Seina, adalah seorang gadis kampung yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan, dia dari keluarga baik-baik, dia juga mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya, namun dia harus kehilangan anggota keluarganya karena sebuah bencana.
Seina pun satu-satunya yang selamat dan dibawa ke tempat pengungsian oleh para relawan, gadis itu cukup terpuruk dengan nasibnya, namun dia tetap harus menjalani hidupnya.
Karena yang bernasib sama dengannya itu juga cukup banyak.
Hal itu membuatnya bangkit dan merangkul anak-anak yang bernasib sama dengannya.
Suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita cantik jelita, dari atas kepala sampai bawah kakinya, terlihat bernilai mahal, bahkan kibasan rambutnya pun berbau dollar.
"Jadi kamu ya Seina?" tanya wanita itu dengan angkuh.
"Ya, ada apa Nyonya?" tanya balik Seina.
Wanita itu segera membuka koper besar, dan di sana terlihat sangat banyak tumpukkan uang.
"Aku sewa rahimmu!" Tegas wanita itu.
Yuk kepoin baca lanjutannya 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie Alfredo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Keputusan
" Kalau mencari rahim pengganti aku setuju, tapi kalau mengangkat anak aku tidak setuju!" tegas Olive.
Olive pun segera pergi.
" Matthew..." Gladys mengejar Matthew yang masuk ke dalam kamarnya.
" Sayang, apa kau gila?, siapa yang akan menjadi ibu dari anakku?, kita adopsi saja." ujar Matthew.
" Aku sudah menemukan wanita yang akan mengandung anakmu, tidak anak kita." ujar Gladys tampak bersemangat.
" Kau sungguh ingin melempar ku pada wanita lain?" ujar Matthew tampak kesal.
" Itu kan hanya dilakukan sekali saja, aku tidak apa-apa jika hanya sekali saja." ujar Gladys
" Kalau dengan IUI juga bisa aku tidak usah menyentuh wanita itu kan?" ujar Matthew.
" Benar, aku tidak terpikirkan hal itu, Ibumu meminta anak 3 atau 4, kalau dengan IUI mungkin bisa punya anak kembar kan?" Ujar Gladys
" Kalau begitu tidak masalah." ujar Matthew.
" Aku akan membawa wanita yang baik dan cantik agar anak kita juga sempurna." ujar Gladys tampak sangat senang.
Akhirnya penderitaan dicerca soal anak tidak akan lagi terjadi.
" Untuk itu aku serahkan padamu sayang." ujar Matthew.
Matthew juga merasa lega karena pada akhirnya ada jalan keluar untuk meredakan hawa panas di keluarga Howard
2 Minggu kemudian.
" Semua sudah beres Nyonya, tinggal kita tunggu reaksi anak itu." ujar Farid.
" Bagus, aku ingin lihat apa iya dia akan menyerah peduli pada anak-anak itu, apalagi pemerintah sangat tidak memandang tempat itu karena memang dalam segala aspek tidak bisa diperbaiki." ujar Gladys
Di tenda pengungsian.
" Ah, aku ingin pulang, di sini bahkan tidak mendapatkan pasokan air bersih untuk makan dan minum, penyakit semakin tidak teratasi, bantuan terus terlambat, sudah banyak sekali nyawa yang terancam, aku tidak kuat." ujar salah satu rekan Seina.
" Aku sudah meminta tolong pada temanku untuk menyampaikan permohonan pada para petinggi." ujar Seina.
" Ini sudah yang ke berapa Seina?, tidak ada kan balasan?, jika tidak ada bantuan dari masyarakat kita benar - benar akan mati." ujar rekannya.
Seina pun menunduk, itu memang sangat menyedihkan.
" Tolong, ada pengungsi yang bertengkar karena merebut jatah makan orang lain." teriak seseorang.
Seina dan rekan-rekannya berlari menuju tenda, benar saja tempat itu sudah seperti kapal pecah, semua barang pecah dan makanan berserakan karena perkelahian.
Padahal itu adalah jatah makan terakhir mereka hari itu.
Anak-anak banyak yang menangis karena kelaparan.
" Gila, ..." teriak rekan Seina frustasi.
Seina pun kebingungan melihat kekacauan yang ada, jika mereka kelaparan seperti ini, keadaannya tidak akan kondusif.
Dia juga belum mendapatkan kabar dari rekannya.
Setelah semua kekacauan teratasi.
" Kak, bukankah kau pernah melahirkan?" tanya Seina tiba-tiba pada rekannya yang sudah berumah tangga.
" Seina, apa yang kau bicarakan, tiba-tiba sekali?" tanya rekannya.
" Hehe, hanya penasaran saja." ujar Seina meringis.
" Yah aku pernah apa kau penasaran akan rasanya?" tanya balik rekannya.
" Iya kak." jawab Seina semangat.
" Itu sangat luar biasa karena kita bertaruh nyawa dalam memberikan kehidupan pada anak kita, oh apa kau mau menikah?" tanya rekan Seina.
" Hahaha mana mungkin?, aku masih terlalu muda, apa itu sangat sakit kak?" tanya Seina lagi.
" Iya, tapi sakitnya akan hilang saat kita melihat anak kita lahir dengan sehat dan selamat." ujar rekannya.
