Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: MADU DATANG BAWA RACUN
Seminggu setelah Tuan Arga keluar RS, rumah Pratama udah kayak istana pengantin baru. Bunga di mana-mana, katering datang tiap hari, tukang dekor bolak-balik. Om Arga—eh, sekarang harus panggil Mas Arga katanya—maksa mau resepsi ulang. "Yang kemarin cuma kontrak. Sekarang harus pesta beneran. Biar satu Jakarta tau lo istri gue."
Aku sih mau-mau aja. Siapa yang nolak pesta 10 M? Tapi ada yang nggak suka. Banget.
Hari H resepsi, hotel bintang 7 full booking. Tamu undangan dari pejabat sampe artis. Aku pake gaun pengantin putih, modelnya mermaid, belahan dada rendah. Mas Arga nggak lepasin pandangannya dari aku sejak akad ulang tadi. Katanya, "Sayang, lo cantik banget. Yang pertama hari ini." Kurang dua lagi.
Acara lancar, sampe... musik berhenti tiba-tiba. Lampu sorot nembak ke pintu ballroom.
Di situ berdiri Clarissa. Pake gaun merah darah, belah paha tinggi, rambut diblow, makeup tebel. Tapi matanya... matanya kayak mau ngebunuh. Di tangannya ada mikrofon.
"SELAMAT YA, MAS ARGA," suaranya nyaring se-ballroom. Tamu-tamu bisik-bisik. "AKHIRNYA NIKAH JUGA SAMA BABU BARU. CEPET BANGET MOVE ON DARI ALINA. ATAU JANGAN-JANGAN... MAS EMANG SENGAJA BUNUH ALINA BIAR BISA KAWIN SAMA YANG MUDA?"
BRAK! Gelas di tangan Mas Arga pecah. Darah netes dari telapaknya, tapi dia nggak ngerasain. Matanya merah lagi. Matanya pas mau nembak Dimas dulu.
"CLARISSA," suaranya rendah, ngebunuh. "LO MASIH BERANI INJEK RUMAH GUE?"
"RUMAH LO?" Clarissa ketawa melengking. "INI RUMAH ALINA! GUE CALON MADU ALINA DARI DULU! KALO ALINA NGGAK MATI, GUE YANG JADI NYONYA PRATAMA! BUKAN BABU KAMPUNG INI!"
Aku remas gaun pengantinku. Panas. Pengen gue jambak rambut ekstensi dia. Tapi Mas Arga genggam tanganku erat. "Sayang, jangan. Dia mau mancing lo. Tetep diem."
Clarissa jalan pelan ke pelaminan, sepatu hak 15 cm-nya bunyi tak-tak-tak di lantai marmer. "Mas, lo tau nggak? Siska ini nikahin lo karena duit. Dia tau lo kaya, makanya dia pasang badan di gudang. Sandiwara! Dia sama aja kayak gue! Bedanya gue jujur mau harta lo, dia munafik!"
"JAGA MULUT LO, CLARISSA!" Mas Arga udah berdiri, narik gue ke belakang badannya. Bodyguard udah ngepung, tapi Mas Arga ngangkat tangan. Nyuruh jangan gerak dulu.
"Gue jaga mulut?" Clarissa udah di depan pelaminan. Dia senyum miring ke aku. "Siska, sayang... lo tau nggak kenapa Mas Arga nggak pernah sentuh lo selama 3 minggu? Karena dia masih kebayang Alina tiap liat muka lo. Lo cuma pelampiasan. Boneka seks yang mukanya mirip mantan."
JLEB. Kena banget. Itu ketakutan gue dari dulu. Aku spontan lepasin genggaman Mas Arga. Mundur selangkah.
Mas Arga noleh ke aku, panik. "Sayang, jangan dengerin dia. Dia bohong."
"Tapi... bener kan, Mas?" Suaraku bergetar. "Mas nikahin aku karena aku mirip Alina. Mas nggak pernah..."
"DIAM!" Mas Arga bentak, tapi bukan ke aku. Ke Clarissa. Dia nyamperin Clarissa, cengkeram rahang Clarissa kenceng sampe cewek itu meringis. "Lo pikir gue diem 5 tahun karena gue bego? Gue tau lo kongkalikong sama Dimas. Lo yang kasih info kalo Alina hamil. Lo yang bilang ke Dimas kalo Alina mau gugat cerai karena lo. Lo dalangnya, Clarissa."
Satu ballroom hening. Clarissa matanya membesar. Kaget karena kebongkar.
