Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.
Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...
Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~2 Sumpah dibalik cadar
Namun nampaknya Raja Batara tidak gentar, beliau tetap tenang duduk anteng bahkan ia mengatur nafasnya dalam agar saat bicara dengan Raja Gustaf tidak terbata.
"Aku datang untuk memenuhi undangan mu. Aku tidak marah sama sekali saat kau sengaja memenggal kepala putraku, namun aku malah bangga dengannya, karena ia bukanlah seorang pengecut yang hanya bisa menyerang lawannya dari belakang." kata Raja Batara, ia masih nampak tenang.
Mantri Raja Gustaf langsung mengacungkan pedang ia nampak tidak terima dengan ucapan Raja Batara, namun Raja Gustaf menahannya ia juga kembali tersenyum sinis.
"Haruskah aku merayakan kekalahan mu, yang mulia Raja Batara?" Raja Gustaf memiringkan wajahnya, ia menatap kearah Raja Batara, senyumannya seolah mengejek.
Raja Batara menarik nafas dalam, ia masih tetap tenang, karena sekali ia bertindak gegabah, semuanya akan berantakan.
"Aku datang kesini bukan untuk beradu argumen denganmu Yang Mulia Raja Gustaf. Aku datang kesini untuk memintamu, agar engkau membebaskan kedua putraku yang kau tawan."
Raja Gustaf masih memandang ke arah Raja Batara tajam, namun senyuman di sudut bibirnya masih terlihat jelas menyatakan kalau ia adalah Raja yang angkuh dan juga kejam.
"Aku bisa saja membebaskan kedua Putramu. Asalkan kau mau memenuhi persyaratan ku." kali ini Raja Gustaf sama sekali tidak tersenyum, sorot matanya nampak begitu dingin.
"Katakan syarat apa yang kau mau?" tantang Raja Batara, sejujurnya ia begitu muak dengan Raja Gustaf.
"Aku mau separuh tanah Candra menjadi kekuasaan ku! Dan aku mau selama aku berada di sini kau harus memenui semua kebutuhan ku, dan para prajurit ku!" permintaan Raja Gustaf begitu pesimistis, karena ia sebenarnya hanya mengulur waktu, bahkan sama sekali tidak berniat akan membebaskan Pangeran Mahesa dan Kudus.
Awalnya mantri yang dibawa Raja Batara menentang itu, namun Raja Batara mengiyakan. "Baik tidak masalah. Asalkan yang mulia membebaskan langsung Pangeran Kudus dan Mahesa." Raja Batara menegaskan itu.
Namun Raja Gustaf terbelalak ia tidak menyangka jika pria tua yang ada di hadapannya juga sebenarnya sangatlah cerdik.
"Tidak! Aku menolak akan hal itu, jika selama lima hari. Anda tidak mau memberi persediaan pangan dan juga koin emas. Aku tidak akan membebaskan anak-anak. Anda semudah itu." ancam Raja Gustaf.
Raja Batara terdiam sejenak, ia tidak berpikir panjang, ia langsung mengiyakan keputusan Raja Gustaf, meskipun mentri dan penasihat yang Raja Batara bawa merasa kecewa namun Raja Batara berharap kalau Raja Gustaf bukanlah seorang Raja yang ingkar janji.
Setelah tawar menawar itu selesai, Raja Batara keluar dari dalam ruangan Raja Gustaf, dan lima hari lagi putranya akan kembali.
"Aku berharap semoga saja Raja Gustaf tidak akan ingkar janji." kata Raja Batara saat sudah menaiki tandu bersama mantrinya.
"Tapi kenapa Yang Mulia menyetujui permintaan konyol Raja Gustaf, Yang Mulia? Maaf jika saya lancang. Saya curiga jika sudah tiba masanya selama lima hari itu. Raja Gustaf malah menyerang kerajaan Candra Yang Mulia?" mantri Candra, nampak begitu gelisah saat tahu kalau Raja Batara mengiyakan kemauan Raja Gustaf.
"Kalau begitu selama lima hari ini juga kita harus membuat strategi, dan menyiapkan persiapan matang-matang. Supaya jika mara bahaya itu datang kita tidak akan kalah lagi dalam pertempuran." kata Raja Batara, dengan serius.
