NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: PERBURUAN DI MENARA KACA

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Vipera Corp Tower berdiri megah di pusat bisnis Jakarta, sebuah monumen kaca dan baja yang melambangkan ambisi baru Papa. Namun bagiku, gedung ini hanyalah sebuah labirin vertikal yang penuh dengan tikus-tikus oportunis yang perlu dibasmi. Pukul 10.00 pagi. Lift eksekutif meluncur mulus menuju lantai paling atas, membawa variabel paling berbahaya di klan ini: seorang bocah delapan tahun dan ayahnya yang sedang dalam mode predator.

​"Papa, jika kau terus meraba pistol di balik jasmu, kau hanya akan membuat detektor biometrik di pintu Julian berteriak panik. Itu tidak efisien," ucapku datar, mata tetap terpaku pada tablet yang menampilkan arus data internal perusahaan.

​Damian Xavier berdeham, ia menarik tangannya dari balik jas custom-made miliknya. "Kebiasaan lama sulit mati, Leo. Aku masih belum terbiasa menangkap pengkhianat tanpa suara tembakan."

​"Gunakan otak, Papa. Suara tembakan hanya akan merusak harga saham kita sore nanti," aku menekan satu tombol di layar tablet. "Akses masuk Julian ke server keuangan baru saja kualihkan ke server bayangan. Dia mengira sedang mentransfer dana sisa klan pusat ke London, padahal dia hanya sedang mengirimkan data sampah ke folder Trash di tabletku."

​Lift berdenting. Pintu terbuka memperlihatkan koridor mewah yang dilapisi karpet tebal berbau cendana. Di ujung sana, ruangan Direktur Operasional—kantor Julian—berdiri dengan pintu kayu ek yang berat.

​Aku menyesuaikan kacamata augmented reality-ku. "Tiga penjaga di balik pintu. Mereka bukan orang kita. Mereka adalah agen sewaan London yang menyamar sebagai staf administrasi. Sektor jam dua, jam satu, dan jam sebelas. Habisi mereka dalam waktu kurang dari tujuh detik, Papa."

​Damian menyeringai, sebuah seringai yang sudah lama tidak ia tunjukkan sejak kami pindah ke bisnis legal. "Biarkan aku menangani ototnya, Leo. Kau urus otaknya."

​"Ingat Papa, jangan ada noda darah di karpet. Mama akan sangat marah jika dia tahu kita membuat kotor gedung barunya," instruksiku sebelum melangkah maju.

​POV: QINANTI (Mama)

​Di belahan kota yang lain, suasana sangat berbeda. Aku berdiri di pintu masuk ballroom Hotel Grand Heritage, tempat pameran perhiasan amal yang dipenuhi oleh para istri konglomerat dan diplomat. Gaun sutra berwarna biru dongker yang kupakai terasa sangat pas, memberikan kepercayaan diri yang biasanya tidak kumiliki.

​Namun, yang paling memberiku kekuatan adalah suara kecil yang berdesir di telingaku melalui earpiece mikro yang tersembunyi di balik tatanan rambutku.

​“Mama, bernapaslah. Hitungan satu, dua, tiga. Bahu diturunkan lima derajat. Jangan tampak seperti orang yang sedang mengintai, tampaklah seperti orang yang sedang bosan dengan berlian-berlian murah ini,” suara Lea terdengar sangat tenang, membimbingku seolah ia ada tepat di sampingku.

​"Terima kasih, Lea. Mama mencoba," bisikku pelan sambil berpura-pura menyesuaikan antingku.

​“Mama, di depan sana ada Nyonya Arletta. Dia adalah istri dari mantan kolega Papa yang paling dekat dengan Julian. Lihat cara dia memegang gelas anggurnya. Jari kelingkingnya bergetar setiap kali dia menoleh ke arah lift. Secara psikologis, dia sedang menunggu pesan penting. Dia adalah target pertama kita hari ini,” instruksi Lea kembali masuk.

​Aku melangkah maju, memegang tas tangan kecilku dengan cara yang diajarkan Lea: anggun namun siap untuk bereaksi. "Nyonya Arletta? Senang bertemu Anda kembali."

