NovelToon NovelToon
The Ghost Agent: Red Revenge

The Ghost Agent: Red Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / CEO
Popularitas:290
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."

Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.

Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.

Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Ulang Tahun Berdarah

Aroma anyir tembaga dari darah segar dan sisa mesiu yang terbakar masih melekat erat pada pori-pori jaket kulit hitam milik Elikai Wijaya. Hujan kota Jakarta turun lurus-lurus, menghantam aspal dengan ritme yang monoton, meluruhkan sisa-sisa debu konflik dari misinya di perbatasan beberapa jam lalu. Di bawah lampu jalan yang temaram, air hujan yang mengalir di ritsleting jaketnya tampak berkilau.

Bagi dunia bawah tanah yang kelam, ia tidak memiliki nama. Ia hanya dikenal sebagai 'Shadow' seberkas siluet tanpa wajah dari organisasi Phantom yang bergerak secepat desas-desus dan sefatal racun. Di tangannya, nyawa target tingkat tinggi melayang sebelum mereka sempat menyadari keberadaannya.

Tetapi malam ini, monster yang ditakuti dunia itu mendadak kehilangan taringnya.

Tangan kanan Elikai yang biasanya stabil saat memegang pelatuk, kini sedikit gemetar ketika meraba saku bagian dalam jaketnya. Jemarinya menyentuh permukaan halus dari sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado merah muda bertekstur gliter. Di atasnya tertempel pita satin yang ia ikat sendiri dengan canggung di bandara tadi. Sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk bintang kecil.

“Kak Kai awas ya kalau lupa! Lily mau tiup lilinnya pas jam dua belas pas. Kalau Kakak telat, Lily potong kuenya duluan!”

Ancaman manja dari adik perempuannya yang berumur sepuluh tahun itu terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Itu adalah satu-satunya suara yang berhasil meredam dengung bising senapan mesin yang ia dengar sepanjang hari. Demi mengejar waktu tiup lilin itu, Elikai nekat mengabaikan protokol keamanan Phantom. Ia menolak helikopter evakuasi medis, mengabaikan luka gores di lengan kirinya, dan memilih memacu sepeda motor sport-nya membelah badai malam.

Arloji taktis di pergelangan tangannya berkedip dalam pendar hijau. 23.40 WIB. Masih ada waktu dua puluh menit sebelum hari berganti.

Elikai menarik napas dalam-dalam. Udara malam yang basah memenuhi paru-parunya, perlahan mengikis ketegangan yang menumpuk di pundaknya. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman langka yang sangat asing bagi seorang pembunuh berdarah dingin. Di rumah itu, di balik pintu kayu jati yang kokoh, ada dunia lain yang selalu menunggunya kembali. Ada pelukan hangat ibunya, teh manis buatan ayahnya, dan tawa melengking Lily. Mereka adalah garis tipis yang menjaga Elikai agar tidak sepenuhnya gila dan tersesat di dalam kegelapan dunia intelijen.

Sepeda motornya melambat, menggelinding tanpa suara ke dalam kompleks perumahan elite yang sepi di kawasan Jakarta Selatan. Desing mesinnya sengaja ia redupkan saat memasuki blok rumahnya.

Namun, tepat seratus meter sebelum gerbang rumah, senyuman di wajah Elikai menguap.

Udara di sekitarnya mendadak terasa bergeser. Instingnya dan radar tak kasatmata yang dibangun dari ratusan pertempuran hidup dan mati mendadak berteriak kencang, mengirimkan sengatan dingin di sepanjang tulang belakangnya.

Elikai mengerem motornya secara instan. Matanya menyipit, memindai kegelapan.

Lampu jalan tepat di depan rumahnya mati total, meninggalkan area itu dalam kegelapan sepekat jelaga. Itu bukan mati lampu massal, karena rumah tetangga di kanan dan kiri masih memancarkan pendar kuning yang damai. Tatapan Elikai beralih ke gerbang besi hitam rumahnya. Pintu gerbang itu sedikit menganga, menyisakan celah sekitar dua puluh sentimeter. Sesuatu yang mustahil terjadi karena ayahnya, seorang mantan perwira militer yang kaku, memiliki obsesi untuk selalu mengunci gerbang tepat setelah pukul delapan malam.

