NovelToon NovelToon
Pendekar API Dan ES

Pendekar API Dan ES

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:28.6k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.

Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.

Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.

Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Benua Tiandi

​Pelarian itu bukanlah perjalanan mewah di atas kereta kencana. Bagi Yan Bingchen, itu adalah ziarah panjang melintasi kematian.

​Selama berbulan-bulan, ia menyusuri jalur tikus, mendaki tebing-tebing curam yang tak terjamah, dan bersembunyi di dalam gua-gua lembap demi menghindari patroli perbatasan dua klan besar.

Benua Binghuo, dengan segala kenangan pahitnya, perlahan memudar di cakrawala, digantikan oleh hamparan vegetasi yang lebih hijau dan udara yang tidak lagi menusuk paru-paru dengan hawa ekstrem.

​Ia akhirnya menginjakkan kaki di Benua Tiandi—Tanah Langit dan Bumi.

​Penduduk setempat memuja tanah ini sebagai titik temu sempurna antara energi langit yang murni dan kekuatan bumi yang kokoh.

Namun bagi Yan Bingchen, Tiandi hanyalah labirin baru. Benua ini adalah mosaik dari empat kekuatan besar: Kekaisaran Shan, Kerajaan HAI, Federasi LIN, dan Ordo LONG.

Yan ​Bingchen keluar dari rimbunnya hutan perbatasan dengan waspada. Jubahnya yang dulu megah kini compang-camping, tertutup debu jalanan.

Ia menarik tudung kepalanya, mencoba menyembunyikan kontradiksi warna rambutnya yang semakin mencolok.

​Namun, saat ia memasuki gerbang kota terdekat, penyamarannya terasa sia-sia.

​Setiap pasang mata tertuju padanya. Bukan hanya karena fitur wajahnya yang tegas dan tampan, tetapi karena aura asing yang terpancar dari matanya yang berbeda warna—satu merah membara bagai kawah gunung berapi, satunya lagi biru jernih layaknya es abadi.

Yan ​Bingchen mengabaikan tatapan-tatapan itu. Perutnya bergejolak perih. Semua persediaan makanannya telah habis tiga hari yang lalu.

​"Aku bahkan tidak punya satu koin tembaga pun," gumamnya pelan, tangannya meraba kantong pakaiannya yang kosong.

​Meski fisiknya menarik perhatian, ia tidak lagi merasa terancam. Ia telah belajar menyatukan gejolak apinya dengan ketenangan esnya.

Selama ia tidak meledakkan emosinya, ia hanyalah seorang pengembara eksentrik di mata orang-orang Tiandi.

​Langkahnya terhenti saat sebuah keributan pecah di persimpangan jalan di depannya.

​"Dasar penipu licin! Kembalikan uangku, keparat!" teriak seorang pria paruh baya dengan wajah merah padam karena amarah.

​Seorang pemuda—tampak sebaya dengan Yan Bingchen—berlari melesat melewatinya.

Wajah pemuda itu tidak menunjukkan ketakutan; justru seringai nakal menghiasi bibirnya sembari tangannya erat mendekap sekantong koin yang gemerincing.

​"Hahaha! Salah sendiri berjudi denganku, Paman! Anggap saja ini biaya sekolah untuk kepolosanmu!" seru pemuda itu sambil tertawa puas.

​Saat pemuda itu hendak melesat melewati Yan Bingchen ...

​Whosh!

​Dengan gerakan refleks yang sangat presisi, Yan Bingchen mengulurkan tangannya.

Ia mencengkeram kerah belakang baju pemuda itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi seolah ia hanya mengangkat seekor anak kucing.

​Si pemuda belum sadar. Kakinya masih bergerak-gerak di udara, mengayun seolah masih berlari kencang.

​"Hahaha! Kau tidak akan bisa menangkapku, Paman Tua! Lebih baik relakan saja uang ini untuk masa depanku!" ocehnya tanpa menoleh.

​Pria paruh baya yang mengejarnya akhirnya sampai. Ia membungkuk, terengah-engah dengan tangan memegang lutut. "Hah ... haah ... K-kena kau ... dasar kutu busuk!"

​"Kena?" Si pemuda berhenti mengayunkan kaki. Ia menoleh ke atas, menyadari kerah bajunya tertahan oleh kekuatan yang tak tergoyahkan. Matanya bertemu dengan tatapan dingin dan tenang milik Yan Bingchen.

