sequel: terpaksa menikah adik tiri × bayi rahasia idola kampus
Axelle Aididev Atharic adalah definisi masalah berjalan di SMA Galaksi. Nakal, keras kepala, dan anti diatur. Hidupnya yang bebas mendadak jungkir balik saat sebuah kecelakaan konyol memaksanya terjebak dalam nikah kilat dengan Rea Zelene Xavandra, cewek paling ambisius dan kaku di sekolah.
Dua kutub utara dan selatan harus tinggal di bawah satu atap yang sama. Bagi Axelle Aididev Atharic, ini adalah penjara. Tapi bagi sang istri, Rea Zelene Xavandra, Axelle adalah rahasia terbesar yang harus ia sembunyikan rapat-rapat demi reputasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
..
Ciuman itu tidak lagi terasa seperti hukuman. Di tengah remang apartemen yang hanya diterangi lampu kota, Axelle seolah menumpahkan segala sesak yang ia simpan. Lumatan itu dalam, menuntut, dan penuh rasa lapar akan afeksi yang selama ini hilang dari hidupnya.
Rea terengah, tangannya yang tadi mencengkeram kaos Axelle kini merambat naik, menyentuh tengkuk cowok itu. Jantungnya berpacu melampaui logika mana pun yang pernah diajarkan Papanya. Untuk pertama kalinya, Rea tidak peduli pada aturan. Dia hanya peduli pada debaran gila yang ia rasakan saat bibir Axelle menyapu bibirnya dengan ritme yang memabukkan.
Axelle melepaskan tautan bibir mereka sejenak, hanya untuk membenamkan wajahnya di ceruk leher Rea. Napasnya memburu, panas mengenai kulit sensitif Rea. "Lo beneran bikin gue gila, Xavandra," bisik Axelle serak, suaranya bergetar tepat di telinga Rea.
Rea hanya bisa mendongak pasrah, memejamkan mata saat tangan Axelle semakin erat melingkar di pinggangnya, seolah tidak membiarkan ada satu inci pun jarak di antara mereka. Di sofa itu, di bawah kesunyian malam, dua orang yang paling sering bertengkar ini seolah sedang mencoba saling menyembuhkan dengan cara yang paling impulsif.
Namun, tepat saat suasana semakin memanas, bunyi notifikasi ponsel Rea di atas meja bar bergetar nyaring.
Drtt... Drtt...
Seketika, Rea tersentak. Kesadarannya kembali seperti disiram air es. Nama "PAPA" berkedip di layar ponselnya.
"Axel... lepasin..." dorong Rea spontan. Dia mendorong dada Axelle dengan tenaga yang tersisa.
Axelle mengerang kesal, matanya yang sayu karena gairah, menatap Rea. Dia melihat kegelisahan di mata Rea. Dengan berat hati, Axelle melonggarkan pelukannya, membiarkan Rea berdiri dengan kaki yang masih gemetar hebat.
Rea langsung lari ke kamar tanpa menoleh lagi, membanting pintu hingga bunyi itu nyaring menggema . Dia menyandarkan punggung di pintu, memegang bibirnya yang terasa bengkak dan wajahnya yang sepanas api.
"Gila... gue beneran gila," gumam Rea sambil mengatur napasnya yang berantakan.
...----------------...
Keesokan Harinya - Pukul 06.00 WIB
Sinar matahari pagi Bandung menembus jendela, tapi tidak mampu mencairkan kecanggungan luar biasa di apartemen itu. Rea keluar dari kamar dengan seragam OSIS yang sangat rapi—bahkan lebih rapi dari biasanya, seolah dia sedang mencoba membangun kembali benteng "Robot"-nya yang hancur semalam.
Rea berjalan ke dapur dengan langkah yang sengaja dibuat tegap, padahal di dalam hati dia sedang berteriak. Dia melihat Axelle sudah duduk di meja bar, menyesap kopi hitamnya. Rambut cowok itu berantakan, dan dia hanya mengenakan kaos putih polos.
Deg.