Yang paling membuat darah Elikai berdesir dingin adalah keheningan ini. Tidak ada gonggongan berisik dari Max, anjing German Shepherd raksasa peliharaan ayahnya yang biasanya sudah melolong heboh bahkan sebelum motor Elikai belok di ujung gang.

Elikai menurunkan standar motornya perlahan, memastikan besi tidak beradu dengan aspal secara kasar. Tubuhnya bergerak otomatis, turun dari jok tanpa menimbulkan riak suara sekecil apa pun. Dalam satu gerakan halus yang sudah menjadi memori otot, tangan kanannya menyelusup ke balik pinggang, mencabut pistol SIG Sauer berperedam suara yang selalu setia menemaninya.

Hangatnya seorang kakak laki-laki yang membawa kado ulang tahun lenyap dalam sekejap mata. Di bawah rintik hujan, yang tersisa hanyalah Shadow, sang predator puncak yang siap mengoyak mangsanya.

Ia bergerak merapat ke dinding luar, memanfaatkan bayangan pohon palem yang bergoyang ditiup angin. Sepatunya menapak tanpa suara di atas rumput halaman yang basah. Tepat di dekat semak-semak mawar kesayangan ibunya, langkah Elikai terhenti.

Matanya menangkap siluet besar yang tergeletak kaku di atas tanah. Elikai berlutut dengan satu kaki. Jarinya menyentuh bulu tebal Max yang basah oleh air hujan dan sesuatu yang lebih kental, lebih hangat. Darah masih mengalir deras dari celah tenggorokan anjing itu. Luka sayatan yang lurus, bersih, dan dalam.

Eksekusi profesional. Satu tebasan tanpa suara.

Rahang Elikai mengeras hingga sendinya berbunyi. Amarah instan membakar dadanya, tapi ia memaksa otaknya tetap sedingin es. Di dunia intelijen, emosi adalah tiket gratis menuju kematian. Ia menarik napas pendek melalui hidung, menstabilkan detak jantungnya agar tetap berada di ritme tempur.

Dengan langkah yang menyerupai hantu, Elikai bergeser ke arah dinding samping rumah. Ia memanjat sedikit undakan batu, lalu menempelkan punggungnya pada dinding di sebelah jendela ruang tengah yang dilapisi tirai tipis. Tirai itu tidak sepenuhnya tertutup, menyisakan celah beberapa sentimeter yang membiarkan cahaya remang-remang dari dalam menembus keluar.

Elikai memiringkan kepalanya sedikit untuk mengintip ke dalam.

Pemandangan di dalam ruangan itu seketika membuat seluruh organ dalam Elikai serasa diremas oleh tangan tak terlihat. Kotak kado di dalam sakunya mendadak terasa seberat timbunan batu.

Di atas lantai ruang keluarga yang biasanya bersih, ayahnya tersungkur berlutut dengan kedua tangan terikat ke belakang kursi kayu menggunakan kabel ikat. Kaos putih yang dikenakan pria tua itu sudah dinodai bercak merah tua yang melebar di bagian dada dan bahu. Wajahnya yang tegas kini bengkak, dengan darah segar mengalir dari pelipisnya.

Di sampingnya, sang ibu bersimpuh di lantai. Mulutnya disumpal kain putih, sementara air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat pasi. Tubuh ibunya gemetar hebat, namun kedua lengannya mendekap erat-erat tubuh Lily yang meringkuk ketakutan di bawah ketiaknya.

Lily memakai gaun ulang tahun berwarna merah muda dengan bando mahkota kecil yang kini sudah miring di rambutnya yang berantakan. Wajah bocah itu merah padam karena menangis tanpa suara, matanya yang bulat menatap nanar ke arah meja makan. Di sana, sebuah kue ulang tahun bertingkat dengan tulisan "Selamat Ulang Tahun ke-10, Lily" telah hancur, terinjak oleh sol sepatu bot militer yang kotor.

