Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.
Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.
Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.
Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Lima Desa Bersumpah
Hujan pertama musim gugur turun pada hari ketujuh bulan kesembilan, membawa kabut tebal yang menyelimuti Kampung Awan Kasih seperti selimut basah. Fengyin berdiri di ambang jendela ruang belajar, menatap tetesan air yang berjalan memanjang di kaca, membentuk alur-alur acak yang menurutnya terlihat seperti peta rahasia ke negeri monster.
"Duduk, Fengyin."
Suara Kakek Yuanming terdengar lebih tajam dari biasanya. Tiga hari ini, sejak hujan mulai turun, suasana di rumah keluarga Chen berubah. Ayahnya pulang lebih malam, wajahnya muram dan berdebu jalan. Ibunya sering terlihat berbisik-bisik dengan tetangga di belakang dapur, suaranya rendah dan cemas. Bahkan Kakek Yuanming, yang biasanya sabar mengajari kaligrafi, kini sering melamun ke arah timur—ke arah istana yang tidak pernah dilihat Fengyin.
"Kakek, kenapa semua orang takut?" tanya Fengyin, tetap di ambang jendela. "Hujan ini bagus untuk padi. Paman Zhou bilang panen kita akan melimpah."
Kakek Yuanming meletakkan kuasnya dengan bunyi tek yang kering di meja batu. Dia bangkit, berjalan dengan tongkatnya yang berketak-ketak di lantai kayu, dan berdiri di samping cucunya. Untuk waktu yang lama, mereka berdua menatap hujan tanpa berkata apa-apa.
"Bukan hujannya yang ditakuti, Fengyin," kata Kakek Yuanming akhirnya. "Tapi apa yang datang sesudah hujan."
"Apa yang datang sesudah hujan, Kakek?"
"Musim dingin. Kelaparan. Dan... tamu-tamu yang tidak diundang."
Sebelum Fengyin bisa bertanya lebih lanjut, terdengar suara langkah kuda dari luar. Bukan langkah kereta sapi yang biasa—ini lebih cepat, lebih berat, lebih... militan. Fengyin melihat Kakek Yuanming menjadi kaku, melihat tangan keriputnya menggenggam tongkat dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk usianya.
"Fengyin. Pergi ke belakang. ke gudang beras. Sembunyi di balik tong-tong kayu dan jangan keluar sampai ada yang memanggilmu—dengan kata sandi."
"Kata sandi apa, Kakek?"
"Shenying Shu." Mata Kakek Yuanming bertemu dengan mata cucunya, dan untuk pertama kalinya, Fengyin melihat ketakutan di sana. Ketakutan nyata. Bukan dongeng. Bukan cerita tentang Naga Hitam dengan mata seperti lentera. "Pergi. Sekarang."
Fengyin berlari. Dia melewati koridor gelap, melewati dapur di mana ibunya sedang berdiri terpaku dengan parang daging di tangan, melewati pintu belakang yang berderit, dan masuk ke gudang beras yang bau tua dan lembap. Dia menyelinap di antara tong-tong kayu besar yang penuh dengan beras musim panen kemarin, menarik napas sesenyap mungkin, dan mendengar.
Dengar suara-suara yang akan mengubah segalanya.
Di depan rumah keluarga Chen, empat prajurit berkuda berdiri dengan tegak. Mereka mengenakan zirah kulit hitam dengan lambang naga berkepala lima—simbol Dinasti Wuji Chao. Wajah mereka tertutup helm yang hanya memperlihatkan mata, tapi mata itu cukup untuk menunjukkan keangkuhan. Keangkuhan orang-orang yang tahu mereka bisa membunuh tanpa konsekuensi.
Di depan mereka, Chen Lianzhou berdiri dengan tangan kosong. Tanpa senjata. Tanpa perlindungan. Hanya seorang petani yang juga kepala desa, menghadapi empat eksekutor yang dikirim oleh kekaisaran.
"Pajak musim gugur," kata prajurit di depan, suaranya berat seperti batu jatuh ke sumur. "Seratus dan shi beras. Lima puluh rol sutra. Dua puluh pemuda untuk dinas prajurit."
Chen Lianzhou mengangguk perlahan. "Kami sudah menyiapkan berasnya, Tuan. Tapi lima puluh rol sutra... itu mustahil. Kampung Awan Kasih bukan desa perajin. Kami bertani. Dan dua puluh pemuda—itu separuh dari generasi muda kami. Siapa yang akan menanam padi di musim semi?"
