NovelToon NovelToon
STORY/ The Wandering Witch Serena

STORY/ The Wandering Witch Serena

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: Rizz the writter

Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.

——Di dunia bernama Cardinal.

Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.

Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.

Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

—CHAPTER 1—

—VOLUME 1—

Arc: Asteria Civil War

"Begitulah... kehidupanku di tahun pertama di akademi ini."

Serena menutup buku hariannya.

"Sekarang... sudah memasuki tahun terakhirku di akademi."

Ia berjalan pelan menuju jendela, lalu membukanya.

Serena menyandarkan kedua tangannya pada kusen. Tatapannya terarah pada bintang-bintang di langit malam, seolah menyimpan sebuah rahasia besar di balik tatapan tenangnya.

"Benar... sudah empat tahun sejak aku dan yang lainnya berkumpul di festival tahun baru seribu dua ratus dua puluh satu."

"Banyak hal yang terjadi selama empat tahun terakhir."

Serena kemudian menyandarkan dagunya pada telapak tangannya.

Ia terdiam sejenak, membiarkan angin malam menerpa wajahnya.

Empat tahun memang terdengar singkat. Namun, bagi Serena, waktu selama itu terasa seperti perjalanan yang panjang.

Banyak hal telah berubah.

Beberapa hubungan menjadi semakin dekat, sementara yang lainnya justru perlahan menjauh. Serena sendiri juga telah berubah.

Ia menatap pantulan wajahnya pada kaca jendela.

Gadis kecil yang dahulu pertama kali datang ke Academy Ishtar sudah tidak terlihat lagi.

"Besok..."

Ia menghela napas pelan.

"...sudah waktunya kembali ke meja kelas."

Serena menutup jendela dan kembali mengambil buku hariannya.

Jarinya menyentuh sampul buku tersebut selama beberapa saat sebelum akhirnya ia meletakkannya kembali di atas meja.

Ada banyak hal yang telah terjadi selama empat tahun terakhir.

Namun, tidak semuanya tertulis di dalam buku itu.

 

Keesokan paginya.

Suara lonceng akademi terdengar di seluruh penjuru kompleks Academy Ishtar.

Serena berjalan melewati koridor utama dengan langkah santai. Seragam akademinya telah terpasang rapi, sementara rambut panjangnya bergerak mengikuti setiap langkahnya.

Tahun terakhirnya di akademi telah dimulai.

Setelah naik ke tahun terakhir, Serena dan teman-temannya mendapat ruang kelas baru di lantai ketiga Academy Ishtar.

Serena memasuki ruang kelas.

Di salah satu meja dekat jendela, ia melihat Celia dan Lylian sedang mengobrol.

"Serena!"

Lylian langsung melambaikan tangan begitu melihat Serena masuk ke kelas.

"Sini!"

Serena menghampiri mereka dan meletakkan tasnya di atas meja.

"Lu pagi banget."

"Ya iyalah. Tahun terakhir ini. Gw harus menikmati setiap detiknya."

Serena menatapnya sebentar.

"Lu ngomong kayak akademinya bakal meledak aja."

"Jangan ngomong gitu, anjir."

Celia yang duduk di sebelah Lylian tersenyum kecil.

"Selamat pagi, Serena."

"Pagi, Celia."

Serena menarik kursi lalu duduk.

Ia melihat sekeliling ruangan.

"Jadi ini kelas baru kita."

"Iya," jawab Lylian. "Menurut gw lebih bagus dari kelas lama."

"Karena?"

"Dekat jendela."

"Lalu?"

"Gw bisa tidur sambil pura-pura lihat pemandangan."

Celia menatap Lylian dengan ekspresi datar.

"Kamu sadar kalau guru masih bisa melihatmu dari depan?"

"Makanya gw bilang pura-pura."

Serena tertawa kecil.

"Lu nggak berubah sama sekali."

"Dan itu bagus."

"Belum tentu."

Lylian menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Ngomong-ngomong, kalian udah dengar soal ujian akhir tahun?"

"Belum," jawab Serena.

"Katanya tahun ini bakal lebih susah."

Celia mengangguk pelan.

"Aku juga mendengar begitu. Katanya materi yang diberikan akan lebih banyak daripada tahun sebelumnya."

"Baguslah."

Serena menoleh.

"Bagus dari mana?"

"Berarti kita nggak bakal bosan."

"Lu memang aneh."

"Terima kasih."

Pintu kelas terbuka.

Allwin masuk bersama Michael.

Allwin langsung melihat ke arah mereka.

"Pelajaran belum mulai udah berisik aja."

Lylian menoleh.

"Lu telat."

"Belum ada guru, kampung."

"Mulut lu."

Michael berjalan masuk setelah Allwin.

"Pagi. Kalian sudah membicarakan sesuatu?"

"Ujian akhir," jawab Serena.

Michael meletakkan tasnya.

"Oh, yang katanya bakal lebih sulit itu?"

"Lu udah tahu juga?" tanya Lylian.

"Iya. Kakakku sempat bilang kalau ujian tahun terakhir biasanya cukup berat."

Allwin duduk di kursinya.

"Berat buat kalian mungkin."

Lylian langsung melotot.

"Lu sehari nggak bikin orang marah bisa nggak sih?."

"Kenapa emangnya?,gw cuma ngomong sesuai faktanya loh, ngerasa?"

"Tch... Di akademik aja lu masih belom lebih pinter dari Serena."