Di sekeliling keluarga itu, berdiri enam orang pria dengan postur tubuh tegap dan terlatih. Mereka mengenakan pakaian taktis hitam tanpa atribut unit, lengkap dengan topeng balaklava yang menyembunyikan seluruh wajah kecuali mata mereka. Di tangan mereka, senapan serbu jenis HK416 berada dalam posisi siap tembak, moncong-moncong hitamnya mengarah tepat ke kepala kedua orang tua Elikai.

"Aku tidak suka mengulang pertanyaan yang sama, Wijaya," sebuah suara berat memecah keheningan di dalam ruangan. Suara itu terdengar aneh, jelas menggunakan alat pengubah suara yang disembunyikan di balik topengnya. Pria yang tampaknya memimpin komando itu melangkah maju, ujung sepatu botnya menginjak sisa lilin angka sepuluh di lantai. "Di mana anakmu? Di mana si keparat Shadow itu?"

Ayah Elikai mengangkat kepalanya perlahan. Meskipun wajahnya hancur dan napasnya terdengar berat dan tersengal akibat rusuk yang patah, mata sang mantan perwira itu sama sekali tidak menyiratkan ketakutan. Ia menatap lurus ke balik lubang topeng pria di depannya, lalu meludah ke arah sepatu bot pria itu. Cairan merah bercampur ludah mendarat di sana.

"Tikus-tikus seperti kalian... tidak akan pernah bisa menyentuh anakku," bisik ayah Elikai, suaranya parau tapi penuh penekanan yang berani.

PLAK!

Sebuah hantaman popor senapan yang keras mendarat telak di tulang pipi ayah Elikai. Tubuh pria tua itu terjerat jatuh ke samping, tertahan oleh tali yang mengikat tangannya ke kursi. Ibunya menjerit histeris di balik sumpal kain, mencoba merangkak maju namun salah satu laras senapan langsung ditekan ke arah keningnya.

"Satu gerakan lagi, dan aku akan meledakkan otak wanita ini di depan anakmu," ancam pria bertopeng itu dingin.

Di luar jendela, cengkeraman Elikai pada gagang SIG Sauer-nya begitu kencang hingga sendi-sendi jarinya memutih dan gemetar. Amarah di dadanya meluap bagai magma yang siap meledakkan gunung. Seseorang telah mengkhianatinya. Seseorang di dalam organisasi Phantom telah menjual data pribadinya, membocorkan lokasi rumahnya, dan mengirim tim pembunuh ini untuk menghancurkan hidupnya.

Posisinya sangat tidak menguntungkan. Enam orang profesional terlatih, bersenjata lengkap, memegang sandera di dalam ruang terbuka, sementara ia hanya memegang satu pistol berperedam dengan dua magasin cadangan. Jika ia salah melangkah satu milimeter saja, peluru musuh akan merobek tubuh adik atau ibunya lebih dulu sebelum ia sempat menghabisi mereka semua.

Tetapi, Shadow tidak dibentuk untuk menyerah pada kalkulasi matematis.

Melihat bagaimana air mata Lily yang jatuh di atas lantai dingin, melihat gaun ulang tahunnya yang ternoda debu, Elikai tahu malam ini tidak akan ada tiup lilin yang damai. Kalung bintang di dalam sakunya mungkin tidak akan pernah terpasang di leher adiknya dengan cara yang indah.

Elikai menarik napas panjang untuk terakhir kalinya, membiarkan dinginnya malam meresap ke dalam jiwanya, mengubah seluruh amarahnya menjadi fokus mematikan yang mutlak. Matanya mengunci posisi tiga orang terdekat dari jendela.

Tiga detik untuk tiga kepala pertama, batinnya menghitung mundur dalam sunyi.

Elikai bergeser ke arah pintu belakang yang terbuat dari kaca, bersiap menerobos masuk dan mengubah ruang keluarga yang hangat itu menjadi ladang pembantaian yang kejam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!