Ghani hidup dalam dunia bayangan, tempat rahasia bernilai jutaan dolar dan kepercayaan bisa membunuhmu kapan saja.
Saat memutuskan pulang ke tanah kelahirannya di Tora-Tora, ia hanya ingin beristirahat dari hidupnya yang gelap.
Namun semuanya berubah setelah ia bertemu Ghea, gadis bermata hazel yang keras kepala, penuh rahasia, dan perlahan membuatnya ingin berhenti berlari.
Di antara pantai, kebohongan, dan masa lalu yang belum selesai, keduanya terjebak dalam hubungan yang semakin dalam.
Tapi bagi Ghani, mencintai seseorang adalah cara tercepat untuk kehilangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Aiza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Ada di sini
POV Ghani
Aku sudah kehilangan hitungan berapa kali aku berjalan mondar-mandir di sepanjang ubin putih lorong ini. Kursi tunggu ini terasa terlalu keras, dan aroma desinfektan mulai membuatku mual. Mataku tidak pernah lepas dari pintu HCU yang dingin, menunggu dokter atau perawat memanggil namaku.
Pagi itu, pintu terbuka. Dokter melangkah keluar, masih mengenakan jas putihnya yang menambah wibawanya bahwa dia mampu membantu kesembuhanmu. Dia melepas maskernya, dan untuk sesaat, jantungku berhenti berdetak. Aku sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Aku sudah menyusun kata-kata di kepalaku jika dia bilang kondisi paru-parunya memburuk.
"Keluarga Ghea Anastasya Putri!." panggil seorang perawat muda yang berada di belakang dokter itu yang selalu membawa kertas dan pulpen.
Aku berdiri begitu cepat sampai kepalaku terasa pening. "Saya, Dok. Bagaimana... bagaimana keadaannya?"
Dia tidak langsung menjawab, tapi dia tersenyum. Sebuah senyum tipis yang seketika meruntuhkan seluruh pertahanan yang kubangun sejak semalam.
"Kondisinya sudah stabil." ucapnya. Suaranya terdengar seperti melodi paling indah yang pernah kudengar. "Napasnya sudah jauh lebih ringan. Saturasi oksigennya sudah kembali normal dengan bantuan minimal. Masa kritisnya sudah lewat."
Aku merasa lututku lemas. Aku harus berpegangan pada sandaran kursi agar tidak jatuh. Seolah beban berat yang ada di kepala, pundak, dada, dan kakiku hilang seketika. Ringan.
"Kami akan mengobservasinya beberapa jam lagi." Lanjut Dokter itu sambil menepuk bahuku pelan. "Setelah itu, dia sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Anda sudah bisa menemaninya di sana nanti."
Aku tidak tahu harus berkata apa. Lidahku kelu. Aku hanya bisa mengangguk berkali-kali, sementara air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.
Saat Dokter itu berlalu, aku menyandarkan punggungku ke dinding, menatap langit-langit lorong yang kusam. Aku menarik napas panjang, napas yang sejak semalam terasa sesak di dadaku sendiri, dan akhirnya, aku bisa mengembuskannya dengan lega. Dia selamat. Kami berhasil melewatinya.
Aku menyempatkan diri untuk pulang ke rumah, setidaknya saat dia bertemu denganku, aku tidak dalam keadaan buruk, aku dalam keadaan segar yang bisa membuat dia menjemput kesembuhannya.
"Ghan, Ghea bagaimana?" tanya Ghina saat aku sampai di rumah.
"Tadi dokter mengatakan jika masa kritisnya sudah lewat. Mungkin nanti siang akan dipindah ke ruang inap biasa." jawabku.
"Oya aku mau tidur dulu sebentar, nanti siang tolong bangunkan aku." pintaku pada Ghina.
"Oke. Oh iya, tadi Mike menghubungiku, dia menanyakan keberadaanmu, dan aku jawab saja jika pacarmu sakit keras."
Aku mengangguk. Aku masuk ke kamarku, kamar yang sudah menemaniku selama lebih dari 27 tahun. Awalnya ini adalah kamar orang tuaku, berhubung aku yang sering datang kemari mengunjungi nenek, akhirnya kamar ini berganti menjadi kamarku.
Ada ketukan pintu di kamar, dan aku menyuruh masuk. Tampak nenekku dengan wajah sepuhnya yang menggambarkan berapa banyaknya pengalaman dan panjangnya hidupnya muncul di ambang pintu.
"Boleh Oma masuk?" tanyanya.
Aku segera bangkit dari telentangku di kasur.
"Ya Oma, silahkan." Jawabku.
"Kamu lelah?" tanya Oma padaku.
Akupun hanya tersenyum dan aku yakin nenek sudah tahu jawabnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya.
"Kata dokter masa kritisnya sudah lewat, kemungkinan nanti siang atau sore dia sudah bisa pindah ke bangsal rawat inap."
"Awalnya bagimana bisa sakit mendadak seperti itu? Padahal kemarin dia mengatakan akan kesini untuk membahas acara Ghina dengan teman-temannya." tanya nenekku seolah memaksaku untuk melakukan perjalanan kembali ke masa lalu.
