NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Pagi itu, sinar matahari masuk perlahan melalui celah tirai jendela, menyinari ruang tamu yang sederhana namun hangat. Linda sudah terbangun sejak subuh. Tangannya tak berhenti bergerak, dari menyapu lantai hingga merapikan perabotan yang sedikit berantakan. Ember cucian di sudut ruangan tampak penuh, sebagian besar adalah pakaian kecil milik Kirana yang kotor karena aktivitasnya yang tak pernah habis.

Linda menghela napas pelan sambil memeras kain lap.

“Anak itu benar-benar tidak bisa diam,” gumamnya pelan, namun ada senyum tipis di wajahnya.

Di balik kelelahan itu, pikirannya melayang pada masa lalu. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana dulu ia pergi meninggalkan Erlan dalam keadaan hamil. Keputusan yang berat, penuh ketakutan, dan tanpa kepastian.

Ia sempat yakin bahwa suatu hari nanti, jika mereka bertemu kembali, Erlan akan menolak. Menolak dirinya, dan lebih menyakitkan lagi, menolak Kirana.

Namun kenyataannya justru berbeda.

Erlan tidak bertanya banyak. Tidak menuntut penjelasan panjang. Ia datang, melihat Kirana, dan menerimanya seolah semua itu sudah ia ketahui sejak awal.

Tanpa drama. Tanpa kemarahan.

Seolah-olah, memang sudah seharusnya begitu.

Linda berhenti sejenak, menatap tumpukan cucian.

“Kadang hidup memang aneh…” bisiknya.

Suara pintu terbuka tiba-tiba memecah lamunannya.

“Mama!”

Suara kecil yang ceria itu langsung memenuhi ruangan.

Linda menoleh, dan di sana Kirana berdiri dengan wajah penuh semangat. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya kemerahan, dan matanya berbinar seperti baru menemukan harta karun.

Di belakangnya, Erlan masuk sambil membawa beberapa kantong.

“Kami pulang,” ucap Erlan santai.

Kirana berlari kecil mendekati Linda, mengangkat sebuah kotak dengan bangga.

“Mama, lihat! Donat! Donat kesukaan Kirana!”

Linda tersenyum, lalu berlutut agar sejajar dengan putrinya.

“Wah, banyak sekali. Beli di mana?”

“Di tempat Bu Eka!” jawab Kirana cepat.

Erlan mendekat, lalu tanpa banyak bicara langsung mengangkat Kirana dan mendudukkannya di kursi dekat meja makan.

“Duduk yang manis dulu. Nanti dimakan,” katanya.

Kirana mengangguk cepat, sudah tidak sabar.

Erlan membuka kotak donat itu. Aroma manis langsung menyebar, membuat suasana pagi terasa lebih hangat.

“Ini yang cokelat ya,” kata Erlan sambil mengambil satu dan memberikannya pada Kirana.

“Terima kasih, Ayah!” seru Kirana senang.

Ia langsung menggigit donat itu tanpa ragu. Cokelatnya menempel di sekitar bibirnya, dan serpihan gula mulai jatuh ke bajunya.

Linda hanya bisa memandangi dari kejauhan.

“Baru ganti baju…” gumamnya pelan.

Namun ia tidak marah. Baginya, melihat Kirana makan dengan lahap seperti itu sudah cukup membuat hatinya hangat.

Erlan kemudian membuka kantong lain.

“Aku juga beli sarapan,” katanya.

Linda mendekat.

“Apa itu?”

“Nasi kuning. Dari ujung jalan, yang biasanya ramai itu.”

Linda mengangguk, lalu segera mengambil piring dan sendok dari dapur.

“Kamu duduk saja, biar aku siapkan.”

Erlan tersenyum tipis, tidak menolak. Ia duduk di kursi sambil sesekali memperhatikan Kirana yang masih sibuk dengan donatnya.

“Pelan-pelan makannya,” ujarnya.

“Iya, Ayah,” jawab Kirana, meski tetap makan dengan semangat yang sama.

Beberapa saat kemudian, mereka bertiga sudah duduk di meja makan. Linda mulai menyajikan nasi kuning ke piring masing-masing.

Suasana terasa tenang. Hangat. Sederhana, tapi penuh arti.

Di tengah sarapan itu, Kirana tiba-tiba berhenti makan.

Ia menatap Erlan dengan mata berbinar.

“Ayah…”

Erlan menoleh.

“Iya?”

“Kirana boleh pelihara kucing?”

Sendok di tangan Linda berhenti sesaat.

Erlan tidak langsung menjawab. Ia melirik Linda sekilas, lalu kembali pada Kirana.

“Kucing?” ulangnya.

“Iya!” Kirana mengangguk cepat. “Kucing yang lucu! Yang kecil!”

