NovelToon NovelToon
Aku Sayang Kakak Iparku

Aku Sayang Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: B.E.P

Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.

Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.

Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.

Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 32

Rio ingin masuk kedalam ruangan, tempat adik iparnya sedang dalam perwatan. Namun, seorang perawat tak mengijinkannya masuk. Akhirnya, ia hanya bisa kembali berjalan menghampiri Nadia dan duduk disampingnya.

"tenang ya, sayang. Rara akan dapat penanganan terbaik," ucap Rio. Ia berharap mampu meredakan kecemasan di hati istrinya.

Seorang dokter berjalan melewatinya. Rio sangat kenal orang ini. Namanya Dokter Hassan. Ia pun segera bangkit dan menghampirinya.

"Dokter Hasan," ucap Rio sambil berjalan menghampiri Dokter Hassan yang seketika berhenti.

"eh Dokter Rio," jawab Dokter Hassan.

"Dokter mau masuk ke ruangan ini ?" tanya Rio sambil menunjuk pintu yang tertutup rapat disebelahnya.

"iya, saya mau lakukan pemeriksaan ke korban kecelakaan," jawab Dokter Hassan.

"tolong ya dok berikan penanganan yang terbaik, karena pasien yang akan dokter periksa adalah adik ipar saya," jelas Rio.

"baik, tapi tolong selalu berikan doa yang terbaik untuk adik ipar dokter," jawab Dokter Hassan.

"pasti itu, saya tunggu kabar baiknya dok," kata Rio mengakhiri obrolan. Dokter Hassan pun melangkah masuk ke ruangan.

Rio menemani Nadia yang masih terselimuti rasa tidak tenang. Raut wajah istrinya, jelas sekali melihatkan tekanan kecemasan. Rio mencoba membuat istrinya lebih tenang, dengan ia merangkulnya dan mendekatkan badannya. Sesekali ia juga mengelus lembut kepala istrinya.

Waktu terus berjalan. Belum ada tanda-tanda dokter keluar ruangan. Nadia terus memberi harapan yang terbaik dihatinya. Ia masih belum tenang kalau belum melihat kondisi Rara. Semakin lama ia menunggu, perlahan pikiran negatif muncul.

Kini suasana di depan ruang intensif sunyi dan sepi, tinggal mereka berdua yang masih duduk di kursi panjang depan ruangan. Rio melihat jam dilayar ponselnya. Sudah menunjukkan pukul 11 malam.

udah hampir larut malam. Kenapa dokter Hassan belum keluar ? Semoga aja tidak ada apa-apa didalam.

Ucap Rio dibatinnya sambil merangkul Istrinya. Ia tetap berusaha tenang didepanya, walaupun sebenarnya ia mulai dibayangi perasaan cemas.

ceklek...

Pintu ruangan seketika terbuka, Dokter Hassan keluar. Seketika Nadia dan Rio langsung berdiri.

"gimana dok keadaan adik ipar saya ?" tanya Rio.

"pasien sekarang sudah siuman. Namun, sebelum dipindah ke ruang rawat, sementara beberapa hari ke depan akan dirawat intensif," jelas Dokter Hassan.

Mendengar ucapan dokter, Nadia langsung merasa lega. Tiba-tiba perasaannya yang tadinya penuh kecemasan, sekarang lebih terasa ringan.

"syukurlah dokter," ucap Nadia.

"sekarang pasien boleh dijenguk dok ?" tanya Rio.

"boleh, tapi hanya 1 orang yang diijinkan masuk dan tidak boleh terlalu lama didalam, " jelas Dokter Hassan.

"kamu masuk duluan aja sayang, nanti gantian," ucap Rio.

"baik mas, aku masuk dulu," jawab Nadia. Ia langsung melangkah masuk.

Nadia perlahan mendekat ke adiknya. Kini tubuh Rara penuh dengan alat medis. Setiap respon yang diberikannya termonitor dengan ketat.

Menyadari Nadia ada disampingnya, Rara menoleh pelan ke kakaknya. Ia ingin sekali berbicara padanya. Namun ada sesuatu yang tak mengijinkan mulutnya berbicara, sehingga terasa tertahan.

"ra kamu baik-baik aja. Tenang ya sebentar lagi sembuh," ucap Nadia.

Rara ingin sekali menjawabnya, namun ia tak mampu menggerakkan bibirnya. Ia pun hanya bisa menunjukkan senyuman.

Nadia sangat tidak tega melihat sekeliling adiknya di penuhi monitor. Suara monitor jantung menembus kesunyian didalam. Semakin lama, ia merasa sedih dan ingin menumpahkan air matanya setelah melihat kondisi adiknya. Segera ia hapus air matanya yang menyelinap keluar mata, agar adiknya tak melihatnya menangis.

Semakin lama Nadia bediri disamping adiknya, ia merasa tidak tega. Ia pun memutuskan keluar ruangan.

"kakak tinggal ya ra. Semangat ya," ucap Nadia. Perlahan ia berjalan keluar. Rara tak menanggapinya, ia hanya mengangguk kecil.

Pintu ruangan Nadia tutup. Rio yang dari tadi duduk, seketika berdiri dan mendekat ke istrinya. Nadia tampak sedih. Rio pun dengan sigap memeluk tubuhnya. Berharap ini mampu menenangkan hatinya.

1
Rumah Pena
lanjutt thorrr..
Pena Biru
jangan lupa like yaa...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!