NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Pernikahan Tanpa Janji

Pagi pertama sebagai istri Reyhan Mahardika terasa seperti memasuki rumah baru yang terlalu luas dan terlalu sepi. Alya terbangun tepat pukul lima pagi, kebiasaan lama yang sudah mendarah daging sejak ia harus mengurus Arka sendirian. Cahaya subuh yang lembut menyusup lewat celah gorden kamar, menerangi wajah anaknya yang masih tertidur pulas di sisi tempat tidur king size itu. Alya bergerak pelan-pelan, takut membangunkannya. Ia turun dari ranjang dengan langkah hati-hati, kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer yang dingin, mengirimkan getaran kecil ke tulang punggungnya.

Rumah ini terlalu besar untuk tiga orang. Koridor lantai dua terasa menggema setiap kali ia melangkah. Tidak ada suara anak kecil tertawa di pagi hari, tidak ada aroma kopi yang biasa mengisi rumah kontrakan kecil mereka dulu. Hanya keheningan yang menekan. Alya turun ke lantai bawah, tangannya menyusuri pegangan tangga stainless steel yang dingin. Dapur rumah Reyhan seperti showroom mewah yang baru saja dibuka: kulkas besar bergaya industrial mengkilap, kompor induksi canggih dengan layar sentuh, oven built-in yang belum pernah dipakai, dan island counter lengkap dengan kursi bar tinggi. Semuanya bersih mengilat, tapi terasa kosong. Seperti rumah yang hidup tanpa jiwa.

Alya membuka kulkas dengan pelan. Hampir kosong. Hanya ada beberapa botol air mineral dingin, dua kotak susu, dan kardus makanan beku siap saji yang sudah kadaluarsa sebentar lagi. Ia menghela napas panjang, bahunya merosot sedikit. Sepertinya Reyhan memang jarang makan di rumah. Pria itu hidup seperti mesin kerja, tidur, ulang lagi. Alya mengecek lemari dapur. Ada beras, minyak goreng, beberapa bumbu dasar yang masih tersegel rapi dalam plastik. Persediaan darurat yang tak pernah disentuh.

Ia mengambil dompet kecil dan kunci cadangan yang Reyhan tinggalkan di meja kemarin malam. Sebelum pergi, Alya menulis catatan kecil di atas meja makan dengan tulisan tangan rapi: “Keluar sebentar beli bahan sarapan. Arka masih tidur. Alya.” Ia tak mau Reyhan panik kalau bangun dan tak menemukannya.

Satu jam kemudian, Alya kembali dengan dua kantong belanjaan penuh. Keringat tipis membasahi dahinya karena berjalan kaki ke minimarket terdekat. Begitu pintu depan terbuka, ia langsung melihat Reyhan sudah duduk di meja makan. Pria itu mengenakan kemeja putih rapi yang disetrika sempurna, celana bahan hitam, dan dasi abu-abu yang masih tergantung longgar di lehernya. Laptop terbuka di depannya, layar penuh spreadsheet dan grafik warna-warni. Reyhan mengangkat wajah sebentar, mata tajamnya menatap Alya tanpa ekspresi berlebih.

“Kamu ke mana?” tanyanya datar, suaranya masih serak karena baru bangun.

“Belanja bahan sarapan,” jawab Alya sambil mengangkat kantong belanjaannya sedikit. “Kulkas kosong banget. Nggak ada apa-apa selain air mineral.”

Reyhan mengangguk kecil, kembali menatap layar laptopnya. “Biasanya aku sarapan di kantor. Atau beli kopi dan roti di jalan.”

“Oh.” Alya berhenti sejenak di ambang dapur. “Kalau gitu… aku masak buat aku dan Arka saja. Om nggak usah repot-repot.”

Reyhan tak menjawab. Matanya sudah kembali ke angka-angka di layar. Alya masuk ke dapur, mulai mengeluarkan bahan-bahan: telur segar, roti tawar, selada hijau, tomat merah mengkilap, keju slice, dan susu cokelat untuk Arka. Ia menyalakan kompor induksi, memanaskan teflon anti lengket, lalu mulai memasak sandwich telur sederhana dengan isian keju leleh dan sayur segar. Aroma mentega dan telur goreng perlahan menyebar ke seluruh ruangan.