Tanpa sadar pembicaraan mereka di dengar oleh Layla yang sedari tadi bersembunyi dibalik batu. "Dasar pria pengecut!" tanpa sadar tangan Layla berdarah karena ia menggenggam pedang tajam di tangannya.
Layla sampai tidak sabar menunggu malam itu tiba, dan ia sudah sangat menunggu lama berharap malam menjemput dan ia bisa segera memenggal kepala Gustaf
"Luka ini tidak seberapa dengan duka yang sudah kau berikan pada keluarga Candra, Gustaf!" Layla langsung menutup tanganya yang berdarah dengan kain.
Malam telah tiba, disaat para Prajurit berjaga di tempat perkemahan Raja Gustaf, Layla diam-diam menyelinap masuk kedalam tenda Raja Gustaf, berharap ia bisa langsung membunuh pria itu.
Di dalam ranjangnya, terlihat Raja Gustaf sedang berbaring, matanya sudah terpejam, namun sebagai seorang Raja yang biasa tahu jika sesuatu telah mengancamnya, meskipun matanya terpejam namun ia bisa mendengar suara jejak kaki di sekelilingnya.
Karena dalam hitungan detik Layla sudah melayakan pedang, ia hendak menebas leher Raja Gustaf.
"Demi nama jagat dewa Bathara. Aku bersumpah akan menebas lehermu, karena kau telah merebut kebahagian kakaku!" batin Layla dengan semangat yang menguak.
Namun dalam hitungan detik mata Raja Gustaf terbuka lebar, ia menatap kearah Layla yang wajahnya tertutup rapat.
Dengan sigap Raja Gustaf langsung mengangkat pedangnya, menangkis serangan pedang yang dilayangkan oleh Layla, Raja Gustaf langsung beranjak dari tempatnya. Ia langsung beradu pedang dengan Layla, karena Layla menyerangnya begitu berutal.
"Siapa kau?!" Raja Gustaf menata Layla penuh intimidasi, saat pedang keduanya saling menekan, hingga mengeluarkan percikan api halus, di dalam tenda.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku! yang aku mau adalah kepalamu!" Layla mengatakan itu secara gamblang.
Raja Gustaf tersenyum bengis, ia masih berusaha melawan serangan Layla. "Rupanya, kau seorang wanita?!" dengan sigap Raja Gustaf langsung menarik cadar yang menutupi wajah dan kepala Layla.
Seketika itu juga rambut Layla yang panjang langsung tergerai, sekilas Raja Gustaf terpaku akan hal itu, ditambah Raja Gustaf berhasil melihat mata Layla yang begitu indah.
Dengan sigap Layla langsung kembali menarik kain panjangnya untuk menutupi wajahnya kembali, ia segera pergi dari tempat itu saat mendengar suara jejak kaki nampak berbondong-bondong mendatangi tenda Raja Gustaf.
"Yang Mulia, apakah anda baik-baik saja?" tanya salah satu penjaganya, dan ia berniat akan mengejar Layla.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu kau kejar biarkan saja." kata Raja Gustaf, bibirnya seketika tersenyum samar
"Tapi Yang Mulia, jika dia datang lagi bagimana? Jika dia mengancam keselamatan yang mulia?"
"Kalau begitu apa gunanya kalian disini, ada penyusup masuk tapi kalian tidak jeli memperhatikan ku! Aku seorang Raja. Aku mampu melindungi diriku sendiri." Raja Gustaf menatap kearah mereka bergantian.
Setelah para pengawalnya telah pergi dari dalam tendanya, Raja Gustaf menatap bekas luka pedang di telapak tangannya.
"Siapa wanita itu? Kenapa ia berani sekali melawan ku, seorang diri?!" Ia kembali tersenyum samar, kecantikan Layla benar-benar menghipnotis dirinya.
"Surya... Tolong kau pangilkan Pena untuk datang menghadap ku!!!" pekik Raja Gustaf, ia memangil mantrinya.
"Baik Yang Mulia." Surya diminta memangil pelukis ternama yang mampu melukis dari cerita saja tanpa melihat targetnya langsung.
Tidak berselang lama Pena datang menghadap Raja Gustaf. "Pena... Tolong kau buatkan aku gambaran..." Raja Gustaf menceritakan pada Pena ciri-ciri wajah yang akan di gambarnya.