Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Matahari hari kedua di Bali menyapa dengan cahaya yang lebih cerah, membawa semangat baru bagi pasangan yang tengah berbahagia ini.
Setelah sarapan santai di tepi kolam renang villa, Zaidan tampak sudah bersiap dengan pakaian kasualnya yang rapi namun santai.
Bulan madu hari kedua ini memang telah direncanakan Zaidan sebagai momen untuk menikmati kemegahan budaya Pulau Dewata.
Dengan senyum penuh kasih, Zaidan mengajak istrinya untuk menuju ke GWK (Garuda Wisnu Kencana), salah satu ikon kebanggaan Bali yang sudah lama ingin dikunjungi Sulfi.
"Ayo, Sayang. Kita lihat patung raksasa yang melegenda itu. Aku ingin kita punya foto yang bagus di sana sebagai kenang-kenangan awal perjuangan baru kita," ujar Zaidan sambil membukakan pintu mobil untuk bidadarinya.
Perjalanan menuju bukit Ungasan terasa singkat karena diisi dengan obrolan ringan dan musik radio yang memutar lagu-lagu romantis.
Begitu sampai di area komplek budaya tersebut, Sulfi tak henti-hentinya berdecak kagum melihat kemegahan tebing-tebing kapur yang menjulang tinggi, yang kini seolah menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka.
Zaidan terus menggandeng tangan Sulfi dengan erat, melangkah perlahan menuju pelataran patung Dewa Wisnu yang sedang menunggangi burung Garuda.
Di tengah keramaian wisatawan, Zaidan seolah hanya fokus pada satu orang.
Ia memastikan Sulfi tidak terlalu lelah berjalan, sesekali berhenti untuk memberikan air mineral atau sekadar menyeka keringat di dahi istrinya.
Di hadapan kemegahan patung raksasa tersebut, mereka berdiri berdampingan.
Zaidan merangkul pundak Sulfi, menatap ke arah depan dengan penuh keyakinan.
Kunjungan ke GWK ini bukan sekadar wisata bagi mereka, melainkan simbol kekuatan dan perlindungan—sama seperti makna filosofis patung di hadapan mereka.
Zaidan berjanji dalam hati, bahwa ia akan menjadi sosok pelindung yang tak tergoyahkan bagi Sulfi, baik dalam menghadapi hari-hari indah ke depan maupun saat mereka mulai membongkar kembali kasus gelap di masa lalu nanti.
Setelah puas berkeliling dan mengagumi kemegahan patung raksasa di GWK, rasa lapar mulai menghampiri mereka.
Zaidan yang sudah memesan tempat sebelumnya, membawa Sulfi menuju sebuah restoran di area tersebut yang menyuguhkan pemandangan tebing kapur dan hamparan laut dari kejauhan.
Suasana makan siang bersama itu terasa sangat menyejukkan.
Di bawah naungan atap jerami yang artistik, embusan angin perbukitan menyapu wajah mereka, membawa aroma rempah masakan Bali yang menggugah selera.
Zaidan memesan menu andalan berupa Bebek Betutu dan Sate Lilit yang disajikan dengan sambal matah yang segar.
"Makan yang banyak, Sayang. Kamu butuh energi ekstra untuk rencana besar kita nanti," ujar Zaidan sambil meletakkan potongan bebek yang lembut ke piring Sulfi.
Sulfi tersenyum, menyantap makanan itu dengan lahap.
"Masakan di sini enak sekali, Mas. Rasanya beban di pundakku sedikit demi sedikit menguap kalau sedang bersamamu seperti ini."
Di tengah percakapan hangat itu, sesekali tangan Zaidan tetap menggenggam jemari Sulfi di atas meja.
Mereka saling bertukar cerita, tertawa kecil, dan sesekali terdiam menikmati harmoni alam Bali.
Makan siang ini bukan sekadar mengisi perut, melainkan momen penguatan ikatan batin sebelum mereka kembali ke kenyataan pahit untuk mengusut tuntas kasus kematian mendiang suami Sulfi.
"Setelah dari sini, kita istirahat sebentar di villa, lalu kita mulai susun daftar nama yang pernah menerormu, ya?" ucap Zaidan dengan nada rendah namun penuh dukungan.
Sulfi mengangguk mantap. Kehadiran Zaidan di sisinya benar-benar menjadi sumber kekuatan baru.
Sambil menikmati es kelapa muda yang segar sebagai penutup makan siang, Sulfi merasa bahwa hari kedua bulan madu ini adalah titik balik di mana ia tidak lagi menjadi korban yang ketakutan, melainkan seorang wanita yang siap memperjuangkan kebenaran bersama pria pilihannya.
Di sebuah butik pengantin yang tenang di pusat kota, suasana tampak sibuk namun penuh dengan aura kebahagiaan.
Yuana menyiapkan persiapan pernikahan bersama Kompol Hendrawan, aroma kain sutra dan melati memenuhi ruangan.