" Begitu ya, nanti kau akan tahu rasanya Seina, sekarang kau nikmati masa muda mu dulu, kau sangat cantik dan pintar, lalu kau juga baik hati sekali, semoga kau dapat pria yang sangat tulus mencintaimu." ujar rekannya.
" Aamiin, terimakasih kak." Seina tersenyum ringan dan kembali tenggelam dalam pikiran yang kacau.
Haruskah aku?
Seina terus berpikir keras.
Temannya datang lagi membawa kabar tak baik.
" Sudah kita tidak akan tertolong, jalan untuk mengirim bantuan tiba-tiba di tutup." ujar rekannya sangat putus asa.
Mereka semua adalah relawan yang mengabdi sepenuh hati dalam menangani para pengungsi yang terkena bencana.
Semua orang menangis, apalagi para pengungsi juga terus kelaparan dan semakin tidak kondusif dan bayi-bayi juga tidak memiliki asupan makanan yang layak.
" Masak bayi 5 bulan harus kita kasih makan mie instan?, tidak ada beras untuk membuat Tajin." Ujar seseorang relawan.
" Aku akan pergi meminta bantuan." Seina segera berlari menuju jalan perbatasan, dia tahu di mana kediaman Howard, kediaman yang sangat besar sekali di pinggiran kota.
Ternyata cukup jauh, Seina sesekali berhenti sebentar untuk mengatur nafasnya, lalu berlari lagi.
Dia tidak bisa tinggal diam, bagaimana jika ada anak mati lagi karena kelaparan.
Pukul 6 pagi Seina sampai di depan kediaman Howard, sungguh perjalanan yang panjang.
Seina langsung menekan bel pada dinding dekat pintu.
Seorang penjaga membukakan pintu gerbang dan sangat terkejut karena tiba-tiba Seina jatuh terduduk terkulai lemas di depan gerbang.
" Eh siapa kau nak?, apa ada perlu?" tanya penjaga.
" Tolong pertemukan saya dengan Nyonya Gladys Howard." ujar Seina lemas.
" Ada apa?" Matthew yang baru saja akan keluar untuk joging di pagi hari.
" Dia mencari Nyonya Gladys Tuan." jawab penjaga itu.
Matthew terkejut, karena anak itu tampak Kumal, istrinya sangat pemilih dalam berteman, dan anak itu sangat muda sekali, tidak mungkin istrinya berteman dengan anak-anak.
" Kasih air dulu Pak, coba tanyakan Nyonya dia kenal dengan anak ini tidak." Ujar Matthew lanjut untuk melakukan jogging.
Penjaga itu segera menemui Gladys.
Mendengar penjaga menyebutkan namanya Seina, penjaga itu pun langsung diminta untuk membawa Seina masuk dengan senang.
Seina pun di papah masuk ke dalam rumah, Gladys sudah sangat tak sabar mendengar apa permintaan anak itu.
" Katakan apa ada yang kau inginkan?" tanya Gladys tidak basa-basi.
" Tolong pindahkan para pengungsi dan juga berikan bantuan terbaik, susu, obat pakaian, pangan dan tempat yang nyaman untuk mereka." ujar Seina dengan lemas.
" ACC, Bibi tolong bawa dokter untuk memeriksa anak ini dengan baik chek semua kesehatannya jangan terlewatkan, berikan pakaian, makan dan dandani dengan cantik." ujar Gladys sangat senang.
Seina pun di bawa untuk di mandikan lalu ganti pakaian dan diperiksa.
Seina mengalami dehidrasi tinggi karena menempuh perjalanan dengan jalan kaki sejauh 20 km.
" Semuanya aman Nyonya, anak ini harus istirahat dan mendapatkan makanan dan minuman yang baik dan cukup." ujar dokter.
" Hem, ya biarkan dia istirahat, terimakasih dokter." ujar Gladys.
Dokter itu pun undur diri.
" Farid, cepat kau bantu mereka untuk ke tempat singgah dan panti asuhan milik Howard secara merata." ujar Gladys.
Farid pun segera melaksanakannya.
" Sayang, kau tampak senang pagi ini?" Matthew yang baru pulang dari jogging nya.
" Ya, sayang kau cepat ganti pakaian rapi, aku ada kejutan untukmu." ujar Gladys sangat senang.
" Wah apa itu, aku akan segera kembali." Matthew pun bergegas ganti pakaian, setelah itu menyusul ke ruang tamu.
" Apa itu kejutannya?" tanya Matthew penasaran.
" Bawa anak itu ke sini Bi." ujar Gladys.
Bibi itu pun segera membawa Gladys yang sudah di dandani dengan sangat cantik, aura anak orang kayanya malah terpancar setelah di sulap dalam sekejap.
" Ini siapa?" Matthew pun sampai tidak menyadari jika gadis itu adalah gadis yang sama yang tadi dia temui.
" Dia yang akan menggantikan rahimku." jawab Gladys
" Apa?" tentu saja Matthew terkejut, anak itu masih sangat belia, tidak perlu tanya umur pun Matthew tahu dia masih bau kencur.
semangat seina, semoga author cepat membuat bahagia 🤣