Anila yang seorang wanita biasa. Tiba-tiba masuk ke dunia lain dimana semua orang memiliki keahlian yang sangat berbeda dengan dunia asal Anila. Salah satunya adalah mencari harta karun di dalam makam. Pertama kali Anila masuk ke dunia itu dia ada dilorong yang sangat kegalap, dingin dan sunyi. Tapi Anila tidak patang menyerah untuk mencari jalan keluar. Dia merabah dinding di sebelahnya hingga dia menemukan sesuatu. Apa itu, lalu akan Anila bisa kembali ke dunia asalnya dengan selamat atau dia akan hidup di dunia itu selamanya?.
Kalau penasaran dengan ceritanya ayo baca novelnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Tubuh Anila bergidik. Hawa dingin yang menusuk seolah menembus setiap lapisan jubahnya. Namun, ia terus melangkah ke depan dengan percaya diri, meskipun hatinya dipenuhi rasa takut. Langkahnya berhati-hati, melewati lorong dengan rumput-rumput kering di sisi kanan dan kirinya. Suara gemerisik yang dihasilkan oleh setiap langkah membuat pikirannya melayang, membayangkan hal-hal aneh di tengah kesunyian.
"Hei, wanita bodoh," sebuah bisikan halus mengalir di telinga Anila. Suaranya terdengar lembut namun anehnya sangat menakutkan. Anila menoleh, mencari sumber suara, tetapi yang ia lihat hanyalah kegelapan yang tak berujung.
"Apa aku salah dengar?" gumamnya, mencoba meyakinkan diri. "Baiklah, aku akan tetap berjalan ke depan."
Saat Anila hendak melangkah, senter di tangannya menyoroti sesuatu. Di ujung cahaya, berdiri sesosok wanita dengan rambut panjang yang menutupi wajahnya. Wajahnya terlihat pucat pasi, dan pakaian putihnya robek di sana-sini. Ia berjalan perlahan ke arah Anila, hingga akhirnya berhenti tepat di depannya. Jantung Anila berdebar kencang. Ia merasakan kakinya lemas, ingin jatuh ke tanah. Pegangan pada pistolnya terasa goyah, namun ia berusaha keras untuk tetap tegak.
Anila mencoba tenang, menatap lurus ke depan dengan keyakinan yang dipaksakan. Dalam hatinya, ia menjerit, Ada hantu wanita di depanku. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu harus pergi ke mana.
"Apa kamu takut padaku? Kenapa kamu hanya diam saja?" tanya wanita hantu itu, suaranya terdengar jernih namun tetap menakutkan.
"Kau... bisa bicara?" jawab Anila, memberanikan diri. Meski takut, ia tahu ia harus membuka mulutnya untuk bisa keluar dari situasi ini.
"Tentu saja. Tapi, aku merasa kamu berbeda dari orang-orang yang pernah datang ke sini. Siapa kamu?" wanita hantu itu memiringkan kepalanya, matanya yang tersembunyi menelusuri tubuh Anila dari atas sampai bawah.
"Aku memang bukan berasal dari dunia ini," Anila menjawab jujur. "Jika aku tebak, kamu bisa mengantarkanku keluar dari tempat ini?" Anila bertanya, suaranya sedikit bergetar. Ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan memanfaatkan setiap kesempatan, bahkan jika itu datang dari hantu.
"Kamu ingin keluar dari sini? Itu sulit," kata wanita hantu itu. "Tapi, mungkin aku bisa membantumu menuju ke tengah makam."
"Makam?" Anila terkejut. "Apa yang kau katakan?"
"Kamu tidak tahu? Lorong-lorong dan jalan yang kamu lewati selama ini adalah lorong menuju makam. Walaupun banyak jebakannya, kamu beruntung bisa selamat."
"Aku tidak tahu aku bisa berada di sini," Anila mengakui. Ia lalu bertanya dengan nada penasaran, "Kalau begitu, di mana ini? Makam siapa? Dan apa kamu yang membunuh orang-orang yang lewat di sini? Aku melihat banyak tengkorak."
Wanita hantu itu tertawa. "Mereka mati karena masuk jebakan, bukan karena aku. Ternyata kamu sudah tidak takut lagi denganku. Aneh sekali."
"Kamu juga aneh," balas Anila, tersenyum tipis. "Kenapa kita saling mengatai aneh, kalau kita berdua juga sama-sama aneh?"
Wanita itu tertawa lagi. Tawa yang merindingkan, namun kali ini Anila tidak terlalu takut.
"Jadi, kamu ingin tahu ini di mana?" tanya wanita hantu itu. Anila mengangguk. Mereka berjalan bersama, dan Anila mencoba mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Ia harus menemukan cara untuk kembali ke orang tuanya, dan ia akan mencari informasi apa pun yang ia bisa.
