NovelToon NovelToon
ISTRIKU TERNYATA SULTAN

ISTRIKU TERNYATA SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
​Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
​Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
​Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
​Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Kurir Pribadi yang Tak Dianggap

​Dua lembar uang lima puluh ribuan itu masih tergeletak di atas meja rak sepatu, seolah mengejek Kara. Kara belum menyentuhnya. Dia justru duduk bersimpuh di lantai semen yang dingin, memeluk lututnya sendiri.

​Dadanya sesak, bukan karena asma, tapi karena rasa sakit yang tak berdarah. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya kuat-kuat, memaksanya berhenti berdetak. Kara menatap pantulan dirinya di cermin lemari plastik yang sudah retak di ujungnya.

​Wanita di cermin itu menyedihkan. Matanya bengkak, kantung matanya hitam, dan kulit wajahnya kusam tak terawat. Rambutnya yang dulu berkilau bak iklan sampo, kini diikat asal-asalan dengan karet gelang nasi bungkus.

​"Kamu siapa?" bisik Kara pada bayangan itu. Suaranya parau. "Di mana Kara Anindita yang dulu?"

​Kara yang dulu tidak pernah membiarkan siapa pun berbicara padanya dengan nada tinggi. Kara yang dulu akan memecat karyawan yang tidak sopan dalam hitungan detik. Tapi Kara yang ada di cermin ini... dia cuma wanita bodoh yang rela diinjak-injak demi seorang pria yang bahkan tak sudi menatap matanya.

​Drrt... Drrt... Drrt...

​Ponsel butut Kara (ponsel "rakyat jelata"-nya) bergetar hebat di atas meja, memecah kesunyian. Nama "Suamiku ❤️" muncul di layar. Dulu nama itu membuat Kara tersenyum, sekarang justru memicu degup jantung ketakutan.

​Dengan tangan gemetar, Kara menggeser tombol hijau.

​"Halo, Mas—"

​"HEH! OTAK KAMU DITARUH DI MANA, SIH?!"

​Teriakan Rio meledak begitu keras hingga Kara harus menjauhkan ponsel dari telinganya. Gendang telinganya berdenging, tapi hatinya yang lebih sakit. Hancur berkeping-keping.

​"A-apa salahku, Mas? Aku baru aja—"

​"Nggak usah banyak alasan! Berkas biru di meja makan kenapa nggak kamu masukin ke tasku?! Mata kamu picek apa gimana? Aku udah bilang hari ini ada meeting penting sama investor! Gara-gara kebodohan kamu, aku bisa dipecat, tau nggak kamu?!"

​Air mata Kara kembali menetes, panas dan perih. Padahal tadi pagi Rio sendiri yang buru-buru memasukkan barang. Rio yang teledor. Tapi kenapa selalu Kara yang jadi tong sampah emosinya?

​"Tadi Mas Rio buru-buru, aku nggak berani pegang tas Mas..." cicit Kara, suaranya bergetar hebat menahan isak.

​"Halah! Istri nggak guna! Bisanya cuma ngabisin duit tapi ngurus suami nol besar! Sekarang kamu anterin berkas itu ke kantor. DETIK INI JUGA!"

​"Tapi Mas... motor lagi dipake tetangga, aku nggak ada ongkos buat naik ojek online..."

​"Jalan kaki kek! Ngesot kek! Aku nggak peduli! Pokoknya setengah jam lagi berkas itu harus ada di lobi. Kalau sampe aku dipecat, kamu orang pertama yang bakal aku usir dari rumah!"

​Tut. Sambungan diputus sepihak.

​Kara mematung. Kata-kata itu... "Istri nggak guna". "Ngesot". "Usir".

​Setiap suku kata adalah belati yang menancap di ulu hati. Kara meremas dada kirinya, mencoba meredakan nyeri yang menusuk. Dia menarik napas panjang yang tersendat-sendat. Dia ingin marah. Dia ingin berteriak bahwa dia bisa membeli gedung kantor Rio beserta isinya saat ini juga.

​Tapi... bodohnya, rasa takut kehilangan Rio masih lebih besar daripada logikanya.

​Dengan langkah gontai, Kara menyambar berkas biru di meja makan. Dia tidak punya waktu ganti baju. Dia masih memakai kaos oblong lusuh bergambar partai politik (kaos gratisan kampanye) dan celana kulot yang warnanya sudah pudar. Dia menyambar dompet, mengambil sisa uang receh, dan berlari keluar.

​Matahari Jakarta pukul sepuluh pagi sedang ganas-ganasnya.

​Kara turun dari angkot yang pengap dengan keringat bercucuran. Bau asap knalpot dan keringat penumpang lain menempel di tubuhnya, bercampur dengan rasa lelah yang amat sangat. Kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit karet terasa panas menginjak aspal trotoar.

​Dia mendongak menatap gedung perkantoran 20 lantai di depannya. Tempat Rio bekerja.

