NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 2 — Bros Perak Kupu-Kupu

Dimas tidak bisa melepaskan pandangannya dari bros perak kecil itu. Cahaya lampu redup memantul di permukaan sayap-sayapnya yang halus, membuatnya tampak berkilau di tangan Aluna yang gemetar. Bros itu bukan sekadar benda—itu simbol masa kecil mereka, satu-satunya kenangan bahagia yang masih tersisa dari keluarga Brawijaya.

Ayah mereka, Daniel, membuat bros itu sendiri dengan alat las sederhana yang ia miliki di bengkel belakang rumah. Malam itu, saat ulang tahun Aluna yang ketujuh, ayah berkata sambil tertawa: “Kupu-kupu ini punya tiga sayap, supaya Aluna tidak pernah jatuh sendirian. Kakak-kakakmu adalah dua sayap lainnya.”

Dimas merasakan rasa perih merayap naik ke dadanya. Kata-kata itu kembali menghantamnya seperti hantaman palu—penuh harapan, tapi kini berubah menjadi ironi pahit.

“Aluna…” ucapnya perlahan.

Perempuan itu tetap menggenggam bros tersebut erat-erat, seolah jika ia melepasnya, seluruh dunianya akan runtuh. Matanya kosong, tapi ada sesuatu yang bersembunyi di balik tatapan itu—jejak seseorang yang pernah ia kenal.

Namun sebelum Dimas sempat maju lebih dekat, Aluna tiba-tiba menarik tubuhnya menjauh ke dinding, seperti binatang kecil yang ketakutan akan disentuh manusia.

“Jangan… jangan sentuh…” gumamnya pelan, kepalanya menggeleng keras. “Sayapnya… jangan patah… jangan patah lagi…”

Dimas berhenti. Tak ingin memaksa.

“Baik,” katanya lembut. “Aku tidak akan menyentuhnya. Itu milikmu. Itu dari ayah.”

Aluna membeku sesaat. Kata ayah tampaknya menyentuh sesuatu di dalam pikirannya. Ia menunduk, menggoyang-goyangkan bros itu, lalu berbisik:

“Ayah bilang… kupu-kupu jatuh hari itu. Jatuh ke tanah merah. Merah semua… merah… seperti hujan…”

Dimas memejamkan mata. Ia tahu apa yang dimaksud Aluna. Ingatan itu, meski kabur, masih menghantui dirinya.

“Kak Dimas?”

Suara Sania memecah keheningan. Perawat itu menatapnya dengan rasa tak enak hati.

“Mungkin… Mas perlu istirahat dulu. Ini berat untuk Mas dan juga pasien.”

Dimas mengangguk pelan. Ia tahu ruang itu bukan tempat untuk percakapan panjang. Aluna tampak rapuh; satu kata salah saja bisa membuatnya histeris.

“Baik, saya keluar dulu,” ucapnya.

Aluna hanya menatapnya tanpa ekspresi. Tapi saat Dimas melangkah ke pintu, suara kecil itu memanggil.

“Di… mas…”

Dimas menoleh cepat.

Aluna menatap lurus ke arahnya, tatapannya tembus tapi kacau. Seolah ia melihat Dimas dan bayangan masa lalu di saat yang sama.

“Kupu-kupu jatuh… jangan bilang… mereka lihat…”

Sebelum Dimas bisa bertanya, Aluna kembali menunduk, membenturkan kepalanya perlahan ke dinding sambil menggumamkan lagu yang sama.

Sania buru-buru menenangkannya, dan Dimas pun keluar dari kamar itu dengan hati yang hancur.

Lorong rumah sakit jiwa terasa lebih gelap dari sebelumnya. Lampu yang berkedip semakin sering padam, menambah kesan seolah bangunan itu sedang menghela napas berat.

Di ujung lorong, seorang pria duduk di kursi roda dengan tubuh condong ke depan, kedua tangan menggenggam roda seakan mencoba menahan kegelisahan dalam dirinya.

Digo.

Rambutnya sedikit memanjang dan diikat ke belakang, tapi guratan lelah di wajahnya sulit disembunyikan. Cahaya lampu memantulkan ketegangan pada garis rahangnya.

Begitu melihat Dimas, ia langsung bertanya, suaranya serak:

“Bagaimana?”

Dimas terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya menjawab, “Itu dia, Go… itu Aluna.”

Digo menutup matanya lama. Nafasnya naik turun berat, seperti menahan sesuatu yang mendesak keluar dari dadanya. “Dia… masih hidup…” bisiknya.

“Dan dia ingat lagu itu,” tambah Dimas, suaranya pecah.

Digo membuka matanya perlahan. “Lagu yang kita buat untuknya… yang dia nyanyikan tiap malam sebelum tidur.” Ia menelan ludah. “Dia benar-benar Aluna.”

Dimas duduk di bangku di sampingnya. “Go… dia pegang bros kupu-kupu itu.”

Digo tertegun. “Yang dari ayah?”

Dimas mengangguk. “Dia masih menyimpannya. Dua puluh tahun… dia menyimpannya.” Suara Dimas bergetar. “Berarti dia ingat. Setidaknya ingat sesuatu.”

Digo menunduk, menekan keningnya dengan jari. “Kalau dia masih ingat… berarti dia juga masih ingat malam itu.”

Malam itu.

Pembantaian itu.

Air mata Digo jatuh begitu saja.

“Go…” Dimas memegang bahu kakaknya.

Tapi Digo menggeleng, menahan isak. “Aku… aku masih dengar suaranya, Mas… Suara Aluna teriak di balik lemari… suara ibu… suara ayah…” Ia menarik napas pendek. “Aku gagal waktu itu.”

“Kamu menyelamatkanku,” kata Dimas tegas. “Kalau bukan kamu, aku tidak akan hidup.”

Digo tertawa kecil, pahit. “Lihatlah aku sekarang. Kursi roda ini bukti kalau aku hanya separuh dari diriku dulu… dan separuh lagi mati bersama mereka.”

“Dan Aluna hidup,” jawab Dimas cepat. “Itu bukti kalau tidak semua hilang.”

Hening beberapa saat.

Hanya suara lampu berdengung dan langkah perawat terdengar dari kejauhan.

Digo akhirnya bertanya, suaranya lebih stabil, “Apa dia mengenal kita?”

Dimas menghela napas panjang. “Dia… tidak mengenal. Tapi… dia merasakan sesuatu.” Dimas menatap ujung lorong, seakan menatap masa lalu yang kabur. “Saat aku mau pergi, dia memanggil namaku.”

Digo menatap Dimas dengan mata membesar. “Serius?”

Dimas mengangguk. “Itu bukan teriakan kosong. Itu bukan refleks. Itu… seperti ada sisa memori di dalam dirinya yang masih berjuang untuk keluar.”

Digo kembali diam. Kali ini bukan karena sedih—melainkan terpukul oleh harapan yang tiba-tiba muncul.

“Kalau begitu…” kata Digo pelan, “kita harus bawa dia pulang.”

Dimas menatap kakaknya. “Ya. Kita harus bawa dia pulang.”

Digo menatap langit-langit, mengusap air matanya.

“Sudah dua puluh tahun, Mas…” suara Digo lirih. “Saatnya dia kembali ke keluarganya.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kata keluarga terasa mungkin lagi. Meski hanya tinggal dua sayap, kupu-kupu itu masih bisa terbang.

Dan mereka akan mencoba membuatnya terbang kembali. Dengan atau tanpa sayap ketiga yang hilang.

Dengan atau tanpa masa lalu yang penuh darah.

Mereka akan menjemput Aluna pulang.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!