​"S-siapa kau?! Lepaskan aku, Woi! Ini urusan pribadi!" protes si pemuda sambil meronta.

​Tanpa ekspresi, Yan Bingchen melepaskan cengkeramannya, membiarkan pemuda itu jatuh terjerembap ke lantai batu yang keras.

​BRUK!

​"Aduh! Pantatku!" si pemuda mengaduh, memegangi tulang ekornya yang berdenyut sakit.

​Ia hendak memaki, namun pria paruh baya yang ia tipu sudah berdiri di depannya dengan kepalan tangan siap menghajar. "Sekarang, kembalikan uangku, penipu kecil!"

​BUGH! BUK!

​Dua pukulan mendarat telak di perut dan wajah si pemuda. Pria itu dengan kasar merampas kantong koinnya kembali, lalu meludah ke samping.

​"Cuih! Jangan coba-coba menipu lagi atau kuseret kau ke penjara kota! Anak zaman sekarang benar-benar tidak punya sopan santun!"

​Pria itu pergi dengan gerutu yang masih terdengar jelas, tanpa menoleh sedikit pun pada orang yang membantunya.

Yan ​Bingchen memerhatikan punggung pria itu yang menjauh, lalu mendengus sinis. "Cih, dasar orang tua zaman sekarang. Tidak punya tata krama sama sekali. Setidaknya ucapkan terima kasih atau berikan sedikit upah karena aku sudah membantunya."

​Ia kemudian berjongkok di samping si pemuda yang masih terkapar memegangi perutnya. Bukannya membantu berdiri, Yan Bingchen justru dengan cekatan menggeledah saku jubah si pemuda.

​Ia menemukan sebungkus roti gandum yang masih hangat—mungkin hasil curian sebelumnya.

Tanpa ragu, Yan Bingchen duduk bersandar di dinding bangunan, membuka bungkusnya, dan mulai mengunyah roti itu dengan santai.

​Beberapa saat kemudian, si pemuda itu mulai sadar sepenuhnya. Ia memegangi kepalanya yang pening dan meringis kesakitan.

​"Ugh ... kepalaku rasanya mau pecah." Saat ia membuka mata, ia melihat Yan Bingchen sedang duduk di sampingnya, menghabiskan sisa rotinya dengan lahap.

​Si pemuda segera memeriksa pakaiannya dan membelalak. "Tidaaaakk! Rotiku! Dasar pencuri berdarah dingin! Berani-beraninya kau memakan harta karun terakhirku?!"

​Ia mencoba berdiri meski sempoyongan, menunjuk hidung Yan Bingchen dengan gusar. "Bayar! Cepat bayar! Semuanya jadi satu tael emas!"

Yan ​Bingchen menelan kunyahan terakhirnya, lalu menatap si pemuda dengan datar. "Aku yakin roti ini juga hasil mencuri dari kedai di ujung jalan, kan?"

​Ia mengusap sisa remah roti di bibirnya. "Mencuri dari seorang pencuri sekaligus penipu bukanlah sebuah kejahatan—itu adalah redistribusi kekayaan. Lagi pula, harga roti murah begini paling hanya lima koin perunggu. Satu tael emas? Kau benar-benar penipu yang tidak tahu malu."

1
Ibad Moulay
Uraaa 🔥🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Uraaa
Ibad Moulay
Lanjutkan. 🔥🔥🔥
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Ibad Moulay
Uraa 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Abil Amar
iy in kyk dicerita dlegenda pendekar sabit yan bingchen bntu shan luo wktu mau dbnuh ayahny mau rebut kristal leluhurny yg dbnuh yan bingchen ayahnya shan feng
Abil Amar
emmmmmm kyk pernah dengar y klu g slah ceritanya ad dbgian menolong shan luo dlegenda pendekar sabit
Arken: satu Dunia
total 1 replies
Ibad Moulay
Merah
Ibad Moulay
Langit
Ibad Moulay
Uraaa 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Surianto Tiwoel
bantai abis,, mantap Ferguso
Marsahhayati
justru yg tidak waras adalah orang yg apa adanya.,👍
Ibad Moulay
Pedang Darah
Ibad Moulay
Sekte
Ibad Moulay
Uraaa 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Uraaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!