​Dulu, Kara biasa masuk ke gedung seperti ini lewat pintu VIP, disambut bungkukan hormat resepsionis, dan naik lift pribadi. Sekarang, dia harus berdebat dengan satpam di gerbang depan karena dikira pengantar makanan.

​Setelah berhasil masuk ke lobi, Kara mengirim pesan ke Rio.

Mas, aku udah di lobi.

​Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit.

Kara berdiri mematung di pojokan lobi yang dingin ber-AC, memeluk berkas itu erat-erat. Orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian rapi dan wangi parfum mahal, menatap Kara dengan tatapan aneh. Jijik. Merendahkan.

​Kara menunduk, menyembunyikan wajahnya. Dia malu. Sangat malu. Bukan karena dia miskin, tapi karena dia sadar betapa rendahnya dia membiarkan dirinya diperlakukan seperti ini.

​Akhirnya, pintu lift terbuka. Rio keluar.

​Tapi Rio tidak berlari menghampirinya. Pria itu justru celingukan, memastikan tidak ada rekan kerjanya di sekitar. Wajahnya masam, penuh amarah yang ditahan. Dia berjalan cepat ke arah Kara, lalu menyeret lengan istrinya kasar menuju pilar besar yang tersembunyi.

​"Sini!" desis Rio. Cengkeramannya di lengan Kara begitu kuat hingga Kara meringis kesakitan.

​"Sakit, Mas..."

​Rio melepaskan tangannya dengan kasar seolah Kara adalah penyakit menular. Dia merampas berkas dari tangan Kara.

​"Liat penampilan kamu!" Rio menunjuk Kara dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan jijik yang tak ditutup-tutupi. "Pake sandal jepit? Kaos gembel begini? Kamu sengaja mau malu-maluin aku di depan temen-temen kantor? Hah?!"

​Kara tercekat. Lidahnya kelu. Dia rela naik angkot panas-panasan, lari-larian, demi menyelamatkan karier suaminya. Dan inikah balasannya?

​"Aku... aku tadi buru-buru karena Mas bilang harus cepet..." Kara mencoba membela diri, tapi suaranya pecah di tenggorokan.

​"Alasan!" Rio mendengus kasar. Dia mengecek berkas itu sekilas, lalu menatap Kara tajam. "Pulang sana. Jangan keliaran di sini. Nanti dikira aku kenal sama pemulung."

​Deg.

​Dunia Kara serasa berhenti berputar.

Pemulung.

Suaminya sendiri memanggilnya pemulung.

​Tanpa menunggu jawaban, Rio berbalik badan dan melangkah pergi menuju lift, meninggalkan Kara yang berdiri gemetar sendirian di balik pilar.

​Air mata Kara akhirnya jatuh. Bukan satu tetes, tapi menderas. Dia menutup mulutnya dengan tangan, menahan jeritan pilu yang ingin meledak. Di tengah kemegahan lobi marmer itu, Kara merasa sekecil debu. Hancur. Tak berharga.

​Dia menatap punggung Rio yang menghilang di balik pintu lift.

Mas... sakit sekali, Mas. Sakit sekali.

​Di dalam saku celana kulotnya yang lusuh, tangan Kara menyentuh ponsel mahalnya yang tersembunyi. Ada dorongan kuat untuk menelepon asisten ayahnya sekarang juga.

"Jemput aku. Bawa aku pulang. Aku nggak kuat."

​Tapi Kara belum melakukannya. Dia hanya meremas ponsel itu kuat-kuat, membiarkan rasa sakit ini membakarnya sampai hangus, sampai dia benar-benar yakin bahwa tidak ada lagi cinta yang tersisa untuk Rio.

...****************...

...Bersambung......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...

...****************...

1
Night Watcher
terasa loncat ya thor.. tau2 mamanya kabur krn malu (kenapa?), tau2 nikah gak rencana & berunding..🤭🤭💪👌
kanjooot..
Night Watcher
loo clarisa blm ketangkep polisi too?
Arieee
mantap🤣
stela aza
lanjut thor
Night Watcher
😆😆😆🤭
Night Watcher
lah.. selama ini, ibunya rio gak punya rumah thor?
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏
Night Watcher
asyik keknya.. satset gak byk meleber.. 👌
Night Watcher
ngintip dulu...
Ma Em
Makanya Rio jadi orang jgn banyak tingkah , baru merasa senang sedikit sdh belagu selingkuh sekarang menyesal saja kamu sampai mati tapi Kara tdk akan pernah kembali lagi pada lelaki mokondo .
Ma Em
Kara kalau Rio datang langsung usir saja jgn dikasih kesempatan untuk bilang apapun .
Ma Em
Rio baru jadi menejer saja sdh sombong ga ingat waktu hdp susah bersama Kara setelah hdp nya baru senang sedikit sdh lupa sama istri yg nemenin dari nol dan malah selingkuh , Rio kamu pasti akan menyesal setelah tau siapa Kara Anindita yg selalu kamu hina itu .
tanty rahayu: emang gak tau diri tuh cowok 😔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!