NovelToon NovelToon
The Death Mirror

The Death Mirror

Status: tamat
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Model / Obsesi / Tamat
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Richest

Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.

Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.

Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.

Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.

Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?

Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

*Dua tahun kemudian*

Acara pernikahan Edward dan Kim sedang berlangsung. Michelle sengaja datang telat agar tidak melihat proses nya yang cukup lama.

Dia datang saat kini sudah acara makan-makan dan foto-foto bersama teman-temannya. Yang lainnya tampak bahagia berada di atas panggung sambil bergaya untuk berfoto bersama pengantin.

Sementara Michelle, ia memilih untuk duduk sendirian dengan terdapat makanan dan minuman beserta dessert di meja yang sama sekali belum disentuhnya.

Tanpa ia sadari, air matanya menetes dan membasahi pipinya. Seseorang mengulurkan sebuah saputangan kepadanya.

Dia mendongak dan menatap mata seseorang yang sedang berdiri di dekatnya itu. Dia adalah James. Akhirnya Michelle menerima saputangan tersebut.

Dia menyeka air matanya. James duduk di dekat gadis itu. Dia mengambil gelas yang berisi jus orange dan meminumnya.

"Kamu pasti sangat sedih karna dia udah menikah sama teman baik kamu sendiri." ucap lelaki itu sambil menikmati dessert yang ada di dalam mulutnya.

"Enggak! Dia bukan teman baik aku. Aku berteman dengannya hanya karna ada maunya. Bukan karna aku memang ingin berteman." ucap Michelle berterus terang.

"Aku ingin menjadi model. Dan agensi tempatku bekerja nanti itu berada di bawah naungan Cornelia Group. Jadi aku harus mendekati Kim untuk mewujudkan impianku. Kau tau sendiri kan aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa?"

James menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Di dunia ini lelaki tidak hanya satu. Jadi kamu tidak perlu menunggu seseorang yang belum pasti bakal mau sama kamu."

"Apa maksud kamu Edward enggak akan pernah sama aku? Aku bisa membuktikan bahwa Kim enggak akan hidup lama."

Gadis cantik itu segera berdiri dan meninggalkan James sendirian di sana. Dia terlihat sangat cantik dan anggun dengan dress berwarna biru selutut itu.

Dia menaiki panggung dan berniat akan berfoto bersama kedua pengantin. James memperhatikan aksi Michelle dari kejauhan.

"Aku harap dia tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh dan akan merugikan masa depannya sendiri." gumam James.

Setelah selesai melakukan sesi berfoto bersama pengantin, Michelle segera berpamitan untuk pulang. Dia yang lambat datang tapi yang cepat pergi dari sana.

Alasannya, dia mengatakan bahwa sedang banyak pekerjaan. Apalagi dia sekarang sedang banyak latihan dalam dunia modelling.

Saat berjalan di parkiran, sebelum memasuki mobilnya ia melihat ada Claudie di sana. Gadis itu segera menghampiri Michelle.

Dia tampak menatap Michelle dengan sinis. Michelle yang ditatap sinis seperti itu malah tatapannya jauh lebih sinis.

"Aku pikir kamu enggak akan datang di acara pernikahan pujaan hati kamu sendiri dengan perempuan lain. Ternyata masih datang. Karna enggak enakan sama Kim, ya?" sinisnya.

Michelle tak menggubris pertanyaan dari Claudie. Ia justru memilih untuk segera memasuki mobilnya tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.

Setelah pulang dari acara pernikahan Edward dan Kim, Michelle segera melepaskan dress nya. Kini ia hanya memakai hot pants dan crop top nya.

Dia mencabik-cabik dress tersebut menggunakan gunting hingga hancur. Kemudian dilemparnya ke kotak sampah.

Tak lupa ia juga mengambil korek api dan melemparkannya juga ke kotak sampah untuk membakar dress yang sudah sobek.

"Aku ingin Kimberly mati!!!" teriaknya.

...****************...

Di hari kedua pernikahan, Edward mengajak Kim untuk honeymoon ke luar negeri. Tiket itu sudah dipesan beberapa waktu yang lalu menjelang pernikahan.

