NovelToon NovelToon
" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Misteri
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Gans March

Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergulatan batin di rumah besar

Malam harinya,di sebuah kamar di lantai tiga di rumah majikan,Laura duduk di tempat tidurnya yang lumayan luas.di tangannya, amplop hitam itu tampak mencolok di bawah pendar lampu bohlam yang temaram.

Di ruang sebelah,ia bisa mendengar suara batuk kecil Oma,dan denting piring yang sedang di rapikan.hati Laura mencelos.

Bagaimana mungkin ia bisa keluar rumah pada jam delapan malam? Oma selalu memastikan pintu samping rumah terkunci rapat,setelah semua pekerjaan rumah selesai.

Jika ketahuan,bukan hanya Laura yang bermasalah,tapi pekerjaan Oma yang menjadi sumber kehidupan mereka bisa terancam.

"jam delapan malam,di depan gerbang sekolah." ucap Marco tegas sebelum mereka berpisah di lapangan basket." aku akan menjemputmu di sana,acaranya akan di adakan di sebuah pub di pusat kota."

Kalimat Marco terus terngiang:

" jangan kecewakan aku " ada nada keputusasaan dalam suara pemuda misterius itu yang membuat Laura merasa...di butuhkan.sesuatu yang jarang ia rasakan sebagai gadis yang selalu di anggap " tidak ada " oleh dunia.

Beberapa hari berlalu setelah pertemuannya dengan Marco,Laura kembali di hantui kegelisahan.langkah kakinya terasa berat saat ia memasuki pintu samping rumah majikan Oma.setiap gesekan sepatunya di atas lantai rumah terdengar seperti ledakan di telinganya yang sedang di dera kepanikan.

Di dalam tas sekolahnya,amplop hitam dari Marco terasa seperti bongkahan es yang membekukan punggungnya.

Begitu pintu samping berderit terbuka,bau minyak dan tumisan kangkung menyambutnya.

" Sudah pulang nak?" suara Oma terdengar dari arah dapur kecil.

Laura tersentak,refleks mendekap tasnya lebih erat ke dada.

"iya,Oma.baru saja sampai."

Oma muncul dengan celemek yang masih terikat,menyeka tangan keriputnya pada kain lap.mata tuanya yang bijak menatap Laura dengan dahi berkerut.

" kok wajahmu pucat sekali? capek ya,jalan kaki dari sekolah tadi?"

" hanya...hanya cuaca agak panas,Oma," jawab Laura gugup.ia segera melangkah menuju kamarnya,namun langkahnya terhenti saat Oma memanggil lagi.

" taruh tasmu dulu,makan siang sudah Oma siapkan.oh ya,tadi ada titipan surat dari majikan untuk Oma,tolong ambilkan di meja kayu itu."

Jantung Laura mencelos.di atas meja kayu itu,tasnya yang terbuka sedikit memperlihatkan sudut amplop hitam mewah milik Marco.dengan gerakan kilat yang hampir menjatuhkan gelas plastik di dekatnya,Laura menyambar tas nya,dan menyembunyikan amplop itu di balik buku.

Setelah berhasil masuk ke kamarnya, Laura langsung mengunci pintu.ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu,napasnya memburu.

Ia menoleh ke sekeliling kamar.di bawah bantal? Terlalu mudah di temukan saat Oma merapikan tempat tidur.di dalam lemari baju? Oma sering menaruh pakaian bersih di sana.

Akhirnya,ia menarik sebuah kotak sepatu tua, dari bawah kolong tempat tidur.menyelipkan amplop itu di antara tumpukan surat-surat tua yang ada di dalamnya.

Laura duduk di tepi tempat tidur, menatap tangannya yang masih gemetar.amplop hitam itu seperti bom waktu.

" bagaimana kalau Oma tahu,kalau aku bertemu pria asing di sekolah.bagaimana kalau ia tahu,aku berencana pergi ke pub di pusat kota?" bisiknya pada diri sendiri.

Di luar kamar terdengar suara sapu Oma yang sedang menyapu ruangan.suara itu biasanya menenangkan,tapi sore ini setiap goresan sapu itu seolah mengingatkan Laura pada jurang perbedaan,antara dunianya yang sederhana,dan dunia gelap yang mewah yang di tawarkan oleh Marco.

Sabtu pagi terasa begitu menyesakkan bagi Laura.setiap kali matanya bertemu dengan mata Oma yang teduh,rasa bersalah menghantam dadanya.di satu sisi,ia takut mengecewakan Marco yang sudah memohon padanya begitu dalam; di sisi lain,ia tidak pernah membohongi Oma satu satunya orang yang tulus mencintainya.