Prajurit itu tertawa. Tertawa pendek, tidak ada humor di dalamnya. "Bukan urusan Dinasti bagaimana kalian menanam padi. Bukan urusan Dinasti bagaimana kalian bertahan hidup. Yang menjadi urusan Dinasti adalah: kalian patuh, atau kalian mati."
Dia mengangkat tangan, dan dari balik bahu, Fengyin—yang menyelinap ke jendela gudang yang retak—melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak. Di punggung prajurit itu, tergantung sebuah benda yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Sebuah kristal. Tidak, bukan kristal biasa—ini mengapung. Tidak menyentuh punggung prajurit, melayang di udara dengan jarak sejengkal, berputar pelan dengan cahaya kehijauan yang berdenyut seperti jantung.
Wúxíng Jīng , bisik suatu pengetahuan yang tidak tahu dari mana asalnya di benak Fengyin. Kristal Lima Elemen. Fāngwèi... elemen Tanah.
"Kami meminta penangguhan," kata Chen Lianzhou, suaranya tetap tenang tapi Fengyin mendengar getaran di sana. "Lima Desa bersama-sama akan mengajukan permohonan kepada Dewan Provinsi. Kami—"
"Lima Desa?" prajurit itu memotong. "Ah, ya. Aliansi kecil kalian. Kampung Awan Kasih, Kampung Batu Giok, Kampung Sungai Perak, Kampung Bulan Sabit, dan... mana yang satu lagi? Ah, Kampung Bambu Hijau." Dia mengangguk-angguk, seolah menghafal daftar belanjaan. "Kaisar Di Xuancheng sudah mendengar tentang aliansi kalian. Tentang pertemuan rahasia di malam bulan purnama. Tentang sumpah darah di altar tanpa nama."
Chen Lianzhou menjadi pucat. Bahkan dari jarak jauh, Fengyin bisa melihatnya—bisa melihat tangan ayahnya yang mulai gemetar.
"Itu... itu bukan—"
"Pengkhianatan," kata prajurit itu dengan gembira. "Itu namanya pengkhianatan, Kepala Desa Chen. Dan hukuman untuk pengkhianatan adalah..."
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Sebagai gantinya, dia mengangkat tangan kanannya, dan kristal hijau di punggungnya bersinar terang. Tanah di bawah kaki Chen Lianzhou mulai bergetar. Retakan muncul, memanjang seperti ular dari arah prajurit ke arah ayah Fengyin—
"Cukup."
Suara itu datang dari belakang. Tua. Tapi kuat. Seperti batu karang yang menahan ombak selama seratus tahun.
Kakek Yuanming keluar dari dalam rumah, berjalan dengan tongkatnya yang kini tidak lagi berketak-ketak—tapi menyengat lantai kayu dengan bunyi tajam setiap kali menyentuh. Matanya, yang biasanya lembut saat mengajari kaligrafi, kini tajam seperti mata elor. Dan di tangannya yang kiri, yang selama ini disembunyikan di balik lengan baju longgar, terdapat sesuatu yang membuat mata prajurit itu melebar.
Sebuah kristal. Tidak hijau. Tapi biru. Dan merah. Dan kuning. Dan putih.
Empat warna. Empat elemen.
Dàshī.
"Gu Yanqing," bisik prajurit itu, suaranya kehilangan keangkuhan. "Gu Yanqing dari Gudang Kekaisaran. Pembunuh. Pengkhianat. Pencuri."
"Aku tidak pernah membunuh siapa pun yang tidak mencoba membunuhku dulu," kata Kakek Yuanming—tid, Gu Yanqing, nama asli yang tidak pernah didengar Fengyin sebelumnya. "Dan aku tidak pernah mencuri. Aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milik rakyat, bukan milik Kaisar yang haus darah."
Dia berdiri di samping putranya, tongkatnya diangkat sedikit. Kristal-kristal di tangannya berputar lebih cepat, berdenyut dengan cahaya yang berbeda-beda.
"Seratus dan shi beras akan kalian terima," kata Gu Yanqing. "Tapi tidak satu rol sutra lebih. Tidak satu pemuda lebih. Dan kalian akan membawa pesan ini ke Xie Wuyou: Lima Desa bukan pengkhianat. Kami adalah penjaga. Penjaga dari keadilan yang Kaisar kalian lupakan saat dia terlalu sibuk mencari ramuan kekekalan."
