Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke Jakarta
Pukul 03.30 – Dalam Bus Menuju Jakarta
Lampu redup di dalam bus membuat segalanya tampak seperti mimpi buruk yang berusaha berubah jadi mimpi baik. Cantika bersandar di jendela, matanya terasa berat, tapi pikirannya terlalu gaduh untuk tidur.
Suara mesin bus berdengung rendah, getarannya membuat kepala Cantika sedikit pusing. Tapi pusing itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa takut yang terus menempel di dadanya seperti cap panas yang tak bisa hilang.
Ia menggenggam ponselnya erat. Pesan untuk Rani sudah terkirim, tapi belum dibalas. Mungkin sahabatnya itu sudah tidur. Atau sedang lembur. Rani memang sering lembur di tempat kerja.
Cantika menghembuskan napas pelan. Rasanya tidak percaya ia benar-benar kabur dari rumah itu. Rumah yang selama dua tahun menjadi tempatnya hidup… tapi bukan tempat ia merasa aman.
Gubuk itu tidak pernah benar-benar menjadi “rumah”.
Tiba-tiba, bayangan wajah Lastri muncul di benaknya,saat mata melotot, suara cemprengnya yang selalu memerintah. Cantika spontan memeluk tasnya, seolah-olah dari dalam tas itu ada jawaban tentang masa depannya.
“Aku sudah pergi,” gumamnya lirih, hampir seperti mantra. “Aku sudah jauh sekarang.”
Bus perlahan bergerak keluar dari terminal, meninggalkan kota kecamatan yang sunyi. Cahaya lampu-lampu jalan bergeser mundur, satu per satu, seperti kenangan yang mulai ia tinggalkan.
Namun, tepat saat matanya mulai mengantuk, ponselnya bergetar.
Rani: “Astaga, Tik! Kamu kabur?! Kamu aman nggak? Kamu di mana sekarang?”
Cantika cepat mengetik.
Cantika: “Di bus. Mau ke Jakarta. Aku takut, Ran…”
Balasan Rani datang hampir seketika.
Rani: “Bagus kamu kabur! Kamu nggak apa-apa? Lastri nyariin kamu nggak?”
Cantika: “Kayaknya belum sadar.”
Rani: “Kamu tenang aja. Begitu nyampe Jakarta, langsung kabari aku. Aku jemput kamu.”
Cantika menggigit bibir, matanya panas. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada orang yang ia percaya dan yang percaya padanya.
Rani.
Hanya satu orang itu.
Rasa syukur membuat dadanya terasa sesak. Ia menunduk pelan, membiarkan air mata menetes tanpa suara.
---
Pagi Hari – Bus lampung –Jakarta
Bus terus melaju, melewati kabut pagi dan heningnya jalanan yang masih basah. Cantika akhirnya tertidur setelah hampir satu jam mencoba memejamkan mata.
Namun, tidur itu tidak nyenyak.
Ia bermimpi.
Dalam mimpinya, Lastri menyeretnya kembali, memaksanya memakai kebaya itu lagi. Juragan Somad berdiri di depan pintu, tertawa dengan suara berat, sambil berkata,
“Cantika, kau sudah jadi milikku. Kembali sini.”
Cantika terbangun dengan napas tersengal. Dahinya berkeringat, jari-jarinya dingin. Ia menatap keluar jendela, memastikan dirinya benar-benar jauh dari desa.
Sinar matahari pagi menembus kaca bus, menerangi wajahnya. Walau matanya sembab, ada sedikit ketenangan ketika melihat cahaya itu.
“Aku bebas sekarang…” bisiknya, entah untuk dirinya sendiri atau untuk dunia.
Tapi dalam hati, ia tahu kebebasan itu baru permulaan dari perjalanan panjang yang ia bahkan belum mengerti arahnya.
---
Sampai di Terminal Kampung Rambutan
Waktu menunjukkan pukul 10.45 saat bus akhirnya berhenti di Terminal Kampung Rambutan. Suara klakson, teriakan pedagang asongan, dan deru kendaraan langsung menyambut Cantika.
