Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.
Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Asrar
...بسم الله الر حمن الر حيم ...
.... ...
.... ...
...Sandyakala "Aksa dan Amerta"...
...Karya : Ms_nyms...
***
"Aku harus lari sejauh mungkin, jangan sampai dia menemukan aku, kalau tidak... "
Suara langkah kaki terus menapaki jalanan yang sepi, entah sudah seberapa jauh ia berlari sampai saat ini masih terus menyusuri jalanan yang sunyi. Penuh dengan perasaan takut, menyelimuti dada nya, sesekali melihat ke arah belakang apakah ia sedang diikuti seseorang berjalan sembari tertatih-tatih.
Cairan berwarna merah kental yang terus mengalir dari sisi lengan sebelah kanannya terus menetes diatas trotoar jalan yang dihiasi lampu jalanan yang mulai redup, darah itu terus mengalir di permukaan wajahnya.
Mencari seseorang yang berlalu-lalang untuk meminta pertolongan, namun sia-sia saja karna ini sudah pukul 2 malam dan tidak ada warga yang lewat di lingkungan yang ia tidak kenali ini. Ia terus berlari sebisa mungkin mencari sebuah posko atau rumah warga yang bisa ia minta pertolongan.
Tanpa beralaskan kaki dengan baju yang penuh debu, bercak darah dan tanah ia sampai disebuah bangunan dengan pintu masuk yang ditutupi gerbang pagar berwarna hitam, ia sudah kehilangan arah dan nafasnya tersengal-sengal. Ia terjatuh tepat ditengah-tengah pintu masuk, penglihatannya semakin memudar dan menjadi gelap.
"Mba!! Mba!! "
Masih terdengar suara langkah sepatu mendekati dirinya, hingga suara itu memudar mengikuti kesadarannya yang semakin hilang. Hanya penuh dengan kegelapan tidak sadarkan diri, tubuhnya terkulai lemas di atas aspal dingin berselimutkan langit malam.
"Lari-lari, cepat ke bakes" suara lirih yang berlari di luar sana pada pukul 2 malam, seorang pria yang tersadar keluar dari pintu ruangan nya.
Melihat apa yang sedang terjadi pada jam segini, apakah terjadi sesuatu hingga membuat keributan. Dua orang wanita dan tiga orang pria berjalan dengan cepat melewati lorong ruangannya, melihat hal tersebut pria itu enggan bertanya karna melihat wajah mereka sepertinya tampak serius. Ia lebih memilih untuk mengikuti kemana mereka pergi.
Ia melihat beberapa orang sedang bergerombol mengelilingi sesuatu di depan sana, ia pun mendekatinya.
"Ada apa? " tanya nya pada orang yang juga sedang berusaha melihat kejadian di depan sana.
"Siap ndan, ditemukan seorang wanita hilang kesadaran penuh dengan darah di wajah dan lengannya. " Jelasnya.
"Minggir dulu kalian" tegasnya.
Seketika barisan terbuka, ia melihat wanita yang disebutkan itu. Tidak tampak jelas wajahnya karna situasi yang cukup gelap dan wajahnya penuh dengan darah, ia melihat sekelilingnya semua orang tampak bingung harus bagaimana.
"Panggil petugas bakes untuk mempersiapkan ruangan"
"Siap!! "
"LARI!!! "
"SIAP!! " segera salah satu prajurit itu berlari sekencang mungkin pada malam hari, dilingkungan asrama.
"Ambil di pos jaga kain atau apapun yang bisa menghentikan pendarahan, tolong anggota yang lain balik ke tugasnya masing-masing dan yang tidak berkepentingan masuk ke asrama kembali." titahnya yang langsung diikuti oleh prajurit lain.
Mahija tanpa menunggu sedetik langsung membopong wanita yang sudah hilang kesadaran itu, ia berjalan dengan cepat membawanya ke ruangan bagian kesehatan.
Anggota yang melihat hal itu hanya terkejut dengan apa yang mereka saksikan saat ini, melihat komandan mereka mau menyentuh wanita yang tidak ia kenali itu.
Kini wanita itu sedang berada di sebuah ruangan bagian kesehatan untuk mendapatkan pertolongan pertama, hanya ada beberapa prajurit wanita yang berada di dalam sana. Seorang prajurit pria berjaga di depan ruangan, sembari memantau situasi.
Pria itu masih duduk di ruangannya, pikirannya masih tertuju pada wanita yang sedang berada di bagian kesehatan itu. Ia menatap layar ponselnya, sebuah kontak seseorang yang ingin ia hubungi. Namun urung ia lakukan, ia tak ingin mengganggu jam istirahat seseorang.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ya masuk " Jawab pria itu, Mahija Biantara Al-Ghifari
"Bang! "
Ternyata seseorang dibalik pintu masuk adalah adiknya sendiri, Abri Fian Al-Ghifari sang manusia kematian.
"Kenapa jam segini masih bangun? Lo gak tidur? Gua aduin ke umma lo ya " cetus Mahija melirik wajah adiknya yang masih berdiri di ambang pintu masuk.
"Gua baru siap sholat tahajud, ah elah hidup lagi capek-capeknya malah punya abang yang suka banget langsung ngegas nanyanya "
"Diam lo"
Sontak saja Fian langsung terdiam ketika mendengar ucapan dari Mahija yang tengah duduk dengan memegang ponselnya, Mahija tampak gusar di bangkunya sesekali berdiri melihat ke arah luar jendela.
"Siapa wanita itu ditengah malam begini dalam keadaan seperti itu" Gumam Mahija dalam keheningan nya.
***
Setelah apel pagi dilaksanakan Mahija langsung mengecek ponsel nya. Dua hari lagi ia akan resmi melamar wanita pujaannya, soal umma dan ayah? Tentu mereka sudah tahu kabar tersebut. Justru besok Mahija akan menjemput kedua orang tuanya di Magelang, ia berjalan dengan santai sembari menyapa prajurit-prajurit lain.
Beberapa prajurit ada yang terlihat berlarian di lorong kantor Markas Lanud, tampaknya terjadi sesuatu yang pada akhirnya membuat Mahija juga penasaran.
"Ada apa? "
"Ndan.. " ucap seorang prajurit yang berada di depan pintu ruang bakes.
"Izin Lettu. Mahija, pasien wanita yang ditemukan tadi malam menghilang. Tidak ada di ruangan sewaktu dilaksanakan apel pagi hari ini. " Jelas seorang dokter jaga.
"Tanya anggota yang berjaga di pos, apakah ada melewati pagar atau belum "
"Siap izin ndan, anggota yang jaga saat itu sedang melaksanakan pengecekan di dalam ruangan pos jaga. Jadi tidak melihat siapa saja yang melintas di pagar pintu masuk"
"Yasudah, saya akan cari sendiri dan bawa dia kembali kesini, semoga saja tidak terlalu jauh "
"Siap izin ndan, saya juga ikut membantu bersama anggota yang lain"
"Iya silahkan"
Mahija langsung bergegas menuju parkiran, menelpon Fian untuk membawakan kunci mobilnya. Fian yang berada di lapangan langsung berlari secepat mungkin menuju asrama dan membawa kunci mobil ke parkiran markas.
"Bang mau kemana?"
Mahija hanya diam, sesaat ia mendapatkan kunci mobil, meninggalkan Fian begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Fian.
"Sudah biasa tidak dijawab bang Bian, tapi sakitnya tuch disini" gumam Fian sembari memegang dadanya.
Mobil berwarna hitam menelusuri jalanan kota, pagi hari ini tampak situasi jalanan sangat dipadati oleh masyarakat yang sedang beraktivitas. Beberapa dari mereka ada yang tengah mengantarkan anak mereka ke sekolah, ada yang baru pulang berbelanja dan ada juga yang sedang bersiap menuju ke tempat kerjanya. Pria yang saat ini sedang berada di dalam mobil melirik ke kiri dan kanannya, sesekali berhenti di pinggir jalan untuk memantau situasi jalanan.
"Kemana wanita itu.. " gumamnya
2 jam sudah berlalu mengelilingi kota, tidak ada satu pun tanda-tanda tentang wanita yang menghilang itu. Akhirnya Mahija kembali ke markas, dengan perasaan yang masih khawatir dengan wanita yang ditemukan tadi malam itu.
***
Esok hari Mahija dan keluarga akan datang untuk melamar wanita dambaan seorang Mahija Biantara Al-Ghifari, wajahnya tampak berseri-seri pagi ini.
"Pagii ndan.. " Sapa seorang prajurit yang sedang lewat di depan barak.
"Ya."
Kembali tersenyum menikmati kopi dan rotinya di depan barak, melihat ke sekeliling asrama aktivitas di sabtu pagi para prajurit yang sedang kurvei membersihkan area sekitar asrama militer(Asmil).
