Dikhianati oleh sahabatnya sendiri dalam misi rahasia, Xiao Su tewas dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.
“Kenapa…?”
“Karena kau menghalangi jalanku.”
Ia mengira kematian adalah akhir.
Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan yang dihina semua orang — Xiao Mei.
Wajah buruk rupa. Tubuh lemah. Keluarga penuh kepalsuan.
Saudari tiri yang menginginkan kematiannya. Tunangan yang memandangnya dengan jijik. Dunia kuno yang kejam dan penuh intrik.
Tapi mereka tidak tahu…
Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi Xiao Mei yang lemah.
Ia adalah Xiao Su. Seorang wanita modern yang tak akan membiarkan dirinya diinjak dua kali.
Kali ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup — Ia akan mengubah takdir. Menghancurkan mereka yang meremehkannya.
Dan membuktikan bahwa bahkan wanita yang disebut “buruk rupa” pun bisa menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Karena untuk kedua kalinya… Ia tidak akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cute women, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI BARU
“Ia tidak terlahir kembali untuk hidup tenang. Ia terlahir kembali untuk menang.”
Happy reading>.<....
.
Fajar bahkan belum menyentuh langit ketika Xiao Mei sudah berdiri di halaman Paviliun Mawar.
Udara dini hari menggigit kulitnya, dingin dan lembap. Embun masih menggantung di ujung dedaunan.
Namun rasa dingin itu tak seberapa
dibanding kenyataan hidup barunya.
Ia mulai berlari.
Langkah pertama terasa ringan.
Putaran kesepuluh masih terkendali.
Namun saat mencapai putaran ketiga puluh, napasnya mulai memburu.
Tubuh ini terlalu lemah.
Kakinya gemetar. Paru-parunya terasa seperti terbakar. Jantungnya berdetak tidak stabil.
Ia berhenti sejenak, menatap kedua tangannya.
Tubuh ini… jauh berbeda dari tubuhnya di dunia modern.
Rapuh. Tak terlatih. Mudah goyah.
Jika tetap seperti ini, ia akan kembali menjadi korban.
Xiao Mei menarik napas panjang.
Ia pernah ditembak oleh orang yang ia percaya sepenuh hati.
Ia pernah merasakan darahnya sendiri mengalir hangat di ujung jari.
Rasa lelah bukan apa-apa.
Tanpa ragu, ia kembali berlari.
Cklek.
“Nona waktunya ba—” suara Fu Xian terhenti ketika melihat nona mudanya sudah berdiri tegak di halaman.
Mata pelayan itu membulat. “Nona… Anda sudah bangun?”
Xiao Mei menoleh santai. “Memangnya kenapa?”
“N-nubi hanya terkejut. Biasanya nona tidak bangun sebelum matahari tinggi…”
“Mulai sekarang akan berbeda,” jawab Xiao Mei singkat. “Siapkan air hangat. Aku ingin mandi. Tambahkan bunga mawar. Dan… tolong carikan aku kunyit, jahe, serta kayu manis.”
Fu Xian tampak semakin bingung, tetapi ia tetap menunduk patuh. “Baik, nona.”
Aroma mawar memenuhi ruangan saat Xiao Mei berendam.
Ia memandangi bayangannya di permukaan air.
Jerawat besar bernanah masih menghiasi wajah itu. Kulit kusam, bekas racun yang mengendap terlalu lama.
Ini bukan sekadar masalah penampilan.
Ini racun.
Racun yang perlahan merusak tubuh dari dalam.
Setelah berpakaian, ia menuju dapur kecil di paviliun. Dengan tenang ia menghaluskan kunyit, mencampurnya dengan jahe dan kayu manis yang sudah direbus.
Aroma hangat rempah memenuhi udara.
Ia mengoleskan campuran itu ke wajahnya tanpa ragu.
Perih.
Sedikit panas.
Namun ia tidak mengeluh.
Di dunia lamanya, racunnya bernama pengkhianatan.
Di dunia ini, racunnya benar-benar bersarang di tubuhnya.