Laura tidak pernah mengenal hangatnya pelukan seorang ibu,maupun kokohnya pundak sang ayah.ibunya mengembuskan nafas terakhir sesaat setelah tangis pertama Laura pecah di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota.kepergian sang ibu meninggalkan luka yang dalam,sementara ayahnya menghilang tanpa jejak,bagaikan bayangan yang hilang di kegelapan malam.satu-satunya warisan yang ia miliki hanyalah sebuah nama: Laura .

Ia di besarkan oleh Oma, sosok wanita tangguh yang tangannya sudah kasar di makan kerja keras.di kampung,mereka hidup sangat bersahaja.Oma menanamkan nilai-nilai kejujuran dan ketabahan pada Laura kecil.namun,tekanan hidup di desa memaksa Oma mengambil keputusan yang sulit demi masa depan cucunya.

Saat Laura menginjak usia 12 tahun,usia di mana anak-anak lain mulai memikirkan seragam SMP, Oma membawanya merantau ke kota besar.Mereka tidak menuju ke rumah tinggal mereka sendiri,melainkan ke sebuah kamar di lantai tiga,rumah mewah milik seorang majikan kaya berdarah Tionghoa.

Ia tumbuh besar di antara tembok-tembok tinggi dan lantai marmer yang bukan miliknya.sambil belajar,ia membantu Oma menyapu,mengepel lantai,atau menyiapkan keperluan majikan.

Beruntung,majikan Oma adalah orang yang baik dan cukup murah hati.melihat kecerdasan dan ketekunan Laura,mereka memutuskan untuk membantu membiayai kebutuhan dan keperluan sekolah Laura.hal inilah yang membuat Laura merasa memiliki beban moral yang besar ; ia harus sukses agar tidak memalukan Oma dan tidak menyia-nyiakan kebaikan majikannya.

Tumbuh sebagai anak yatim-piatu di rumah majikan,membentuk Laura menjadi gadis yang lebih banyak diam dan memperhatikan sekelilingnya.kesetiannya pada Oma adalah segalanya.baginya,Oma adalah nafasnya.

Di sekolah ia selalu merasa minder dengan latar belakangnya.namun ia belajar lebih keras karena ia tahu pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari garis kemiskinan.

Laura mencoba mencari celah untuk membujuk Oma,namun lidahnya terasa kelu.

" Oma..." panggil Laura saat mereka sedang melipat seprei milik majikan di ruangan belakang.

" ya nak,ada apa?" Oma menoleh,tersenyum hingga garis kerutan di sudut matanya terlihat jelas.

" kalau...kalau aku pergi sebentar nanti malam ke rumah teman untuk pesta ulang tahun,boleh?" suara Laura mencicit,hampir tertelan suara angin.

Oma berhenti melipat.wajahnya berubah cemas." malam-malam,nak? pusat kota itu ramai dan bahaya kalau sudah gelap.Oma khawatir jika terjadi sesuatu denganmu."

Laura terdiam.alasan " pesta ulang tahun " adalah alasan klasik paling buruk karena,ia tahu Oma akan sangat menjaga keselamatannya.ia kehilangan kata-kata.tidak mungkin ia jujur dengan mengatakan akan pergi ke sebuah pub bersama seorang pemuda bernama Marco.

Siang berganti sore,dan sore mulai menjelang malam.Laura masih belum menemukan cara.ia mondar-mandir di dalam kamarnya.

Suasana di dalam rumah dengan tiga lantai itu berangsur hening.Oma,yang sedari tadi pura-pura sibuk merapikan taplak meja,sebenarnya tidak bisa membohongi perasaanya sendiri.ia melihat bagaimana jemari Laura bergetar saat memegang buku,dan bagaimana mata cucunya itu terus melirik ke arah jarum jam dinding dengan tatapan kosong yang penuh beban.

Oma menghentikan kegiatannya.ia mendekati Laura,lalu duduk di tepi ranjang di samping cucunya.

" nak," panggil Oma lembut, suaranya parau namun menenangkan.

" sejak tadi kamu seperti burung dalam sangkar yang ingin terbang.apa ada sesuatu yang sangat penting malam ini?"

Laura tersentak.ia menunduk,tak berani menatap mata Oma yang sudah membesarkannya dengan cucuran keringat di rumah majikan ini.

" Oma,aku...aku...aku hanya ingin pergi sebentar ke pesta ulang tahun teman sekolah.dan aku...aku sudah janji untuk datang ke pestanya malam ini."

Oma menghela nafas panjang.ia tahu Laura adalah anak yang baik ; anak yatim piatu yang tidak pernah menuntut macam-macam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!