Prajurit itu menatap lama. Kristal hijaunya berdenyut tidak menentu, seolah bertanya pada tuannya: Lawan? Atau mundur?
Akhirnya, dia mengangguk. Pelan. Sekali.
"Pesan akan disampaikan." Dia menarik tali kekang kudanya. "Tapi ingat ini, Gu Yanqing. Sekte Naga Hitam tidak lupa. Xie Wuyou tidak memaafkan. Dan Kaisar Di Xuancheng..." Dia tertawa, kali ini dengan humor yang gelap. "Kaisar kita sudah hidup selama seratus dua puluh tahun. Apakah kalian pikir dia takut pada Dàshī tua yang mengumpat dari desa terpencil?"
Mereka pergi. Kuda-kuda itu menghilang di dalam kabut hujan, meninggalkan jejak kaki berlumpur yang cepat terisi air.
Chen Lianzhou berlutut. Tidak karena hormat. Tapi karena kakinya tidak bisa menahan lagi. Gu Yanqing menopangnya dengan tangan yang kini gemetar hebat—tangan yang baru saja mengancam empat prajurit bersenjata.
"Ayah," bisik Chen Lianzhou. "Kamu bilang kamu sudah tidak bisa—"
"Aku bohong," kata Gu Yanqing sederhana. "Atau lebih tepatnya, aku berharap. Berharap bahwa dengan menyembunyikan kekuatanku, dengan menjadi 'Kakek Yuanming' yang lemah dan bungkuk, mereka akan melupakan. Akan mengampuni." Dia tertawa getir. "Tapi mereka tidak pernah melupakan, Lianzhou. Mereka tidak pernah mengampuni. Itulah Dinasti Wuji Chao."
Di gudang beras, Fengyin menatap dengan mata lebar. Kakeknya—Kakek Yuanming—bukan hanya kakek biasa. Dia adalah Dàshī. Master yang menguasai empat elemen. Dan nama aslinya adalah Gu Yanqing. Dan dia... dia diperburu?
Terlalu banyak pertanyaan. Terlalu banyak yang tidak mengerti. Tapi satu hal yang Fengyin tahu dengan pasti: sesuatu yang besar baru saja dimulai. Sesuatu yang tidak bisa dihentikan.
Seperti hujan yang terus turun, tanpa ampun, tanpa henti.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Fengyin diizinkan ikut rapat orang dewasa.
Bukan di ruang belajar yang kecil. Tapi di altar desa—bangunan batu tua di kaki Shenying Shu, tempat biasanya diadakan festival dan upacara panen. Malam ini, altar itu dipenuhi lentera-lentera minyak yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan-bayangan besar yang menari di batang pohon suci.
Fengyin duduk di sudut, dibalut selimut ibunya, menatap wajah-wajah yang tidak dikenalnya. Ada lima orang di sana, selain ayah dan kakeknya. Lima pria dengan pakaian basah karena hujan, dengan wajah yang sama muramnya.
"Ini Zhao Wuji dari Kampung Batu Giok," perkenalkan Chen Lianzhou. "Sun Mingyue dari Kampung Sungai Perak. Lin Yao dari Kampung Bulan Sabit. Dan Qin Feng dari Kampung Bambu Hijau. Mereka adalah Kepala Desa dari Lima Desa."
Fengyin mengangguk dengan serius yang lucu, mencoba terlihat seperti orang dewasa. Para kepala desa itu tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata.
"Anakmu ini berani," kata Zhao Wuji, yang tubuhnya sebesar dua kali Chen Lianzhou. "Dia tidak menangis melihat wajahku yang seram."
"Dia belum mengerti apa yang sedang terjadi," kata Sun Mingyue, wanita berambut perak yang terlihat lebih muda dari yang lainnya. "Itu berkah. Merawat keberanian sebelum waktunya adalah menyiraminya dengan racun."
Gu Yanqing, yang berdiri sedikit terpisah di bayangan Shenying Shu, mengangguk. "Maka kita harus memastikan dia tidak perlu mengerti terlalu cepat. Bahwa kita menyelesaikan ini—"
"Bagaimana?" potong Lin Yao, yang paling tua dari kelompok itu, dengan janggut putih panjang yang terurai di dada. "Gu Yanqing, kamu adalah Dàshī. Kamu bisa melawan empat prajurit. Tapi kamu tidak bisa melawan empat ratus. Empat ribu. Dan Xie Wuyou sendiri—dia juga Dàshī, tapi lebih muda, lebih kuat, lebih kejam."