Erlan tersenyum tipis.

“Suka kucing, ya?”

“Suka sekali!” jawab Kirana tanpa ragu.

Erlan menyandarkan tubuhnya sedikit.

Sebenarnya, ia tidak keberatan. Memelihara kucing bukan masalah besar baginya. Namun ia tahu, yang akan lebih banyak mengurus nanti bukan Kirana.

Melainkan Linda.

“Kirana mau rawat sendiri?” tanya Erlan pelan.

“Iya! Kirana mau kasih makan, mau ajak main, mau…” ia berhenti sejenak, berpikir, “mau peluk juga!”

Linda menarik napas pelan.

“Kirana,” katanya lembut, “kucing itu punya kuku yang tajam.”

Kirana menoleh.

“Kalau kamu ganggu, bisa dicakar.”

Wajah Kirana berubah sedikit, tapi tidak lama.

“Kirana tidak ganggu. Kirana sayang kucingnya.”

Linda terdiam.

Ia tahu betul bagaimana putrinya. Wajah polos itu, suara lembut itu… sulit sekali untuk ditolak.

Erlan menatap Linda.

“Menurutmu?” tanyanya.

Linda tampak ragu.

“Aku hanya khawatir,” jawabnya jujur. “Dia masih kecil. Takutnya nanti terluka.”

Kirana langsung memegang tangan Linda.

“Kirana hati-hati, Mama. Janji.”

Linda menatapnya.

“Janji?”

“Iya. Janji,” ulang Kirana dengan serius.

Erlan tersenyum melihat itu.

“Akhir pekan depan, kita lihat-lihat kucing dulu saja,” katanya.

Kirana langsung menoleh cepat.

“Benar, Ayah?”

“Iya.”

“Janji?”

Erlan mengangkat tangannya sedikit.

“Janji.”

Kirana tersenyum lebar, hampir melompat dari kursinya.

“Tapi…” lanjut Erlan, “untuk pelihara atau tidak, tetap harus tanya Mama.”

Kirana kembali menoleh pada Linda.

“Mama…”

Nada suaranya lembut, penuh harap.

Linda menutup mata sejenak, seperti mengumpulkan kesabaran.

“Kalau Mama capek nanti bagaimana?” katanya pelan.

“Kirana bantu!” jawab Kirana cepat.

Erlan ikut menambahkan.

“Kita juga bisa cari orang untuk bantu merawat. Jadi tidak semua harus kamu kerjakan sendiri.”

Linda menatap Erlan.

“Kamu serius?”

Erlan mengangguk.

“Kalau itu membuat Kirana senang, kenapa tidak.”

Linda kembali melihat putrinya.

Kirana sedang menatapnya dengan harapan yang begitu jelas.

Dan di situlah Linda tahu, ia sudah kalah.

Ia tersenyum kecil.

“Baiklah.”

Mata Kirana langsung berbinar.

“Benar, Mama?”

“Iya. Kita coba pelihara kucing.”

Kirana langsung bersorak kecil.

“Yeay! Kirana punya kucing!”

Ia menepuk-nepuk meja dengan senang.

Erlan menghela napas lega.

“Setidaknya satu permintaan terpenuhi,” gumamnya pelan.

Linda menatap Kirana yang masih tersenyum lebar.

“Tapi ingat,” katanya tegas namun lembut, “kalau nanti sudah punya kucing, kamu harus hati-hati.”

Kirana mengangguk cepat.

“Iya, Mama!”

“Tidak boleh kasar.”

“Iya!”

“Dan harus tetap dengar Mama.”

“Iya!”

Linda tersenyum.

“Kalau begitu, nanti kita siapkan semuanya pelan-pelan.”

Kirana kembali memakan donatnya, kali ini dengan semangat yang bahkan lebih besar.

Erlan memperhatikan keduanya.

Di dalam hati, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan.

Kehidupan yang dulu terasa berantakan, kini perlahan tersusun rapi.

Tanpa paksaan. Tanpa tuntutan.

Hanya langkah kecil yang saling melengkapi.

Ia menatap Linda.

“Terima kasih,” ucapnya pelan.

Linda menoleh.

“Untuk apa?”

“Untuk tetap di sini.”

Linda terdiam sejenak.

Lalu tersenyum.

“Untuk hal seperti ini… aku juga tidak ingin pergi lagi.”

Kirana yang tidak benar-benar memahami percakapan itu hanya tertawa kecil sambil terus makan.

Dan pagi itu, di meja makan sederhana, tiga orang itu berbagi sesuatu yang lebih dari sekadar sarapan.

Mereka berbagi rumah.

Berbagi cerita.

Dan perlahan, membangun kembali arti keluarga yang sempat hilang.

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!