Rea langsung membuang muka saat matanya tanpa sengaja menatap bibir Axelle. Bayangan kejadian semalam langsung melintas cepat di otaknya.
"Pagi bu ketos," sapa Axelle tengil, Suaranya sudah kembali ke setelan awal
"P-pagi," jawab Rea gagap. Sial. Dia benci suaranya yang terdengar tidak stabil.
Rea sibuk mengambil roti tawar, tangannya gemetar saat mengoleskan selai. Dia berusaha keras tidak menoleh ke arah Axelle. Dia kembali ke mode "Ketua OSIS kaku", menatap jam tangannya berkali-kali.
"Lo... berangkat sendiri hari ini. Gue ada urusan bareng Arsen," ucap Axelle sambil berdiri, meraih kunci motornya.
"O-oke. Gue juga ada rapat MPK pagi-pagi," sahut Rea cepat. Dia bahkan tidak berani menatap mata Axelle.
Axelle berjalan melewati Rea menuju pintu. Langkahnya terhenti tepat di samping Rea. Dia menunduk sedikit, membisikkan sesuatu yang membuat sistem di otak Rea benar-benar konslet total.
"Kacamata lo miring, Re. Dan... selai di pinggir bibir lo itu ganggu banget," bisik Axelle, lalu tanpa aba-aba dia mengusap sudut bibir Rea dengan jempolnya—gerakan yang persis seperti sebelum mereka berciuman semalam.
Axelle menyeringai tipis, lalu keluar dari apartemen dengan langkah santai, meninggalkan Rea yang mematung dengan selai yang membeku di tangannya.
"AXELLE AIDIDEV ATHARIC! GUE BENCI LO!" teriak Rea frustrasi setelah pintu tertutup. Dia langsung duduk di lantai dapur, menangkup wajahnya yang sudah semerah tomat.
Bagaimana dia bisa menghadapi Ziro dan Bagas di sekolah hari ini kalau otaknya hanya berisi sensor rekaman ciuman semalam?!
...----------------...
POV AXELLE
Gue menutup pintu apartemen dengan pelan, sengaja memberikan jeda sejenak di koridor yang sepi itu. Dan benar saja, sedetik kemudian, teriakan melengking yang sangat gue kenal pecah dari dalam.
"AXELLE AIDIDEV ATHARIC! GUE BENCI LO!"
Gue menyandarkan punggung di pintu, membiarkan senyum gue mengembang lebar senyum yang jarang banget gue keluarin, Rasanya.. puas banget. dengar umpatan Rea yang frustrasi itu jauh lebih merdu daripada suara knalpot motor gue di sirkuit.
Gue melirik jempol gue sendiri. Sebenarnya, nggak ada selai di bibir Rea tadi. Bersih. Gue cuma pengen nyentuh sudut bibirnya doang, cuma pengen ngingetin dia lewat sensasi kulit yang bersentuhan kalau semalam itu bukan mimpi. Gue pengen sistem "Robot" di otaknya bener-bener error seharian ini.
Gue tahu, Rea pasti lagi megang pipinya yang panas sekarang. Dan gue? Gue merasa kayak baru menang balapan paling bergengsi sedunia.
"Gue juga benci lo, Bu Ketos," gumam gue pelan sambil terkekeh, lalu melangkah menuju lift dengan gaya santai.
...----------------...
Kantin SMA Galaksi siang itu sedang ramai-ramainya, tapi di meja pojok, suasana terasa berbeda. Rea duduk dengan pandangan kosong, tangannya mengaduk jus jeruk yang es batunya sudah mencair. Pikirannya melayang jauh ke kejadian di dapur tadi pagi—kehangatan jempol Axelle di sudut bibirnya yang sebenarnya... bersih tanpa selai.
"Terus ya, si Vanya tuh mukanya langsung sepet banget pas liat Valerie dapet kado dari axelle. Bayangin, Re!" cerocos Clarabella semangat.
"mmm.." jawab Rea pendek.
"Eh, denger nggak sih? Katanya nanti pensi bakal ada bintang tamu rahasia. Lo udah tau belum?" tanya Jovanka sambil menyenggol lengan Rea.
