Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Keheningan di dalam ruang praktik itu mendadak berubah menjadi medan magnet yang pekat.
Briella bisa merasakan suhu ruangan meningkat beberapa derajat, bukan karena pendingin ruangan yang mati, melainkan karena tatapan Lexington yang kini mengunci setiap inci pergerakannya.
Lexington tidak sedang menggertak. Sebagai seorang insinyur, dia tahu bahwa setiap aksi memiliki reaksi, dan reaksi Briella yang mencoba kabur pagi tadi telah memicu mekanisme pertahanan paling primitif dalam dirinya: kepemilikan mutlak.
"Lex, jangan sekarang... Pasienku akan datang sebentar lagi," bisik Briella, suaranya bergetar antara protes dan antisipasi.
"Aku sudah membayar biaya konsultasi lima kali lipat melalui asistenmu tadi" Lexington melonggarkan dasinya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengunci pintu ruangan dengan bunyi klik yang terasa seperti vonis mati bagi kewarasan Briella.
"Hari ini, kau adalah dokter pribadiku. Dan aku sedang butuh pengobatan intensif."
Deru napas Lexington mulai terdengar berat di dekat telinga Briella saat pria itu memojokkannya ke dinding di samping meja kerjanya. Briella menengadah, menatap langit-langit ruangannya yang didekorasi elegan, kini terasa seperti penjara mewah.
"Benar-benar gila... Kau gila, Lexington Valerio," desis Briella, tangannya meremas bahu jas suaminya. "Aku takut stafku atau Belle mengira kita sedang saling membunuh di dalam sini karena suaranya..."
Lexington terdiam sejenak. Ia menghentikan kecupannya di ceruk leher Briella, lalu menatap mata istrinya dengan binar kegelapan yang pekat. "Bukankah aku memang sedang membunuhmu, Sayang? Membunuhmu dalam kenikmatan... pada tempatnya."
Kalimat itu menjadi pemicu ledakan yang tak terelakkan. Klinik kecantikan yang biasanya menjadi tempat transformasi fisik yang tenang, kini menjadi saksi bisu transformasi emosional yang liar.
Tidak ada lagi dosen muda yang sopan atau dokter bedah yang presisi; yang ada hanyalah dua jiwa yang selama lima tahun saling menyimpan dendam dan rindu yang sama besarnya.
Di atas sofa bulu abu-abu itu, Lexington membuktikan bahwa penghinaan terbesar yang pernah ia terima sebelumnya, dan ia membalasnya dengan cara yang membuat Briella berkali-kali menyebut namanya dengan nada memohon.
Satu jam berlalu. Sinar matahari siang mulai merangkak masuk lebih jauh ke dalam ruangan.
Lexington berdiri lebih dulu. Dengan ketenangan yang menyebalkan, ia merapikan kemeja putihnya, mengancingkan manset, dan mengenakan kembali jasnya seolah-olah ia baru saja selesai melakukan rapat bisnis yang sukses. Ia duduk di kursi pasien, menyilangkan kaki, dan memperhatikan istrinya melalui pantulan cermin rias yang ada di sudut ruangan.
Briella, di sisi lain, tampak seperti baru saja keluar dari badai tornado. Rambutnya yang tadi disanggul rapi kini tergerai berantakan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mencoba memoles kembali lipstik merah mudanya. Ia melakukannya dengan gerakan yang sangat terburu-buru, sesekali melirik ke arah pintu.
"Pintu sudah kita kunci, Honey... Kenapa harus terburu-buru?" tanya Lexington dengan nada santai, bahkan ada nada kepuasan yang kental dalam suaranya.
"Kau tidak mengerti!" sahut Briella tajam, meski napasnya masih belum sepenuhnya stabil. "Belle pasti sudah menungguku di luar. Jika aku tidak keluar dalam lima menit, dia akan memanggil pemadam kebakaran untuk mendobrak pintu ini karena dia tahu aku sedang bersamamu!"
Briella mengatupkan bibirnya, meratakan lipstik, lalu matanya membelalak horor saat ia menurunkan sedikit kerah jas putihnya untuk memeriksa keadaan di balik sana.
"BRENGSEK!" teriak Briella, berbalik menatap Lexington dengan tatapan membunuh.
"Ada apa lagi?" Lexington menaikkan sebelah alisnya.
"Lihat ini!" Briella menunjuk sebuah tanda kemerahan yang cukup kontras di bagian atas dadanya, tepat di bawah tulang selangka. "Kau menandai aku seperti hewan ternak, Lex! Syukur ini tidak di leher, kalau tidak aku akan benar-benar malu pada Belle dan stafku!"
Lexington bangkit, berjalan mendekat dan berdiri di belakang Briella, menatap pantulan tanda itu di cermin. Ia menyentuh tanda itu dengan ibu jarinya, sebuah senyum simpul muncul di wajahnya. "Itu bukan tanda hewan ternak. Itu adalah segel keamanan. Agar semua orang tahu bahwa wilayah ini sedang dalam pengawasan penuh pemiliknya."
"Kau benar-benar posesif dan gila," gerutu Briella, berusaha menutupi tanda itu dengan concealer yang ia ambil dari laci meja.
"Dan kau menyukainya," balas Lexington singkat.
Tiba-tiba, pintu ruangan diketuk dengan keras dari luar.
Duk! Duk! Duk!
"Bri! Kau masih hidup di dalam?!" itu suara Belle. "Ini sudah lewat jam makan siang! Jika kau belum mati dibunuh suamimu, keluar sekarang! Atau aku akan melaporkan penculikan pada polisi!"
Briella memandang Lexington dengan wajah panik. "Lihat? Apa kubilang!"
Lexington hanya menghela napas, ia berjalan menuju pintu, merapikan sedikit kerah jasnya, lalu membukanya dengan santai.
Di depan pintu, Belle berdiri dengan tangan di pinggang, siap meledak. Namun, saat melihat Lexington yang tampak begitu rapi, segar, dan... "bercahaya", Belle mendadak bungkam. Ia melongok ke dalam ruangan dan melihat Briella yang sedang sibuk merapikan rambutnya dengan wajah yang luar biasa merah.
"Oh..." Belle menutup mulutnya. "Sepertinya aku mengganggu sesi 'negosiasi' yang sangat intens."
Hadiyan, yang berdiri di belakang Belle, hanya bisa menunduk sambil menahan senyum. "Tuan Lexington, mobil sudah siap di depan jika Anda ingin melanjutkan... bulan madu Anda di tempat yang lebih privat."
Lexington menoleh ke arah Briella. "Bagaimana, Dokter Zamora? Apa kau ingin melanjutkan pekerjaanmu dengan kaki yang gemetar itu, atau kau ingin ikut suamimu pulang?"
Briella menatap Belle yang kini menaikkan alisnya dengan wajah menggoda, lalu menatap Lexington yang menunggunya dengan tangan terulur. Ia tahu, egonya mungkin masih terluka, tapi tubuh dan hatinya sudah menyerah kalah.
"Aku benci kau, Lex," gumam Briella sambil menyambar tasnya.
"Aku tahu, Honey. Sekarang ayo jalan, sebelum aku memutuskan untuk mengunci pintu ini lagi," ancam Lexington dengan nada yang sama sekali tidak terdengar seperti bercanda.
Briella berjalan melewati Lexington dengan langkah yang diusahakan tetap tegak, meski tanda kemerahan di dadanya terasa seperti terbakar. Ia tahu, hari ini kliniknya memang menjadi saksi kegilaan mereka, tapi ini barulah permulaan dari pernikahan mereka yang akan selalu penuh dengan ledakan presisi dan kecerobohan yang indah.