"Aku tahu," kata Gu Yanqing tenang. "Itulah sebabnya kita tidak akan melawan. Kita akan berunding ."
"Berunding dengan tirani?" Qin Feng, yang paling muda dan paling berapi-api, memukul meja dengan tinjunya. "Mereka mengambil beras kita! Anak-anak kita! Harga diri kita! Dan kamu ingin berunding?"
"Aku ingin memenangkan waktu ," tegas Gu Yanqing. "Xie Wuyou tidak tahu aku ada di sini. Prajurit tadi melihatku, tapi mereka tidak tahu aku tinggal di sini—mereka pikir aku hanya sedang berkunjung. Aku punya waktu satu bulan, mungkin dua, sebelum mereka kembali dengan pasukan yang lebih besar."
Dia melangkah ke tengah, ke cahaya lentera, memastikan setiap mata menatapnya.
"Dalam waktu itu, kita akan membangun persediaan. Menyembunyikan anak-anak dan wanita di gua-gua di pegunungan. Mengirim surat permohonan ke Dewan Provinsi—bukan karena aku berharap mereka membantu, tapi karena jejak dokumen bisa menjadi bukti di masa depan. Dan..." Dia berhenti, menatap ke arah Fengyin. "Dan kita akan mempersiapkan generasi berikutnya."
Semua mata mengikuti tatapannya. Fengyin merasa seperti seekor kelinci yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian serigala-serigala—tapi serigala-serigala yang baik, yang melindungi, yang sedih.
"Dia masih kecil," kata Liu Meihua, ibu Fengyin, yang selama ini diam di pojok. "Ayah, dia masih kecil."
"Usia bukan ukuran," kata Gu Yanqing lembut. "Potensi adalah ukuran. Dan Fengyin... Fengyin punya sesuatu yang bahkan aku tidak mengerti. Sesuatu yang aku rasakan saat pertama kali menemukannya di hutan, lima tahun lalu."
Dia berjalan mendekati cucunya, berjongkok sejajar, dan untuk pertama kalinya, mengangkat tangan kirinya yang selama ini selalu disembunyikan.
Di telapak tangan itu, keempat kristal—biru untuk Shuǐ, merah untuk Huǒ, kuning untuk Tǔ, putih untuk Fēng—berputar pelan, berdenyut dengan cahaya yang lembut.
"Sentuhlah," kata Gu Yanqing. "Satu saja. Pilih yang paling memanggilmu."
Fengyin menatap kristal-kristal itu. Empat warna. Empat keindahan. Tapi matanya, entah mengapa, terus mencari sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak ada di sana. Sesuatu yang... gelap? Tidak, bukan gelap. Tapi bayangan ? Tidak, bukan itu juga.
"Aku..." Dia ragu-ragu. "Aku tidak tahu, Kakek. Mereka semua... cantik. Tapi..."
"Tapi?"
"Tapi aku merasa ada yang lain," kata Fengyin, suaranya kecil, hampir malu. "Sesuatu yang... tidak di sini. Sesuatu yang lebih besar. Lebih... lebih luas ."
Keheningan menurun di altar. Lima Kepala Desa saling memandang. Gu Yanqing menatap cucunya dengan mata yang melebar—bukan karena marah, tapi karena... takut? Tidak, bukan takut. Karena pengakuan .
"Jingjie Universal," bisik Sun Mingyue. "Dia bisa merasakannya. Anak ini... anak ini adalah Tiānzé Zhě."
"Jangan bodoh," kata Lin Yao cepat. "Tiānzé Zhě hanya legenda. Mitos untuk menenangkan rakyat yang menderita."
"Mitos tidak merasakan elemen yang tidak ada," kata Gu Yanqing perlahan. Dia menurunkan tangannya, kristal-kristal itu menghilang—bukan lenyap, tapi kembali ke dalam tubuhnya, ke Dàojiàn, jalur energi yang tidak bisa dilihat mata biasa. "Tapi ini bukan waktunya. Bukan tempatnya. Fengyin, lupakan apa yang kamu rasakan. Fokus pada yang ada. Pada yang nyata."
Dia berdiir, menghadapi Lima Kepala Desa lagi.