"Iya," jawab Rea lagi, masih sibuk dengan pemikiran jya sendiri
Giselle yang sedari tadi memperhatikan gelagat aneh Rea akhirnya gemas sendiri. Dia meletakkan baksonya dan menopang dagu, menatap Rea intens. "Re, lo dari tadi 'iya-iya' doang. Lo dengerin kita nggak sih?"
"denger kok" rea menjawab tapi pikiran nya udah kemana mana aja
Giselle menyeringai nakal. Dia ingin mengetes sejauh mana pikiran sahabatnya itu "terbang".
"Re, lo sebenarnya... diem-diem suka ya sama Axelle?"
"Iya," rea mengangguk sambil meminum jus jeruk nya berkedip.
Hening.
Satu detik... dua detik...
"DEMI APAAAA?!" pekik Clarabella sampai tersedak minumannya.
"ANJIR! REA?! LO SERIUS?!" Giselle hampir menggebrak meja, matanya melotot tidak percaya.
"Gila! Berita besar! Ketua OSIS kita akhirnya luluh sama si Badboy!" Jovanka langsung menutup mulutnya, tangannya sudah gatal ingin mengetik di tablet.
Pekikan teman-temannya yang histeris itu seperti menyengat saraf pusat Rea. Dia tersentak, mengerjap berkali-kali seolah baru saja ditarik paksa dari dimensi lain. Dia melihat wajah ketiga sahabatnya yang sudah merah padam karena heboh sendiri.
"Kenapa? Kalian kenapa teriak-teriak?" tanya Rea bingung, membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak miring.
"Lo tadi bilang 'IYA' pas Giselle nanya lo suka sama Axelle!" seru Clarabella heboh.
"Re, lo nggak bisa ralat itu! Telinga gue saksinya!"
Jantung Rea mendadak berhenti berdetak. Dia baru saja menyadari apa yang baru saja meluncur dari bibirnya karena otaknya sedang memutar ulang rekaman ciuman semalam.
"Enggak ya! Maksud gue... iya gue denger pertanyaan Giselle, tapi jawabannya ENGGAK!" ralat Rea dengan nada yang naik satu oktav. Wajahnya yang biasanya pucat kini mendadak semerah kepiting rebus. "Gue nggak suka sama berandalan itu! Mana mungkin!"
"Tapi muka lo nggak bisa bohong, Re! Lo merah banget!" goda Giselle sambil tertawa puas.
"gue lagi gak fokus!! " jawab Rea setenang mungkin menahan rasa gugup nya sendiri
"Itu... itu karena cuaca panas! Udah, berhenti bahas yang nggak penting!" Rea buru-buru berdiri, menyambar tasnya dengan tangan gemetar. "Gue balik ke ruang OSIS. Banyak kerjaan!"
rea kembali memasang topeng dinginnya dan buru buru pergi meninggalkan teman nya yang masih ngakak di belakangnya
"Sialan lo, Axelle... lo bener-bener ngerusak otak gue," batin Rea frustrasi.
Dia menyentuh bibirnya sendiri. masih terasa sesi kegiatan semalam benar benar merusak citra nya sebagai ketos disiplin.
valery di lawan singa betina nya xander lo 🤣🤣🤣🤣
gemes jadi nya🤣🤣🤣🤣
rea keceplosan 🤣🤣🤣
semngat thor
tapi aku suka terimakasih kk author 😘😘
ceritanya hampir mirim kyk kisah hidup ku , axelle adalah aku si manusia kesepian yang terabaykan😭😭😭😭
jd curhat kan aku , btw makasih kk author 😘😘😘
kasian bgt my bad boy
cepet sadar ready
cepet bucin
cepet ada junior kalian
wkwkwkwkww
biar author pusing🥳🥳
tapi percaya sih , semua di bawah kendali kk author, ya ikuti alur nya aja , walau baca nya sambil nangis😭😭
rea pinter ngeles nye yeee🤣🤣
kak up 2 dong kepo sama yg ini😁😁😁