"Menang akademik belum tentu pinter, lagian... Emangnya lu udah masuk ranking lima besar ya?"

"Sialan personal..."

Serena menghela napas.

"Kalian baru ketemu lima menit."

"Justru itu," kata Michael sambil tersenyum. "Mereka seperti punya energi tak terbatas kalau lagi saling menghina."

Celia ikut tersenyum.

"Aku sudah terbiasa."

"Ngomong-ngomong," kata Serena, "kalian sudah kepikiran mau melakukan apa setelah lulus?"

Suasana langsung sedikit berubah.

Lylian mengangkat bahu.

"Belum tahu. Gw pengen jalan-jalan dulu."

"Setelah hampir enam tahun belajar di sini, lu masih mikirin jalan-jalan?"

"Ya justru karena enam tahun belajar di sini."

Allwin menyandarkan punggungnya.

"Gw mungkin bakal pergi ke suatu tempat."

"Ke mana?" tanya Serena.

"Belum tau sih. "

Michael tersenyum.

"Kalau aku, mungkin akan meneruskan bisnis keluarga ku. Tapi aku masih belum nentuin sih..."

Celia terdiam sebentar sebelum menjawab.

"Aku juga belum tahu."

Serena memandang mereka satu per satu.

"Berarti cuma tinggal satu tahun lagi."

Tidak ada yang langsung menjawab.

Lylian akhirnya tersenyum.

"Ya. Jadi jangan sampai ada yang tiba-tiba menghilang sebelum lulus."

Allwin menatapnya.

"Lu ngomong kayak kita bakal perang."

"Siapa tahu."

"Kalau lu yang pertama hilang, gw nggak bakal nyari."

"ANJING, LU—"

Bel masuk berbunyi sebelum Lylian sempat menyelesaikan kalimatnya.

Michael tertawa kecil.

"Sepertinya kita harus menyimpan pertengkarannya untuk nanti."

"Dia yang mulai," kata Lylian.

"Lu yang ngomong duluan," balas Allwin.

Serena hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Tahun terakhir mereka di Academy Ishtar baru saja dimulai.

—

Bel istirahat berbunyi, menandakan pelajaran telah selesai.

Lylian segera membereskan peralatannya lalu menghampiri Serena.

"Ayok kantin!, gw dah laper nih."

Serena menoleh ke arah Lylian dengan datar.

"Sabar dikit napa, baru juga masukin buku."

Serena berdiri dari kursinya sebelum menoleh pada Celia.

"Cel, ikut?"

Celia mengangguk lalu menghampiri mereka berdua.

Singkatnya mereka tiba di kantin dan telah menghabiskan makanan mereka.

"Oh ya, tadi tumben banget Pak Rui yang ngajar di kelas kita? Bukannya yang ngajar itu harusnya Pak Kael?" Tanya Lylian.

"Ketinggalan info lu, Pak Kael udah bilang loh... Kalo di tahun ke enam ini satu kelas bisa di ajar tiga guru secara bergilir sesuai dengan materinya."Jawab Serena.

" Di tahun ini... Harusnya kita udah bisa dapet misi magang nggak sih?" Celia menoleh ke arah Serena.

"Kalo ngikutin kata Pak Kael sih..." Serena terdiam sejenak. "Iya, kita bakal lebih sering magang sebagai penyihir, entah itu jadi penjaga, pemburu atau membantu penyihir senior lain menyelesaikan konflik." lanjutnya.

"Eh!? Kalo gitu bakal berat dong?" Cetus Lylian.

"Kenapa?" Sahut Serena.

"Kalian tau sendiri, kan? di kota Ingrasia lagi ada konflik. dan jarak Ingrasia ke ibu kota itu cuma tiga puluh delapan kilometer."

Serena menyandarkan dagunya pada lengannya.

"Ah... Konflik itu ya... Dari berita yang gw baca sih... Dalam tujuh bulan terakhir konflik semakin panas."

"Iyakan!?, lagian bahaya banget kalo mereka udah mulai nerobos masuk ke Wistoria."

"Lantas... Apa hubungannya sama tugas magang kita nanti?" Tanya Serena.

"Kemungkinan kita juga akan ikut untuk membantu perang melawan pasukan Gracia." Jawab Lylian dengan serius.

Gracia bukanlah kerajaan baru.

Puluhan tahun lalu, kerajaan tersebut merupakan salah satu dari tiga kekuatan utama dalam perang saudara di daratan Asteria, bersama Kekaisaran Asteria dan Southernland.

Setelah bertahun-tahun berperang, Gracia berhasil menaklukkan Southernland. Namun, kekuatannya mulai melemah setelah Great War Three.

Pada masa itu, Dinasti Zhao yang menjadi salah satu pendukung terbesar Gracia ditaklukkan oleh Dinasti Qin. Hilangnya Zhao membuat Gracia kehilangan salah satu sekutu terkuatnya.

Di sisi lain, Asteria memperoleh dukungan dari Kerajaan Thyrion. Dengan bantuan tersebut, Asteria berhasil menaklukkan wilayah-wilayah yang tersisa dan menyatukan sebagian besar daratan Asteria di bawah satu pemerintahan.

Kerajaan Besar Asteria pun berdiri.

Gracia akhirnya runtuh dan hanya menyisakan namanya dalam sejarah.

Namun, beberapa tahun terakhir, nama kerajaan yang telah lama hilang itu kembali terdengar.

Kali ini, bukan dari buku sejarah.

Melainkan dari medan perang di Ingrasia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!