dengan selamat. Shane, bosnya itu, benar-benar mengantarkannya hingga ke depan pintu. Ikut turun dan tidak mau pergi sebelum memastikan Aiena masuk.
“Akhirnya…,” desahnya lega.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Semua pecah ketika Mama keluar dari dalam kamar dan bersuara dengan datar namun menuntut, “kemana aja kamu? Tiga hari, Aiena. Tiga hari kamu tidak pulang.”
Gadis itu meletakkan tasnya di atas meja ruang tengah. Ia tidak langsung menjawab, melainkan berjalan ke arah jendela, menyibak sedikit gorden untuk memastikan sedan hitam Shane sudah benar-benar pergi. “Aku sibuk, Ma. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”
“Jangan bohong. Mama tahu kamu takut pulang,” ucap Mama sambilmelepas kacamata yang bertengger di hidungnya, matanya kinu menatap Aiena tajam. “Dan sekarang kamu pulang jam segini. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin?”
Aiena berbalik, napasnya memburu. “Karena Haze, Ma! Dia... dia menunggu di depan kantor setiap hari. Dia berdiri di sana dengan hoodie hitamnya, menatap lurus ke arah lobi. Aku takut.”
Mama justru tertawa kecil, suara yang membuat bulu kuduk Aiena berdiri. Beliau berdiri, berjalan mendekati Aiena lalu mengusap lengan putrinya itu dengan lembut. Gerakan yang seharusnya penuh kasih, namun terasa seperti jeratan bagi Aiena. “Takut? Aiena, itu namanya perhatian. Haze itu laki-laki yang sangat mencintaimu. Dia menjagamu, memastikan kamu aman sampai pulang.”
“Menjagaku? Dia mengancamku, Ma! Dia bilang tidak segan mendekatiku kalau aku berani pergi!” suara Aiena meninggi, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Hush, jangan bicara sembarangan,” potong Mama cepat, raut wajahnya berubah dingin. Wanita paruh baya itu kembali duduk, melipat tangannya di dada. “Haze itu sopan, mapan, dan sayang sekali sama kamu. Dia selalu membawakan makanan kesukaanmu setiap berkunjung ke sini. Kamu hanya terlalu sensitif karena kelelahan bekerja. Tidak mungkin Haze sejahat itu. Mama justru senang kalau kamu pulang bersamanya. Harusnya kamu bersyukur punya pacar sepertinya. Katakan pada Mama, dimana kamu tidur tiga hari ini?”
“Aku tidur di kantor, Ma,” jawab Aiena jujur, namun justr dibalas dengan tawa meremehkan oleh Mama.
“Masa tidur di kantor?”
“Beneran, Ma. Haze nunggu aku di depan…”
“Makanya, pulang aja sama dia,” potong Mama. Kalimatnya final, tidak bisa lagi dibantah. Dan tidak mau mendengar penjelasan maupun alasan apapun lagi dari sang anak.
Aiena terpaku di tempatnya. Ia menatap punggung ibunya yang kembali menyesap teh, menyadari bahwa di rumah ini pun, ia tidak benar-benar memiliki tempat untuk berlindung.
***
Pintu kamar Aiena terbuka dengan cukup kasar hingga pegangan pintu bagian dalam menabrak dinding di belakangnya, menimbulkan suara dentuman yang menggema di ruangan kamar itu.
Aiena, yang baru saja hendak merebahkan tubuh lelahnya kaget, ia refleks terlonjak duduk. Di ambang pintu kamarnya. Mama berdiri dengan tangan yang mengepal memegang ponselnya, layar benda pipih itu masih menyala terang.
“Ponselmu kenapa, Aiena? Haze baru saja menelepon Mama!” suara Mama meninggi, tajam dan menusuk. Beliau melangkah masuk, mengabaikan raut wajah lelah putrinya. “Dia bilang kamu tidak mengangkat teleponnya sejak tadi siang. Dia cemas setengah mati, mencarimu kemana-mana karena kamu tidak keluar lewat lobi kantor!”
Aiena membuang muka, tangannya terkepal di samping tubuh. “Ma, sudah kubilang… Aku tidak ingin bicara padanya, Ma. Aku tidak ingin bertemu Haze, aku takut.”
“Takut apa? Dia pacarmu. Kamu sendiri yang milih dia!” Mama berdiri tepat di depan Aiena, membayangi tubuh kecil itu. “Haze sampai menangis tadi di telepon, Na. Dia bilang dia hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Kenapa kamu jadi sekeras kepala ini? Telepon dia sekarang, jelaskan kenapa kamu menghindar!”
“Aku tidak mau!” Aiena berteriak parau, matanya berkaca-kaca karena frustrasi yang memuncak.
Plak! Mama memukul kasur di samping paha Aiena, membuat gadis itu sedikit kaget. “Jangan macam-macam! Haze itu laki-laki baik. Kamu yang membuat dia kerepotan dengan sikap kekanak-kanakanmu!”
Tanpa menjawab lagi, Aiena menyambar ponselnya dari nakas. Jempolnya menekan tombol daya dengan kuat, menahan emosi yang meluap hingga layar ponsel itu menghitam sepenuhnya, mati. Ia melempar benda itu ke sudut ranjang. Tak peduli jika rekan setimnya perlu menghubunginya tengah malam nanti.
“Aku mematikan ponselku, Ma. Jangan suruh aku bicara sama Haze lagi,” desis Aiena dingin, sebelum ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, mencoba mengubur kenyataan bahwa bahkan di dalam kamarnya sendiri, Haze tetap bisa menjangkaunya lewat suara sang ibu yang terus berada di pihak pria itu, tanpa mau mendengar keluh kesahnya sebagai korban.
***