JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: DINDING KACA DAN RASA BERSALAH
Lampu indikator merah di atas pintu ruang operasi utama masih menyala dengan terik yang sunyi, seolah menjadi penanda bisu bahwa pertempuran hidup dan mati seorang Eksan Prasetya di dalam sana belum juga usai. Di lorong rumah sakit rahasia yang sepi itu, jarum jam dinding tampak berputar dengan sangat lambat, menambah berat atmosfer kecemasan yang mendera setiap orang yang menunggu.
Bau obat antiseptik yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan dinginnya udara pendingin ruangan yang membuat tubuh Nasya semakin menggigil di balik selimut abu-abu pemberian Rangga.
Nasya menatap kedua telapak tangannya sendiri yang masih menyisakan jejak noda darah kering yang mulai mengelupas. Setiap kali ia melihat warna merah kecokelatan itu, dadanya seketika terasa sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Pikirannya kembali melayang pada malam di mana semuanya bermula malam di mana ia memilih untuk menolong seorang pemuda yang terluka parah di depan rumahnya tanpa tahu bahwa keputusan sederhana penuh belas kasih itu akan menyeret seluruh garis hidupnya ke dalam pusaran kegelapan jalanan kota.
Rangga yang berdiri bersandar pada dinding di sampingnya tetap diam, memberikan waktu bagi Nasya untuk memikirkan pilihan besar yang baru saja ia tawarkan. Pemuda bertubuh kekar itu tahu betul bahwa membiarkan seorang gadis sekolah biasa terikat dengan pemimpin Black Cobra adalah sebuah keputusan yang egois dari sisi faksi, namun dari sisi kemanusiaan, Rangga juga tidak tega melihat Nasya terus-menerus hidup dalam ketakutan bagaikan seekor burung yang terkurung di dalam sangkar emas.
"Rangga..." suara Nasya akhirnya memecah keheningan yang menyiksa tersebut, terdengar sangat lirih dan serak. Ia mendongak, menatap wajah keras Rangga dengan binar mata yang dipenuhi oleh keraguan mendalam. "Jika... jika aku benar-benar memilih untuk pergi malam ini seperti yang kau tawarkan, apa yang akan terjadi pada Eksan saat dia bangun nanti?"
Rangga terdiam sejenak, meluruskan posisi berdirinya lalu menatap lurus ke arah pintu besi ruang operasi sebelum kembali memalingkan wajahnya ke arah Nasya. "Jujur saja, dia pasti akan mengamuk hebat, Nasya. Eksan yang kehilangan kendali atas miliknya adalah yang paling menakutkan di atas aspal kota ini. Dia bisa saja mengerahkan seluruh ratusan anak buah Black Cobra untuk mengobrak-abrik setiap sudut kota, stasiun, hingga pelabuhan hanya untuk menemukan keberadaanmu kembali."
Rangga menarik napas panjang, ada gurat kekhawatiran yang tersirat di wajahnya. "Tapi yang paling aku takutkan bukanlah kehancuran kota, melainkan kondisi jiwanya sendiri. Sejak kecil Eksan dibuang dan dikhianati oleh dunia luar, menjadikannya sosok yang dingin dan tidak pernah memercayai siapa pun. Kehadiranmu di malam itu adalah satu-satunya hal suci yang berhasil menyentuh sisi manusianya kembali. Jika kau pergi dengan cara menghilang secara rahasia, Eksan akan menganggapnya sebagai sebuah pengkhianatan terbesar dalam hidupnya. Dan setelah itu, tidak akan ada lagi yang bisa menahan kegilaannya untuk menjadi iblis jalanan yang buta seutuhnya."