Bagi gadis desa seperti dirinya, semua ini terasa seperti dunia lain.
“Aduh… rame banget,” gumam Cantika sambil turun dari bus.
Tangannya sedikit gemetar karena gugup. Ia merapatkan ranselnya ke dada.
Ponselnya berbunyi.
Rani: “Aku dekat pintu utama, pake baju abu-abu. Kamu hati-hati ya!”
Cantika menyeruak di antara kerumunan orang yang berjalan cepat, para sopir yang menawarkan tumpangan, dan pedagang yang menawarkan air mineral.
Hingga akhirnya, ia melihat sosok itu.
Rani.
Rambut pendek, jaket abu-abu, dan senyum lega yang langsung membuat dada Cantika mencair.
“CANTIKA!” Rani berlari memeluknya. Pelukannya hangat, kuat, dan sungguh-sungguh membuat Cantika hampir menangis lagi.
Cantika mengusap air matanya cepat-cepat. “Maaf, Ran… aku nyusahin kamu…”
Rani menoyor kening Cantika pelan. “Eh, ngomong apa kamu? Nggak ada istilah nyusahin! Kamu sahabat aku dari kecil! Udah, ayo. Kita pergi dari sini dulu.”
---
Di Dalam Mobil Online
Rani memesan mobil online dan mereka duduk di kursi belakang. Cantika menatap keluar jendela, melihat gedung tinggi, toko-toko besar, dan orang-orang yang berjalan cepat.
“Jakarta… besar banget ya…” gumamnya.
Rani tersenyum. “Iya. Tapi kamu jangan takut. Jakarta memang keras, tapi selama kita bareng-bareng, kamu bakal bisa hidup dengan baik di sini.”
Cantika menoleh pada Rani. “Ran… kalau aku nantinya nggak keterima kerja… kalau aku cuma merepotkan kamu…”
“Kamu nggak merepotkan!” Rani memotong kalimat itu tegas. “Lagian kamu bisa bantu-bantu di katering tempat aku kerja. Bos aku orangnya baik. Dia sering nerima pegawai dari desa. Gajinya emang nggak wah, tapi lumayan buat awal.”
Cantika mengangguk pelan, rasa haru kembali menggenang.
“Terima kasih, Ran…”
Rani menepuk lutut Cantika. “Udah, jangan banyak terima kasih. Kamu tuh sahabat aku. Kalo aku di posisi kamu, kamu pasti juga bakal ngelakuin hal yang sama.”
Cantika tersenyum kecil, senyum yang sejak lama tidak ia rasa tulus dari hatinya.
---
Kos Rani, Jakarta Timur
Kos Rani terletak di gang kecil tapi bersih. Lingkungannya ramai tapi terasa aman. Rani membuka pintu kamar kosnya,kamar mungil berukuran 3x3 meter dengan kasur single, kipas angin, dan meja kecil di pojok.
“Maaf ya, sempit…” Rani menggaruk kepala.
Cantika menggeleng cepat. “Ran, ini… lebih dari cukup. Aku aja ngerasa kayak mimpi bisa tidur di tempat sebersih ini.”
Rani terkekeh. “Ya ampun… kayak orang masuk hotel aja.”
Mereka tertawa bersama, sesuatu yang sudah lama tidak dilakukan Cantika.
Rani mengambil kasur lipat dari sudut ruangan. “Kamu tidur di sini dulu. Nanti kalo kamu udah kerja dan punya gaji, kita cari kos bareng. Yang lebih gede.”
Cantika langsung menggeleng kuat. “Ran, nggak usah! Aku tidur di lantai juga nggak apa-apa. Aku udah terlalu banyak merepotkan kamu.”
“Kamu masih mau ngomong gitu? Sini naik kasurnya!” Rani menunjuk kasur utama. “Aku yang tidur di kasur lipat.”
“Ran, jangan…”
“Aku gampar nanti.”
Cantika hanya bisa pasrah. “Oke, oke…”
Rani menghela napas lega, lalu mengambil air minum dan menyerahkannya.
“Sekarang cerita. Semua dari awal. Aku mau tahu semuanya.”