Dari sudut matanya, Alya melihat Reyhan mengangkat wajah. Hidungnya bergerak sedikit, seolah mencium aroma yang sudah lama tak ia rasakan. Alya tak berkomentar. Ia hanya menyusun sandwich dengan rapi di piring putih, menambahkan sedikit potongan tomat di sampingnya agar terlihat lebih menarik. Lima belas menit kemudian, ia meletakkan satu piring di hadapan Reyhan tanpa banyak bicara.

Reyhan menatap piring itu. “Aku tidak minta.”

“Aku tahu,” jawab Alya tenang sambil mengusap tangan di celemek kecil yang ia pakai. “Tapi sudah jadi. Kalau Om nggak mau, boleh dibuang saja.”

Hening sejenak. Reyhan menatap sandwich itu sederhana, hangat, masih mengepul tipis. Ia tak ingat kapan terakhir kali ada yang memasakkan sarapan untuknya. Bahkan ibunya sendiri sudah jarang melakukannya sejak Reyhan kuliah dan pindah ke rumah sendiri. Perlahan, tanpa kata, ia mengangkat sandwich itu dan menggigit kecil. Rasanya… biasa saja. Telur matang sempurna, keju meleleh pas, roti tidak gosong. Tapi ada kehangatan kecil yang merayap ke dada Reyhan. Sesuatu yang sederhana, tapi nyata. Ia menghabiskan setengahnya dalam diam, lalu menutup laptopnya dengan pelan.

“Terima kasih,” ucapnya singkat, suaranya tetap formal seperti biasa.

Alya menoleh dari dapur, sedikit terkejut mendengar kata itu. “Sama-sama, Om.”

Tak ada senyum. Tak ada percakapan panjang. Hanya ucapan terima kasih yang terdengar seperti formalitas bisnis. Tapi bagi Alya, itu sudah cukup. Setidaknya pria ini tidak menolak mentah-mentah usahanya.

Pukul tujuh pagi, Arka turun dari lantai atas dengan langkah pelan. Rambutnya acak-acakan, mata masih setengah terpejam, dan ia mengenakan piyama robot kesayangannya yang sudah agak kusam karena sering dicuci. Anak itu menguap kecil, tapi langsung tersenyum tipis saat melihat Alya.

“Pagi, Mama.”

“Pagi, sayangku. Cuci muka dulu ya, sarapan sudah siap.”

Arka mengangguk patuh dan berjalan ke kamar mandi tamu dengan langkah gontai satu-satunya momen di mana ia terlihat seperti anak lima tahun biasa. Ketika ia kembali, wajahnya sudah segar, rambut disisir rapi dengan jari. Ia duduk di kursi seberang Reyhan, menatap pria itu dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.

“Pagi, Om Reyhan.”

“Pagi,” jawab Reyhan sambil mengangkat wajah dari ponselnya.

“Om kerja hari ini juga?”

“Iya. Ada meeting penting.”

Arka mengunyah sandwichnya pelan. “Hari Sabtu kok kerja? Berarti Om workaholic ya?”

Alya hampir tersedak susu cokelatnya sendiri. “Arka…”

Tapi Arka melanjutkan dengan nada tenang seperti guru kecil, “Workaholic itu orang yang terlalu fokus kerja sampai lupa istirahat, kehidupan sosial, dan kesehatan. Aku baca di artikel kesehatan mental minggu lalu.”

Reyhan menatap Arka dengan ekspresi yang sulit dibaca campuran antara geli, terkejut, dan sedikit tersinggung. Ia meletakkan ponselnya perlahan. “Kamu umur lima tahun kok bacanya berat-berat begitu?”

“Bacaan anak-anak terlalu mudah, Om. Aku cepat bosan. Minggu lalu aku baca tentang teori relativitas Einstein, tapi aku masih bingung bagian tensor energi-momentum. Kayaknya aku harus belajar kalkulus dulu biar paham.”

Ruangan mendadak hening. Reyhan menatap Arka lebih lekat sekarang, benar-benar fokus. “Kamu serius?”

“Iya. Kenapa? Kalkulus kan cuma soal turunan dan integral. Aku sudah bisa aljabar dasar kok. Lebih mendasar.”

Alya merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Ia cepat memotong, “Arka, habiskan sarapanmu dulu. Nanti kita ke taman ya, biar dapat udara segar.”

