Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alethea Ashford
"Alethea! Dimana kopiku?" seru Jennifer Lawrence, seorang wanita berusia lima puluh tahun dengan rambut bop ala Dora the Explorer tapi versi pirang dengan gaya dramatis.
Alethea yang baru saja datang dengan membawa beberapa kopi, hanya tersenyum lembut ke bossnya itu. Dia susah terbiasa dengan drama Jennifer. Sekian tahun bekerja bersama dengan Jennifer dari bawah, sikap Bossnya sudah membuatnya hapal. Meskipun begitu, Jennifer adalah Boss yang fair. Dia bilang suka ya suka, tidak ya tidak. Tak heran jika rekan kerjanya memberikan julukan 'Margareth Tatcher' karena Jennifer benar-benar tangan besi dalam memimpin museumnya.
"Aku sedang jalan, Jenny. Janganlah dramatis. Oh, kopimu yang ada pita bewarna pink. Aku sengaja memintanya karena hari ini hari kanker sedunia bukan? Hanya untukmu karena kamu penyintas kanker." Alethea memberikan kopinya ke Jennifer.
Jennifer tampak terharu. "Sungguh aku tidak menduga bisa penyintas lima tahun ini. Oooohhh, Thea ... aku sangat terharu!" Wanita itu lalu memeluk bahu Alethea dengan sikap lebih dramatis.
"Oke Jenny. Kalau kamu seperti ini, aku sarankan kamu manggung di Broadway deh!" kekeh Alethea.
"Sudah. Tidak lolos castingnya!" cebik Jennier dengan sebal.
Alethea terkejut. "Serius?"
Tak lama datang ketiga rekannya yang semuanya wanita. "Kopi aku mana Thea?" tanya Nina yang merupakan asisten Jennifer.
"Punyamu ada pita biru. Punya Sandy pita hijau dan punya Catherine pita kuning. Tenang, Jeff, barista di coffee shop disana sudah hapal favorit kalian masing-masing," kekeh Alethea sambil menyerahkan kopi para rekannya.
"Terima kasih," ucap keduanya kecuali Catherine yang memakai bahasa isyarat.
"Sama-sama Catherine," jawab Alethea dengan bahasa isyarat.
"Oke. Dengar, ladies. Hari ini akan datang kiriman barang seni dari Eropa. Sudah lolos bea cukai dan hari ini kita mulai untuk mengkurator semua. Dimana si kurir sih?" omel Jennifer.
Suara ketukan di pintu samping membuat kelima wanita itu menoleh. Tak lama datang seorang pria dengan pakaian kurir UPS, mendorong kotak kiriman yang diberikan papan kayu.
Kelima wanita menatap kedatangan pria berbadan ala iklan di gym dengan otot tangannya yang ....
"Ehem. Ladies? Ini ditaruh dimana?" tanya pria itu.
"Hah?" beo kelima wanita itu. Wajah mereka tampak seperti melihat pangeran dengan kuda putih.
"Ladies?" kekeh pria itu geli melihat para wanita disana. Dimana-mana tetap saja sama.
"Ehem. Diletakkan saja di sana ... Charlie," jawab Alethea tergagap. Sungguh dia harus memeriksakan otaknya yang berkelana kemana-mana.
"Oke." Charlie mendorong peti kayu itu ke area penyerahan dan memberikan tanya ke Alethea. "Tolong tandatangan di sini."
Alethea menandatangani tanda penyerahan kiriman. Charlie tersenyum.
"Terima kasih ma'am," ucap Charlie.
"Sama-sama Charlie." Alethea membalas senyuman Charlie.
Pria itu mengangguk sopan ke para wanita disana. "Bye ladies."
"Byeeee...." Para wanita melambaikan tangan dengan gaya centilnya.
Alethea menggeleng gemas. "Ladies, kita bekerja yuk?"
"Hah? Oh, iya iya ...." Jennifer mulai keluar gaya bossynya. "Ayo ... kita kerja semua!"
Kelompok wanita lajang itu pun bubar dan mulai membuka peti kayu itu.
***
Alethea membersihkan meja kerjanya lalu menggelar alas kain putih untuk tempat meletakkan barang-barang yang hendak ia kurator. Wanita berusia 27 tahun itu bersiap dengan memakai sarung tangan kain bewarna putih yang baru. Dia pun mulai memeriksa data isi paket yang sudah lolos dari bea cukai Washington.
"Ada lima lukisan, dua keramik, satu patung perunggu dan satu papan ukuran kayu," ucapnya sambil menggerakkan tangannya ke Catherine yang sibuk mencatat katalog yang nanti akan diberikan ke masing-masing benda seni.
"Apa ada yang lain, Thea?" tanya Catherine dengan bahasa isyarat.
"Tidak. Isinya hanya itu." Alethea memeriksa kembali seperti dengan kebiasaannya.
Suara langkah kaki membuat keduanya menoleh. Tampak Jennifer bersama dengan Nina dan Sandy serta Miles, petugas keamanan museum yang berkulit hitam, datang ke ruang kurator. Semua barang di letakkan meja besar.
"Oke. Lukisan dulu karena itu yang paling mudah," ucap Jennifer.
Wanita itu membuka bungkus kertas lukisan itu. Nyaris saja dia menjatuhkan lukisan yang sudah dipigura jika tidak ingat akan merusaknya.
"Ada apa Jen?" tanya semua orang.
Jennifer tidak menjawab dan hanya memperlihatkan lukisan itu ke semua orang. Sontak mereka langsung menoleh ke Alethea.
Alethea melongo saat melihat lukisan itu dan nyaris tidak mempercayai matanya. "Kenapa ... itu wajahku?"
"Kamu kapan terakhir dilukis?" tanya Jennifer. "Maksud aku ... kapan kamu keluar negeri dan ...."
"Aku tidak pernah keluar negeri dan dilukis, Jenny! Kan kamu tahu sendiri aku trauma keluar negeri pasca kematian ...." Alethea terdiam jika mengingat suaminya yang meninggal saat main ski di Swiss dua tahun lalu. "Kalian kan tahu ... Aku hanya bekerja dan bekerja di sini."
"Tapi ini kamu, Thea," ucap Catherine. Dia tidak melihat perbedaan antara lukisan itu dengan Alethea. Bahkan saking persisnya, nyaris seperti pelukisnya melukis Alethea di depannya persis seperti model pada umumnya.
"Aku tahu ... hanya saja ...." Alethea menatap lukisan itu. Modelnya seperti dia duduk manis dan dilukis portrait. Bahkan dia tidak punya baju seperti yang ada di lukisan.
"Oke. Cukup soal ini. Bagaimana kita cari tahu siapa atau dari museum mana yang mengirimkan. Jadi kita tahu siapa artisnya dan bagaimana bisa melukis Thea jika memang Thea tidak pernah kemana-mana. Kalau aku lihat, ini seperti khas artis Eropa garisnya. Bukan artis Amerika," ucap Nina.
"Nina benar. Kita harus menyelidiki siapa pelukisnya," timpal Jennifer.
Alethea memegang pigura lukisan "dirinya" dan merasa bingung. Siapa artisnya dan bagaimana bisa dia melukis detail seperti ini. Satu hal yang dia perhatikan. Mata birunya tampak lebih hidup dibandingkan matanya sekarang. Padahal Alethea merasa hidupnya kosong.
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaa gaeeesss
Ini giliran putra Alaska Al Jordan dan Akito Shinoda.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia