Anna tanpa sengaja menghabiskan malam panas dengan mantan suaminya, Liam. Akibat pil pe-rang-sang membuatnya menghabiskan malam bersama dengan Liam setelah satu tahun mereka bercerai. Anna menganggap jika semua hanya kecelakaan saja begitu pula Liam mencoba menganggap hal yang sama.
Tapi, semua itu hilang disaat mendapati fakta jika Anna hamil setelah satu bulan berlalu. Liam sangat yakin jika anak yang dikandung oleh Anna adalah darah dagingnya. Hingga memaksa untuk menanggung jawabi benih tersebut meskipun Anna sendiri enggan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haasaanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Ucapan Liam membuat pergerakan tangan Anna terhenti, tangannya gemetar mendengar Liam sangat lantang mengatakan hal tadi. Seharusnya Anna senang bukan karena pada akhirnya Liam menerima semua permintaan untuk berpisah. Lalu, kenapa seakan sekarang Anna sedih mendengar jika Liam telah setuju.
Tanpa sengaja dan tanpa diminta air mata Anna jatuh membasahi pipinya. Dengan gerakan cepat Anna menghapus air mata tersebut, ia menoleh kearah Liam. Ternyata pria itu berdiri membelakanginya, mata Anna sendiri melihat tangan Liam saling mengepal erat seolah sangat menyimpan amarah.
“Anna Adeline, mulai saat ini dan detik ini kau bukanlah istriku lagi. Aku menjatuhkan talak tiga padamu!” Sangat lantang Liam mengucapkan kata itu, tanpa ragu sedikitpun.
Sampai Anna memejamkan mata mendengar semua ucapan sakral itu, ia menahan air matanya yang akan jatuh lagi. Liam tidak ada berbalik badan sedikitpun, tetap diam di tempat tanpa Anna tahu jika Liam tengah menangis.
Hati Liam sangat sakit mendapatkan fakta jika Anna tidak mencintai dirinya selama ini. Tidak merasakan kepuasan setiap sentuhan yang telah mereka lakukan selama tiga bulan. Siapa sangka jika semua perlakuan manis dan ungkapan cinta Anna selama ini hanyalah pura-pura saja.
“Terimakasih, Mas. Sudah melepaskan aku dari beban berat ini, aku ucapkan sekali lagi… terimakasih,” ucap Anna setulus hati dengan mata memerah menahan air mata.
Ucapan terimakasih Anna seolah sebagai anak panah yang menancap dihati Liam. Pria itu tidak kuat untuk menoleh kearah Anna, menatap wanita itu sekali lagi sebelum pergi dari kehidupannya. Mungkin saja Liam tidak akan bertemu dengan Anna lagi, mungkin saja Liam tidak akan pernah mendapatkan senyuman manis Anna lagi.
“Cepatlah pergi dari sini, Anna. Aku tidak mau melihatmu lagi, yang ada dihatiku sekarang adalah rasa benci saja….”
Liam menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan apa yang ingin ia katakan. Memejamkan mata hingga air matanya jatuh kembali, kedua tangan juga saling mengepal erat hingga memutih.
“Mulai saat ini dan seterusnya aku sangat membencimu! Enyahlah dari kehidupanku selamanya, Anna!” teriak Liam dengan sangat lantang dan menyedihkan.
Langsung Liam berlalu pergi meninggalkan Anna seorang diri dikamar. Berjalan cepat mencari tempat yang bisa menenangkan perasaannya saat ini. Tidak ada yang Liam pikirkan kecuali segera membuat Anna pergi jauh jauh dari pikirannya.
Sementara Anna disaat Liam pergi dari kamar langsung menangis sesenggukan. Memukul dadanya yang sangat sakit, Anna mengkhianati hatinya sendiri sepanjang waktu dan sepanjang ucapannya pada Liam. Padahal yang sebenarnya Anna sangat ingin terus hidup bersama dengan Liam, mendapatkan cinta dari pria itu adalah kebahagiaan yang sempurna dari Anna.
Terlebih lagi Anna hanya memiliki Liam saja dalam hidupnya, pria yang telah mencintai Anna dengan setulus hati. Tanpa memandang siapa Anna sebenarnya, dari mana berasal. Yang terpenting bersama dengan Liam membuat Anna merasa sangat dicintai, sayangnya hubungan mereka tidak bisa bertahan diatas Ibu Liam yang tidak pernah setuju.