Mereka akan honeymoon ke dua negara, Prancis dan Norwegia. Pastinya hanya semingguan. Karena Edward dan Kim juga memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di tanah air.

Kimberly mendapat kabar dari ayahnya bahwa bundanya sedang sakit. Bahkan bundanya tidak ingin makan. Dia hanya ingin bertemu dengan Kim saja.

*Ayah*

[Kim, bundamu sedang sakit. Dia enggak mau makan sama sekali. Dia hanya ingin bertemu sama kamu. Tadi saja dia barusan muntah darah, Kim.]

Begitulah isi pesan yang dikirim oleh Frans, selaku ayahnya Kim. Perempuan itu hanya membaca pesan teks tersebut sekilas.

Lalu melempar handphone nya ke atas ranjangnya. Edward yang melihat tingkah istrinya itupun segera menghampirinya.

"Kamu kenapa?" tanyanya.

"Bunda sakit, Ward. Aku harus gimana? Enggak mungkin kan kita batalin honeymoon ke luar negeri."

"Kim, kalau bunda memang benar-benar butuh kamu, lebih baik kita batalin aja honeymoon nya. Kan honeymoon bisa kapan aja."

"Tapi sayang, vibes nya pasti beda lah. Inikan honeymoon di hari kedua pernikahan. Honeymoon selanjutnya itu beda lagi."

"Terserah kamu aja deh. Kalau ayah sama bunda kamu nanti marah pokoknya ini bukan salah aku."

"Enggak mungkinlah mereka marah. Kan tau sendiri kita ini pengantin baru. Kan wajar kalau kita lebih pilih honeymoon."

"Lagian kan ada dokter juga yang bakal ngobatin bunda. Emangnya aku bisa menyembuhkan penyakitnya bunda? Enggak juga, kan?" tambahnya.

Alhasil mereka lebih memilih untuk honeymoon ke luar negeri. Tanpa membalas pesan teks dari ayahnya, Kim bersenang-senang di hari kedua pernikahannya ini.

...****************...

Claudie datang ke rumahnya kedua orangtua Kimberly. Dia sengaja datang ke sana untuk menjenguk Venny yang sedang sakit.

Bahkan wanita paruh baya itu hanya bisa berbaring saja di atas ranjang. Tanpa adanya aktivitas lainnya yang dapat ia lakukan dengan lebih leluasa.

Untuk ke kamar mandi dan berganti pakaian saja dia harus dibantu oleh orang lain. Dia sudah tak mampu berdiri sendiri. Makanya di hari pernikahan Kim dia hanya duduk dan diam saja.

Claudie dengan sengaja memasak sup ayam untuk dibawanya ke rumah Venny. Dia berharap wanita itu akan mau memakannya.

"Permisi, tante." gadis itu mengetuk pintu kamar Venny.

"Masuk"

Dia masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi semangkuk sup yang memang sengaja tadi ia siapkan terlebih dahulu di dapur sebelum ke atas.

"Tante, aku kesini bawain sup ayam buat tante Venny. Aku enggak mau tante Venny sakitnya lama banget. Jadi aku mau tante Venny makan ya walaupun sedikit." pintanya.

"Terimakasih, Clau. Kamu begitu perhatian sama tante. Bahkan Kim saja belum menjenguk keadaan bundanya sendiri." ucapnya dengan nada sedih.

"Hmm, ya udah tante langsung makan aja ya. Ini aku suapin."

Untungnya Venny ingin makan dengan disuapi oleh Claudie. Walaupun bukan anaknya sendiri, tapi gadis itu cukup perhatian kepadanya.

Menurut pandangan Claudie, penyakit yang diderita oleh Venny bukanlah penyakit biasa. Menurutnya, itu kemungkinan besar tidak bisa disembuhkan dengan obat dari dokter.

Venny mengalami penyakit yang sangat berbeda. Dia sering muntah darah. Terkadang keluar ulat dan belatung dari mulutnya. Venny menceritakan semua tentang penyakitnya kepada Claudie.

Dia cukup terbuka untuk bercerita kepada gadis itu. Claudie mendengarkan cerita Venny sambil menyuapinya makan. Dan akhirnya ini adalah suapan terakhir. Semangkuk sup sudah habis.

