Rumah mewah di tengah hutan yang di akui kepemilikan nya oleh sepasang suami istri , karena rumah mewah itu memiliki banyak kamar dan dekat dengan tempat wisata akhir nya mereka sewakan untuk para wisatawan yang ingin menginap dengan harga murah tapi pemandangan alam sekitar mampu memanjakan mata .
Tanpa di sadari sepasang suami istri itu jika tak gratis untuk bisa memiliki rumah mewah itu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zulia Almanshur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Karena suara terdengar berasal dari dapur dan dentingan spatula dengan wajan seperti ada seseorang yang sedang menumis sesuatu , di tambah lampu dapur yang menyala , bu Wati berjalan mendekat ke arah dapur .
" Kamu datang lagi ? " .
Perempuan yang sama dengan kemarin malam yang sedang memasak menoleh .
" Aku hanya perempuan tidak waras yang mengorbankan anak - anak ku untuk membuat aku dan suami ku menjadi kaya " . Perempuan itu mengulang kalimat seperti yang dikatakan nya kemarin .
" Kenapa kamu kesini lagi ? " . Tanya bu Wati tidak peduli meskipun itu juga bukan rumah nya .
" Bu " . Pak Soni menyentuh bahu bu Wati dan tentu saja mengejutkan bu Wati .
Bu Wati reflek menoleh pada pak Soni dan setelah itu menoleh kembali pada perempuan yang tadi diajak nya berbicara , akan tetapi perempuan itu sudah tidak ada lagi di depan kompor beserta bahan masakan yang belum dimasak dan yang sudah matang .
Bu Wati merasa sangat aneh sebab perempuan yang di lihat nya selalu menghilang ketika ada pak Soni mendekat .
" Ibu bicara sama siapa ? " .
" Bapak kenapa bangun ? " .
" Bapak nyariin ibu tadi " .
" Bapak tidur pulas kenapa bisa terbangun tho pak , ini ibu cuma mau ngambil minum " . Bu Wati yang ingin bercerita justru malah mengurungkan niat nya , siapa yang akan percaya dengan cerita nya jika tidak melihat atau mengalami nya sendiri .
" Bapak juga mau bu minum nya " . Pak Soni mengambil segelas air minum dan meneguk nya hingga habis .
" Bapak seperti nya haus banget ya " .
" Nggak juga si bu , cuma sayang aja sudah dituang kok nggak di minum " .
" Ayo tidur lagi bu , besok bapak mau bersihkan rumput yang di belakang rumah " .
Bu Wati menurut saja dan mengikuti pak Soni masuk ke dalam kamar .
" Lingsir wengi , Sepi durung bisa nendra
Kagodha mring wewayang , Ngerindhu ati
Kawitane , Mung sembrana njur kulina
Ra ngira yen bakal nuwuhke tresna
Nanging duh tibane , Aku dhewe kang nemahi
Nandang branta , Kadung lara
Sambat , sambat sapa " .
Badu saja akan memejamkan mata nya , bu Wati mendengar suara tembang jawa lagi yang suara nya sama persia dengan suara perempuan yang di dapur sebelum nya .
Bu Wati melirik suami nya ternyata sudah tertidur pulas .
Pelan - pelan bu Wati mendekat ke pintu kamar dan akan berjalan menuju dapur menghampiri suara yang sama itu lagi .
Tapi belum sempat melangkahkan kaki , bu Wati sudah mendengar suara ketukan yang keras dari pintu utama , lebih tepat nya suara gedoran di pintu .
" Siapa ya , apa ada orang yang butuh bantuan malam - malam begini ? " .
Tanpa menunggu lama bu Wati pun berjalan menuju depan dan membuka pintu utama .
Begitu pintu di buka bu Wati gemetar karena terkejut dan ketakutan , di luar rumah lebih tepat nya di depan tangga teras seorang perempuan yang wajah nya penuh dengan darah dan pakaian nya juga basah karena di luar masih hujan dengan deras nya .
DUAARR !! ..
Bu Wati terkejut sehingga reflek menutup telinga .
" Astaghfirullah mbak , apa kamu abis kecelakaan ? " .
Perempuan itu mengangguk pelan dan berekspresi datar .
" Di sebelah mana mbak kecelakaan nya , aku dari tadi nggak dengar suara kecelakaan ? " .
" Aku kecelakaan karena memang sengaja di buat kecelakaan oleh bibi ku , dulu aku di suruh kerja kerja terus tanpa di beri makan , sekali nya aku nyuri makanan malah di buat kecelakaan seperti ini " .