"Entahlah pemicunya apa Ghani juga tidak pasti. Yang jelas Ghani menemukan dia sesak nafas dan pucat di pantai Kreya. mungkin ada sesuatu yang membuat dia stress sehingga membuatnya seperti itu "
"Ghani." panggil nenekku dengan lembut. "Apakah kamu suka sama Ghea?" lanjutnya.
Akupun menghela nafas panjang. Sejujurnya, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling enggan aku jawab. Aku sendiri masih berada di batas keraguan, memilih untuk mencintainya dalam diam atau memilikinya tapi dia akan terluka. Aku, dengan segala pekerjaanku, pekerjaan dengan resikonya, aku hanya tidak menginginkan Ghea juga menanggung resikonya.
"Yang aku rasakan sekarang Oma, dia selalu berada dalam pikiranku, dia selalu ada dalam hatiku, aku ingin sekali selalu ada untuk melindungi dia, hatiku sakit, sakit sekali saat tahu dia terluka. Aku ingin selalu ada di sisinya. Tapi, dengan pekerjaanku, semua itu tak mungkin aku lakukan. Aku tak ingin ketidakpastianku akan menghancurkannya."
"Ghea tahu apa pekerjaanmu?"
Aku hanya menggeleng lemah. "Aku tidak ingin Ghea ikut menanggung resiko dari pekerjaanku."
"Baiklah.. Beristirahatlah.. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui, wanita bisa menunggu selama apapun saat kamu meninggalkannya asalkan dia yakin jika pasangannya berjuang untuk keluarga. Wanita akan merasakan sakit apabila pria yang dicintainya menggantungkannya. Bijaklah sebagai pria, karena hubungan itu dimulai berdua, bukan hanya satu pihak."
"Iya, Oma. Ghani akan pertimbangkan nasehat Oma. Terima kasih."
Nenekku memelukku erat sekali. "Semoga semua cucu-cucuku hidup bahagia."
Aku kemudian tertidur lelap hingga saat bangun waktu menunjukkan pukul 14.00. Aku segera bersiap dan bergegas menuju rumah sakit. Aku ingin menemaninya dalam setiap sakitnya, aku sakit membayangkan dia menahan sakit, seorang diri tanpa seorangpun di sisinya.
Ghea sedang berbaring dengan posisi tubuh bagian atasnya sedikit lebih tinggi saat aku memasuki kamar inapnya. Wajahnya tampak pucat tapi kulihat secara umum sudah jauh lebih baik dari yang kulihat saat di HCU kemarin. Masker plastik yang menutup hidung dan bibirnya sekarang sudah lenyap digantikan selang kecil melintasi pipinya secara horizontal yang masih membantunya bernafas.
"Hai." Sapaku sambil tersenyum saat mata kami beradu pandang dalam dinginnya suhu kamar inap. Ghea hanya terdiam dengan senyum yang seperti dipaksakan.
Aku meletakkan bunga peoni di atas nakas samping brankarnya dan aku melihat jatah makan siang pasien masih utuh tak tersentuh.
"Belum makan?" tanyaku
Dia menggeleng lemah.
"Ayo makan, sekarang ada aku disini." Aku tak ingin penolakan darinya, oleh karena itu aku tak mempertanyakan dia mau makan atau tidak.
Aku membuka makanan Ghea yang masih berupa makanan halus kemudian aku berusaha untuk menyuapinya, namun Ghea hanya diam.
"Aku masih belum lapar." jawabnya singkat.
Aku hanya menghela nafas panjang
"Ghe, terkadang apa yang kita inginkan itu tidak sama dengan apa yang kita butuhkan. Mungkin lidah dan perutmu tidak merasa lapar, tapi tubuhmu perlu makan. Contoh lain adalah aku. Aku ingin tetapi berada disini, aku ingin bersama keluargaku, bersama nenek, adikku, dan juga seseorang yang aku cintai, hanya saja, aku sadar aku tak mungkin melakukan itu, aku harus pergi, aku bekerja, aku harus mengumpulkan uang untuk kehidupanku nanti, juga untuk orang lain yang bekerja di bawahku, jika aku tak bekerja aku akan mengorbankan begitu banyak keluarga."
"Lalu sebelum kamu pergi, alih-alih bersama dengan keluarga dan orang yang kamu cintai, kenapa malah ada disini?" tanya Ghea dengan nada tajam. "Kamu pergi saja, aku bisa disini sendiri, jangan khawatirkan aku, aku juga punya teman yang bisa menemaniku." lanjutnya dengan senyum getir.
Aku terdiam. Ini adalah pertanyaan yang aku takutkan. Kenapa aku disini, kenapa aku harus menambatkan hatiku untuk berada di dekatnya.
Dengan ragu aku sambil menatap matanya akhirnya berkata "karena orang yang aku cintai ada disini dan aku ingin bersamanya sebelum aku pergi yang entah kapan aku akan kembali.”
Terus berkarya ya Thor, sy trus ngikutin/Pray/
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/