---
Cerita Mengalir — Luka yang Terbuka
Butuh waktu hampir satu jam bagi Cantika menceritakan dari awal: sejak ayahnya meninggal, perlakuan Lastri, pekerjaan kasar, hinaan, hingga rencana pernikahan paksa dengan Juragan Somad.
Rani mendengarkan tanpa memotong, hanya sesekali menggenggam tangan Cantika ketika kisahnya semakin berat.
Saat cerita itu berakhir, Rani berdiri sambil berkacak pinggang.
“Gila! Itu manusia apa singa buas?! Masa mau nikahkan kamu sama kakek-kakek? Itu namanya jual manusia, Tik!”
Cantika tertunduk. “Aku takut Ran… takut Lastri bakal nyari aku ke sini…”
Rani mendengus. “Biarin aja! Dia mau nyari kamu di Jakarta? Jakarta itu gede banget, Tik. Dia mau nyari kamu dimana? Di Monas? Di Ragunan? Atau di Pelabuhan Sunda Kelapa?”
Cantika tidak bisa menahan tawanya. Tawa kecil, tapi jujur. Rani selalu berhasil membuat suasana berat terasa lebih ringan.
“Tapi aku serius ya, Tik,” lanjut Rani sambil duduk kembali. “Mulai hari ini kamu hidup baru. Kamu bukan budaknya Lastri lagi. Kamu juga bukan calon istri Juragan Somad. Kamu itu Cantika. Cantika yang pinter, cantik, dan punya masa depan.”
Cantika merasa kata-kata itu masuk ke hatinya seperti cahaya yang sudah lama ia cari.
Masa depan.
Ia nyaris lupa ia masih punya itu.
---
Sore Hari – Hari Pertama di Jakarta
Rani mengajak Cantika keluar membeli makan. Di warung dekat gang, mereka memesan nasi ayam geprek.
Cantika menggenggam sendok dengan tangan bergetar kecil. “Ran… aku masih kayak mimpi. Aku takut besok aku bangun dan kembali di rumah itu.”
Rani tersenyum lembut. “Kalau kamu bangun besok, kamu bakal bangun di sini. Di Jakarta. Di kamar kos aku. Sama aku. Kamu aman, Tik.”
Cantika mengangguk pelan, meneteskan air mata yang tidak bisa ia tahan.
“Aku… belum pernah seaman ini sejak Ayah meninggal.”
Rani menepuk punggungnya pelan. “Mulai sekarang, kamu aman setiap hari. Aku janji.”
---
Malam Hari dan Langkah Pertama
Setelah makan, mandi, dan beres-beres, Rani menunjukkan ponselnya.
“Tik, besok kamu ikut aku ke tempat kerja. Aku udah bilang sama bos, ada temen aku yang mau bantu-bantu. Dia bilang boleh dicoba dulu.”
“Beneran boleh?” Mata Cantika membesar.
“Iya. Kerjaannya lumayan sih, kadang capek, tapi kamu kuat kan?”
Cantika mengangguk cepat. “Ran, selama ini aku cuci piring satu desa. Masak buat Lastri. Nyapu lantai tanah. Kerja apa pun aku siap.”
Rani tertawa. “Nah, itu dia! Semangat kamu tuh yang aku kangenin.”
Cantika tersenyum malu. “Aku cuma… pengen hidup normal, Ran.”
“Dan kamu bakal dapetin itu.”
Cantika naik ke kasur, memeluk bantal yang harum sabun cuci Rani. Sementara Rani merebahkan diri di kasur lipat.
Lampu kamar dimatikan.
Keheningan mengisi ruang kecil itu.
Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu sangat lama, keheningan itu terasa… damai.
Cantika menatap langit-langit, membiarkan napasnya menjadi teratur. Besok hidup barunya akan dimulai.
Ia tidak tahu akan seperti apa masa depannya.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Cantika berani berkata pada dirinya sendiri:
“Aku bisa hidup… Aku bisa bahagia…”
Dan perlahan, matanya terpejam.
Bukan karena lelah.
Tapi karena hati yang mulai menemukan tempatnya.