​Wanita itu menoleh, memberikan senyum yang menurutku sangat ramah. Tapi sekarang, mataku sudah "terkontaminasi" oleh pelajaran profil dari Lea. Aku tidak melihat keramahan; aku melihat topeng yang retak.

​Analisis: Senyumnya tidak mencapai matanya—otot orbicularis oculi-nya diam. Sudut mulutnya tertarik terlalu lebar, tanda kepura-puraan. Dan cara dia menekan-nekan ponselnya dengan ibu jari... dia sedang dalam kondisi cemas tingkat tinggi.

​"Qinanti! Luar biasa sekali pameran seni Anda kemarin. Sayang sekali Damian tidak bisa hadir hari ini," ucap Arletta.

​“Mama, dia berbohong tentang alasannya bertanya soal Papa. Perhatikan pupil matanya yang sedikit melebar. Dia sedang mencari tahu apakah Papa sedang berada di kantor bersama suaminya,” suara Lea memberiku peringatan.

​"Damian sedang sibuk dengan transisi korporasi, Arletta. Julian sangat membantu di kantor akhir-akhir ini, bukan begitu?" aku melemparkan umpan itu dengan nada sesantai mungkin.

​Arletta tersedak sedikit oleh anggurnya. "Ah, ya. Julian... dia pria yang sangat rajin."

​“Skakmat, Mama! Reaksi mikro: dia menelan ludah secara paksa setelah menyebut nama Julian. Dia tahu sesuatu yang besar. Tanyakan soal 'investasi baru di London' yang pernah dia pamerkan di grup media sosial,” Lea memberikan perintah berikutnya.

​Aku menarik napas panjang. Ternyata, bermain catur di dunia sosial jauh lebih menegangkan daripada menghadapi kanvas kosong.

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​BRAK!

​Pintu kantor Julian tidak didobrak, tapi dibuka paksa oleh sistem pengunci elektronik yang kulewati. Sebelum tiga agen London di dalam sempat menarik senjata mereka dari balik meja, Damian sudah bergerak seperti bayangan hitam yang haus darah.

​Satu pukulan di hulu hati. Satu bantingan ke arah meja kaca hingga retak. Dan satu tendangan presisi ke arah saraf leher.

​Tanpa suara tembakan. Tanpa teriakan yang berarti. Hanya suara tulang yang berderak dan tubuh yang tumbang.

​Julian, pria berambut klimis dengan setelan jas seharga mobil mewah, membeku di kursi kebesarannya. Tangannya masih gemetar di atas papan tik komputernya. Dia tampak seperti tikus yang terpojok oleh singa.

​"Direktur Julian," ucapku sambil melangkah masuk, melewati tubuh-tubuh pingsan di lantai. Aku menarik kursi di depan mejanya agar bisa menatapnya sejajar. "Server London tidak akan menjawab panggilan daruratmu. Aku sudah mematikan frekuensinya sepuluh menit yang lalu."

​"K-kalian... apa yang kalian inginkan?" suara Julian parau, keringat dingin mulai membasahi dahinya.

​"Aku menginginkan apa yang seharusnya tidak pernah kau sentuh: loyalitas klan Vipera," Damian berdiri di belakang Julian, tangannya yang besar meremas bahu pria itu hingga ia merintih kesakitan.

​"Leo, dia sedang mencoba menghapus log transaksinya di bawah meja," ucap Damian sambil menunjuk gerakan tangan Julian.

​"Biarkan saja, Papa. Log itu sudah kusamarkan sejak dia masuk tadi pagi. Apa yang sedang dia hapus adalah sejarah pencarian internet pribadinya tentang rute pelarian ke Swiss. Sangat tidak efisien untuk seorang pengkhianat," aku menggeser tabletku ke arah Julian. "Julian, aku punya catatan setiap rupiah yang kau ambil dari dana kesehatan staf untuk membiayai apartemen simpananmu di London. Dan aku juga tahu istrimu, Arletta, sedang berada di pameran amal untuk menerima 'komisi' terakhir dari agen Alexander."

