Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 19
Pagi. Seperti biasanya. Setelah Dipta berangkat ke kantor, lalu Alaric di antara ke sekolah oleh Mbak Sari. Kini Rana hanya berdua dengan putrinya yang tengah asyik bermain boneka di kamar ganti. Sebuah ruangan khusus yang di penuhi oleh pakaian Rana dan Dipta.
Rumah terasa tenang.
Rana melangkah, lalu berdiri di depan almari yang terbuat dari kayu jati seratus persen.
Tangannya sibuk melipat pakaian. Gerakannya rapi, teratur. Kebiasaan yang sudah ia lakukan sejak ia bersatu sebagai Nyonya muda dari Tuan muda Adhikara Pradipta Mahendra. Sesekali ia memisahkan pakaian yang sudah di setrika oleh Mbak Yuni yang datang seminggu sekali. Perempuan itu menatanya begitu telaten.
Hingga tangannya meraih satu kemeja.
Milik Dipta.
Rana tidak langsung melipatnya. Ia mengibaskan sedikit kain itu, memastikan tidak ada yang tertinggal di dalam saku.
Dan disitulah-
Sesuatu jatuh pelan ke lantai.
Kertas kecil.
Tipis. Sedikit kusut.
Rana menundukkan pandangannya, alisnya berkerut. Ia membungkuk, memungut kertas kusut itu.
Awalnya Rana tidak berpikir apa-apa. Mungkin hanya struk biasa. Nota belanja. Atau kertas tak penting lainnya yang lupa dikeluarkan sebelum di cuci oleh Mbak Yuni.
Namun pada saat kertas itu dibuka, seketika waktu seperti terhenti. Tulisan di atasnya jelas.
Nama hotel,
Tanggal
Dan dua nama yang tertera.
Dipta dan Laras.
Rana tidak langsung bereaksi. Kedua bola matanya tetap terpaku pada kertas itu. Membaca ulang. Bukan hanya sekali atau dua kali, namun berulang-ulang. Seolah berharap huruf-huruf itu berubah.
"A- apa...aku salah baca?" gumamnya tergagap. Dadanya sesak.
Tangannya bergetar.
Detail di kertas itu terlalu jelas untuk di sangkal.
Check-in, dua tamu...dan...satu kamar?
Jakarta?
Tanggal yang ia ingat.
Tanggal dimana Dipta mengatakan ada pekerjaan di luar kota. Tanggal dimana ia mempercayai suaminya tanpa ragu. Lalu terngiang ucapan dari putranya Pak Vito.
"Perasaan apa ini?" gumam Rana seraya meraba dadanya.
Sunyi.
"Bunda...."
Bahkan suara Masayu yang memanggilnya terasa sangat jauh, seperti tertelan oleh sesuatu yang tiba-tiba memenuhi kepalanya. Seketika dadanya sulit untuk bernafas lega, sesak begitu saja. Kedua bola matanya terasa perih, tatapannya kosong, tapi... pikirannya penuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dipta terlihat melangkah tergesa menuju pintu utama rumah, mobilnya bahkan berhenti kasar di halaman rumah. Ia bahkan tidak sempat mematikan mesin mobil dengan benar- pikirannya hanya tertuju pada satu hal.
Dokumen rapat.
Tertinggal.
Ia masuk dengan cepat, membuka pintu hampir tanpa suara sapaan seperti biasanya.
"Rana!" panggilnya.
Tidak ada jawaban. Dipta menghela napas pendek, terlihat sedikit kesal pada dirinya dan lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam.
"Rana?"
Tetap hening.
Tiba-tiba saja terdengar suara Masayu, cukup nyaring.
"Bundaaaa, ini jatuh lagi!"
Dipta langsung menoleh ke arah sumber suara, tanpa berpikir panjang ia berjalan cepat menuju kamar ganti.
Langkahnya melambat saat sampai di ambang pintu. Masayu duduk di lantai, di kelilingi boneka-boneka kecilnya. Wajahnya tampak serius, sibuk dengan dunianya sendiri.
Dipta mengalihkan pandangannya dari Masayu, kini ia tertuju pada Rana yang tengah berdiri membelakangi pintu. Diam, tidak bergerak. Seolah sudah tahu seseorang datang, tapi tidak berniat menoleh.
"Rana," panggil Dipta lagi, kali ini lebih pelan.
Rana tetap tidak menjawab.
Dipta mengernyitkan keningnya sedikit. "Kamu kenapa? Dari tadi aku panggil -"
Kalimatnya terhenti. Ada sesuatu yang terasa cukup sulit di jelaskan. Dipta diam memperhatikan Rana yang enggan menoleh kepadanya.
Sampai pada akhirnya Dipta melangkah lebih dekat beberapa langkah. "Aku cuma mau ambil dokumen, ketinggalan buat rapat nanti siang."
Tidak ada respons.
Masayu yang duduk di lantai menoleh ke arah ayahnya. "Ayah..."
Dipta tersenyum kecil, berusaha biasa. "Iya, sayang."