Tanpa sepengetahuan kedua orang yang terus salah paham akan perasaan sendiri sebenarnya ada Sophia yang menyaksikan dari awal keributan mereka. Ya, Shopia yang membuat Anna mengambil keputusan untuk berpisah.
“Tindakan bagus, Anna. Aku tidak menyangka jika kau akan secepat ini mengambil keputusan untuk berpisah dengan anakku.”
Tubuh Anna langsung bangkit karena mendengar ucapan Shopia. Anna mengambil tas besarnya sebelum pergi juga menyempatkan memakai pakaian yang lebih pantas lagi.
“Tenang saja karena Liam tidak akan menderita seperti tadi, dia akan segera mendapatkan pujaan hati yang lain,” ucap Shopia dengan sangat angkuhnya kepada Anna.
Tangan Anna yang tengah mengikat rambut saja jadi terhenti, ia menoleh kearah Shopia yang sangat bahagia karena perpisahan mereka.
“Kau hanyalah wanita miskin, tidak seharusnya kau mau menikah dengan putraku. Jika kau sadar diri lebih cepat pasti aku tidak perlu capek-capek memaksamu untuk meminta cerai bukan?”
Jadi, Shopia menyalahkan Anna kali ini. Sejujurnya Anna tidak tahu terbuat dari apa hati Shopia ini, mengapa kejam dan tidak punya hati. Padahal Anna selalu melakukan hal terbaik sebagai menantu selama ini, tapi tidak ada gunanya dimata wanita tua itu.
“Kau baik, hanya saja miskin dan tidak memiliki pekerjaan yang luar biasa. Hal itu yang sangat menganggu keluarga kami jika kau sangat ingin terus bersama anakku.”
Tidak ada jawaban apapun dari Anna hanya tetap diam meraih sendal jepitnya. “Liam bisa menerimamu tapi keluarga kami tidak, ingatlah ini, Anna… Jangan pernah kembali lagi mengusik hati anakku!” ucap Shopia dengan sangat kejamnya.
Bahkan Shopia mendorong Anna hingga tersungkur di lantai, tangan Anna terluka tentunya karena terbentur lantai sangat keras. “Cepatlah pergi, Miskin! Kau menjijikkan!” teriak Shopia, merasa tidak sabaran padahal Anna juga akan pergi.
Anna tidak mau menangis didepan Shopia, meskipun ingin sekali Anna membalas semua perlakuan kejam ini. Tapi, Anna sadar ada cara yang lebih elegan dan menakjubkan untuk membalas penghinaan Shopia. Yaitu berubah menjadi lebih baik, Anna akan membuktikan kemampuan dan kekuatan dirinya melalui penghinaan ini.
“Pelayan!” Shopia berteriak memanggil pelayan, sehingga dua pelayan masuk kedalam kamar Anna dengan terburu-buru. “Cepat bawa dia pergi! Dia bukan Nona muda kalian lagi, usir dia dengan cara yang kasar!” perintah Shopia tidak terbantahkan.
Pelayan tersebut melakukan semua perintah Shopia, menarik tangan Anna bahkan tidak membiarkan Anna membawa pakaiannya. Tubuh Anna diseret selayaknya sampah yang menjijikkan, sementara Shopia terus tertawa dengan semua penderitaan yang Anna rasakan. Tidak perduli dengan raungan permintaan tolong dan ampun dari Anna, Shopia tetap gelap mata memperlakukan mantan menantunya itu.
Tubuh Anna dicampakkan begitu saja oleh para pelayan tepat didepan pintu Mansion. Dari kejauhan sana Anna melihat Liam berdiri di area ruang tengah sana, bahkan perlakuan buruk yang Anna dapatkan kali ini tidak membuat Liam berkutik disana.
“Keputusanku benar, yaitu… cerai dari Liam, menjauh dari keluarga penuh aturan ini.”
Kekecewaan sangat besar menghantam hati Anna, padahal ia sangat mencintai Liam yang selalu saja mendukung dirinya dalam keadaan apapun. Tapi, semua itu telah tergantikan dengan rasa benci dan muak.
“Aku akan buktikan pada keluarga Alexander yang kaya ini, bahwa aku sangat bisa bangkit tanpa bantuan putra mereka!” Anna sangat tegas mengatakannya meskipun mendapatkan ejekan keras dari para pelayan.
“Bawa dia pergi, Pelayan!” perintah Liam dari kejauhan sana, meskipun kini telah berbalik badan dengan tangan memegang minuman anggur. “Sampai matipun jangan izinkan dia masuk kedalam kehidupanku!”