​Wajah Julian berubah dari merah padam menjadi seputih kertas. "Bagaimana... bagaimana kau bisa tahu soal Arletta?"

​"Karena di duniaku, tidak ada variabel yang tidak terpantau," jawabku dingin. "Dan Mama baru saja mengirimkan sinyal bahwa istrimu sudah siap untuk bernyanyi."

​“Lea, status di lokasi Mama?” tanyaku lewat Shadow Talk.

​“Target sudah pecah, Kak. Arletta baru saja menerima pesan palsu yang kukirim dari ponsel Julian—pesan yang mengatakan 'Semua ketahuan, lari sekarang!'. Sekarang dia sedang menuju pintu keluar darurat dengan wajah pucat. Mama sedang mengikutinya dengan tenang,” lapor Lea.

​“Diterima. Kirimkan unit Ghost sektor dua untuk menjemput Arletta di lobi bawah. Kita selesaikan ini dalam satu paket hemat,” perintahku.

​POV: QINANTI (Mama)

​Aku berjalan dengan langkah cepat namun tetap menjaga wibawa di koridor hotel yang sepi. Arletta tampak panik, ia hampir menjatuhkan tas tangannya saat mencoba menekan tombol lift berulang kali.

​"Arletta! Ada apa? Anda tampak seperti baru saja melihat hantu," panggilku, suaraku bergema di koridor sunyi itu.

​Ia berbalik, wajahnya penuh ketakutan yang murni. "Qinanti... maaf, aku harus pergi. Julian... ada masalah keluarga mendesak."

​“Mama, sekarang. Tunjukkan foto bukti transfer yang sudah kukirim ke ponsel Mama sepuluh detik lalu. Katakan padanya bahwa London tidak akan menyelamatkannya,” bisik Lea di telingaku.

​Aku mengeluarkan ponselku, membalikkan layarnya untuk memperlihatkan sebuah tangkapan layar transaksi gelap yang baru saja diretas Leo. "Pesan dari Julian itu benar, Arletta. London tidak akan menjawab. Julian sedang bersama Damian sekarang. Dan jika Anda ingin menyelamatkan masa depan anak-anak Anda dari kemiskinan, Anda harus bicara padaku."

​Arletta terhuyung, bersandar pada dinding lift yang dingin. "Bagaimana... bagaimana kalian bisa secepat ini? Damian... dia tidak pernah secerdas ini sebelumnya."

​"Karena Anda meremehkan keluarga Xavier yang baru," jawabku dengan nada yang tegas. Aku merasa adrenalin mengalir di nadiku. Ternyata, memiliki kekuatan untuk melindungi jauh lebih melegakan daripada rasa takut yang selama ini kupendam.

​Di ujung koridor, dua pria bersetelan hitam dengan earpiece—unit Ghost—muncul dengan langkah tegap. Mereka tidak tampak mengancam, tapi kehadiran mereka membuat Arletta sadar bahwa pelariannya sudah berakhir secara teknis.

​"Bawa dia ke mobil pribadi. Pastikan dia nyaman, tapi jangan biarkan dia memegang ponsel," perintahku pada mereka. Aku terkejut dengan suaraku sendiri—itu adalah suara seorang Ratu yang memberikan titah.

​Aku berdiri di sana sejenak, menatap pintu lift yang tertutup. Jantungku berdegup kencang, tapi anehnya, aku merasa sangat... hidup.

​“Kerja bagus, Mama! Skor efisiensi: 94/100! Mama benar-benar menjadi 'The Queen' hari ini. Sekarang, ayo kita temui Papa dan Kak Leo di kantor pusat. Mereka pasti butuh pelukan hangat setelah 'pembersihan' yang membosankan itu,” suara Lea terdengar riang, memberikan apresiasi yang membuatku tersenyum bangga.

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Julian sudah diseret keluar oleh Marco untuk interogasi lebih lanjut di ruang bawah tanah gedung. Kantor Direktur Operasional kini sunyi, hanya menyisakan aroma parfum Julian yang mahal dan bau sisa-sisa ketakutan yang masih menggantung di udara.