Reyhan berdiri, mengambil kunci mobil dan tas kerjanya. Tapi sebelum melangkah ke pintu, ia berbalik dan menatap Alya. “Alya.”

“Ya, Om?”

“Kalau butuh apa-apa, transfer saja ke rekeningku. Nanti aku kirim nomor rekening keluarga. Untuk belanja bulanan, biaya Arka, sekolah, atau apa pun. Jangan sungkan.”

Alya terdiam sejenak, jemarinya mencengkeram celemek. “Aku… masih punya tabungan sendiri, Om.”

“Kamu sekarang istri saya. Secara hukum, saya yang bertanggung jawab.” Nada Reyhan tetap datar, seperti membaca pasal kontrak. “Ini hakmu. Jangan mikir gengsi. Anggap saja bagian dari kesepakatan kita.”

Lalu ia pergi. Pintu depan tertutup pelan. Alya berdiri di dapur, perasaan lega bercampur malu dan sedikit perih. Hak. Bukan karena cinta. Hanya kewajiban hukum. Tapi setidaknya, Arka akan aman.

Sore harinya, Alya membawa Arka ke taman kota terdekat. Tempat itu sederhana ada ayunan, perosotan warna-warni, dan bangku-bangku kayu di bawah pohon rindang. Arka bukan tipe anak yang suka berlarian atau berteriak riang seperti teman-temannya. Ia duduk diam di ayunan, kakinya menggantung, mata bulatnya menatap awan putih yang bergerak pelan.

“Arka, mau main perosotan?” tanya Alya lembut, duduk di bangku di depannya.

“Nggak, Mama. Aku cuma mau duduk aja. Lihat awan bentuknya mirip galaksi.”

Alya tersenyum miris. Kadang ia lupa bahwa Arka berbeda. Bukan karena sakit atau aneh, tapi karena otaknya bekerja lebih cepat dari anak seusianya. Seorang ibu muda dengan anak perempuan menghampiri ayunan di sebelah. Anak itu langsung naik dan mengayun dengan riang.

“Adik, main yuk! Lomba siapa yang lebih tinggi!” ajaknya ceria.

Arka menatapnya sebentar dengan serius. “Main ayunan lomba tinggi nggak logis. Tinggi ayunan ditentukan gaya dorong, panjang tali, dan berat badan. Aku lebih berat, jadi aku pasti menang. Itu nggak adil buat kamu.”

Anak perempuan itu melongo. “Hah?”

Ibunya tertawa canggung. “Adiknya pinter banget ya ngomongnya.”

Alya tersenyum tipis, meski hatinya terasa perih. Ia sudah terbiasa dengan reaksi seperti ini. Arka turun dari ayunan. “Mama, pulang yuk. Di sini panas dan banyak nyamuk. Aku mau baca buku di rumah.”

“Oke, sayang.”

Mereka berjalan pulang sambil bergandengan hal langka yang Arka lakukan hanya saat ia benar-benar merasa aman. Tangan kecilnya hangat di genggaman Alya.

“Mama,” panggil Arka tiba-tiba.

“Ya?”

“Om Reyhan baik ya?”

Alya terkejut. “Kenapa tiba-tiba, sayang?”

“Dia kasih uang buat Mama. Berarti dia tanggung jawab atas kita. Itu ciri orang baik, kan? Aku baca di buku etika.”

Alya tersenyum miris. “Iya… Om Reyhan orang yang bertanggung jawab.”

“Tapi dia nggak sayang sama Mama ya?”

Hati Alya seperti dicubit. Ia berhenti berjalan, berlutut di depan Arka, menatap mata anaknya yang terlalu dewasa. “Arka, dengerin Mama baik-baik. Om Reyhan baik. Dia nikah sama Mama supaya kita punya rumah, kamu bisa sekolah di tempat bagus, dan kita nggak susah lagi. Itu sudah cukup buat Mama. Mama nggak butuh pelukan atau senyum setiap hari. Yang penting kita aman dan kamu bahagia.”

Arka menatap Alya lama. Lalu ia mengangguk pelan. “Oke, Mama. Kalau Mama bilang cukup, berarti cukup.”

Tapi Alya tahu, di balik mata itu, Arka tidak sepenuhnya percaya. Anak itu terlalu pintar untuk dibohongi dengan kata-kata manis.