"Makan-makan sendiri, ngopi-ngopi sendiri, cuci baju sendiri, tidur pun sendiri" suara yang datang dari dalam asrama, Mahija langsung melihat ke arah pintu masuk barak.
Terlihat di depan pintu sudah berdiri seonggok manusia yang sering ia temui, baik di kesatuan ataupun dirumahnya sendiri. Abri Fian Al-Ghifari, ia berdiri menatap wajah pria yang juga sedang memandangi nya itu.
"Umma-umma-umma, tolong lah anak mu yang diacuhkan. Kurasakan virus-virus bucin, ku butuh dokter jiwa.. Ku butuh dokter jiwaa" Fian yang masih saja bernyanyi menyindir sang abang, yang hanya diam melihat perilaku nya itu.
"Bang.. "
"Apa? "
Fian duduk tepat di samping Mahija, wajahnya tampak serius. Fian menjeda ucapannya membuat Mahija semakin penasaran, jarang sekali Fian bersikap serius seperti saat ini.
"Apa? Lu mau ngomong apa? "
"Gini Bang.. "
"Apa si Yan? "
"Hmm sebentar.. " kembali menjeda ucapannya membuat Mahija merasa ada hal yang tak wajar hingga membuat Fian seperti ini.
"Apakah ada masalah di kesatuan? " Benak Mahija bertanya-tanya.
"Begini Bang.. " Jedanya lalu.. " Agar silahturahmi tidak terputus, pinjam dulu seratus " Fian tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapih.
Sontak Mahija yang tadinya penasaran langsung sedikit merasa dongkol saat itu juga.
"Kampret lu, kirain ada apa"
"Hahahahahaha pinjam dulu seratus Bang, habis uangku nanti diganti 3 hari lagi. Uang ATM merah putih kan cair 3 hari lagi."
"Nah-nah, betul ya 3 hari lagi!! Awas aja lu bohong sama gua. Gak tenang hidup lu di barak"
"Uwiiiiiih Galak Nye, tak patut galak-galak naaantiiii jodoh nya kabur, ehm ehm ehm tak patut " Fian langsung menggunakan logat melayu malaysia, bak film kartun upin dan ipin ia berbicara dengan sungguh-sungguh memparodikan karakter tersebut.
Mahija yang melihat Fian yang bertingkah dihadapannya, bukannya tertawa malah semakin dibuat emosi dengan tingkah Fian.
"UWIIIIIIH ada Danton Galak, KABUUUURRRRR!! "
Mahija yang sudah siap dengan sandal di tangan kanannya, bersiap melempar ke arah Fian yang baru saja berlari.
(PELUNCURAN RUDAL)
(DALAM HITUNGAN MUNDUR)
3....
2....
1....
"ALLAHUMMA SHOLLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD, ALLAHUAKBAR!! " ujar Mahija, melempar sendal gunung yang cukup tebal itu.
PLETAAAK!!!
"ADUUUHHH " teriak Fian, sendal gunung yang dilemparkan oleh Mahija abangnya sendiri berhasil mengenai punggung nya.
"Makanya jangan banyak tingkah, udah dikasih jantung malah minta nasi uduk " Mahija yang menyusul Fian sembari mengambil sendalnya.
"Sakit la bang! Lu lemparnya keras kali, gua aduin ke umma la " rengek Fian.
"Manja, udah jadi pilot tempur juga. Gitu aja sakit, mana sini gua liat dulu punggung lu "
Mahija memeriksa punggung Fian, sedikit kemerahan akibat lemparan sandalnya. Mahija hanya tersenyum melihat punggung adiknya itu memerah, Fian yang meringis kesakitan terus-menerus ingin mengadukan perbuatan Mahija ke pada ibu mereka.
"Dah ah, cuma merah juga. Gak luka. Nah, beli kompres dingin sana " Mahija mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah.
Fian hanya diam sambil meringis kesakitan, Fian hanya menggertak ingin mengadukan perbuatan Mahija kepada ibunda mereka. Namun ia kembali berpikir bahwa penyebab utama terjadi nya lemparan sandal adalah dirinya sendiri,bisa-bisa yang ujung nya dimarahi oleh umma adalah dirinya sendiri nanti. Fian langsung pergi meninggalkan Mahija yang masih memandangi dirinya dari kejauhan, tanpa menoleh sedikit pun.
"Dahlah, jangan ngambek lu woiii " Teriak Mahija.