​Damian duduk di kursi Julian, menatap pemandangan kota Jakarta dari jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Ia tampak sedang merenung, memutar-mutar sebuah pulpen emas di jemarinya.

​"Papa, kenapa kau tampak murung? Kita baru saja mematikan sel kanker terbesar di perusahaanmu tanpa perlu membuang satu peluru pun," tanyaku sambil membereskan tablet dan kabel enkripsiku.

​"Aku tidak murung, Leo. Aku hanya sedang berpikir," Damian menoleh padaku, matanya menunjukkan rasa hormat yang mendalam. "Aku dulu berpikir bahwa menjadi pemimpin adalah tentang seberapa banyak orang yang takut untuk menatap matamu. Tapi melihat bagaimana kau dan Lea merancang skenario ini... kau tidak membuat mereka takut. Kau membuat mereka tidak punya pilihan."

​"Ketakutan adalah emosi yang tidak stabil, Papa. Ketidakberdayaan adalah fakta yang tidak bisa dibantah," jawabku filosofis.

​Pintu kantor terbuka. Qinanti masuk, diikuti oleh Lea yang sedang memegang boneka kelincinya dengan wajah polos tanpa dosa, seolah-olah ia baru saja pulang dari taman bermain dan bukan dari operasi spionase tingkat tinggi.

​"Semua selesai di hotel," ucap Qinanti, ia berjalan menuju Damian dan mencium keningnya dengan lembut. "Arletta sudah di tangan Marco. Dia bersedia bicara jika kita menjamin keselamatan anak-anaknya."

​"Kau luar biasa hari ini, Qin. Lea bilang kau sangat tenang di lapangan," Damian merangkul pinggang istrinya, menariknya duduk di pangkuannya.

​Lea berlari ke arahku, ia memberikan tatapan penuh arti melalui matanya yang jernih. “Kak, Mama mulai menyukai kekuasaan strategis ini. Dia tidak lagi gemetar saat berhadapan dengan ular. Variabel 'Queen' sudah aktif sepenuhnya dalam dirinya.”

​“Bagus. Karena setelah Julian, kita harus menghadapi serangan balik fisik dari London. Alexander pasti akan mengirimkan 'The Iron Duke'—pembunuh nomor satu klan pusat—setelah dia tahu jaring intelijennya di Jakarta baru saja kupotong,” balasku lewat Shadow Talk.

​Aku berdiri di antara Damian dan Qinanti, menatap logo Vipera Corp yang terpampang di dinding belakang meja. Kami adalah keluarga yang tidak biasa. Seorang raja, seorang ratu, seorang jenderal, dan seorang profiler. Kami tidak sedang membangun bisnis; kami sedang membangun sebuah kekaisaran yang akan memastikan tidak ada lagi yang berani menyentuh surga kecil kami.

​"Checkmate, Papa," bisikku lirih, menatap bidak catur di aplikasi tabletku.

​Damian tertawa, merangkul kami semua dalam satu pelukan besar yang hangat di tengah menara kaca yang dingin itu. "Ya, Leo. Checkmate untuk hari ini. Tapi besok... biarkan Papa yang mengatur menu sarapan, oke? Tidak ada taktik, tidak ada strategi digital. Hanya nasi goreng sosis."

​"Hanya jika Papa bisa membuatnya dengan efisiensi waktu di bawah delapan menit," jawabku, yang disambut tawa kecil oleh Lea dan gelengan kepala dari Mama.

​Di luar jendela, langit Jakarta mulai berubah jingga. Kota ini tidak tahu bahwa di dalam gedung ini, sebuah dinasti baru telah lahir. Sebuah dinasti yang dibangun dengan darah masa lalu, namun disempurnakan dengan strategi masa depan yang tak terkalahkan.

​Namun, di sudut monitor di kepalaku, sebuah peringatan baru muncul. Sinyal satelit ilegal dari arah Samudera Hindia. Sebuah bayangan besar sedang mendekat. Sang Pemburu klan pusat sedang dalam perjalanan.

​Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!