Malam harinya, Reyhan pulang pukul sepuluh lewat. Langkahnya terdengar lelah saat membuka pintu. Dasi sudah dilepas, kancing atas kemeja terbuka, rambutnya agak berantakan karena angin malam. Alya sedang duduk di sofa ruang tamu, melipat pakaian Arka sambil menonton berita dengan volume kecil.

Reyhan berhenti sejenak di ambang ruangan, melihat Alya di sana. “Kamu belum tidur?”

“Arka baru tidur sejam lalu. Aku mau beresin cucian dulu.”

Reyhan mengangguk, lalu berjalan ke dapur. Saat membuka kulkas, ia terkejut. Isinya sekarang penuh: sayuran segar, buah-buahan, daging ayam dan ikan, telur, susu, bumbu-bumbu tertata rapi di rak. Reyhan menutup kulkas pelan, menatap Alya dari kejauhan.

“Kamu belanja banyak sekali?”

“Iya. Biar nggak bolak-balik ke minimarket. Aku masak di rumah saja, lebih sehat dan hemat.”

Reyhan diam sejenak. Lalu ia mengambil segelas air putih dan meminumnya perlahan. “Makan malam ada?”

Alya mengangkat wajah, tersenyum kecil. “Ada. Aku simpan di kulkas. Mau aku panaskan?”

“Nggak usah repot.”

“Nggak repot kok. Duduk saja dulu.”

Sebelum Reyhan sempat menolak, Alya sudah berdiri dan masuk ke dapur. Ia mengeluarkan kotak makanan, menuang nasi hangat, ayam goreng kriuk, tumis kangkung segar, dan tahu bacem ke piring. Microwave berbunyi pelan. Lima menit kemudian, makanan hangat tersaji di meja.

Reyhan duduk, menatap piring itu lama. “Terima kasih,” ucapnya pelan, hampir tak terdengar.

“Sama-sama,” jawab Alya sambil kembali ke sofa, melanjutkan melipat baju.

Reyhan makan dalam diam. Sendok dan garpu beradu pelan dengan piring. Ia menghabiskan semuanya tanpa meninggalkan remah. Tak ada percakapan. Tak ada senyum. Hanya dua orang asing yang kini tinggal satu atap, menjalani peran masing-masing dengan cara mereka sendiri. Tapi malam itu, entah kenapa, udara di rumah besar itu terasa sedikit lebih hangat daripada malam sebelumnya.

Di kamarnya tengah malam, Reyhan berbaring di ranjang king size yang dingin. Pikirannya tak bisa tenang campur aduk antara angka laporan keuangan, meeting besok, dan… wajah Alya. Senyum lembutnya saat meletakkan sarapan, tangannya yang lincah memasak, cara matanya menatap Arka penuh kasih sayang. Reyhan mengambil ponsel dari nakas, membuka folder foto lama yang jarang ia buka.

Foto seorang wanita muda dari enam tahun lalu muncul. Mahasiswi magang di perusahaannya dulu. Senyum hangatnya, mata yang berbinar penuh harapan. Wanita yang ia tinggalkan tanpa penjelasan karena takut dengan perasaan sendiri yang terlalu dalam. Reyhan memperbesar foto itu.

Lalu ia membuka galeri baru foto Alya yang ia ambil diam-diam saat proses lamaran kemarin, katanya untuk arsip pribadi. Ia menatap kedua foto itu bergantian.

Senyumnya… mirip. Cara mata menyipit saat tersenyum, garis bibir yang sama, bahkan lesung pipi kecil yang hampir tak terlihat. Alya Zahra.

Zara.

Reyhan mengerutkan kening dalam. Nama panggilan dulu adalah Zara. Nama lengkapnya… ia tak pernah tahu karena gadis itu pergi begitu saja setelah magang selesai. Tapi wajah ini. Suara ini. Cara memasak sederhana yang terasa familiar.

Tidak mungkin.

Reyhan menutup ponsel, memijat pelipisnya yang berdenyut. Besok. Besok ia akan cari tahu. Karena kalau ini benar, maka pernikahan kontrak ini bukan sekadar kebetulan. Ini mungkin takdir yang sedang bermain-main dengan hatinya yang sudah lama beku.

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!