Claudie meletakkan mangkok tadi ke atas nampan yang berada di atas nakas. Kemudian perhatiannya segera beralih ke Venny lagi.

Dada Venny terasa sesak. Dia memegangi dadanya dengan tangan kirinya. Sementara tenggorokan nya juga terasa sangat serak dan seperti ada yang mengganjal.

Dia mengeluarkan rambut yang sangat panjang dari dalam mulutnya. Beserta ulat dan belatung juga turut keluar. Claudie terkesima dengan pemandangan tersebut.

Dia tak tahu harus berbuat apa. Banyak darah juga keluar dan mengalir dari mulut dan dubur wanita itu. Baunya yang tidak enak itu sangatlah menyengat.

Bahkan, Claudie tidak tahan untuk terus berada di dalam ruangan itu. Ia segera berlari ke luar kamar. Dia menghirup nafas dalam-dalam.

Kemudian dia berlari lagi menuju lantai bawah untuk meminta pertolongan. Dilihatnya Venny tadi seperti mengalami hal yang tidak biasa.

Untunglah dia langsung bertemu dengan satpam yang ada di sana. Satpam itu segera menghampiri Claudie yang tampak sedang panik.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.

"T-tolong bantuin Bunda Venny. Penyakitnya kambuh." ucapnya dengan nafas tersengal-sengal.

Satpam itu segera berlari menuju ke lantai atas. Kemudian para pembantu dan yang lainnya juga turut masuk ke kamarnya Venny. Sementara Claudie segera menghubungi dokter dan Frans.

Frans yang menerima kabar tentang istrinya dari Claudie pun segera pulang ke rumah dengan terburu-buru. Bahkan dia menyesali mengapa dia tadi harus pergi ke perusahaan padahal sudah tau istrinya sedang sakit.

Saat dokter sampai, banyak darah mengalir hingga ke lantai kamar tersebut. Baunya sangatlah tidak enak. Bahkan baunya sangat menusuk hidung siapapun yang berada di sana saat itu.

Mereka semua menutup hidung masing-masing. Terasa sesak jika lama-lama berada dalam ruangan itu. Dokter pun segera memakai maskernya.

Saat diperiksa, ternyata Venny sudah tidak bernyawa lagi. Dia sudah meninggal. Mereka semua turut berdukacita atas kematiannya Venny.

Para satpam, pembantu, dan asisten yang lainnya merasakan sedih yang teramat dalam. Bosnya tersebut dinilai sangat baik terhadap mereka.

Frans baru tiba disana. Hatinya sangat terpukul atas kepergian istri tercintanya itu. Tubuhnya terhuyung dan akhirnya terjatuh di lantai.

Dia menatap mayat istrinya yang berada di atas ranjang dengan bersimbah darah. Sebenarnya dia merasa heran dengan kamar yang terdapat banyak sekali darah tersebut.

Dengan persetujuan dari Frans, mayat Venny akan dibawa ke rumah sakit untuk melakukan proses autopsi. Frans masih tak percaya dia akan kehilangan istrinya selama-lamanya.

Dia ingin menghubungi Kimberly. Namun ia mengurungkan niatnya tersebut. Dia teringat beberapa hari yang lalu dia pernah mengirim pesan teks kepada Kim namun putrinya tersebut tidak merespon apapun.

Jangankan menjenguk dan membantu bundanya melawan penyakitnya, Kim bahkan tak membalas pesan dari ayahnya sendiri. Dia mengabaikannya.

Perlakuan Kim terhadapnya dan istrinya itu membuat Frans merasa tersakiti dan merasa bahwa anaknya tersebut tidak tahu arti berbakti kepada kedua orangtuanya.

1
Crazy Girl
Apa yang terjadi dengan Michelle selanjutnya? Semuanya ayo semangat lagi bacanya ☺️✌️
Isabel Hernandez
Sudut pandang baru
Crazy Girl: lanjut baca terus yaa 👍🙏
total 1 replies
Abdul Rahman
Nah, ini baru kualitas cerita yang oke!
Crazy Girl: Terimakasih, baca terus ya:)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!