Setelah berhari-hari berkutat dengan berkas hukum yang kaku, kini fokus mereka beralih pada janji suci yang akan segera diikat.
Kompol Hendrawan duduk di sofa tunggu, sesekali melirik jam tangannya dengan perasaan tidak sabar yang jarang ia tunjukkan.
Ketegasannya sebagai pemimpin kepolisian seolah luruh setiap kali ia berada di dekat wanita yang berhasil meluluhkan hatinya itu.
Tirai ruang ganti perlahan terbuka. Yuana berdiri di depan cermin memakai kebaya pengantin berwarna putih tulang yang sangat elegan.
Bordiran halus bermotif sulur mawar menghiasi kainnya, dipadukan dengan kain jarik bermotif parang yang melambangkan kekuatan dan keteguhan—sangat cocok dengan kepribadian Yuana yang tangguh di ruang sidang.
Ia memutar tubuhnya perlahan, jemarinya menyentuh payet-payet yang berkilau lembut di bawah cahaya lampu butik.
Ada rona merah di pipinya saat ia melihat bayangannya sendiri yang tampak jauh berbeda dari biasanya.
"Mas, bagus nggak?" tanya Yuana dengan nada suara yang sedikit malu-malu, menatap Kompol Hendrawan melalui pantulan cermin.
Kompol Hendrawan sempat tertegun, seolah kehilangan kata-kata.
Ia bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Yuana. Tatapan matanya yang biasanya tajam saat menginterogasi tersangka, kini melembut dan dipenuhi kekaguman yang mendalam.
"Kamu bukan hanya bagus, Yuana," bisik Kompol Hendrawan dengan suara yang berat namun tulus.
"Kamu terlihat sangat anggun. Rasanya saya seperti sedang melihat seorang bidadari yang siap mendampingi saya menjaga keadilan selamanya."
Yuana tersenyum manis, merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya.
Meski persiapan ini dilakukan di tengah kesibukan mereka memantau perkembangan kasus Sulfi, momen ini menjadi bukti bahwa cinta tetap bisa mekar di tengah medan perjuangan.
Di depan cermin itu, dua pejuang hukum ini bersiap menanggalkan seragam tugas mereka sejenak untuk memulai babak baru sebagai sepasang suami istri.
Suara gemuruh angin di kawasan GWK dan denting sendok di meja makan Sulfi tiba-tiba terinterupsi oleh getaran ponsel di atas meja.
Layar menunjukkan nama Yuana. Sulfi tersenyum lebar, segera menggeser tombol hijau sambil memberikan kode pada Zaidan bahwa ini adalah telepon dari asisten hukum setianya itu.
"Halo, Yuana?" sapa Sulfi dengan nada riang.
Di seberang telepon, terdengar suara Yuana yang sedikit malu-malu, diiringi suara riuh rendah petugas butik yang sedang merapikan kain.
Yuana menceritakan bahwa ia baru saja mencoba kebaya pengantinnya ditemani oleh Kompol Hendrawan.
"Wah, wah! Calon pengantin sedang di butik ya?" ucap Sulfi sambil tertawa kecil, melirik ke arah Zaidan yang ikut tersenyum mendengar percakapan itu.
"Wah, sudah sampai tahap fiting kebaya! Pasti kamu cantik sekali, Yuana. Bagaimana reaksi Komandan melihat asisten hukumnya berubah jadi bidadari?"
"Kamu bisa saja, Sul" jawab Yuana di ujung telepon dengan rona merah yang meski tak terlihat, bisa dirasakan dari nada suaranya.
"Mas Hendra sampai bengong tadi, Mbak. Rasanya aneh melihatnya tidak pakai seragam dinas tapi malah sibuk mengomentari payet kebaya."
Sulfi yang sedang makan siang di GWK bersama Zaidan merasa hatinya menghangat.
Di sela-sela suapan bebek betutunya, ia merasakan kebahagiaan sahabatnya itu menular hingga ke Bali.
"Nikmati momennya, Yuana. Kalian berdua pantas mendapatkan kebahagiaan ini setelah semua kerja keras kalian di pengadilan kemarin," lanjut Sulfi tulus.
"Jangan stres soal persiapan, yang penting hari-H nanti kalian sah."
Zaidan kemudian meraih ponsel Sulfi sebentar, ikut menyapa.
"Yuana, sampaikan pada Komandan, jangan terlalu kaku saat fiting. Ini butik pengantin, bukan markas besar!"
Gelak tawa pecah di kedua ujung telepon. Di tengah kemegahan tebing kapur Bali, Sulfi merasa dunianya perlahan kembali utuh.
Kabar dari Yuana seolah menjadi bumbu pelengkap yang manis bagi makan siang romantis mereka, membuktikan bahwa setelah badai besar berlalu, pelangi benar-benar muncul untuk semua orang yang berjuang demi kebenaran.