Jika ingin bertahan, ia harus membersihkannya.
“Fu Xian.”
“Ya, nona?”
“Sebarkan kabar bahwa aku terkena penyakit menular dan tidak boleh diganggu selama satu bulan.”
Fu Xian terperanjat. “P-penyakit menular?”
Xiao Mei menatapnya tenang. “Anggap saja begitu. Aku tidak ingin ada yang masuk ke paviliun ini tanpa izinku.”
Pelayan itu ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk. “Baik, nona.”
Begitu Fu Xian pergi, Xiao Mei tersenyum tipis.
Isolasi adalah perlindungan terbaik.
Selama sebulan ini, tidak ada yang akan memperhatikannya.
Dan justru di balik pintu tertutup itulah, ia akan membangun dirinya kembali.
Selain perawatan, ia mulai membaca.
Buku sejarah keluarga Xiao terhampar di hadapannya.
Keluarga Xiao adalah keluarga Marquis di Kekaisaran Wang, gelar yang diperoleh dari jasa besar leluhur mereka dalam menumpas pemberontakan di wilayah utara.
“Jadi keluarga ini berdiri di atas darah perang…” gumamnya pelan.
Kekuasaan. Tanah. Reputasi.
Semua itu berarti satu hal—intrik.
Ia menutup buku itu perlahan.
Jika keluarga ini memiliki musuh politik, maka tubuh yang kini ia tempati pasti tidak hidup dalam kedamaian.
Ia perlu mengetahui reputasinya.
Apakah Nona Ketiga ini disukai?
Atau justru dibenci diam-diam?
Ia tidak boleh melangkah sembarangan.
Tubuh boleh berubah.
Tapi strategi harus disusun sejak awal.
Hari berganti minggu.
Paviliun Mawar tetap tertutup.
Di mata keluarga Xiao, Nona Ketiga hanyalah gadis buruk rupa yang mengurung diri karena penyakit memalukan.
Tak ada yang peduli.
Tak ada yang datang menjenguk.
Justru itu yang ia inginkan.
Setiap pagi ia berlari hingga kakinya tidak lagi gemetar.
Setiap malam ia meracik ulang ramuan, membiarkan racun keluar perlahan melalui keringat dan luka kecil yang mengering.
Jerawat mulai menyusut.
Kulit kusam perlahan cerah.
Tubuh yang dulu lemah kini terasa lebih ringan.
Namun perubahan terbesar bukan pada wajahnya.
Melainkan pada sorot matanya.
Tatapan itu tak lagi kosong dan penuh rendah diri.
Kini tajam. Terukur.
Seperti seseorang yang menunggu waktu tepat untuk bergerak.
Sebulan kemudian.
Pintu Paviliun Mawar akhirnya terbuka lebih lama dari biasanya.
Fu Xian yang masuk dengan nampan sarapan mendadak terdiam.
“Nona…”
Suara itu hampir tak terdengar.
Wajah di hadapannya bersih. Kulitnya halus tanpa noda. Rambut hitam panjang jatuh lembut di punggungnya.
Namun yang membuat Fu Xian tercekat bukanlah kecantikan itu.
Melainkan aura yang berbeda.
Tenang. Dingin. Berwibawa.
Seolah-olah gadis di depannya bukan lagi Nona Ketiga yang dulu ia kenal.
Xiao Mei tersenyum tipis.
“Kenapa menatapku seperti itu?”
“A-anda… sangat berbeda, nona.”
Xiao Mei menatap pantulan dirinya di cermin.
Racun telah hilang.
Tubuh ini tidak lagi lemah.
Ia menutup buku sejarah yang sempat ia baca semalam.
Kini saatnya mempelajari musuh secara langsung.
Dan ketika ia melangkah keluar dari paviliun ini nanti—
Tidak seorang pun akan siap menghadapi dirinya yang baru.
BERSAMBUNG......
_____________________________
Jika kamu menyukai kisah ini, jangan lupa dukung dengan vote dan komentar 💜🎉💯