"GUE... GUE NGGAK..."
"DIEM!" Mas Arga dorong Clarissa sampe jatuh duduk di lantai, gaun merahnya ngembang kayak darah tumpah. "Elang! Puter rekamannya!"
Layar gede di ballroom nyala. Muncul video CCTV. Tanggal 5 tahun lalu. Di rumah sakit. Clarissa lagi bisik-bisik ke Dimas di koridor: "Hamil 2 bulan, Dim. Kalo anak itu lahir, saham lo abis. Alina pasti ceraiin Arga, terus minta gono-gini. Lo nggak bakal dapet apa-apa."
Terus video kedua. Clarissa ngasih botol kecil ke Mbok Inah: "Campur ini ke susu Alina tiap malem. Biar dia jatuh sendiri. Nggak ada yang curiga."
Tamu-tamu heboh. "Astaga!" "Biadaaab!" "Pantesan!"
Clarissa bangun, mukanya pucet. "ITU... ITU EDITAN! ARGA! LO FITNAH GUE!"
"Fitnah?" Mas Arga ketawa dingin. Dia ngeluarin HP, play voice note. Suara Clarissa: "Dimas, kalo Arga tau kita di belakang ini semua, kita habis. Bunuh aja sekalian Siska. Mukanya bikin gue mual. Persis Alina."
Aku tutup mulut. Jadi selama ini... Clarissa juga mau bunuh aku?
Mas Arga jalan balik ke aku, narik pinggangku, nempelin badannya ke badanku. Di depan semua orang. Di depan Clarissa. "Denger ya, Clarissa. Dan denger semua tamu di sini," suaranya nyaring, tegas. "Siska Putri Lestari itu istri gue. Nyonya Arga Pratama. Sah secara agama, sah secara negara. Dia bukan pelampiasan. Dia alasan gue hidup lagi."
Dia noleh ke aku, terus... ngangkat dagu aku pake jari. "Dan gue sentuh dia. Tiap malem. Dari malem ini. Biar lo tau, Clarissa. Biar lo berhenti halu."
Muka gue PANAS. Satu ballroom "Huuuuu!" Clarissa mukanya merah-pucet-merah-pucet.
"Security!" panggil Mas Arga. "Seret perempuan ini ke kantor polisi. Kasih semua bukti ke Kapolres. Pasal pembunuhan berencana. Berlapis. Seumur hidup."
Bodyguard langsung nyeret Clarissa yang jerit-jerit. "ARGA! LO NGGAK BISA GITUIN GUE! GUE CALON ISTRI LO! ARGA! SISKA JAHAT! DIA REBUT LO DARI GUE!"
Digotong keluar. Ballroom tepuk tangan. Tapi gue masih gemeteran.
Mas Arga peluk gue erat, bisik di kuping: "Maaf Sayang, resepsi kita keganggu. Yang kedua."
Gue nyubit pinggangnya. "Mas! Nggak tau tempat! Itu sayang yang kedua!"
Dia ketawa, terus gendong gue ala bridal style di depan semua orang. "Udah, kita ke kamar pengantin aja. Nggak usah peduliin tamu. Yang penting... malam pertama kita nggak ditunda lagi."
Satu ballroom makin heboh. "Cieee!" "Langsung aja, Pak!" "Semangat, Bu!"
Gue tutup muka di dada Mas Arga. Malu banget. Tapi... deg-degan. Malam ini... malam pertama beneran. Bukan kontrak. Bukan sandiwara.
Di lift menuju presidential suite, Mas Arga nggak lepasin gendongannya. "Takut, Sayang?" bisiknya.
"Enggak," bohongku. Jelas-jelas jantung mau copot.
Dia senyum, terus nyium keningku. Lembut. "Tenang aja. Gue bakal pelan-pelan. Kayak janji gue. Nggak akan kasar. Nggak akan bikin lo takut. Karena mulai malam ini... lo bukan Siska yang gue kontrak. Lo Siska yang gue cinta."
Lift ting. Pintu kebuka. Suite udah dihias bunga, lilin, ada strawberry cokelat di ranjang.
Dan gue tau, hidup gue bener-bener udah berubah. Dari anak kos utangan, jadi Nyonya Pratama. Dari umpan, jadi ratu.
Tapi di balik pintu suite, gue nggak tau... ada kamera kecil kedip-kedip di pojok vas bunga. Clarissa, walaupun diseret, sempet senyum terakhir. Senyum kemenangan.
Karena perang belum selesai, Ma. Baru babak baru.