Mendengar penjelasan Rangga, air mata Nasya kembali menetes perlahan melewati pipinya yang pucat. Rasa bersalahnya kini bertransformasi menjadi sebuah dilema psikologis yang luar biasa berat. Di satu sisi, ia sangat merindukan ibunya, merindukan kebebasannya untuk berjalan di bawah sinar matahari tanpa perlu dikawal oleh belasan pria berjaket kulit hitam yang beringas, dan merindukan masa depannya sebagai remaja normal. Namun di sisi lain, membayangkan Eksan terbangun dalam kondisi tubuh yang hancur lalu mendapati dirinya telah lenyap, memberikan rasa sakit yang aneh di dalam dada Nasya. Ia menyadari bahwa sisi posesif dan protektif Eksan yang ekstrem, sekejam apa pun kedengarannya, lahir dari sebuah rasa takut yang mendalam akan kehilangan satu-satunya cahaya hidup yang tersisa.
Tiba-tiba, suara dering langkah kaki yang terburu-buru terdengar berdentum keras dari arah tangga darurat ujung lorong. Bara melangkah masuk dengan napas yang terengah-engah, dengan jaket kulit hitamnya yang dipenuhi oleh sisa debu pertempuran dari dermaga utara. Wajah sang eksekutor itu tampak sangat tegang saat ia berjalan menghampiri Rangga.
"Rangga, situasi di luar mulai bergerak ke arah yang tidak terduga," kata Bara dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ketegasan yang mendalam.
"Beberapa informan kita di kepolisian melaporkan bahwa Rian si Belut Jalanan yang kita tumbangkan malam tadi ternyata memiliki jaringan tersembunyi dengan sub faksi dari kota sebelah. Mereka tahu Rian gagal dan ditangkap oleh pasukan kita, dan sekarang mereka sedang menyusun rencana untuk melakukan serangan balasan ke wilayah pusat kota untuk merebut jalur logistik kita yang sedang kosong."
Bara melirik sejenak ke arah Nasya yang duduk mendengarkan dengan tubuh gemetar, lalu kembali menatap Rangga. "Kita harus segera menggeser sebagian besar sisa pasukan inti yang berjaga di atap gedung rumah sakit ini untuk memperkuat perimeter wilayah perbatasan kota sebelum fajar tiba. Jika tidak, rumah sakit rahasia ini bisa ikut terendus oleh radar pergerakan mereka."
Rangga mengangguk tegas, mengerti betul arti dari bahaya besar yang sedang mengintai faksi mereka saat ini. "Lakukan saja, Bara. Bawa lima belas orang pasukan inti dan bergeraklah sekarang juga ke perbatasan. Aku akan tetap tinggal di sini bersama beberapa orang untuk menjaga pintu ruang operasi Bos Eksan."
Setelah Bara kembali berbalik dan melangkah pergi dengan cepat, suasana di lorong itu kembali diselimuti oleh keheningan yang mencekam. Nasya memeluk lututnya sendiri lebih erat di atas kursi, merasakan bagaimana dunia hitam di sekelilingnya ini seolah tidak pernah berhenti memproduksi rantai kekerasan dan pertumpahan darah demi sebuah kekuasaan di atas aspal jalanan. Dinding kaca perlindungan yang dibangun oleh Eksan di sekelilingnya kini terasa semakin nyata sebuah benteng pertahanan yang mengerikan namun menjadi satu-satunya hal yang memisahkannya dari maut yang siap menerkam kapan saja di luar sana.Nasya merasakan. kebingungan. Untuk memilih entah bagaimana perasaan nya akan berat jika menjauhi Eksan.
karena dia mempertaruhkan nyawanya demi melindungi aku yang hanya seorang gadis biasa, tidak ada sepesial nya dari aku. Nasya berbicara dalam hati. "kenapa dia dia begini ? Apa yang spesial nya dari aku,sampai kamu mempertaruhkan semua nya?". Nasya sambil duduk dan melihat ke arah pintu operasi , Nasya berdoa, karena untuk saat ini hanya ini yang bisa Nasya lakukan dengan. Tangisan yang tak kunjung berhenti. Mendengar dari teman anggota Eksan, bahaya pasti akan selalu berdatangan jika kabar Eksan terluka parah menyebar karena Eksan adalah ketua dari anggota geng ini. Nasya akan selalu menemani, sampai Eksan tersadar dan pulih kembali dan berharap bisa melihat senyum Eksan kembali