"Tadi bunda nangis di sini..." celetuk Masayu polos, lalu kembali bermain.
Seketika ucapan putrinya menggantung di udara. Dipta kembali mendekat, meraih pundak istrinya dan memanggilnya lembut.
"Rana?"
Akhirnya- Rana bergerak. Perlahan perempuan yang mengenakan pakaian rumahan itu menoleh. Wajahnya tenang, namun ada sisa air mata di sudut matanya.
"Ada apa, Mas?" tanyanya pelan.
Nada suaranya datar. Lembut, tapi tanpa kehangatan seperti biasanya. Dipta sempat terdiam sepersekian detik, mencoba membaca sesuatu yang tidak ia mengerti.
"Aku...mau ambil dokumen. Yang map biru, kamu lihat?"
Rana mengangguk kecil.
"Di meja kerja." jawabanya singkat.
Dipta hendak berbicara, namun ia urungkan. Dalam pikirannya mungkin suasana hati istrinya sedang tidak baik-baik saja, mungkin sedang datang bulan.
Rana bergerak, menggendong Masayu dan hendak pergi meninggalkan suaminya yang masih menatap lamat istrinya.
"Kemana bunda??"
Rana tersenyum, "kita siram tanaman."
Dipta menahan lengan istrinya ketika perempuan itu hendak melangkah pergi.
"Kamu...nggak apa-apa?"
Rana mencoba tersenyum, "nggak apa-apa."
Dua kata itu terasa ringan. Tapi entah kenapa...tidak menyakinkan. Dipta masih menatap istrinya, lalu melepaskan genggamannya pada lengan Rana.
"Yaudah, aku ke atas dulu. Mau ambil dokumen."
Langkahnya lebih dulu keluar dari ruangan tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langkah Dipta kembali terdengar dari arah tangga. Cepat, sedikit terburu-buru.
Ditangannya sudah ada map biru yang ia cari. Namun entah kenapa, kakinya justru berhenti lagi di kamar ganti. Ternyata Rana masih ada disana bersama Masayu.
Masayu tertawa kecil, memainkan bonekanya, sama sekali tidak menyadari perubahan suasana di antara kedua orang tuanya.
Dipta bersandar di kusen pintu.
Menatap Rana.
"Aku berangkat lagi ya." ucapnya, berusaha biasa.
Rana tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, masih membelakangi, membereskan pakaian di dalam almari.
Sunyi.
Terlalu sunyi untuk dua orang yang tinggal dalam satu rumah.
Dipta menghela napas kecil. "Ran..."
Nada suaranya berubah, lebih pelan, lebih hati-hati.
Rana berhenti. Tapi tidak menoleh.
"Iya, Mas?"
"Kamu beneran gak apa-apa?"
Pertanyaan itu menggantung. Rana menutup pintu lemari perlahan. Lalu berbalik dan menatap Dipta. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling diam.
"Ran..." panggil Dipta lagi.
"Memangnya aku harus kenapa?" jawab Rana pada akhirnya. Nada suaranya tetap lembut, tapi bagi Dipta suara itu berbeda.
Dipta mengernyit. "Dari tadi aku panggil kamu. Tapi kamu sulit merespon aku. kamu beda dari tadi."
"Beda gimana?"
"Kamu...kaya bukan Rana yang aku kenal."
Rana tersenyum tipis, ia memalingkan wajah dari suaminya.
"Perasaan, dari dulu juga aku gini-gini aja Mas."
Kalimat yang di ucapkan Rana memang sederhana. Akan tetapi yang masuk pada telinga Dipta seperti sindiran halus.
Dipta mendekat. "Rana, aku serius..."
"Aku juga serius." Potong Rana membuat Dipta sedikit terkejut. Biasanya Rana tida pernah memotong pembicaraannya.
Masayu sempet menoleh, tapi kembali sibuk saat melihat kedua orang tuanya masih berbicara pelan.
Dipta mulai kehilangan kesabaran kecilnya. Suaranya cukup lebih tinggi dan tegas. "Kalu ada apa-apa bilang. Nggak usah kaya gini."
"Kaya gimana?" tanya Rana.
Kali ini matanya menatap lurus kepada tatapan suaminya, tidak seperti biasanya.
Dipta sedikit tercengang melihat perubahan istrinya. Rana yang biasanya tidak berani menatap matanya jika dirinya meninggikan suara, Rana yang akan lebih banyak menunduk itu kini hilang.
"Mas maunya aku gimana?" suaranya masih rendah, tapi tajam. "Harus selalu ceria? Harus selalu nanya Mas capek atau enggak? Atau...harus selalu jadi istri yang nggak pernah berubah?"
Dipta melengos, kali ini Masayu bangkit dari duduknya dan memeluk kaki ibunya.
"Bunda..." rengeknya.
"Aku capek ngadepin kamu yang selalu saja harus di mengerti. Aku gak mau debat, sepulangnya aku dari kantor kamu jangan gini lagi. Aku nggak suka!" ucapnya dingin lalu pergi berlalu meninggalkan Rana yang diam seribu bahasa.
...****************...
Bersambung...