"Kita punya waktu terbatas. Aku akan mengajarkan teknik dasar kepada prajurit desa—bagaimana mengalirkan Jīnglì, energi dalam, meski mereka tidak punya kristal. Bagaimana menggunakan Wǔshù sederhana untuk melawan musuh yang lebih kuat. Dan kalian..." Dia menatap masing-masing Kepala Desa. "Kalian akan mengorganisir. Membangun jaringan pengintai. Menyembunyikan persediaan. Menyiapkan jalur evakuasi."
"Dan kalau semua itu tidak cukup?" tanya Zhao Wuji pelan. "Kalau Xie Wuyou datang dengan Sekte Naga Hitamnya sebelum kita siap?"
Gu Yanqing tersenyum. Senyum yang tidak bahagia. Senyum orang yang sudah melihat akhir dari cerita ini, tapi tetap memilih untuk memainkan perannya sampai habis.
"Maka kita akan bertarung," katanya. "Dan kalau kita kalah, maka setidaknya kita kalah sambil berdiri. Bukan berlutut."
Dia mengangkat tangan kanannya, yang memegang tongkat. Tapi tongkat itu bukan lagi tongkat biasa—ujungnya bersinar dengan cahaya kebiruan, air yang memadat menjadi es, membentuk mata tombak yang tajam.
"Lima Desa bersumpah?" tanyanya.
"Bersumpah," jawab Lima Kepala Desa serempak.
"Sumpah untuk apa?"
"Untuk keadilan," kata mereka. "Untuk rakyat. Untuk masa depan."
"Meski?"
"Meski darah mengalir. Meski tulang hancur. Meski Shenying Shu sendiri menjadi abu."
Fengyin, yang menyaksikan dari sudut, merasa sesuatu menggembung di dadanya. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang lebih besar dari takut, lebih besar dari bingung. Sesuatu yang... benar .
Dia tidak mengerti apa itu Tiānzé Zhě. Tidak mengerti apa itu Jingjie Universal. Tapi dia mengerti satu hal: ayahnya, kakeknya, orang-orang ini—mereka sedang mempertaruhkan segalanya untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Dan dia ingin menjadi bagian dari itu. Meski masih kecil. Meski hanya bisa menulis karakter 'Nai' dengan canggung. Meski...
"Aku juga bersumpah," bisiknya, terlalu pelan untuk didengar siapa pun.
Tapi Gu Yanqing menoleh. Menatapnya. Dan tersenyum—senyum yang kali ini, sedikit lebih hangat.
"Tidak hari ini, Fengyin," katanya, seolah bisa membaca pikiran cucunya. "Tapi suatu hari. Suatu hari, sumpahmu akan menjadi yang paling penting dari semua."
Malam itu, setelah Lima Kepala Desa pergi ke desa masing-masing, setelah lentera-lentera dipadamkan dan altar kembali menjadi batu tua yang sunyi, Fengyin berdiri di bawah Shenying Shu. Hujan sudah reda, tapi daun-daun cemara masih meneteskan air, menciptakan suara seperti bisikan.
Dia menatap ke atas, ke arah dahan-dahan yang menghilang di kegelapan.
"Kakek bilang kamu saksi," bisiknya pada pohon itu. "Maka saksikan ini. Saksikan aku. Suatu hari, aku akan menjadi Dàshī. Aku akan melindungi semua orang. Aku akan..."
Dia berhenti. Karena di antara dahan-dahan, sesuatu bergerak. Bukan burung. Bukan tupai. Tapi... bayangan? Tidak, terlalu kecil. Terlalu... biru ?
Seekor burung kecil, tidak lebih besar dari kepalan tangan Fengyin, duduk di dahan rendah. Bulunya berwarna biru tua, hampir hitam di malam, dengan corak di sayapnya yang berkilauan seperti... seperti kristal. Mata burung itu—merah. Bukan merah seperti darah. Tapi merah seperti... batu permata? Seperti api yang membeku?
Burung itu menatap Fengyin. Fengyin menatap burung itu.
Dan untuk sejenak—hanya sejenak—dunia berhenti berputar.
Lalu burung itu berkicau. Satu nada. Tinggi. Tajam. Seperti... peringatan? Atau seperti... undangan?
Dia terbang. Menghilang di antara dedaunan, meninggalkan Fengyin sendirian dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab.
Di kejauhan, di balik pegunungan, kilatan petir menyambar—tapi tidak ada suara guntur yang mengikutinya. Hanya keheningan. Keheningan yang menunggu.
Menunggu badai yang akan datang.
( Bersambung... )