Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Fiora memicingkan mata saat sinar matahari siang yang terik menembus kaca depan truk tua itu. Sorot cahaya tajam bergetar seirama dengan guncangan mesin yang melaju kencang membelah jalanan tanah berdebu. Di bak belakang yang beratap terpal kusam, Hayden berlutut rapat, mengawasi langit siang yang membiru cerah melalui celah kain—mewaspadai bayangan helikopter Aegis yang bisa muncul kapan saja di bawah terangnya sang surya.
"Fiora, tancap gas!" teriak Hayden dari balik terpal, suaranya bersaing dengan deru angin dan raungan mesin. "Siang bolong begini kita jadi sasaran empuk kalau mereka melacak asap buangan truk ini dari udara!"
Fiora menginjak pedal gas makin dalam, menembus jalur perbukitan terik menuju Ngarai Kelam. Di sampingnya, Leo duduk meringkuk, menutup matanya rapat-rapat seraya memeluk boneka beruangnya, silau oleh pancaran sinar matahari yang memantul di dasbor tua.
"Jalur di depan mulai menyempit!" seru Fiora seraya memutar kemudi keras-keras menutupi jalanan berbatu. "Kalau kita berhasil masuk ke celah tebing Ngarai Kelam sebelum tengah hari makin terik, tebing-tebing batu itu bisa menghalangi pandangan udara mereka!"
Di kejauhan, siluet celah tebing batu raksasa Ngarai Kelam mulai terlihat berdiri megah di bawah teriknya siang. Hayden mengokang senjatanya, matanya terus menyapu cakrawala yang cerah. Aegis mungkin punya armada udara dan teknologi pemindai canggih, tapi di bawah sinar matahari yang membakar ini, mereka bertiga membawa satu hal yang tak bisa dihancurkan oleh peluru maupun bom: kunci nyata bagi masa depan manusia.
Truk tua itu meluncur deras memasuki celah Ngarai Kelam, disambut bayang-bayang tebing batu raksasa yang seketika menghalau teriknya sinar matahari siang. Udara di dalam celah ngarai terasa dingin dan lembap. Dinding-dinding batu menjulang tinggi di kiri dan kanan, menjadi perisai alami yang sempurna dari jangkauan pandangan helikopter Aegis di udara.
Fiora memelankan laju kendaraan, menyusuri jalanan sempit yang dipenuhi puing-puing batuan runtuh. "Hayden! Kita masuk ke zona buta radar udara!" serunya melalui jendela belakang kabin.
Hayden melompat turun dari bak belakang melalui celah terpal, bergerak lincah lalu masuk ke kursi penumpang depan di samping Fiora. Wajahnya bersimbah keringat, namun matanya tetap tajam mengawasi lekukan jalan di depan mereka.
"Bagus. Tetap jaga kecepatan," ujar Hayden seraya memeriksa layar peta navigasi digital yang kini menunjukkan titik koordinat mereka berada di pertengahan ngarai. "Setelah keluar dari celah ngarai ini, kita akan langsung masuk ke lembah utama tempat Fasilitas Oase berdiri."
Leo mendongak perlahan dari balik pangkuan Fiora, menatap Hayden dengan mata bulatnya yang polos. "Om Hayden... apa di Oase ada kasur yang empuk? Leo capek naik mobil terus."
Hayden menoleh ke belakang, mengulas senyum tipis—sebuah pemandangan langka yang amat jarang terlihat dari raut wajah sang mantan tentara bayaran. Ia mengusap lembut rambut bocah itu.
"Ada, Leo. Di sana ada tempat aman, makanan hangat, dan kasur yang empuk buat kamu istirahat," jawab Hayden lembut.
Fiora melirik Hayden, mengangguk kecil penuh arti. Sandiwara mereka sebagai sebuah keluarga kini perlahan menumbuhkan ikatan emosional yang nyata di antara ketiganya.
Tiba-tiba, dari arah ujung celah ngarai di depan mereka, pancaran cahaya matahari siang kembali membiaskan pemandangan. Di balik pintu keluar Ngarai Kelam, membentang sebuah lembah hijau yang terisolasi sempurna. Di tengah lembah tersebut, berdiri kokoh kubah putih raksasa berpagar kawat tegangan tinggi dengan logo medis internasional yang masih utuh.
Fasilitas Oase.
Tujuan akhir perjalanan panjang mereka kini berada tepat di depan mata.
Fiora menahan napas saat truk tua yang mereka kendarai melintasi garis batas celah Ngarai Kelam. Kubah putih raksasa Fasilitas Oase berdiri megah di tengah lembah, dikelilingi pagar perimeter berlapis dan menara pantau yang tampak masih kokoh dialiri listrik.
"Kita berhasil..." bisik Fiora, matanya berkaca-kaca menatap bangunan yang selama ini hanya ada dalam catatan riset ayahnya.
Hayden tidak langsung menurunkan kewaspadaannya. Matanya memindai gerbang utama yang tertutup rapat. "Tetap di dalam truk. Biarkan aku yang keluar lebih dulu."
Hayden melangkah keluar dari kabin, melangkah mendekati konsol komunikasi darurat di samping gerbang baja Oase. Ia memasukkan unit penyimpanan portabel berisi data enkripsi milik Dr. Aris dan kode otentikasi garis keturunan Danielle.
*BEEP... BEEP... CLICK.*
Lampu indikator di atas gerbang berubah dari merah menjadi hijau. Suara mesin hidrolik berat bergema di seluruh lembah saat gerbang baja raksasa itu perlahan terangkat melipat ke atas.
"Gerbangnya terbuka," seru Hayden seraya memberi isyarat agar Fiora mengendarai truk masuk ke dalam area steril.
Di dalam kubah, ruangan laboratorium kelas empat berdiri megah dan utuh. Sistem otomatis fasilitas tersebut menyala, menyambut kedatangan mereka dengan pendar lampu putih bersih. Tidak ada jejak patogen, tidak ada terinfeksi, dan tidak ada ancaman Aegis. Tempat ini benar-benar sebuah suaka.
Fiora turun dari truk, menuntun Leo yang menatap sekeliling dengan mata berbinar penasaran. Untuk pertama kalinya setelah perjalanan panjang menembus neraka dan pertumpahan darah, Fiora menghembuskan napas lega.
Hayden berjalan mendekati mereka berdua, berdiri di samping Fiora seraya menatap konsol utama laboratorium tempat proses sintesis vaksin "Genesis" siap dijalankan menggunakan antibodi Leo. Perjuangan mereka melindungi sang kunci kehidupan telah sampai pada babak akhirnya.