"Ini adalah makam Penasihat Abhan," kata wanita hantu.
"Penasihat Abhan? Siapa dia? Dan kamu tahu tidak bagaimana aku bisa keluar dari sini?" tanya Anila dengan wajah penuh semangat.
"Kamu tidak bisa keluar dari dunia ini sampai menemukan kesembilan pintu perunggu yang ada di dunia ini," jawab wanita hantu.
Tepat setelah ia mengatakan kata "pintu perunggu", suara tembakan pistol terdengar dari lorong lain. Anila segera mengambil sikap waspada, melihat ke depan, namun suara itu berasal dari kejauhan. Anila segera berlari, mencari sumber suara hingga dia melihat cahaya dari ujung lorong yang baru saja ia lewati.
Saat tiba, ia segera bersembunyi. Dua kelompok sedang berseteru, dan di tengah-tengah mereka berdiri sebuah pintu perunggu. "Apa itu pintu perunggu yang kamu katakan tadi?" tanya Anila.
"Itu benar," jawab wanita hantu.
"Kalau begitu, aku bisa kembali ke duniaku melalui pintu perunggu itu?" tanya Anila, wajahnya berbinar-binar. Wanita hantu itu menatapnya, dan kebahagiaan Anila berubah menjadi kesedihan saat ia mendengar penjelasannya.
"Kamu tidak bisa. Pintu perunggu memang bisa dimasuki, tapi dari semua pintu perunggu yang mana yang tepat untuk kamu bisa kembali? Karena tidak semuanya bisa kamu masuki, jika kamu ingin hidup dengan utuh," ucap wanita hantu.
"Jadi maksudmu, setiap pintu memiliki kegunaannya masing-masing?" Anila tertunduk lesu.
"Begitulah. Tapi, daripada itu, bukankah mereka yang sedang tertangkap, itu kawanmu yang terpisah?" tanya wanita hantu itu.
"Mereka bukan kawanku. Aku tidak mengenal mereka," jawab Anila jujur.
"Kalau begitu, apa orang yang memegang senjata itu kawanmu?" tanya wanita hantu lagi.
"Bukan juga. Aku sudah memberitahumu, aku berasal dari dunia lain," jawab Anila, wajahnya memucat karena bingung.
"Bukan keduanya ya. Ya sudah," ucap wanita hantu itu, acuh tak acuh.
"Tunggu dulu, kamu mau ke mana? Kamu belum memberitahuku bagaimana aku bisa keluar dari sini!" Anila menarik jubah wanita hantu itu.
"Aku tidak tahu. Mungkin kamu bisa mencari tahu dari pintu perunggu itu, atau dari salah satu dari mereka," jawab wanita hantu itu.
"Tapi aku tidak mengenal mereka sama sekali! Bagaimana aku bisa bicara dengan mereka?" Anila memohon.
"Kalau tidak, bantu saja salah satu dari mereka. Gampang, kan? Kenapa kamu meminta bantuan padaku yang berbeda denganmu?" tanya wanita hantu itu.
"Karena hanya kamu yang pertama kali mengajakku bicara," jawab Anila. Ia lalu tersenyum, "Kalau begitu, bantu aku menolong mereka, ya?"
"Yang mana?"
"Tunggu, aku akan melihat situasinya dulu," jawab Anila. Ia mengamati kedua kelompok itu, melihat pihak yang ditundukkan dan pihak yang berkuasa. Setelah melihat wajah mereka yang tertunduk, Anila merasakan sesuatu yang aneh. "Kenapa aku merasa kalau salah satu kelompok itu seperti mencari kebenaran, ya?" batin Anila.
"Sudah memutuskan?" tanya wanita hantu tidak sabar.
"Sudah! Bantu aku menolong mereka yang sudah tertangkap," ucap Anila dengan percaya diri. "Kamu hanya mengalihkan perhatian mereka, aku akan menembak dengan ini." Anila mengangkat pistolnya. Kenapa aku harus bernasib buruk seperti ini? Aku hanya ingin kembali ke orang tuaku saja. Apakah aku harus menjelajahi semua makam kuno di dunia ini? Ini membuatku frustrasi, batin Anila, penuh keputusasaan.
Wanita hantu itu turun, mulai menakuti orang-orang berpakaian hitam yang bersenjata. Pada saat itu, Anila dengan wajah tegas memegang pistolnya. Awalnya ia tidak ingin menggunakannya, tapi untuk bisa keluar dari dunia ini, ia harus bisa membuat rencana masa depan yang baik. Aku harus melakukan semua ini, batin Anila. Pertanyaannya sekarang, akankah rencana Anila berhasil?